Kemoterapi, Prosedur Pengobatan pada Pasien Kanker

RSUP Dr M Djamil sebagai rumah sakit rujukan nasional memiliki layanan kemoterapi di lantai 2 Instalasi Diagnostik Terpadu (IDT). Layanan kemoterapi ini merupakan tindakan pengobatan yang dikhususkan untuk semua pasien yang terserang penyakit kanker.

“Kemoterapi bukanlah suatu hal menakutkan. Kemoterapi adalah prosedur pengobatan atau terapi kanker dengan memberikan obat-obatan untuk membunuh sel kanker,” kata dokter spesialis bedah onkologi dr Rahmat Taufik SpB (K) Onk di Ruang Kemoterapi RSUP Dr M Djamil, Jumat (6/12).

Jaringan tubuh kita, sebutnya, terdiri dari miliaran sel, di mana sel-sel tersebut akan terus tumbuh dan berkembang. Proses ini akan terus berjalan apabila terdapat sel yang memerlukan perbaikan. Umumnya, sel-sel dalam tubuh akan terus tumbuh dan mati dengan cara yang terkendali.

“Namun, pada kondisi kanker, sel kanker tumbuh tanpa kendali. Sehingga, dibutuhkan kemoterapi untuk menghentikan penyebaran atau memperlambat pertumbuhan sel kanker tersebut,” sebut dr Rahmat Taufik.

Ia mengatakan jika dokter menganjurkan kemoterapi agar menjalani protokol kemoterapi dengan baik. Karena itu proses dari pengobatan kanker. “Dan apabila kita jalani dengan baik dan benar, InshaAllah penyakit kanker yang diderita sembuh,” tegasnya.

Ia mengatakan lama pengobatan kemoterapi ini tergantung dari penyakit kanker dialami pasien. “Ada yang menjalani sampai enam siklus, ada empat siklus tergantung  penyakitnya. Dan tergantung pada macamnya ada satu hari rawatan dan ada dirawat beberapa hari,” paparnya.

Ia menyebutkan kadang ada efek samping diterima selama menjalani kemoterapi. Efek samping itu tidak selalu ada pada semua pasien. Efek samping ini bisa berupa mual, muntah atau rontoknya rambut. “Tapi itu bersifat individual. Artinya tidak semua pasien kemoterapi yang menjalani hal itu,” tuturnya.

Untuk mengatasi efek samping tersebut, sebut dr Rahmat Taufik, maka setiap pasien pulang dari kemoterapi biasanya diberikan obat-obatan. Jika terjadi mual dan muntah disesuaikan dengan dietnya dan aktivitas tubuh setelah kemoterapi.

“Kalau seandainya gejalanya betul-betul tidak bisa diatasi maka berobatlah ke pusat kesehatan terdekat. Jika tidak bisa ditangani maka dirujuk ke IGD RSUP Dr M Djamil untuk mengatasi efek samping tersebut,” sebutnya.

dr Rahmat Taufik menekankan bagi masyarakat yang masih ragu dengan kemoterapi, silakan datang ke RSUP Dr M Djamil. “Di sana masyarakat dapat melihat  bagaimana proses kemoterapi itu sendiri. Dan melihat pasien-pasien yang menjalani kemoterapi tersebut dilayani dengan baik,” tukasnya. (*)

Dirjen Yankes Kemenkes Lantik Tujuh Pejabat Fungsional Dokdiknis RSUP Dr M Djamil

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan dr Azhar Jaya SH SKM MARS secara resmi melantik dan mengambil sumpah tujuh pejabat fungsional ahli utama dokter pendidik klinis ahli utama dan madya RSUP Dr M Djamil bersama dengan pejabat fungsional ahli dan perpindahan ke dalam jabatan fungsional di lingkungan Kemenkes. Pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan itu berlangsung di Kementerian Kesehatan secara virtual, Rabu (11/12).

Ketujuh pejabat fungsional yang dilantik yakni dr Fauzar SpPD (K) (dokter pendidik klinis ahli utama), dr Citra Kiki Kevani SpJP (dokter pendidik klinis ahli madya), dr Yulia Margaretta Sari SpOG (K) (dokter pendidik klinis ahli madya). dr Rony R SpB (dokter pendidik klinis ahli madya), dr Rohayat Bilmahdi Simajuntak SpPD (dokter pendidik klinis ahli madya), dr Fanny Adhy Putri SpN (dokter pendidik klinis ahli madya) dan dr Dessy Mizarti SpP (dokter pendidik klinis ahli madya).

Turut disaksikan Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua (K), Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K), Direktur Layanan Operasional drg Ade Palupi Muchtar MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo serta Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr Kino SpJP (K) di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan secara virtual.

Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan dr Azhar Jaya SH SKM MARS mengatakan tugas utama UPT rumah sakit Kementerian Kesehatan adalah pertama memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada pasien. Minimal setara dengan rumah sakit di Asia. “Kedua, melakukan pendidikan dan penelitian berbasis klinis. Dan ketiga melakukan pengampuan terhadap rumah sakit lainnya,” sebutnya.

Terkait jabatan fungsional maka itu terkait dengan fungsi kita memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. “Dan ini harus dicermati betul oleh para pejabat fungsional. Karena sekali lagi ujung tombak dari Kementerian Kesehatan adalah UPT yang memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ucap dr Azhar Jaya.
Ia mengatakan tentu saja dengan memberikan pelayanan ini, maka kita harus melakukan tiga hal. Pertama pelayanan harus berorientasi kepada pasien.
“Pasien maunya apa, itu yang harus kita kerjakan. Kalau Anda menjadi pasien kita umpamakan masuk ke rumah sakit berharap nggak antre dan nggak susah. Itu yang disebut pasien orientasi,” sebutnya.

Kedua, berorientasi terhadap pelayanan klinis. Di mana pelayanan yang harus diberikan dengan baik, sesuai standar dan dengan peralatan canggih serta manajemen yang baik.
“Ketiga tata kelola rumah sakit. Rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan sudah melakukan transformasi yang luar biasa. Dan saya mengucapkan terima kasih atas dukungan semua,” ucapnya.

Namun demikian, tutur dr Azhar Jaya, terkait jabatan fungsional, para pejabat yang dilantik harus melaksanakan sesuai tahapan dan peraturan yang ada. “Untuk jejang utama, bukan merupakan hak pejabat yang dilantik. Tapi diraih dengan prestasi. Begitu mencapai jenjang utama masa pensiunnya 65 tahun. Ini adalah orang-orang yang istimewa. Orang-orang yang bisa memberi contoh kepada jenjang di bawahnya,” tegasnya.

Ia menekankan orang-orang dengan jenjang utama ini harus disiplin, tidak pernah kena tindakan indisipliner. Kemudian pasiennya banyak, datang ontime, dan tepat waktu. “Sehingga dia masuk kinerjanya kuadran I,” tukasnya. (*)


RSUP Dr M Djamil Berikan Dukungan untuk Program Subspesialis Bedah

RSUP Dr M Djamil sebagai rumah sakit tipe A telah ditetapkan sebagai Rumah Sakit Pendidian Utama Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Sebagai rumah sakit pendidikan utama, RSUP Dr M Djamil memiliki komitmen kuat untuk mendukung proses pendidikan dan pelatihan klinis, termasuk Program Subspesialis Bedah.

“Dengan dukungan sumber daya manusia yang kompeten, fasilitas kesehatan yang memadai, dan kolaborasi yang harmonis, kami optimistis dapat memberikan kontribusi nyata dalam mencetak tenaga medis subspesialis yang berkualitas dan kompeten,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua saat Asesmen Lapangan Akreditasi Minimum

Program Studi Bedah Program Subspesialis Fakultas Kedokteran Unand di Aula Prof dr M Syaaf Fakultas Kedokteran Jati, Selasa (10/12).

Turut hadir Tim Asesor Akreditasi LAMPT-Kes yakni Dr dr Muhammad Arifin Parenrengi SpBS (K), dr Bermansyah SpB SpBTKV Subsp VE (K) FCSI, Sekretaris LPM Unand Dr Elly Delfia MHum, Kabid Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Sumbar Syaiful Jamal SKM, wakil dekan Fakultas Kedokteran Unand, Kepala Departemen Bedah dan Ketua Prodi Bedah Fakultas Kedokteran Unand/RSUP Dr M Djamil dan staf bedah.

Ia mengatakan Alhamdulillah, pada hari ini akan dilakukan visitasi oleh Tim Asesor Akreditasi LAMPT-Kes dalam rangka akreditasi Program Studi Bedah program subspesialis di Fakultas Kedokteran Unand.

“Atas nama RSUP Dr M Djamil, saya mengucapkan selamat datang kepada tim asesor yang telah meluangkan waktu untuk melaksanakan tugas penting ini,” ucap dokter spesialis Fetomaternal ini.

Ia menekankan kegiatan asesmen ini merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan Program Studi Bedah Subspesialis FK Unand. “Tidak hanya akan menentukan status akreditasi, tetapi juga menjadi cerminan mutu pendidikan yang diusung oleh program studi ini,” ucap Dovy.

Dekan Fakultas Kedokteran Unand Prof Dr dr Afriwardi SH MA SpKO Subsp APK mengatakan dukungan yang diberikan RSUP Dr M Djamil memang dibutuhkan program subspesialis ini. “Mudah-mudahan support itu pada saat kita mendapatkan catatan-catatan kecil nanti, mungkin saja catatan-catatan tersebut akan menjadi perhatian bagi rumah sakit pendidikan utama ini,” sebutnya.

Sehingga, tutur Prof Afriwardi, kerja sama yang diharapkan dalam rangka menghasilkan sumber daya manusia yang mumpuni tersebut adalah memang dapat kita bersamakan. “Dan InshaAllah ini akan menjadi lebih baik dan Allah akan meridhoi apa yang kita lakukan,” tukasnya.(*)

Gelar Seminar Tata Kelola RS, Dirut M Djamil: Tantangan Pelayanan Kesehatan semakin Kompleks

Tantangan dalam dunia pelayanan kesehatan semakin kompleks. Rumah sakit tidak hanya dituntut untuk memberikan layanan kesehatan yang berkualitas. Akan tetapi juga harus mampu mengelola organisasi secara efektif dan efisien, serta tetap mengutamakan kepuasan pasien sebagai prioritas utama.

“Sebagai salah satu rumah sakit rujukan, RSUP Dr M Djamil terus berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada keselamatan pasien, mutu layanan, dan inovasi teknologi medis,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua saat pembukaan Seminar Tata Kelola Rumah Sakit di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Selasa (10/12).

Pada kesempatan itu, Dirut juga memaparkan profil dan rencana pengembangan masterplan RSUP Dr M Djamil.

Seminar yang disponsori PT Beyond Medical dan berlangsung hingga Rabu (11/12) itu menghadirkan narasumber Konsultan Rumah Sakit dr Yanuar Jak SpOG MARS PhD FISQua MPM. Dan narasumber lainnya yakni Kepala BPJS Kesehatan Padang dr dr Fauzi Lukman Nurdiansyah.

Turut dihadiri, Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K), Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, manajemen rumah sakit, Direksi PT Beyond Medical Warsito dan direksi rumah sakit di Kota Padang.

Selain itu, sebutnya, RSUP Dr M Djamil juga berperan aktif dalam pendidikan dan penelitian, sejalan dengan misinya untuk mendukung transformasi kesehatan. “Seminar Tata Kelola Rumah Sakit ini merupakan salah satu bentuk nyata dari komitmen kami untuk meningkatkan kapasitas dan wawasan para pemangku kepentingan di bidang kesehatan,” ucapnya.

Dokter spesialis Fetomaternal ini mengatakan seminar ini akan membahas berbagai topik strategis. Seperti kepuasan pasien dalam manajemen layanan, penerapan good governance dalam strategi bisnis. Keterlibatan manajemen terhadap mutu layanan dengan keseimbangan profitabilitas.

“Dinamika kebijakan rumah sakit dalam kondisi krisis, hingga pelayanan berbasis pasien (patient-centered care). Semua ini merupakan elemen krusial yang menjadi fondasi dalam tata kelola rumah sakit yang unggul,” papar Dovy.

Konsultan Rumah Sakit dr Yanuar Jak SpOG MARS PhD FISQua MPM saat pemaparan materi Kepuasan Pasien dalam Manajemen Layanan mengatakan munculnya aneka kritik, aduan hingga komplain atau keluhan dari masyarakat di rumah sakit sebagai lembaga pelayanan publik yang bergerak di bidang kesehatan, menjadi satu hal lumrah. Wajar dan sudah menjadi konsekuensi logis yang tak bisa dihindarkan.

“Komplain atau keluhan itu harus dihadapi dan dikelola dengan profesional. Dengan harapan agar setiap aduan dan komplain masyarakat sebagai pengguna jasa layanan (baik pasien, keluarga pasien maupun warga lainnya) bisa menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan,” tuturnya.

Ia menekankan MPP merupakan garda pertama yang menerima aduan dari masyarakat, sebelum nantinya dilanjutkan ke direksi. “MPP inilah yang menjadi fasilitator antara pihak pasien dengan rumah sakit. Dan MPP jugalah yang menyelamatkan rumah sakit,” tegasnya.

Ketua PERSI DKI Jakarta ini mengatakan MPP tersebut berperan menjaga jangan sampai pasien komplain terhadap layanan. “Satu ruangan MPP itu maksimal 25 bed. MPP inilah yang keliling setiap hari untuk mensortir dan mencari informasi,” sebutnya.

Ia mengatakan agar kepala unit ruangan dan MPP terawasi, perlu disisip manajemen di dalamnya. “Ada manajemen yang disisip di dalam. Bagaimana excellencenya itu terjaga. Bagaimana kita tahu akhirnya pasien itu puas,” harap dr Yanuar Jak. (*)

Dirut RSUP Dr M Djamil Imbau Direktorat Pelajari PMK Terbaru Penerapan Manajemen Risiko

RSUP Dr M Djamil menerima kunjungan Tim Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan RI di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Senin (9/12). Kunjungan tim Itjen tersebut untuk menyosialisasikan KMK No HK.01.07-MENKES-1354-2024 tentang Penerapan Manajemen Risiko di Lingkungan Kemenkes sekaligus melakukan pendampingan pengisian kertas kerja penilaian risiko.

“Aturan KMK tentang Penerapan Manajemen Risiko ini merupakan aturan yang baru di lingkungan Kementerian Kesehatan. Untuk itu masing-masing direktorat di RSUP Dr M Djamil untuk bisa mempelajari dan membahas aturan ini,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua.

Sosialisasi tersebut turut dihadiri Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K), Direktur Layanan Operasional drg Ade Palupi Muchtar MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr Kino SpJP (K) dan manajemen.

Ia mengatakan acuan dari manajemen risiko tersebut suatu hal yang menjadi syarat untuk pengajuan. “Apakah itu pengajuan anggaran, pengajuan hal-hal kita memang pantas tidak dalam hal ini. Di dalam pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan renstra dan kebutuhan anggaran berdasar pada manajemen risiko,” tuturnya.

Ia mengatakan dengan pola yang baru dalam aturan ini, kita bisa nanti memanfaatkan waktu bersama tim Itjen. “Sehingga nanti kita benar-benar bisa melaksanakan kegiatan manajemen risiko yang memang menjadi panduan kita di dalam pelaksanaan mengambil keputusan, hal-hal yang berhubungan dengan menghindari risiko yang kita lakukan terhadap yang dilakukan di unit,” tuturnya.

Nanti, sebut Dovy, unit akan berkoordinasi dengan direktorat terkait. Sehingga bisa menjadi acuan kita termasuk dia sebagai pimpinan satuan kerja. “Saya kira ini merupakan hal yang penting maka akan kita tindaklanjuti,” harapnya.

Sementara Tim Itjen Kemenkes Faisal mengatakan tujuan umum manajemen risiko yang diatur dalam PMK tersebut adalah penciptaan dan pelindungan nilai organisasi. Sedangkan tujuan khususnya adalah meningkatkan pencapaian tujuan dan peningkatan kinerja, mendorong manajemen yang proaktif.

Kemudian memberikan dasar yang kuat dalam pengambilan keputusan dan perencanaan, meningkatkan efektivitas alokasi dan efisiensi penggunaan sumber daya organisasi. “Meningkatkan kepatuhan terhadap perundang-perundangan, meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan dan meningkatkan ketahanan organisasi,” paparnya.

Ia memaparkan manfaat manajemen risiko di lingkungan Kementerian Kesehatan yakni meningkatkan kualitas perencanaan, penganggaran, kinerja efektivitas dan efisiensi organisasi. Meningkatkan akuntabilitas organisasi, meningkatkan mutu informasi untuk pengambilan keputusan serta meningkatkan hubungan baik dengan pemangku kepentingan.

“Manajemen risiko di lingkungan Kementerian Kesehatan dilaksanakan berdasar prinsip manajemen risiko ISO 31000:2018,” sebutnya.

Ia menyebutkan ada enam kategori risiko di lingkungan Kementerian Kesehatan. Yakni risiko kebijakan, risiko reputasi, risiko fraud, risiko legal, risiko kepatuhan dan risiko operasional. “Langkah-langkah mengidentifikasi risiko tersebut adalah menentukan kategori risiko yang menjadi dasar identifikasi, melakukan identifikasi kejadian risiko yang mungkin terjadi berdasar kategori tersebut. Dan mengaitkan risiko yang diidentifikasi dengan sasaran organisasi yang relevan,” tukasnya. (*)

Peringatan Hakordia 2024, RSUP Dr M Djamil Terima Kunjungan Kajari Padang

RSUP Dr M Djamil menerima kunjungan Kejaksaan Negeri (Kejari) Padang di Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Senin (9/12). Kunjungan tersebut dalam rangka Hari Antikorupsi Sedunia 2024 yang mengusung tema Teguhkan Komitmen Berantas Korupsi untuk Indonesia Maju.

Kedatangan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Padang Dr Aliansyah SH MH didampingi Kepala Seksi Intelijen Eriyanto SH MH itu diterima oleh Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua.

Turut mendampingi Direktur Layanan Operasional drg Ade Palupi Muchtar MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr Kino SpJP (K) dan Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K).

Pada kesempatan itu, Kajari Padang membagikan stiker bertuliskan Ayo Bangkit Bersama Lawan Korupsi dan setangkai bunga kepada jajaran direksi dan pasien. Dan Kajari Padang bersama Dirut RSUP Dr M Djamil pun menempelkan stiker tersebut di depan ruangan pengaduan, kasir dan admission.

“Hari ini adalah momentum peringatan Hari Antikorupsi Sedunia. Dimana RSUP Dr M Djamil mendapat kehormatan dengan kedatangan Kajari Padang bersama rombongan,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua.

Hal ini, sebut Dovy, tentu menjadi semangat bagi RSUP Dr M Djamil terus memberikan layanan terbaik kepada masyarakat. “Dengan peringatan Hari Antikorupsi Sedunia ini, semua harus dilaksanakan dengan baik, lancar dan tanpa gratifikasi. Sekaligus membuktikan ini semua demi kepentingan masyarakat,” tegas dokter spesialis Fetomaternal ini.

Ia mengatakan InshaAllah ini akan menjadi semangat RSUP Dr M Djamil untuk bisa berkolaborasi bersama. “RSUP Dr M Djamil harus mempertahankan dan meningkatkan layanan yang dibutuhkan masyarakat. Sehingga keberadaan RSUP Dr M Djamil menjadi rumah sakit yang kita banggakan baik bagi masyarakat Sumbar khususnya Sumatera Bagian Tengah umumnya,” tuturnya.

Sementara itu, Kajari Padang Dr Aliansyah SH MH mengatakan 9 Desember ini diperingati sebagai Hari Antikorupsi Sedunia. Untuk memperingati hari tersebut, salah satu lokasi yang dipilih adalah RSUP Dr M Djamil. Pertimbangannya, rumah sakit ini telah memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat.

“Apalagi rumah sakit melayani orang-orang sedang sakit dan berobat. Dengan harapan pelayanan ini bisa menjadi pelayanan yang memberikan kesembuhan bagi orang yang sakit,” ucapnya.

Ia mengatakan Kejari Padang memberikan apresiasi kepada RSUP Dr M Djamil yang telah memberikan pelayanan terbaik dan perlu dijaga dan dipertahankan. “Supaya ke depan RSUP Dr M Djamil ini menjadi contoh rumah sakit yang memberikan pelayanan terbaik di Sumatera Barat,” harapnya. (*)

Workshop Pengampuan Stroke, Tingkatkan Kompetensi dan Koordinasi Antar-RS Jejaring

Stroke merupakan salah satu penyakit yang memberikan beban besar, baik dari segi kesehatan masyarakat maupun dari aspek ekonomi. Penanganan yang cepat, tepat, dan terintegrasi menjadi kunci keberhasilan dalam menurunkan angka mortalitas dan morbiditas akibat stroke.

“Untuk itu, program pengampuan rumah sakit jejaring pelayanan stroke ini sangatlah strategis,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil diwakili Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K) saat Workshop Pengampuan Stroke: Code Stroke di The ZHM Premiere Hotel Padang, Sabtu (7/12).

Workshop yang berlangsung Jumat (6/12) sampai Minggu (8/12) ini turut dihadiri Ketua Pengampuan Stroke Regional Sumbar, Riau dan Kepri dr Dedi Sutia SpN (K) FINA MARS dan Kepala Dinas Kesehatan Sumbar diwakili Kabid Pelayanan Kesehatan dr Fionaliza MKM.

Workshop ini, sebut Dr dr Bestari, sebagai bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Khususnya dalam penanganan stroke melalui optimalisasi sistem rujukan di berbagai rumah sakit rujukan di masing-masing provinsi.

“Melalui workshop ini, kita berharap dapat mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam sistem rujukan pelayanan stroke, meningkatkan kompetensi dan koordinasi antar rumah sakit jejaring. Kemudian dapat menguatkan peran rumah sakit rujukan sebagai pusat pelayanan stroke yang andal dan profesional,” harapnya.

Ia mengajak seluruh peserta untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi dan berbagi pengalaman. Kolaborasi yang solid antara berbagai pihak sangat diperlukan agar sistem rujukan pelayanan stroke yang kita bangun semakin optimal.

“Workshop ini membawa manfaat besar bagi peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia, khususnya dalam bidang penanganan stroke,” harap Dr dr Bestari.

Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Sumbar dr Fionaliza MKM mengatakan berdasar data HFIS BPJS Kesehatan tahun 2024, stroke merupakan penyakit katastropik nomor tiga dengan jumlah kasus 46.994 dengan beban biaya Rp 104 miliar lebih. Mengingat serius permasalahan ini, Dinas Kesehatan Sumbar selalu berkoordinasi dengan RSUP Dr M Djamil sebagai rumah sakit pengampu regional dalam meningkatkan dan melakukan percepatan strata pelayanan dari rumah sakit daerah.

“Kita sudah melihat komitmen dari RSUP Dr M Djamil. Workshop ini tidak hanya sampai di sini, tetapi akan ada kelanjutan dengan workshop-workshop lainnya,” tuturnya.

Ia berharap rumah sakit daerah sudah mampu memberikan pelayanan sesuai yang diharapkan oleh Kementerian Kesehatan. “Kami berharap RSUP Dr M Djamil juga nanti akan memberikan pengampuan-pengampuan secara terstruktur dan terorganisir terhadap pelayanan-pelayanan kanker, jantung, stroke dan uronefrologi,” harap dr Fionaliza.

Sementara itu, Ketua Pengampuan Stroke Regional Sumbar, Riau dan Kepri dr Dedi Sutia SpN (K) FINA MARS mengatakan di Sumbar memiliki hampir 30 rumah sakit pemerintah terdiri dari rumah sakit umum pusat, rumah sakit khusus milik Kementerian Kesehatan, rumah sakit umum milik Pemprov Sumbar dan rumah sakit umum milik kabupaten kota di Sumbar.

“Harapanpengampuan stroke, dari target adalah semua rumah sakit umum dan khusus milik Kemenkes itu bersertifikasi paripurna. Semua rumah sakit milik Pemprov Sumbar tersertifikasi utama. Minimal semua rumah sakit milik kabupaten kota memiliki sertifikasi madya,” ucapnya.

Ia mengatakan namun tantangan yang dihadapi saat ini adalah semua rumah sakit umum milik kabupaten kota di Sumbar statusnya masih dasar. Sedangkan rumah sakit umum milik Pemprov Sumbar juga statusnya kebanyakan masih dasar. “Hanya satu yang berstatus paripurna adalah RSUP Dr M Djamil. Dan satu berstatus utama adalah RS Otak Dr Drs M Hatta Bukittinggi,” sebutnya.

Menurutnya, tentu ini sebuah pekerjaan besar bagi kita bersama yang membutuhkan partisipasi bersama. “Oleh karena itu ada beberapa strategi yang kita terapkan sebagai pengampu regional bekerja sama dengan pengampu nasional dan stakeholders level tingkat Provinsi Sumbar,” tutur dr Dedi.

Jadi, sebutnya, dalam waktu ke depan akan ada beberapa peralatan canggih seperti CT Scan dan Catch Lab ke beberapa rumah sakit kabupaten kota yang InshaAllah pada bulan Februari 2025 ini. “Kita juga melakukan penguatan pada sumber daya manusia. Oleh karena itu kita melakukan workshop ulang sebagaimana yang pernah kita lakukan di akhir 2023 lalu, kita ulang sekarang dan lakukan simulasi untuk merefreshing keilmuan kita. Nanti akan dilanjutkan dengan magang yang dilakukan di RSUP Dr M Djamil secara bergiliran untuk dokter rumah sakit di daerah,” tukasnya.

Ia mengatakan pihaknya juga sedang membuat pola penataan rujukan online berbasis kompetensi. Kemudian kesiapan sarana prasarana berbasis android yang juga akan disimulasikan dan dipresentasikan. “Harapan kami sesuai dengan harapan Kementerian Kesehatan dimana tahun 2025 targetnya adalah minimal setengah dari rumah sakit kabupaten kota di Sumbar sudah menjalankan proses trombolitik dan berstatus madya,” harapnya. (*)

Workshop Basic Surgical Endoscopy, Dirut M Djamil: Perkuat Kompetensi Dokter Bedah

RSUP Dr M Djamil selalu berkomitmen untuk menyediakan pelayanan berkualitas tinggi dan berbasis teknologi terkini. Salah satunya melalui Workshop Basic Surgical Endoscopy  berlangsung di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Jumat (6/12) dan Sabtu (7/12).

“Workshop ini merupakan bagian dari upaya untuk memastikan bahwa tenaga medis kami memiliki akses terhadap pengetahuan dan keterampilan terkini. Pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua saat memberikan sambutan.

Workshop Basic Surgical Endoscopy tersebut menghadirkan narasumber yakni Dr Shannon Melisa Chan (Department of Surgery The Chinese University of Hongkong), Dr Ng Jia Lin (Senior Consultant at Department of Surgery Sengkang General Hospital, Singapore). Kemudian Dr dr Agung Ary Wibowo SpB KBD, dan Dr dr I Made Mulyawan SpB KBD serta Ketua KSM Bedah RSUP Dr M Djamil Dr dr M Iqbal Rivai SpB Subsp BD (K).

Ia mengatakan workshop ini sekaligus langkah strategis dalam memperkuat kapasitas dan kompetensi tenaga medis di bidang surgical endoscopy, sebuah area yang terus berkembang pesat seiring kemajuan teknologi. “Dengan adanya sesi live surgery dan workshop, peserta akan mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari para ahli, memahami teknik-teknik terbaru, dan mengaplikasikan teknologi canggih dalam praktik sehari-hari,” ucap dokter spesialis Fetomaternal ini.

Dovy menekankan jadikan workshop ini sebagai momentum untuk memperdalam wawasan, mengasah keterampilan, dan memperluas jejaring profesional. “Semoga ilmu yang diperoleh ini dapat membawa manfaat besar bagi pengembangan profesi kita serta pelayanan kesehatan di masa depan,” harapnya.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Olympus, yang telah menjadi mitra utama dalam menyukseskan workshop ini. “Dukungan dari industri seperti Olympus adalah bukti nyata bahwa kolaborasi antara fasilitas pelayanan kesehatan, akademisi, dan pihak swasta dapat memberikan manfaat besar bagi pengembangan keilmuan dan pelayanan kesehatan,” ungkap Dovy.

Sementara itu, Ketua KSM Bedah RSUP Dr M Djamil Dr dr M Iqbal Rivai SpB Subsp BD (K) mengatakan workshop ini untuk kedua kalinya diselenggarakan. Sebelumnya telah terselenggara Workshop Laparoscopy Basic Advanced. “Bagaimana pun keputusan pusat, RSUP Dr M Djamil akan menjadi pusat endo laparoscopy. Dan akan dibangun ruangan center endoscopy yang pertama di Indonesia,” ungkapnya.

Workshop ini, sebutnya, memberikan pengetahuan kepada dokter ahli bedah bahwa endoscopy ini bisa dikerjakan di Indonesia. “Makanya kita melaksanakan workshop ini. Dan akan berkelanjutan setiap tahun dengan topik-topik berbeda. Mulai dari basic sampai advanced,” ucap Dr dr Iqbal Rivai.

Ia menekankan dari workshop yang diadakan, akan diterbitkan sertifikat kompetensi dimana bekerja sama dengan kolegium ilmu bedah. “Bagaimana pun sekarang sesuai dengan peraturan Kementerian Kesehatan dan kebetulan Diklat RSUP Dr M Djamil akreditasi A sehingga bisa mengadakan pelatihan dan menerbitkan sertifikat kompetensi. Dan sertifikat itu bisa digunakan oleh dokter ahli bedah di rumah sakit bahwa mereka memiliki kompetensi untuk melakukan operasi tersebut,” tukasnya.(*)

Mengenal Flebotomi, Tujuan dan Prosedurnya

Pernahkah Anda mendengar istilah flebotomi? Flebotomi adalah prosedur untuk pengambilan darah pasien yang digunakan untuk pemeriksaan laboratorium. Prosedur flebotomi ini dilakukan menggunakan disposable synge dan jarum suntik.

“Tujuannya adalah mengambil contoh darah pasien untuk pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk menunjang diagnosis atau pun untuk memastikan diagnosis pasien,” kata Ketua Departemen Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP Dr M Djamil Dr dr Zelly Dia Rofinda SpPK Subsp D B K T (K) Subsp H K (K) di Laboratorium Sentral RSUP Dr M Djamil, Kamis (5/12).

Ia menyebutkan prosedur pengambilan darah atau flebotomi adalah menentukan lokasi dimana tempat pengambilan darah pasien tersebut. “Biasanya pada vena lipat siku,” sebutnya.

Kemudian, dilakukan desinfeksi untuk membersihkan lokasi pengambilan darah tersebut supaya tidak terjadi infeksi. “Ketika sudah didapatkan darah pasien, lalu dimasukkan akan dimasukkan ke dalam tabung sesuai dengan pemeriksaan laboratorium yang dibutuhkan,” tutur Kepala UTD RSUP Dr M Djamil ini.

Proses pengambilan darah tidak memerlukan waktu yang lama, biasanya hanya sekitar 2−3 menit. Namun, lama atau tidaknya proses flebotomi juga tergantung pada seberapa banyak darah yang dibutuhkan.(*)

Skrining Jantung sejak Dini dengan Ekokardiografi

Penyakit jantung masih menjadi penyakit yang paling mematikan di dunia. Posisinya sebagai pembunuh nomor satu di dunia. Ini membuktikan betapa seriusnya penyakit tersebut. Tanpa penanganan dan pengobatan yang tepat, penyakit jantung dapat berdampak fatal pada penderitanya.

“Menjaga kesehatan jantung ini dimulai dengan mengatur pola makan. Dan pemeriksaan medis secara berkala untuk memastikan kondisi jantung kita prima,” kata Internist Physician dr Wahyudi SpPD KKV di Instalasi Diagnostik Terpadu (IDT) RSUP Dr M Djamil, Kamis (5/12).

Ia mengatakan salah satu cara untuk mendeteksi dini penyakit jantung itu adalah dengan melakukan tindakan ekokardiografi. Ekokardiografi adalah metode pemeriksaan yang menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menangkap gambaran struktur organ jantung.

Ekokardiografi atau juga dikenal dengan USG jantung dilakukan untuk memastikan adanya kelainan struktural atau fungsional jantung pasien. “Orang-orang yang kita curigai adanya kelainan tersebut yakni pada orang yang mengeluhkan tidak nyaman pada dada kiri, sesak napas saat melakukan aktivitas. Misal aktivitas naik jenjang atau mencuci baju,” sebutnya.

Setelah dilakukan pemeriksaan, sebut dr Wahyudi, biasanya dokter akan menganjurkan  pemeriksaan rekam jantung atau EKG. Apakah ada kelainan irama atau ada kemungkinan gangguan struktur pada jantung. Pemeriksaan berikutnya adalah rontgen dada. Jika pada rekam jantung normal, rontgen jantung normal, tapi pasien belum merasa puas maka pemeriksaan ekokardiografi. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan selanjutnya untuk mengonfirmasi apakah pasien mengalami gangguan pada jantung.

“Misalnya gangguan strukturnya, gangguan klepnya, gangguan pompa, kebocoran atau yang lainnya,” ucapnya.

Bila ingin melakukan pemeriksaan ekokardiografi atau USG jantung ini, silakan datang ke Instalasi Diagnostik Terpadu RSUP Dr M Djamil. “Kami di sini bersedia membantu,” tukasnya.(*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45