Kajian Tadabbur Surat Al-Buruj saat Wirid Mingguan RSUP Dr M Djamil

RSUP Dr M Djamil kembali mengadakan Wirid Mingguan di Masjid Asy Syifa, Jumat (6/12). Bertindak sebagai ustad dalam wirid mingguan ini adalah ustad Zulkarim Lc MA yang mengupas tentang Tadabbur QS Al-Buruj Ayat 1-6.

“Para ahli tafsir sepakat berpendapat bahwa surat diturunkan di Makkah setelah surat asy-Syams. Surat ini masih membahas dan menekankan masalah akidah dan penguatan keyakinan tentang hari akhir,” kata Ustad Zulkarim Lc MA saat memberikan tausiah.

Wirid ini diikuti manajer, asisten manajer, DWP RSUP Dr M Djamil dan civitas hospitalia.

Di samping itu tambahan yang ada dalam surat ini, tuturnya, tentang kisah ashabul ukhdud (para penggali parit). “Yaitu sebuah cerita tentang pengorbanan dan tebusan jiwa dalam mempertahankan akidah dan iman,” sebutnya.

Ia mengatakan dalam surat ini Allah kembali bersumpah dengan langit ciptaan-Nya yang memiliki gugusan-gugusan bintang, tempat bintang-bintang berpusat dan beredar, serta demi hari yang telah dijanjikan-Nya yaitu hari kiamat. “Sekaligus menyampaikan kedahsyatan kekuasaan Allah yang tiada batas,” ucap Zulkarim.

Surat Al-Buruj juga menjelaskan tentang sifat dan kekuasaan Allah SWT, karena hanya Allah yang bisa memberikan azab dan balasan kepada orang yang zalim. “Selain itu, tidak ada lagi zat yang bisa menciptakan dan menghidupkan kembali seseorang,” tuturnya.

Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr Kino SpJP (K) mengatakan wirid mingguan ini menjadi tempat silaturahmi bersama civitas hospitalia. “Melalui wirid mingguan ini kita dapat memperoleh pengetahuan sehingga bisa mengisi atau me-recharge pikiran kita kembali sehingga dapat kita terapkan dalam kehidupan,” harapnya.(*)

Cerita Thalia Gina Atikah jadi Analis Kesehatan di RSUP Dr M Djamil

Thalia Gina Atikah sebelumnya tidak pernah bercita-cita jadi seorang Analis Kesehatan. Pekerjaan yang saat ini sedang dia jalani. Perempuan lulusan Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Bengkulu ini sebelumnya hanya berminat pada sekolah kedinasan.

“Karena tidak lulus pada sekolah kedinasan, Polikteknik Kesehatan Kemenkes Bengkulu pun menjadi pilihan. Kala itu saya memilih jurusan Analis Kesehatan,” kata Analis Kesehatan RSUP Dr M Djamil Thalia Gina Atikah di Laboratorium Sentral, Kamis (5/11/2024).

Setelah ditekuni dan dijalani, Thalia Gina Atikah merasakan kecocokan dengan passionnya. “Dan Analis Kesehatan itu ternyata punya peran penting dalam menentukan diagnosa pasien,” sebutnya.

Ia menjelaskan seorang Analis Kesehatan bertugas melakukan pemeriksaan, pengukuran, pengujian bahan dari manusia ataupun bukan manusia. Kemudian melakukan penetapan untuk menentukan suatu penyakit yang diderita pasien.

“Jadi kita selalu bersentuhan dengan pemeriksaan darah, feses atau urin. Atau mengambil sampel tenggorokan untuk pemeriksaan PCR Covid,” sebutnya.

Sebagaimana pekerjaan lainnya, bekerja sebagai Analis Kesehatan juga ada suka dukanya. “Sebenarnya kalau profesi itu kita jalani dengan penuh rasa cinta, duka itu bisa tergolong sangat sedikit ya,” aku dia.

Selama ia bekerja sebagai Analis Kesehatan, seingat dia, hal yang bisa dikatakan sebagai pengalaman berkesan itu datang saat ada pandemi Covid-19. “Selama masa Covid-19, selaku analis kesehatan diwajibkan berpakaian hazmat selama enam jam. Harus tahan makan dan tahan minum. Kalau sudah dilepas hazmat, harus bersih-bersih terlebih dulu. Hampir berat kala itu,” sebutnya.

Ia menceritakan selama Covid-19, ia lebih mendengar keluhan pasien. “Jadi kami sebagai Analis Kesehatan, saat pengambilan sampel kadang kami mendengarkan curahan hati pasien,” sebutnya.

Selama Covid-19, sebutnya, dia sering melakukan pengambilan sampel mulut dan hidung serta pengambilan sampel darah. “Sedangkan pemeriksaan urin dan feses tergantung dari permintaan. Kalau ada biasanya diantar perawat dan kami tidak mengambil langsung,” tutur Thalia.

Thalia mengaku bangga menjadi seorang Analis Kesehatan. Karena baginya, pekerjaan ini merupakan pekerjaan kemanusiaan. “Lewat pekerjaan kita, banyak pasien atau orang-orang yang bisa tertolong. Lewat pekerjaan kita, akan ada ketepatan dalam penanganan pasien,” tukasnya.(*)

Rohaniawan Beri Sentuhan Rohani Pasien di RSUP Dr M Djamil

RSUP Dr M Djamil rutin mengadakan kegiatan bimbingan rohani bagi pasien rawat inap. Ini sebagai salah satu langkah konkret untuk membantu pasien dalam proses penyembuhan. Selain itu kegiatan bimbingan rohani ini juga sebagai bentuk kepedulian RSUP Dr M Djamil terhadap mereka (pasien) yang sedang mendapatkan ujian dari Allah SWT. Dalam kegiatan bimbingan ini juga diberikan tata cara pelaksanaan ibadah saat sedang sakit.

Ada dua rohaniawan yang bertugas setiap hari melakukan pendampingan pasien dan keluarga. Salah satunya Zainul Wahab. Ia bertugas memberikan layanan konseling kepada pasien yang terganggu psikis, masalah jiwa, ketakutan dan mental selama menjalani pengobatan di RSUP Dr M Djamil.

“Saya bertugas hampir 24 jam untuk membantu pasien-pasien yang membutuhkan layanan bimbingan konseling. Baik itu dipanggil melalui keluarga pasien, perawat hingga pasien itu sendiri,” kata Zainul Wahab.

Ia memberikan layanan bimbingan konseling untuk memulihkan semangat mereka (pasien) kembali. Mungkin mereka merasa sedih, merasa kesepian, dan ketakutan selama menjalani perawatan. “Kita hadir di sana untuk membantu mereka. Kita harus memberikan pelayanan yang terbaik kepada mereka. Kuncinya adalah kita merasakan apa yang mereka rasakan,” tegasnya.

Selama ia bertugas di RSUP Dr M Djamil sebagai bimbingan konseling khususnya berbagai hal dilakukan dalam memberikan pelayanan terbaik kepada pasien maupun saudara kita yang membutuhkan bantuan. “InshaAllah mereka merasakan kepuasan yang sangat luar biasa yang tidak bisa dinilai dengan materi,” ucapnya.

Zainul Wahab juga sering menemukan kisah nyata selama memberikan bimbingan konseling. Kita datang ke sana untuk menghibur mereka dengan candaan atau senda gurau. Mereka (pasien) kita anggap seperti keluarga sendiri.

“Ada peristiwa yang unik dialami. Selama ini pasien tersebut dirawat di bagian penyakit dalam. Sudah dua tahun kakinya sudah berjalan atau bisa dikatakan tidak bisa berjalan lagi. Ketika kita memberikan layanan dan datang menghibur dengan candaan. Pasien ini pun tidak bisa menahan tawanya. Pasien tersebut lari ke kamar mandi. Padahal kaki pasien itu sakit selama ini. Dan akhirnya bisa berjalan,” ungkap Zainul.

Ia menekankan kuncinya adalah orang sakit memang psikisnya sakit. “Kita yakin dibalik jiwa yang sakit atau pemikiran psikis terganggu pasti fisiknya merasa terganggu. Akan tetapi jiwanya sehat walaupun fisiknya sakit, dia tetap bersemangat melawan penyakitnya itu sendiri,” ucapnya.

Itulah tugasnya untuk membantu pasien yang terkendala di dalam kondisi yang saat sekarang ini merasa lemah, tidak berdaya atau merasa kekurangan luar biasa dan ujian yang berat diberikan oleh Allah SWT. “Kita hadir di sana untuk membantu dan memberikan sentuhan rohani mereka,” ucapnya.

Sebagai rohaniawan, Zainul Wahab perlu bersiap dalam menangani semua kondisi pasien. “Di saat pasien sakratul maut, kami dituntut mendampingi pasien tersebut. Kami bimbing dan support juga keluarganya. Kami mengaji bersama agar keluarga tenang jiwanya dan damai hatinya,” ucapnya seraya mengatakan pengurusan jenazah pun menjadi tugas dari rohaniawan.(*)

RSUP Dr M Djamil Berikan Layanan MCU bagi Komisaris, Direksi dan Pemimpin Divisi Bank Nagari

RSUP Dr M Djamil dipercaya untuk melaksanakan medical checkup (MCU) bagi dewan komisaris, direksi dan pemimpin divisi PT Bank Nagari. MCU yang dipusatkan di Klinik Istano Pagaruyuang ini berlangsung  sejak Selasa (3/12) hingga Selasa (10 /12).

“Sebuah kebanggaan bagi RSUP Dr M Djamil karena kami dipercaya untuk menggelar pemeriksaan kesehatan bagi dewan komisaris, direksi dan pemimpin divisi PT Bank Nagari. Kami berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan PT Bank Nagari,”kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua.

Ia mengatakan untuk memberikan rasa nyaman bagi dewan komisaris, direksi dan pemimpin divisi, pihaknya telah menyiapkan  VIP lounge dan dining lounge. Kemudian pemeriksaan yang tidak menggunakan alat teknis dilakukan di Klinik Istano Pagaruyuang.

“Namun, untuk pemeriksaan detail yang menggunakan peralatan khusus seperti pemeriksaan jantung dan radiologi tetap dilaksanakan di polikliniknya masing-masing,” sebut dokter spesialis Fetomaternal ini.

Ia berharap dewan komisaris, direksi dan pemimpin divisi PT Bank Nagari merasa nyaman dengan layanan yang diberikan RSUP Dr M Djamil. “Dan hasil pemeriksaan kesehatan nantinya dapat sesuai dengan harapan,” harapnya.

Ia menekankan RSUP Dr M Djamil terus berkomitmen untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi masyarakat. Rumah sakit ini dikenal memiliki fasilitas yang lengkap dan tenaga medis yang profesional. “Proses medical check-up yang dijalani dewan komisaris, direksi dan pemimpin divisi PT Bank Nagari ini membuktikan kapasitas dan kemampuan RSUP Dr M Djamil dalam menangani pemeriksaan kesehatan dengan standar tinggi,” tuturnya.

Ketua Tim MCU RSUP Dr M Djamil Dr dr Raveinal SpPD KAI FINASIM mengatakan biasanya pemeriksaan yang dilakukan berupa pemeriksaan fisik penyakit dalam, mata dan THT. Kemudian pemeriksaan laboratorium, jantung radiologi.

“Dengan pemeriksaan tersebut kita akan lihat apakah ada penyakit atau potensi penyakit dari peserta medical checkup,” ucapnya.

Ia mengatakan tim MCU yang terlibat yakni dokter penyakit dalam, dokter THT, dokter mata, dokter jantung, radiologi dan laboratorium. “Tim itu sudah disahkan dan di-SK-kan oleh Direktur Utama RSUP Dr M Djamil. Dan kita siap setiap ada permintaan dari masyarakat untuk melaksanakan medical checkup. Tentu medical checkup ini ada gradenya yakni premium, menengah dan sedang tergantung dari kebutuhan,” tuturnya.

Ia mengatakan hasil MCU ini keluar sesegera mungkin tergantung banyaknya yang terlibat. “Kalau banyak terlibat bisa cepat, bisa dua hari keluar hasil MCU. Jika ada pemeriksaan yang lebih banyak dan butuh waktu bisa hingga 4 hari. Tapi secepatnya dan segera kita memberikan hasil MCU kepada peserta,”  Raveinal.

Ia menyebutkan rekomendasi yang diberikan yakni dari segi umur, terutama 40 tahun ke atas siapapun apalagi kalau sudah di atas 60 tahun. “Dengan MCU yang rutin, dari awal kita sudah melihat apakah ada potensi kita berpenyakit. Kalau berpotensi ada gangguan, segera berobat. Ini sebagai upaya mencegah kita dari penyakit,” tukasnya.(*)

RSUP Dr M Djamil Sosialisasikan Dialog Kinerja, Penyusunan Rencana Aksi dan Logbook

RSUP Dr M Djamil menyosialisasikan dialog kinerja, penyusunan rencana aksi dan Logbook di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Senin (2/12). Hal ini untuk mewujudkan perubahan budaya kerja sekaligus meningkatkan kapasitas dan kualitas aparatur sipil negara (ASN).

Sosialisasi secara hybrid yang diikuti manajemen serta segenap pegawai RSUP Dr M Djamil ini dibuka Plh Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr Kino SpJP (K). Bertindak sebagai narasumber yakni Kepala Tim Kinerja Pegawai Kementerian Kesehatan Anik Sri Handayani MA, Iip Miftah Farid SSos MPd dan Dinie Ariestyawatie (tim OSDM Kemenkes).

“Pelaporan kinerja di RSUP Dr M Djamil saat ini masih dilakukan secara manual. Akibatnya setiap bulan kita kelimpungan dalam membuat laporan terkait SKP, Logbook dan indikator kinerja individu,” kata Plh Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr Kino SpJP (K) saat memberikan sambutan.

Ia mengatakan ke depan dengan adanya aplikasi eKinerja ini akan memudahkan pegawai dalam pelaporan kinerja. “Kami mengimbau segenap pegawai untuk melakukan adaptasi dengan kebijakan baru terkait pengelolaan perencanaan dan pelaporan kinerja ini. Sehingga seluruh pegawai dapat meningkatkan akuntabilitas dalam melaporkan pelaksanaan kinerja,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Tim Kinerja Pegawai Kementerian Kesehatan Anik Sri Handayani MA mengatakan pentingnya dialog kinerja dilakukan oleh seluruh satuan kerja Kemenkes.

“Dialog kinerja ini kan selama ini sudah kita laksanakan. Setiap sasaran kinerja pegawai itu disusun, pasti sebelumnya pegawai melakukan dialog kinerja dengan pimpinan terlebih dahulu. Namun dalam kebijakan baru ini, kita mengupayakan agar dialog kinerja bisa dilakukan secara intens. Jadi tidak hanya saat penyusunan SKP, melainkan misalnya dua bulan sekali atau justru satu bulan sekali. Tentu berdasarkan kebutuhan,” terangnya.

Ia mengatakan pimpinan mempunyai peranan penting dalam upaya peningkatan dan perbaikan kinerja pegawai. “Sebagai pimpinan, patut memberi apresiasi kepada pegawai yang sudah menunjukkan kinerja yang baik. Tujuannya lebih kepada untuk menjaga semangat kerja para pegawai yang sudah berjuang itu tadi. Sebaliknya jika terdapat hambatan dalam pelaksanaan kinerja pegawai, perlu didiskusikan solusi secara bersama. Itulah fungsi dialog kinerja,” tambahnya.

Ia juga menekankan seluruh ASN Kemenkes wajib mengisi rencana aksi dan catatan harian. Keduanya merupakan turunan dari rencana hasil kerja (RHK) yang sudah disetujui oleh pimpinan yang kemudian tertuang dalam sasaran kinerja pegawai (SKP).

RHK sebagai output dari kontrak kerja pegawai dengan pimpinan kemudian dijabarkan tahapan pelaksanaannya menjadi sebuah rencana aksi. “Jadi, rencana aksi yang dimasukkan oleh pegawai harus berdasarkan RHK,” sebutnya.

Sementara itu, catatan harian (Logbook) berfungsi sebagai catatan tentang uraian kegiatan pegawai yang dilakukan setiap harinya. Yang mana dapat disertai dengan bukti dukung. “Adapun dokumentasi pelaksanaan dialog kinerja serta penyusunan rencana aksi dan catatan harian tersebut dipusatkan dan terintegrasi dalam aplikasi eKinerja Kemenkes RI,” tukas Anik.(*)

Hak Setara untuk Semua, Kolaborasi Bersama RSUP Dr M Djamil di Hari AIDS Sedunia

Setiap tahunnya tepat pada 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Peringatan bertemakan “Hak setara untuk semua, bersama kita bisa” itu bertujuan  untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.

Pada kegiatan Car Free Day Minggu (1/12), menjadi momentum Puncak Peringatan Hari HIV/AIDS diselenggarakan RSUP Dr M Djamil. Aksi tersebut berkat kolaborasi bersama Dinas Kesehatan Kota Padang, Perdoski cabang Padang, Promosi Kesehatan dan Pemasaran RSUP Dr M Djamil.

Tim VCT terdiri dari 6 departemen yakni IPD, Anak, Obgyn, DVE, Pulmonologi, Neurologi, konselor VCT, IDI, IIDI, CIMSA Universitas Andalas. LPPM Unand dan civitas Unand, civitas akademika Unbrah, PKBI Daerah Sumatera Barat, PPNI, LSM Rumah Sahabat Mentari, Yayasan Akbar Sumatera Barat, Yayasan Sebaya Lancang Kuning.

Diawali longmarch Hari AIDS Sedunia yang dilepas Pj Wali Kota Padang Andree Harmadi Algamar bersama Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr M Djamil Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K). Para peserta jalan dengan start depan kantor Gubernur Sumbar Jalan Sudirman-Rasuna Said-finish depan kantor Gubernur Sumbar.

Dilanjutkan senam bersama Senam Asma Indonesia, penyuluhan tentang AIDS, flashmob, pemeriksaan kesehatan gratis. Dan kegiatan semakin meriah dengan bertaburan doorprize.

“Hari ini adalah momentum penting bagi kita semua untuk meningkatkan kesadaran, memperbarui komitmen, dan memperkuat aksi bersama dalam penanggulangan HIV/AIDS, sebuah tantangan global yang masih memerlukan perhatian serius,” kata Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K) saat memberikan sambutan.

Ia menyebutkan tema peringatan tahun ini adalah “Hak setara untuk semua, bersama kita bisa.” “Tema ini mengingatkan kita bahwa untuk mengatasi HIV/AIDS, kita harus fokus pada akar permasalahan. Yaitu ketidaksetaraan dalam akses pelayanan kesehatan, pendidikan, dan informasi yang memadai,” ucap Dr dr Bestari.

Sebagai rumah sakit rujukan utama di wilayah Sumatra Barat, sebutnya, RSUP Dr M Djamil memiliki tanggung jawab besar dalam penanganan HIV/AIDS. “Kami telah menjadi saksi bagaimana penyakit ini tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga sering membawa stigma, diskriminasi, dan dampak sosial yang mendalam,” ucapnya.

Ia menekankan beberapa poin penting yang menjadi fokus bersama dalam upaya pencegahan HIV/AIDS. Yakni peningkatan layanan kesehatan yang inklusif. RSUP Dr M Djamil berkomitmen untuk memberikan layanan kesehatan yang ramah, tanpa stigma, dan diskriminasi bagi pasien ODHA (Orang dengan HIV/AIDS).

“Semua pasien berhak mendapatkan pelayanan dengan martabat yang sama, sesuai dengan prinsip kesehatan universal,” tegasnya.

Kedua, pencegahan dan edukasi. Pencegahan adalah langkah utama. Melalui edukasi, baik kepada masyarakat maupun tenaga medis dapat mengurangi risiko penularan HIV. “Edukasi harus mencakup informasi yang akurat tentang cara penularan, pencegahan, dan pentingnya pengobatan,” sebutnya.

Ia mengatakan ketiga kolaborasi dengan berbagai pihak. Penanggulangan HIV/AIDS memerlukan kerja sama lintas sektor. “Kami akan terus bersinergi dengan pemerintah, organisasi non-pemerintah, komunitas, dan lembaga pendidikan untuk memperluas jangkauan upaya pencegahan dan perawatan,” tutur Dr dr Bestari.

Terakhir, sebutnya, dukungan psikososial bagi ODHA dan keluarganya. HIV/AIDS bukan hanya masalah medis tetapi juga masalah psikologis dan sosial. “RSUP Dr M Djamil akan terus menyediakan layanan dukungan psikososial untuk membantu pasien dan keluarga menghadapi tantangan ini dengan lebih kuat,” ucapnya.

Ia menegaskan hari ini bukan hanya tentang memperingati, tetapi juga mempertegas langkah kita untuk masa depan. “Kita ingin melihat hari di mana tidak ada lagi stigma terhadap ODHA, tidak ada lagi kesenjangan dalam akses layanan kesehatan, dan tidak ada lagi penularan baru HIV,” ungkapnya.

Sementara itu, Pj Wali Kota Padang Andree Harmadi Algamar menekankan pentingnya merangkul ODHA agar mereka mendapatkan akses pengobatan yang layak dan hidup tanpa stigma. “Hari AIDS Sedunia adalah momen penting untuk menghapus rasa takut dan stigma negatif yang sering dialami ODHA. Kita harus lebih peduli dan mendukung mereka, bukan malah menjauhi,” ujar Andree Algamar.

Ia menekankan penyakit HIV/AIDS bukanlah akhir segalanya, tetapi sebuah tantangan yang dapat diatasi bersama. “Jangan biarkan AIDS mengambil nyawa lebih banyak. Mari kita bergandengan tangan untuk menemani ODHA dengan kasih sayang. Jauhi penyakitnya, bukan orangnya,” tukasnya. (*)

RSUP Dr M Djamil Komit Cetak Tenaga Medis Kompeten dan Berintegritas

RSUP Dr M Djamil sebagai rumah sakit pendidikan memiliki tanggung jawab yang besar mencetak tenaga medis yang kompeten dan berintegritas. Mewujudkan target tersebut, sebanyak 16 perwakilan PPDS dari beberapa program studi PPDS dan Ketua Program Studi (KPS) menandatangani perjanjian Kontrak Kerja, Pakta Integritas PPDS-S dan Staf Pendidik dengan Direktur Utama RSUP Dr M Djamil dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Penandatanganan itu disaksikan Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua, Dekan Fakultas Kedokteran Unand Prof Dr dr Afriwardi SH MA SpKO Subsp APK (K), Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K) dan Plh Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr Kino SpJP (K).

“Ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat komitmen kita bersama dalam menjalankan peran dan tanggung jawab di lingkungan rumah sakit pendidikan. Khususnya dalam mendukung peningkatan mutu layanan kesehatan sekaligus proses pendidikan yang berkualitas,” kata Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua saat memberikan sambutan di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Jumat (29/11).

Ia menekankan kontrak kerja dan pakta integritas yang ditandatangani ini bukan sekadar formalitas. Melainkan wujud nyata dari komitmen PPDS untuk belajar dengan sungguh-sungguh, mematuhi peraturan, dan mengedepankan prinsip-prinsip etika dalam setiap tindakan.

“Melalui penandatanganan kontrak kerja dan pakta integritas ini, kita menegaskan pentingnya sinergi antara akademisi, praktisi, dan institusi dalam mendukung tercapainya visi besar RSUP Dr M Djamil. Yakni sebagai pusat rujukan pelayanan kesehatan dan pendidikan kedokteran yang unggul di tingkat nasional maupun internasional,” harapnya.

Dovy mengharapkan agar seluruh staf pendidik dapat menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya, menjunjung tinggi nilai-nilai profesionalisme, etika, dan integritas dalam setiap langkah pembimbingan. “Demikian pula dengan para peserta didik yang merupakan generasi penerus akan menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan di masa depan,” tuturnya.

Ia mengapresiasi upaya bersama antara Kementerian Kesehatan, pihak universitas, dan rumah sakit dalam menguatkan sistem pendidikan ini. “Semoga penandatanganan ini menjadi momentum untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan di Indonesia,” harap Dovy.

Sementara Dekan Fakultas Kedokteran Unand Prof Dr dr Afriwardi SH MA SpKO Subsp APK (K) mengatakan penandatanganan kontrak kerja dan pakta integritas ini sebagai bentuk komitmen bersama dalam mencegah aksi pembullyan. “Dengan adanya komitmen melalui pakta integritas ini menunjukkan kesepakatan bersama dalam mencegah pembullyan,” ucapnya.

Ia pun mengajak jajaran direksi RSUP Dr M Djamil untuk menata kegiatan-kegiatan yang dilakukan di rumah sakit ini. “Sehingga proses pembullyan atau proses apa saja yang menghambat proses pendidikan itu dapat diatasi secara bersama-sama,” tukasnya.(*)

Bahas Mukmin Terbaik, RSUP Dr M Djamil Adakan Wirid Mingguan

RSUP Dr M Djamil kembali mengadakan Wirid Mingguan di Masjid Asy Syifa, Jumat (29/11). Bertindak sebagai ustad dalam wirid mingguan ini adalah ustad Asrival SIQ MA yang mengupas tentang Mukmin yang Terbaik Menurut Rasulullah SAW.

“Muslim dan mukmin adalah dua istilah tersebut kerap disematkan kepada seseorang yang memeluk agama Islam. Meski tujuan penggunaannya sama, Muslim dan Mukmin sebenarnya memiliki makna berbeda,” kata Ustad Asrival SIQ MA saat Wirid Mingguan.

Turut dihadiri Plh Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr Kino SpJP (K), manajer, asisten manajer, pengurus DWP, dan civitas hospitalia.

Ia mengatakan mukmin adalah orang yang selalu bertakwa kepada Allah SWT dan selalu menjaga diri dari perbuatan maksiat. Setiap mukmin dituntut untuk selalu menjaga dan mengendalikan segala perilaku, tingkah laku, tindak-tanduk, sikap, dan ucapan dari hal-hal yang tidak baik.

“Termasuk menjaga ucapan dari hal yang tidak baik adalah tidak menyakiti, menipu, mencela, menghina, mencela, mengumpat, memfitnah, memecah-belah, berkata-kata keji, mengutuk, dan mengucapkan kata-kata kotor kepada orang lain,” ucapnya.

Ia menekankan mukmin sejati akan selalu menjaga ucapan dari kata-kata buruk dan kotor. Begitulah karakter sejatinya yang akan mengantarkannya menjadi manusia utama di sisi Allah. “Dia kelak akan mendapatkan keridaan-Nya di akhirat karena ucapan-ucapan baiknya,” tutur Asrival.

Ia juga mengatakan Rasulullah SAW pernah ditanya terkait mukmin seperti apa yang paling cerdas. Beliau menjawab dia adalah yang paling banyak mengingat kematian dan mempersiapkannya. “Jadi orang cerdas menurut Rasulullah SAW ialah orang yang selalu ingat mati dan sibuk mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat kelak,” sebutnya.

Plh Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr Kino SpJP (K) mengatakan wirid mingguan ini menjadi tempat silaturahmi bersama civitas hospitalia. “Melalui wirid mingguan ini kita dapat memperoleh pengetahuan sehingga bisa mengisi atau me-recharge pikiran kita kembali sehingga dapat kita terapkan dalam kehidupan,” harapnya.(*)

RSUP Dr M Djamil Terima Kunjungan Tim Visitasi Dinkes Kota Padang

RSUP Dr M Djamil menerima kunjungan tim visitasi Dinas Kesehatan Kota Padang di Ruang Rapat Direksi, Kamis (28/11). Kunjungan tim tersebut untuk mengecek langsung ke lapangan tentang ketersediaan fasilitas pelayanan serta sumber daya manusia sebagai persyaratan dalam penerbitan rekomendasi Izin Operasional UTDRS.

Kedatangan tim ini diterima oleh Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua dan Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K). Turut mendampingi Kepala UTD RSUP Dr M Djamil Dr dr Zelly Dia Rofinda SpPK Subsp B D K T (K) Subsp H K (K).

Sementara tim visitasi yakni Kabid Yankes Dinas Kesehatan Kota Padang Merinelty Syamra SKM MM, dr Citra Septiyenrisyahnur (Adminkea Muda), Lilil Wahyuni SKM, Silvy Windari SKM, dr Maya Anggun Suri MBiomed (PDTDI) dan Fitria (Balai POM di Padang).

“Kami menyambut baik atas kunjungan tim Dinas Kesehatan Kota Padang untuk melakukan visitasi perpanjangan izin UTDRS. Tentu ini bagaimana kita saling mendukung, berkolaborasi dan berkoordinasi untuk kepentingan layanan kepada masyarakat,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua.

Ia mengatakan dengan visitasi ini, InshaAllah mudah-mudahan bisa memenuhi semua apa yang diharapkan sesuai standar. Karena apapun RSUP Dr M Djamil merupakan rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan dan runah sakit tipe A, akan tetapi milik masyarakat Sumatera Barat dan masyarakat Sumatera Bagian Tengah.

“Kita yang bergerak pada pelayanan kesehatan, tentu ingin bagaimana segala sesuatunya ini sesuai dengan kompetensi dan standar,” sebutnya.

Dalam regulasi-regulasi bahwa rumah sakit diberi kewenangan memiliki UTDRS. “InshaAllah mudah-mudahan baik sarana prasarana, sumber daya manusia dan alat-alat sudah disiapkan oleh UTDRS. Dan tim dinas kesehatan akan melihat kesiapan UTDRS saat visitasi lapangan,” ungkap Dovy.

Diketahui, sebutnya, RSUP Dr M Djamil merupakan UPT Kementerian Kesehatan tapi Badan Layanan Umum (BLU). Berbicara pada BLU, tentu berbicara kepada bagaimana kita mengelola layanan ini sehingga kita bisa melakukan optimalisasi layanan kesehatan kepada masyarakat Sumatera Barat dan Sumatera Bagian Tengah.

“Kalau bicara BLU tidak akan bicara kepada profit oriented. Kita bicara bagaimana bisa mengelola BLU itu dan bisa membiayai operasional rumah sakit ini dan semua orang yang bekerja di sini. Serta juga berbicara kepada produktivitas dan efisensi,” sebut dokter spesialis Fetomaternal ini.

Ia mengatakan salah satu yang menjadi konsern rumah sakit ini adalah menerima rujukan-rujukan yang memang pelabuhan terakhirnya RSUP Dr M Djamil dengan kompleksitasnya. Termasuk juga dengan kebutuhan darah.

“Berbicara kepada PMK No 3 Tahun 2020 dimana sistem rujukan akan berbasis kompetensi. Artinya kita punya kesempatan bersama  bagaimana meningkatkan kualitas layanan, kualitas sumber daya manusia dan bagaimana nanti masyarakat dpaat dilayani dengan baik,” ucapnya.

Dovy menekankan komponen yang paling penting dipunyai adalah dalam kebutuhan darah. Kebutuhan darah di RSUP Dr M Djamil dalam sebulan itu hampir mencapai 6 ribu kantong. “Kompleksitas tingkat kebutuhan darah karena tindakan operasi atau tindakan membutuhkan darah sangat banyak,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala UTD RSUP Dr M Djamil Dr dr Zelly Dia Rofinda SpPK Subsp B D K T (K) Subsp H K (K) mengatakan rumah sakit ini menjadi rumah sakit vertikal tipe A dengan bed occupancy rate 800 tempat tidur yang sebentar lagi dengan 1.353 tempat tidur. Dan rumah sakit ini merupakan rumah sakit tersier untuk Sumatera Bagian Tengah. “Sehingga banyak sekali kasus emergensi yang banyak membutuhkan darah. Tentunya  darah yang cepat, aman dan berkualitas,” tegasnya.

Apalagi saat ini, sebut Dr dr Zelly, program pemerintah yakni kanker, jantung, stroke dan uronefrologi (KJSU) dimana layanan pada kanker semuanya butuh darah. “Makanya Unit Transfusi Darah Rumah Sakit (UTDRS) RSUP Dr M Djamil hadir atau kini dinamakan unit pengelola daerah (UPD). Selain itu juga dengan efisiensi biaya, waktu dan tenaga,” ucapnya.

Kehadiran UTDRS ini, tuturnya, juga RSUP Dr M Djamil sebagai rumah sakit pendidikan harus memfasilitasi kompetensi peserta didik. “Baik itu profesi dokter, spesialis maupun subspesialis,” ujarnya.

Ia mengatakan perizinan UTDRS diterbitkan pada tahun 2018. Setelah lima tahun dan disesuaikan denban peraturan yang ada saat ini maka dilakukan perpanjangan izin. “Karena selain kami melakukan registrasi fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) Kementerian Kesehatan. Ternyata kita harus mendapatkan sertifikat untuk izin operasional ini,” tekan Dr dr Zelly.

Ia memaparkan jika dilihat jumlah pelayanan pasien dalam tahun 2023 sebanyak 30.275 pasien dengan rata-rata 2.522 pasien yang butuh darah. “Kemudian dengan rata-rata total permintaan  komponen darah per kantong mencapai 6.000 kantong per bulan,” ungkapnya seraya mengatakan jenis pelayanan UTDRS berupa skrining IMLTD: CHLIA, pembuatan komponen yakni PRC, trombosit, dan FFP. Kemudian apheresis trombosit.

Di akhir pertemuan dilakukan exit meeting berupa pemaparan hasil feedback usai melakukan telusur ke UTD RSUP Dr M Djamil. (*)

Dirut M Djamil: Hasil Feedback Tim Assesment Harus jadi Bahan Evaluasi Bersama

RSUP Dr M Djamil bersama Tim Assessment Sentinel AMR Laboratorium menggelar kegiatan exit meeting di Ruang Rapat Direksi, Selasa (26/11). Exit meeting sendiri adalah tahapan penyampaian feedback terhadap Laboratorium Mikrobiologi RSUP Dr M Djamil.

Exit meeting ini turut dihadiri Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua dan Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K), manajer dan asisten manajer.

Sementara tim asesmen yakni dr Amy Rahmadanti MSc PH dan Ruswanda (Direktorat Mutu Pelayanan Kesehatan), Dr dr Dewi Santosa Ningsih SpMK (K), dr Nita Nurhidayati SpMK (K) dan Tri Margianti SSi (Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan) dan Asih Hartanti (Fleming Fund Country Grant to Indonesia).

“Pertemuan ini penting karena suatu kegiatan rumah sakit tersebut berhubungan dengan bagaimana program-program itu bisa terstandardisasi,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua.

Dalam hal ini, sebut Dovy, tim asesor yang datang ke RSUP M Djamil sudah melaksanakan kegiatan sejak Senin (25/11) dan Selasa (26/11). “Apa yang menjadi telusur lapangan tim di RSUP Dr M Djamil, tentu akan menjadi impact bagi kami dan juga harapan tentu rumah sakit ini sebagai rumah sakit UPT Kementerian Kesehatan ingin melaksanakan program itu sesuai dengan diinstruksikan,” ucapnya.

Untuk diketahui, sebut Dovy, RSUP Dr M Djamil merupakan rumah sakit UPT Kementerian Kesehatan. Di wilayah Sumatera ada tiga unit yakni RS Adam Malik, RSUP Dr M Djamil dan RSUP Dr Mohammad Hoesin. Rumah sakit ini berdiri sejak tahun 1953 dan sudah berusia ke-71 pada 23 November lalu. “Kami mempunyai dokter subspesialis kurang dari 300 orang dan 800 tempat tidur,” sebut Dovy.

Tentu memang, sebut Dovy, permasalahan pada saat ini terkendala adalah sarana prasarana agak tertinggal di rumah sakit lainnya. Sementara untuk sumber daya manusia (SDM) RSUP Dr M Djamil mencukupi. “Dengan kegiatan ini, dalam proses diagnostik Bapak Menteri Kesehatan mendorong kami sebagai pilot project 14 rumah sakit vertikal untuk penggunaan antibiotik,” sebutnya.

Ia mengatakan RSUP Dr M Djamil juga memiliki konsultan penelitian Dr Andani Eka Putra MSc.  Ia termasuk giat meneliti dan membicarakan resistensi antimikroba.

“Mudah-mudahan kegiatan ini akan bisa menyampaikan informasi-informasi. Karena pun juga sarana prasarana penting. Tapi kami akan berusaha dengan tempat yang ada, tapi kita memaksimalkan. Tentu hal-hal yang berhubungan standar akan dilengkapi agar terstandar. Dan juga sesuai standar yang memang dijalankan,” tutur dokter spesialis Fetomaternal ini.

Ia mengharapkan nantinya apa yang akan menjadi feedback terhadap program yang sudah dilakukan tentu akan menjadi evaluasi bersama. “Sehingga bisa kita pertahankan dan maksimalkan,” tukasnya. (*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45