Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Dorong RSUP Dr. M. Djamil Jadi Rumah Sakit Tangguh Bencana

RSUP Dr. M. Djamil menerima kunjungan penting dari Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, Agus Jamaludin, Rabu (3/9). Kunjungan ini berfokus pada pembahasan tentang “Safe Hospital”, sebuah konsep yang bertujuan untuk memastikan rumah sakit siap menghadapi berbagai bentuk bencana.

Kedatangannya disambut oleh Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua di Ruang Rapat Direksi. Turut didampingi Direktur Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Maliana, M.Kes, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo dan manajemen. Dan dihadiri juga Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr. Aklima, MPH dan Direktur RSUD M Natsir Solok dr. Elvi Fitraneti, Sp.PD. FINASIM.

Agus Jamaludin menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan yang ditunjuk untuk menangani keamanan rumah sakit dari bencana. Kapasitas mereka harus terus ditingkatkan sesuai dengan pedoman penanggulangan kebencanaan yang berlaku.

“Seluruh tenaga medis maupun non-medis penting melakukan latihan rutin. Gunanya untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas dalam penanganan bencana harus terus diasah dari waktu ke waktu. Tanpa latihan, kita pasti banyak terlupakan. Oleh karena itu, kami mendorong agar semua pihak, baik individu maupun tim, dapat mendaftar sebagai Tenaga Cadangan Kesehatan Emergency Medical Team (TCK EMT),” ajaknya.

Selain itu, Agus Jamaluddin juga menekankan pentingnya kolaborasi dan kekompakan lintas sektor. Penanganan bencana tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melibatkan berbagai pihak. “Ketika bencana terjadi, tidak bisa ditangani secara parsial. Kita harus berkolaborasi dengan lintas sektor, baik dengan dinas kesehatan sebagai pemangku kesehatan di satu daerah, rumah sakit, Balai Kekarantinaan Kesehatan, Poltekkes Kemenkes, BPBD, Basarnas, TNI, Polri, dan lainnya,” ucapnya.

Ia menyampaikan harapannya agar seluruh kekuatan yang ada di wilayah ini, khususnya di RSUP Dr. M. Djamil, dapat bersatu menjadi sebuah kesatuan dan kekuatan yang solid dalam menghadapi kesiapsiagaan bencana. “Dengan adanya sinergi dan kolaborasi yang kuat, RSUP Dr. M. Djamil dapat menjadi contoh “safe hospital” yang siap dan tanggap dalam menghadapi segala situasi krisis,” harapnya.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, menyampaikan komitmen penuh RSUP Dr. M. Djamil untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana. Kunjungan ini menjadi motivasi bagi RSUP Dr. M. Djamil untuk terus meningkatkan kapasitas dan kapabilitas dalam menghadapi potensi bencana, terutama mengingat posisi geografis Sumatra Barat yang rawan bencana alam.

“RSUP Dr. M. Djamil menyambut baik arahan dan masukan dari Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan dan siap menjalin kolaborasi erat dengan berbagai pihak terkait demi terciptanya sistem penanggulangan bencana yang terpadu dan efektif,” tukasnya.

Pada kesempatan itu, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, Agus Jamaludin didampingi Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, jajaran direksi dan manajemen meninjau lapangan plang evakuasi dan titik kumpul di eks tanah PJKA. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Sambut 85 Tenaga Alih Daya Baru, Perkuat Layanan Kesehatan

RSUP Dr. M. Djamil menyambut 85 tenaga alih daya (outsourcing) baru di Ruang Rapat Direksi, Rabu (3/9). Kehadiran para tenaga alih daya ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan efektivitas pelayanan rumah sakit kepada masyarakat.

Para tenaga alih daya ini akan ditempatkan di berbagai unit pelayanan. Rinciannya, 50 orang akan bertugas sebagai pramu instalasi didampingi satu orang pemimpin tim (leader). Kemudian, 20 orang akan ditempatkan di Pos Rawat Inap dengan satu leader. Di Pos Instalasi Penunjang Jantung Terpadu (IPJT), ada tiga orang dan satu leader. Sementara itu, dua orang akan ditempatkan di Pos Instalasi Bedah Sentral (IBS) dan dua orang lainnya di Pos Rawat Jalan. Untuk mendukung operasional dan mobilitas, dua orang akan bertugas sebagai pengemudi dan tiga orang sebagai teknisi.

dr. Marlina M.Kes menekankan pentingnya peran para tenaga alih daya ini dalam menjaga kualitas layanan rumah sakit. Meskipun berstatus alih daya, mereka merupakan bagian integral dari keluarga besar RSUP dr. M. Djamil.

“Anda semua adalah ujung tombak pelayanan rumah sakit. Sikap, keramahan, dan profesionalitas Anda akan sangat menentukan citra rumah sakit ini. Bekerjalah dengan sepenuh hati, jaga kekompakan, dan selalu utamakan keselamatan pasien serta diri sendiri,” ujar dr. Marlina.

Senada dengan itu, Luhur Joko Prasetyo menambahkan para tenaga baru ini perlu memahami dan mematuhi seluruh standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Dan Ia menjaga integritas dan disiplin dalam setiap tugas yang dijalankan.

“Kami berharap Anda dapat beradaptasi dengan cepat dan memberikan kontribusi terbaik. RSUP dr. M. Djamil adalah institusi yang menjunjung tinggi profesionalisme. Mari kita bekerja sama untuk terus meningkatkan mutu pelayanan,” pungkasnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Turut Serta dalam Simulasi Megathrust, Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Bencana

RSUP Dr. M. Djamil menunjukkan kesiapannya dalam menghadapi skenario bencana besar dengan berperan aktif pada Simulasi Nasional Kesiapsiagaan Menghadapi Megathrust Sumatera Barat. Acara yang digelar oleh Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan ini berlangsung di Lapangan Imam Bonjol, Kota Padang, pada Rabu (3/9).

Sebanyak 40 petugas dari RSUP Dr. M. Djamil dikerahkan untuk mensimulasikan penanganan korban massal. Mereka adalah tim medis, perawat, tenaga kesehatan, hingga tenaga non- kesehatan. Partisipasi ini bukan hanya sekadar formalitas, melainkan wujud komitmen rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan vertikal Kementerian Kesehatan untuk menjadi garda terdepan dalam respons bencana.

Dalam simulasi ini, RSUP Dr. M. Djamil mendirikan fasilitas darurat yang mirip dengan kondisi nyata setelah gempa bumi dan tsunami. Fasilitas ini dirancang secara komprehensif, mulai dari ruang triase untuk memilah dan mengklasifikasikan korban berdasar tingkat keparahan luka.Instalasi Gawat Darurat (IGD) Lapangan, area untuk memberikan pertolongan pertama secara cepat dan efektif.

Kemudian Ruang Rawat Inap Sementara untuk menampung korban yang membutuhkan observasi lebih lanjut. Ruang Operasi Lapangan disiapkan untuk penanganan bedah darurat bagi korban dengan luka serius. Dan unit penunjang seperti laboratorium dan radiologi untuk mendukung diagnosis medis, dan gizi.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua didampingi Direktur Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS dan Ketua Komite K3RS Katherina Welong mengatakan simulasi ini ntuk menguji sistem dan personel rumah sakit dalam situasi tekanan tinggi. “Kami ingin memastikan seluruh tim kami siap, mulai dari menerima pasien di titik triase, melakukan tindakan medis di IGD, hingga mengelola pasien yang membutuhkan operasi. Ini melatih koordinasi tim di bawah tekanan, yang merupakan kunci utama dalam penanganan bencana,” ujar Dovy.

Simulasi ini, sebutnya, tidak hanya menguji keterampilan medis, tetapi juga menguatkan sistem komando dan koordinasi yang terpusat. “Dengan banyaknya pihak yang terlibat, mulai dari tim SAR, kepolisian, hingga berbagai rumah sakit, sistem komando tunggal menjadi hal vital agar penanganan berjalan sinergis dan efektif,” ungkapnya.

Ia menekankan partisipasi RSUP Dr. M. Djamil dalam simulasi ini menegaskan peran strategis rumah sakit vertikal sebagai pusat rujukan utama yang mampu beradaptasi dan memberikan layanan kesehatan maksimal dalam kondisi bencana. “Kesiapan ini menjadi modal penting bagi Sumatera Barat, yang berada di zona rawan gempa, untuk menghadapi ancaman megathrust di masa depan,” harap Dirut. (*)

Pusat Krisis Kesehatan Gelar Simulasi Megathrust, Uji Kesiapsiagaan SDM Kesehatan Hadapi Bencana

Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan menggelar Simulasi Nasional Kesiapsiagaan Menghadapi Megathrust Sumatera Barat. Simulasi yang berlangsung di Lapangan Imam Bonjol, Kota Padang, pada Rabu (3/9), ini bertujuan untuk menguji dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) kesehatan dalam menghadapi skenario bencana gempa bumi dan tsunami.

Simulasi skala nasional ini dirancang untuk mensimulasikan penanganan korban massal secara komprehensif, mulai dari evakuasi korban, manajemen korban luka dan meninggal, sistem rujukan, hingga koordinasi antar-rumah sakit. Kegiatan ini juga melibatkan simulasi manajemen Disaster Medical Teams (DMTs), Health Emergency Operation Center (HEOC), dan komunikasi publik.

Hal utama yang ditekankan dalam simulasi ini adalah pentingnya sistem komando dan koordinasi yang terpusat. Dengan banyaknya stakeholder yang terlibat, diperlukan adanya satu komando tunggal, yaitu Incident Commander yang ditunjuk oleh kepala daerah. Hal ini krusial agar penanggulangan bencana dapat berjalan sinergis, kolaboratif, dan optimal.

RSUP Dr. M. Djamil, sebagai rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan, turut mengambil peran penting dalam simulasi ini. Mereka menyiapkan fasilitas darurat lengkap, mulai dari ruang triase, instalasi gawat darurat, ruang rawat inap, bagian penunjang hingga ruang operasi. Seluruh tim medis, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya dikerahkan untuk memberikan layanan darurat di lapangan, mencerminkan kesiapan rumah sakit dalam menghadapi situasi nyata.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, menyoroti peran vital sektor kesehatan sebagai garda terdepan dalam penanganan dan pemulihan pascabencana. Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu diperkuat, termasuk ketersediaan tenaga cadangan kesehatan. “Relawan kesehatan terlatih dapat digerakkan sewaktu-waktu. Jadi, kita melatih beberapa relawan jika ada sesuatu, kita bisa segera dimobilisasi,” ujar Kunta.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya keberadaan Emergency Medical Teams dengan standar internasional, Health Emergency Operation Center (HEOC) sebagai pusat komando koordinasi saat krisis, dan Public Safety Center (PSC) 119 yang menjadi layanan gawat darurat medis terhubung secara nasional.

“Pada saat krisis, harus ada koordinasi di sana supaya kita bisa bergerak sesuai dengan kondisi. Dan supaya tidak bergerak sendiri-sendiri,” tambahnya.

Kunta menegaskan simulasi ini bukan sekadar latihan teknis, melainkan bagian dari proses pembelajaran kolektif lintas sektor. “Kita harus berkoordinasi dan bersinergi lintas sektor untuk memastikan komponen sistem kesehatan mau merespons secara cepat, tepat, dan terkoordinasi,” harapnya.

Senada dengan Kunta, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, dalam sambutannya menekankan klaster kesehatan memegang peranan vital dalam penanganan darurat bencana. Kesiapan rumah sakit, puskesmas, tenaga kesehatan, logistik, obat-obatan, sistem rujukan, dan koordinasi antar-instansi harus berjalan cepat, tepat, dan efisien.

“Melalui simulasi klaster kesehatan ini, kita dapat mengukur kesiapan tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan. Menguatkan sistem koordinasi dan komando antar-rumah sakit, dinas kesehatan, puskesmas, PMI, relawan medis, dan instansi lainnya,” tutur Vasko.

Simulasi ini juga menjadi ajang untuk menguji ketersediaan logistik medis, obat-obatan, dan mekanisme distribusinya saat darurat. Ia mengatakan simulasi ini melatih sistem rujukan korban dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga rumah sakit rujukan utama. “Dan membangun jejaring lintas sektor karena tidak dapat berdiri sendiri. Akan tetapi harus terintegrasi dengan klaster lain seperti logistik, pendidikan, perlindungan serta sarana prasarana,” pungkas Vasko.

Pembukaan simulasi ini dihadiri Kepala Pusat Krisis Agus Jamaludin, SKM, M.Kes dan jajaran, Direktur Utama RSUP Dr. M.Djamil Dr.dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Forkopimda Kota Padang dan Sumbar, Kepala OPD Sumbar, dan undangan menandai komitmen bersama dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman megathrust di wilayah tersebut.(*)

Rais Sahidin, Radiografer RSUP Dr. M. Djamil Ikuti Pelatihan Internasional di China

Rais Sahidin, seorang radiografer RSUP Dr. M. Djamil, mendapatkan kesempatan untuk mengikuti International Training Course on Medical Imaging di China. Pelatihan yang digagas oleh Kementerian Kesehatan sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas dan kompetensi tenaga medis di Indonesia ini berlangsung dari 8 hingga 28 September 2025 di tiga kota besar, yaitu Beijing, Changzhou, dan Shanghai.

Keberangkatan Rais Sahidin dilepas oleh Direktur Utama, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG., KFM., MARS., FISQUA didampingi Direktur SDM, Pendidikan, dan Pelatihan, dr. Maliana, M.Kes di Ruang Kerja Direktur Utama, Selasa (2/9).

Dovy Djanas menyampaikan rasa bangga atas terpilihnya Rais Sahidin. “Ini adalah sebuah kehormatan bagi RSUP Dr. M. Djamil. Kami sangat bangga bahwa salah satu radiografer terbaik kami terpilih untuk mengikuti pelatihan internasional yang sangat penting ini. Kami berharap Rais dapat memanfaatkan setiap ilmu dan pengalaman yang didapat, lalu menerapkannya untuk meningkatkan pelayanan di rumah sakit kita,” ujar Dovy.

Maliana menambahkan, pelatihan ini bukan hanya tentang meningkatkan kemampuan individu, tetapi juga tentang membawa pulang pengetahuan baru yang dapat dibagikan kepada rekan-rekan sejawat. “Kami yakin Rais akan menjadi duta yang baik dan dapat menginspirasi radiografer lainnya untuk terus berkembang,” harapnya.

Bagi Rais Sahidin, kesempatan ini merupakan impian yang menjadi kenyataan. “Saya berterima kasih kepada jajaran direksi dan seluruh pihak di RSUP Dr. M. Djamil atas dukungan yang luar biasa. Saya berjanji akan memberikan yang terbaik selama pelatihan, menyerap semua ilmu yang diberikan, dan kembali dengan bekal yang lebih matang untuk melayani masyarakat Padang dan sekitarnya,” kata Rais.(*)

Dirut RSUP Dr. M. Djamil Tinjau Renovasi Ambun Pagi

Komitmen RSUP Dr. M. Djamil untuk memberikan pelayanan kesehatan yang prima dan berfokus pada pasien kembali dibuktikan dengan agenda telusur yang dilakukan oleh Direktur Utama, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, bersama jajaran manajemen. Kunjungan ini berfokus pada ruang rawat inap Ambun Pagi, yang baru saja menjalani renovasi, pada Selasa (2/9).

Dr. Dovy Djanas dan tim meninjau langsung progres renovasi, yang bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan pasien. Mereka memastikan bahwa hasil perbaikan sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan, sehingga pasien dapat merasakan suasana yang lebih baik selama masa perawatan.

Selain memeriksa kondisi fisik ruangan, telusur ini juga difokuskan pada aspek operasional. Manajemen secara langsung mengecek ketersediaan tenaga kesehatan, termasuk perawat dan dokter jaga, untuk memastikan rasio yang memadai demi pelayanan optimal. Hal ini penting untuk menjamin setiap pasien mendapatkan perhatian dan penanganan medis yang cepat dan tepat.

Tidak hanya itu, tim juga mengidentifikasi kebutuhan penunjang pelayanan lainnya, seperti ketersediaan alat-alat medis, sarana sanitasi, serta kelengkapan penunjang non-medis yang esensial. Setiap detail diperhatikan agar pelayanan yang diberikan tidak hanya bermutu, tetapi juga komprehensif.

Dovy Djanas menyatakan telusur ini adalah bagian dari budaya kerja di RSUP Dr. M. Djamil. “Kami ingin memastikan bahwa setiap pasien yang datang ke sini tidak hanya sembuh, tetapi juga merasa aman dan nyaman. Kunjungan ini menjadi wujud nyata komitmen kami untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan berfokus pada pasien,” ujarnya.

Agenda telusur seperti ini, sebutnya, akan terus dilakukan secara berkala sebagai bagian dari pengawasan internal, memastikan bahwa seluruh standar pelayanan tetap terjaga dan selalu berorientasi pada peningkatan kualitas. “Hal ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap RSUP Dr. M. Djamil sebagai salah satu rumah sakit rujukan terbaik di Sumatera Barat,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil dan IKABI Sumbar Perkuat Sinergi untuk Pelayanan Bedah Unggul di Sumbar

RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan utama di Sumatera Barat senantiasa berkomitmen untuk mendukung setiap upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Rumah sakit ini tidak bisa bekerja sendiri. Sinergi antara rumah sakit, organisasi profesi seperti Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI), dan seluruh tenaga medis lainnya sangatlah penting untuk menciptakan pelayanan kesehatan yang optimal bagi masyarakat.

“Inilah yang menjadi landasan utama kami dalam terus berkolaborasi dengan IKABI dan berbagai pihak terkait lainnya. Kami mengharapkan agar pengurus yang baru dilantik dapat lebih intensif bekerja sama dengan pihak rumah sakit dalam upaya membangun dan mengembangkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya dalam bidang bedah, di Sumatera Barat,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua saat Pelantikan Pengurus IKABI Periode 2023-2026 di Hotel Pangeran Beach, Minggu (31/8).

Kepengurusan IKABI Korwil Sumbar yang dipimpin oleh Dr. dr. Daan Khambri, Sp.B, Subsp.Onk (K), M.Kes ini dilantik oleh Ketua PP IKABI Dr. dr. Yusirwan Yusuf, Sp.B, Sp.BA, Subsp.DA (K), MARS, FISQua. Turut disaksikan oleh Ketua IDI Sumbar Dr. dr. Roni Eka Sahputra, Sp.OT (K) Spine, Dekan Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp. Onk (K), FACS, FFSTEd, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua dan Kasi Pelayanan Kesehatan Rujukan Dinas Kesehatan Sumbar drg. Das Endresva Dewi.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh dunia kedokteran saat ini, sebutnya, adalah pengembangan sumber daya manusia yang kompeten, terampil, dan profesional. “Sebagai seorang dokter spesialis bedah, tidak hanya keterampilan medis yang harus dikuasai, tetapi juga kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi medis terbaru, serta kemampuan untuk memberikan pelayanan yang manusiawi dan penuh empati kepada pasien,” ungkapnya.

Dalam hal ini, pihaknya ingin mengingatkan pentingnya peningkatan pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan bagi seluruh tenaga medis, khususnya dokter spesialis bedah. Pelatihan-pelatihan ini bukan hanya untuk meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga untuk mengasah kemampuan dalam menghadapi tantangan baru di dunia medis yang selalu berkembang. “Peran IKABI dalam memfasilitasi pelatihan, seminar, dan diskusi ilmiah sangatlah penting dalam hal ini,” ucap Dovy.

Di RSUP Dr. M. Djamil, tuturnya, mendukung adanya peningkatan kapasitas SDM melalui berbagai program pendidikan dan pelatihan, baik untuk tenaga medis maupun tenaga kesehatan lainnya. “Kami juga selalu terbuka untuk bekerja sama dengan IKABI dalam rangka meningkatkan kualitas SDM di bidang bedah. Melalui kolaborasi antara rumah sakit, organisasi profesi, dan lembaga pendidikan, saya yakin kita dapat menghasilkan tenaga medis yang lebih kompeten dan siap menghadapi tantangan kesehatan di masa depan,” harapnya.

Sementara itu, Ketua PP IKABI Dr. dr. Yusirwan Yusuf, Sp.B, Sp.BA, Subsp.DA (K), MARS, FISQua menggarisbawahi bahwa penanganan pasien trauma, terutama di daerah yang rawan bencana seperti Sumatera Barat, memerlukan kesiapan dan keahlian yang prima dari tenaga medis. “ATLS adalah fondasi penting yang harus dikuasai oleh setiap dokter bedah. Dengan memiliki instruktur ATLS yang kompeten dan berkesinambungan, kita bisa memastikan bahwa ilmu dan keterampilan ini terus tersebar dan diterapkan dengan baik di seluruh wilayah,” harapnya.

Yusirwan juga mendorong para pengurus untuk memperkuat program pendidikan dan pelatihan, khususnya dalam bidang trauma. Ia melihat bahwa kaderisasi instruktur ATLS dari kalangan dokter spesialis muda adalah investasi jangka panjang. “Mereka akan menjadi tulang punggung dalam memberikan pelatihan ATLS kepada dokter-dokter lain, baik di kota maupun di daerah terpencil,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara IKABI Korwil Sumbar dengan berbagai pihak, termasuk rumah sakit, universitas, dan pemerintah daerah, untuk menyelenggarakan pelatihan yang lebih masif dan terstruktur. “Ini sejalan dengan visi IKABI untuk menciptakan sistem pelayanan trauma yang terintegrasi dan berkualitas tinggi di seluruh Indonesia,” ucap Yusirwan.(*)

RSUP Dr. M. Djamil dan BRIN Jalin Kerja Sama dalam Bidang Kehumasan Riset dan Inovasi

RSUP Dr. M. Djamil menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menjalin kerja sama dalam bidang kehumasan riset dan inovasi. Penandatanganan ini bertujuan untuk memperkuat komunikasi publik dan penyebaran informasi terkait hasil-hasil riset dan inovasi yang dihasilkan oleh kedua belah pihak.

MoU tersebut ditandatangani oleh Direktur Layanan Operasional mewakili Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, dan Kepala Biro Komunikasi Publik, Umum dan Kesekretariatan BRIN, Yudho Baskoro. Acara penandatanganan berlangsung di Ruang Sidang Senat Universitas Negeri Padang (UNP) pada Sabtu (30/8). Selain RSUP Dr. M. Djamil, kerja sama serupa juga dilakukan oleh BRIN dengan UNP, Universitas Andalas (Unand), dan Politeknik Negeri Padang.

drg. Ade Palupi Muchtar, MARS dalam sambutannya menekankan pentingnya peran rumah sakit sebagai lembaga yang tidak hanya menyediakan pelayanan kesehatan, tetapi juga mengemban amanah dalam bidang pendidikan, penelitian, dan inovasi teknologi kesehatan.

“Sebagai rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan, RSUP Dr. M. Djamil memiliki tanggung jawab besar. Kami tidak hanya memberikan pelayanan kepada pasien, tetapi juga berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan untuk masa depan kesehatan bangsa. Inilah yang membedakan kami,” ujar drg. Ade didampingi Manajer Tim Kerja Hukum dan Humas Nova Afriani.

Menurutnya, peran kehumasan sangat krusial dalam menyampaikan hasil-hasil riset dan inovasi tersebut kepada masyarakat. Ia meyakini keberhasilan dalam penelitian tidak akan berarti jika tidak tersampaikan dengan baik kepada publik. “Publik perlu tahu bahwa rumah sakit ini aktif menciptakan inovasi, melakukan penelitian mutakhir, dan mengembangkan teknologi untuk meningkatkan pelayanan. Komunikasi publik yang efektif adalah jembatan yang menghubungkan kerja keras kami dengan kepercayaan masyarakat,” jelasnya.

Kerja sama dengan BRIN, lanjut drg. Ade, merupakan langkah strategis karena BRIN merupakan lembaga riset terdepan di Indonesia. Dengan menggabungkan kekuatan BRIN yang ahli dalam diseminasi riset dan inovasi, serta sumber daya dan data di bidang kesehatan yang dimiliki RSUP Dr. M. Djamil, sinergi yang luar biasa diharapkan dapat tercipta. “Kami berharap dapat meningkatkan kualitas komunikasi publik. Kami akan belajar dari BRIN tentang cara-cara efektif dalam mendiseminasikan hasil riset dan inovasi, sehingga informasi yang kami sampaikan lebih akurat, transparan, dan mudah dipahami oleh semua lapisan masyarakat,” harap drg. Ade.

Senada dengan pernyataan drg. Ade, Kepala Biro Komunikasi Publik, Umum dan Kesekretariatan BRIN, Yudho Baskoro, menyambut baik kerja sama ini. Menurutnya, RSUP Dr. M. Djamil dan BRIN berada dalam satu “rumah” yang sama dalam hal riset dan inovasi. “Kami yakin banyak sekali riset-riset RSUP Dr. M. Djamil yang bisa didesiminasikan termasuk juga kita kolaborasikan. Dan kami dari BRIN, dengan seluruh kekuatan para periset yang dimiliki, juga bisa menyokong apa yang dilakukan RSUP Dr. M. Djamil dalam mengembangkan riset-riset kedokteran dan kesehatan,” ungkap Yudho.

Kerja sama ini akan diimplementasikan dalam beberapa hal, khususnya di bidang kehumasan. Salah satu poin pentingnya adalah saling berbagi media promosi informasi terkait riset dan inovasi.m”Hasil riset dan inovasi kita bisa saling berbagi media informasi. Artinya, apa yang dilakukan BRIN bisa juga disampaikan ke media informasi RSUP Dr. M. Djamil. Hal yang sama, apa yang disampaikan oleh RSUP Dr. M. Djamil bisa juga masuk ke kanal-kanal platform BRIN. Ini sebagai upaya kita untuk memperluas jangkauan informasi riset dan inovasi masing-masing pihak,” ucap Yudho.

Kerja sama ini, tuturnya, diharapkan dapat menjadi fondasi kuat untuk meningkatkan literasi masyarakat tentang pentingnya riset dan inovasi di bidang kesehatan. “Ini sekaligus membangun kepercayaan publik terhadap kemajuan yang dicapai oleh lembaga riset dan kesehatan di Indonesia,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil dan Kolegium Bedah Buka Fellowship Kolorektal untuk Tingkatkan Layanan Kesehatan di Daerah

Jumat (29/8), sebuah langkah maju dalam dunia kesehatan Indonesia ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara RSUP Dr. M. Djamil dan Kolegium Bedah. Kerja sama ini bertujuan untuk membuka program Fellowship Kolorektal, yang akan diselenggarakan di dua rumah sakit vertikal, yaitu RSUP Dr. M. Djamil di Padang dan RS Dr. Wahidin Sudirohusodo di Makassar.

Penandatanganan yang dilakukan oleh Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, menjadi tonggak penting untuk memperluas akses layanan bedah kolorektal di seluruh Indonesia.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, ketika dihubungi mengungkapkan rasa syukurnya atas penunjukan kedua rumah sakit tersebut. “Alhamdulillah, kami ditunjuk dua rumah sakit vertikal, yakni RSUP Dr. M. Djamil dan RS Wahidin Sudirohusodo, untuk membuka fellowship kolorektal,” ujarnya.

Pembukaan fellowship ini, sebutnya, dinilai strategis mengingat tingginya prevalensi penyakit yang berkaitan dengan kolon dan rektum di masyarakat. Program ini akan memberikan kesempatan emas bagi para dokter bedah untuk mendalami bidang kolorektal. Tujuannya adalah untuk mencetak dokter-dokter spesialis bedah yang kompeten dan dapat memenuhi kebutuhan layanan di berbagai rumah sakit daerah. “Ini akan memberikan kesempatan kepada dokter-dokter bedah yang bisa mengambil fellowship kolorektal,” jelas Dovy didampingi Ketua KSM Bedah Dr. dr. M. Iqbal Rivai, Sp.B, Subsp.BD (K).

Ia menyebutkan diketahui bahwa penyakit kelainan pada kolon dan rektum cukup banyak. Ini akan memberikan kesempatan kepada dokter-dokter spesialis bedah untuk bisa mengambil fellowship ini, terutama untuk pemenuhan layanan di rumah sakit daerah.

Dengan adanya program fellowship ini, diharapkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kolorektal tidak lagi harus selalu dirujuk ke rumah sakit tersier. Dokter-dokter yang telah menjalani program fellowship ini akan memiliki kompetensi untuk melakukan tindakan bedah kolorektal di rumah sakit di daerahnya masing-masing. Hal ini tentu akan membuat layanan kesehatan menjadi lebih terjangkau dan mudah diakses oleh masyarakat luas, tanpa harus melakukan perjalanan jauh ke kota-kota besar.

“Artinya, tidak semua penyakit yang berhubungan dengan kolorektal ini harus dikirim ke rumah sakit tersier, tapi bisa dilakukan di rumah sakit yang sesuai dengan kompetensinya. Tentu akan memberikan akses kepada masyarakat untuk bisa dilayani oleh dokter-dokter spesialis bedah yang mengikuti pendidikan fellowship ini,” ucapnya.

Dovy juga menambahkan langkah ini akan memungkinkan rumah sakit tersier untuk lebih fokus menangani pasien-pasien dengan kondisi yang lebih kompleks dan memerlukan tindakan lanjutan (advance). Dengan demikian, terjadi penataan layanan yang lebih baik, mulai dari skrining, tatalaksana, hingga ketersediaan dokter spesialis yang merata. “Ini suatu hal yang perlu disupport dan memberikan akses layanan yang lebih baik, terutama bagi daerah yang membutuhkan layanan yang berhubungan dengan kolorektal,” tukas Dovy Djanas.(*)

Wujudkan Indonesia Emas 2045, RSUP Dr. M. Djamil Fokus Tingkatkan Layanan Kebidanan

Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), menghadiri Rapat Kerja Pendidikan Departemen Obstetri dan Ginekologi FK Unand/RSUP Dr. M. Djamil pada Jumat (29/8). Bertempat di ruang pertemuan kebidanan lantai 3 Gedung Kebidanan dan Anak, rapat ini menjadi forum penting untuk membahas strategi peningkatan kualitas layanan dan pendidikan di bidang obstetri dan ginekologi.

Dalam sambutannya, Bestari Jaka Budiman menyoroti beban berat yang diemban oleh layanan ibu dan ginekologi, khususnya terkait dengan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian neonatus (AKN). Kedua indikator ini selalu menjadi fokus evaluasi utama. “Angka kematian yang selalu dievaluasi adalah kematian ibu dan neonatus,” ujar Bestari, menekankan urgensi perbaikan yang berkelanjutan.

Turut hadir Dekan Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp. Onk (K), FACS, FFSTEd, Ketua Departemen Obstetri dan Ginekologi, Dr. dr. Bobby Indra Utama, Sp.OG, Subsp.Urogin.RE, Ketua Koordinator Program Studi Obgin Dr. dr. Defrin, Sp.OG, KFM dan staf Obgin.

Ia melanjutkan, tingginya angka kematian tersebut menunjukkan perlunya persiapan sistem yang matang. “Ini artinya memang kita harus mempersiapkan sebuah sistem di rapat kerja. Jangan sampai kita sudah melakukan pendidikan, spesialis, subspesialis, kemudian tidak bisa menjalankan suatu sistem yang telah direncanakan,” tambahnya.

Bestari juga mengungkapkan RSUP Dr. M. Djamil telah memulai pemetaan kebutuhan yang paling mendasar di bidang kebidanan. Fokus utama dari perencanaan ini adalah untuk menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. “Kami telah mencoba melakukan pemetaan kebutuhan yang paling mendasar dan besar pada kebidanan ini memang perencanaan untuk membuat generasi yang baik tahun 2045 mulai dari layanan ibu dan ginekologi,” jelasnya.

Rapat kerja ini diharapkan dapat menghasilkan rumusan dan langkah-langkah konkret untuk membangun sistem layanan kebidanan dan ginekologi yang terintegrasi dan efektif. “Dengan demikian, kualitas pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak di Sumatera Barat, khususnya di RSUP Dr. M. Djamil, dapat terus meningkat, seiring dengan upaya menekan angka kematian ibu dan neonatus secara signifikan,” ucap Bestari.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp. Onk (K), FACS, FFSTEd mengatakan rapat kerja ini merupakan sebuah momentum untuk mengevaluasi dan capaian-capaian yang telah diraih baik dalam pendidikan, penelitian maupun pengabdian masyarakat. Evaluasi itu bisa ditentukan berdasar audit mutu internal dan audit mutu eksternal. “Diharapkan dalam raker ini menghasilkan program kerja yang dapat memberikan dampak bagi Departemen Obstetri dan Ginekologi,” tukasnya. (*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45