Hari Ini, Pelayanan Kesehatan Anak di RSUP Dr. M. Djamil Berjalan Lancar

Pelayanan kesehatan anak RSUP Dr. M. Djamil berjalan normal dan lancar, hari ini (5/5). Tercatat sebanyak 146 pasien anak memeriksakan kesehatan ke Klinik Anak dan KlinikTumbuh Kembang Anak di Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan. Sementara dokter spesialis anak tetap melakukan visite pada 91 pasien anak.

Hal tersebut disampaikan Ka KSM Anak RSUP Dr. M.Djamil Dr. dr. Finny Fitry Yani, SpA(K) ketika ditemui di Klinik Anak. Saat itu ia usai memeriksa seorang pasien anak di ruangan Respirologi. “Alhamdulillah, pada hari ini (5/5) pelayanan kesehatan anak di RSUP Dr. M. Djamil berjalan lancar,” kata Finny.

Pada pagi hari tadi, sebutnya, para dokter spesialis anak melakukan visite perawatan pada 91 pasien. Pelayanan pun  dilanjutkan pada klinik anak. “Saat ini kami membuka 8 poliklinik. Di antaranya poliklinik umum, poliklinik respirologi, poliklinik jantung anak, poliklinik hematologi. Kemudian poliklinik neonatologi, poliklinik tumbuh kembang anak, poliklnik endokrin,” sebutnya.

Ia menekankan ke semua poliklinik ini masih memberikan layanan seperti biasa. “Dan sudah melayani 146 pasien anak dan masih berlangsung hingga saat ini. Misal poliklinik hematologi masih memberikan pelayanan karena pasiennya banyak,” ungkap Finny.

Ia berharap pasien anak yang menjalani perawatan di RSUP Dr. M. Djamil dapat terlayani dengan baik. “Dan mendapatkan manfaat dari dokter spesialis anak di RSUP Dr. M. Djamil,” harapnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Siap Ambil Peran Desentralisasi Layanan Hemofilia

Hemofilia merupakan gangguan pembekuan darah genetik terbanyak di dunia saat ini yang disebabkan kurangnya faktor pembekuan di dalam tubuh. Meski tergolong kasus yang langka, hemofilia termasuk dalam jenis penyakit katastropik. Penderitanya rentan mengalami perdarahan berulang yang dapat mengakibatkan kecacatan bahkan kematian, jika tidak tertangani dengan baik.

“RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan RI, siap mengambil peran dalam mendukung proses desentralisasi layanan hemofilia. Hal ini tentunya akan membutuhkan sinergi lintas sektor, tidak hanya dari kalangan tenaga medis. Tetapi juga dari pemerintah daerah, komunitas pasien, serta para pendamping keluarga,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua secara virtual saat audiensi pelayanan hemofilia di Sumatera Barat.

Audiensi ini dilangsungkan di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Jumat (2/5). Turut dihadiri Wakil Perhimpunan Hematologi dan Tranfusi Darah Indonesia (PHTDI)/Ketua Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia Dr. dr. Novie Amelia Chozie, SpA(K), Ketua PHTDI Sumatera Barat Dr. dr. Irza Wahid, SpPD-KHOM,Pengurus Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) Cabang Sumatera Barat Mahdi Yaniswal.

Tim tenaga medis dan non-medis dari Jakarta dan tim yakni dr. Fitri Primacakti, SpA(K), Prof. Dr. dr. Angela Bibiana Maria Tulaar, SpKFR(K) dan dr. Rizky Kusuma Wardhani, SpKFR(K), Prof. dr. Rahajuningsih Dharma, SpPK(K) dan Kepala BPJS Kesehatan Cabang Padang, dr. Fauzi Lukman Nurdiansyah, MM.

Ia mengatakan kegiatan ini yang mengusung tema “Decentralize Basic Haemophilia Care and Diagnosis to 4 Regions in Indonesia.” Tema ini sangat relevan dengan visi pelayanan kesehatan nasional, yaitu memastikan bahwa setiap warga negara, termasuk penderita hemofilia, memiliki akses terhadap layanan kesehatan yang memadai tanpa harus bergantung pada pusat-pusat layanan di kota besar.

“Melalui audiensi ini, kami berharap dapat mendengar secara langsung berbagai masukan, gagasan, maupun tantangan dari lapangan. Ini adalah langkah penting untuk menyusun strategi implementasi yang realistis dan tepat sasaran dalam memperluas diagnosis dan layanan dasar hemofilia di wilayah barat Indonesia, khususnya Sumatera,” harapnya.

Ia yakin dengan komitmen bersama dan semangat kolaboratif, kita bisa memperkuat sistem layanan hemofilia nasional. “Bahkan memberikan dampak nyata bagi kualitas hidup para pasien,” tukas Dovy. (*)

Pekan Imunisasi Dunia Momentum Ingatkan Pentingnya Imunisasi

Pekan Imunisasi Dunia tahun 2025 tingkat Kota Padang dilangsungkan di Puskesmas Andalas, Rabu (30/4). Kegiatan yang turut didukung oleh Instalasi Promosi Kesehatan dan Pemasaran RSUP Dr. M. Djamil, Pemko Padang, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumbar, KSM Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP Dr. M. Djamil itu mengusung tema Ayo Lengkapi Imunisasi, Generasi Sehat Menuju Indonesia Emas.

“Pekan Imunisasi Dunia adalah momentum yang sangat strategis untuk mengingatkan kembali pentingnya imunisasi. Kalau kita berangan-angan ke depan adalah generasi yang lebih baik dibanding generasi sebelumnya, instrumen imunisasi salah satu instrumen yang tidak boleh kita lupakan. Jika tidak ada instrumen imunisasi, jangan berpikir generasi ke depan akan lebih baik dibanding generasi sekarang,” kata Manajer Pelayanan Medis RSUP Dr. M. Djamil dr. Nirza Wanto, Sp.THT-KL saat memberikan sambutan.

Turut hadir Wakil Ketua TP PKK Kota Padang Ny Sri Hayati Maigus Nasir, Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang dr. Srikurnia Yati, Ketua IDAI Sumbar dr. Asrawati, M.Biomed, Sp.A (K), FISQua, Ketua Program Studi Kesehatan Anak Program Spesialis Dr. dr. Rinang Mariko, Sp.A (K), jajaran Puskesmas Andalas dan kader Posyandu.

Ia mengatakan imunisasi bukan hanya melindungi satu individu. Akan tetapi juga menciptakan kekebalan kelompok yang dapat mencegah terjadinya wabah menular. “Melalui kegiatan ini, kita berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi serta mendorong percepatan cakupan imunisasi yang merata dan menyeluruh,” harapnya.

Ia menekankan mari jadikan momen ini tidak hanya acara seremonial saja. Tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan cakupan dan kesadaran imunisasi di maayarakat. “Mari kita jadikan momen ini sebagai ajakan bersama untuk terus mengedukasi, menginspirasi dan menggerakkan masyarakat agar tidak ragu melengkapi imunisasi kita,” ajaknya.

Ketua IDAI Sumbar dr. Asrawati, M.Biomed, Sp.A (K), FISQua mengatakan investasi berkelanjutan dalam imunisasi sangat penting untuk memastikan anak-anak tumbuh sehat dan siap membangun masa depan bangsa. IDAI mengajak seluruh orang tua, pengasuh, serta masyarakat untuk memastikan anak-anak Indonesia menerima imunisasi rutin lengkap sesuai jadwal. Komitmen ini sejalan dengan upaya Indonesia dalam mencapai Agenda Imunisasi 2030 (IA2030).

“Pekan Imunisasi Dunia menjadi momen strategis untuk memperkuat pemahaman seluruh lapisan masyarakat akan pentingnya imunisasi sebagai perlindungan optimal terhadap Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), tak hanya bagi anak-anak, tapi juga untuk seluruh kelompok usia,” tuturnya.

Diketahui Pekan Imunisasi Dunia ini diisi berupa talkshow dengan narasumber Ketua IDAI Sumbar dr. Asrawati, M.Biomed, Sp.A (K), FISQua dan lomba cerdas cermat antar-kader.(*)

Instalasi Promkes dan Departemen Ilmu Kesehatan Mata dan Penyuluhan Kesehatan

Instalasi Promosi Kesehatan dan Pemasaran bersama Subbagian Rekonstruksi, Okuloplasti, dan Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Mata RSUP Dr. M. Djamil mengadakan penyuluhan kesehatan di Poliklinik Mata, Rabu (30/4). Dalam penyuluhan kesehatan itu menghadirkan narasumber Dr. dr. Hendriati, Sp.M (K) yang memaparkan tentang kelainan bawaan kelopak mata.

“Kelopak mata (palpebra) merupakan struktur yang sangat penting untuk kesehatan bola mata. Peran penting kelopak mata adalah melindungi bola mata dari debu dan cedera, membantu menyebarkan air mata dan menjaga permukaan mata lembab,” kata dokter spesialis mata Dr. dr. Hendriati, Sp.M (K) saat memaparkan materi.

Ia mengatakan kelainan bawaan pada kelopak mata merupakan kelainan yang sudah ada sejak lahir sehingga dapat mempengatuhi bentuk, posisi atau fungsi kelopak mata. Oleh karena itu penting untuk dikenali sejak dini untuk menjaga kesehatan mata.

“Masing-masing kelainan bawaan pada kelopak mata memiliki faktor risiko yang berbeda. Di antaranya faktor genetik, gangguan perkembangan janin, infeksi kehamilan dan paparan zat berbahaya,” sebutnya.

Jenis-jenis kelainan bawaan pada kelopak mata, tuturnya, berupa ptosis (kelopak mata turun), coloboma (celah di kelopak), epiblepharon (lipatan kulit tambahan) dan entropion (kelopak mata melipat ke dalam). “Kapan harus ke dokter mata? Jika kelopak mata menutup orang-orangan mata, mata sering merah, berair, atau iritasi. Bahkan ada bentuk kelopak mata yang tidak biasa sejak lahir,” sebutnya seraya mengatakan untuk penanganannya, pemeriksaan rutin oleh dokter mata dan tindakan bedah sesuai kebutuhan. Bertujuan untuk memperbaiki fungsi ran menjaga kesehatan mata. (*)

Direktur Layanan Operasional RSUP Dr. M. Djamil Hadiri Upacara Hari Pendidikan Nasional Tingkat Sumbar

Direktur Layanan Operasional RSUP Dr. M. Djamil drg. Ade Palupi Muchtar, MARS turut menghadiri Upcara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tingkat Sumatera Barat di Halaman Kantor Gubernur Sumbar, Jumat (2/5). Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharalullah bertindak sebagai inspektur upacara pada upacara Hardiknas tersebut.

Upacara berlangsung khidmat dan penuh makna dengan dihadiri jajaran pejabat, jajaran Forkopimda, tenaga pendidik, pelajar, perbankan hingga tokoh masyarakat, yang serasi menggunakan seragam hingga pakaian adat Minang.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Mahyeldi menyampaikan pidato resmi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia yang bertema “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”.  “Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar seremonial, tapi saatnya kita menguatkan kembali dedikasi dan semangat bersama dalam menyediakan pendidikan yang inklusif dan bermutu. Tidak boleh ada diskriminasi atas dasar apapun yang menyebabkan anak-anak kita kehilangan akses pendidikan,” ujar Mahyeldi membacakan sambutan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.

Sektor pendidikan, lanjut kata gubernur, merupakan program prioritas nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah pusat berkomitmen memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan dengan berbagai strategi, seperti revitalisasi sarana prasarana, transformasi pembelajaran digital, serta peningkatan kualitas dan kinerja guru.

Selain itu, Gubernur Mahyeldi menyoroti pentingnya pembentukan karakter anak sejak dini. Ia memperkenalkan kebijakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur tepat waktu. “Karakter anak yang kuat harus dibangun melalui kebiasaan sehari-hari. Untuk itu, pemerintah meluncurkan program ‘Pagi Ceria’ yang mencakup Senam Anak Indonesia Hebat, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan doa bersama di pagi hari,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Layanan Operasional RSUP Dr. M. Djamil drg. Ade Palupi Muchtar, MARS mengatakan pendidikan adalah kunci gerbang peradaban dunia karena aset terpenting sebuah bangsa bukan terletak pada kekayaan alamnya melainkan pada kualitas sumber daya manusianya. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai ilmu pengetahuan dan memuliakan para pendidiknya,” ucapnya seraya mengajak bersama kita siapkan generasi penerus yang siap membangun Indonesia Emas yang lebih gemilang. (*)

Direktur Medik dan Keperawatan Berikan Materi Keselamatan Pasien pada LOI Dokter Muda

Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) menjadi narasumber pada Layanan Orientasi Informasi (LOI) Dokter Muda di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Rabu (30/4). Ia memaparkan materi tentang keselamatan pasien. 

“Keselamatan pasien adakah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Hal ini termasuk asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindaklanjutnya serta, dan implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko,” kata Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) saat pemaparan materi.

Sistem ini, tuturnya, mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil. “Ini semua bertujuan agar pasien aman dan nyaman selama menggunakan jasa layanan kesehatan di rumah sakit,” sebutnya.

Ia mengatakan ada enam sasaran keselamatan pasien ini. Yakni sasaran 1 mengidentifikasi pasien dengan benar, sasaran 2 meningkatkan komunikasi efektif. Sasaran 3 meningkatkan keamanan obat-obatan yang harus diwaspadai, sasaran 4 memastikan sisi yang benar, prosedur yang benar pada pembedahan atau tindakan invasif. “Sasaran 5 mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan. Dan sasaran 6 mengurangi risiko cedera pasien jatuh,” paparnya.

Insiden keselamatan pasien, tutur Bestari, adalah setiap kejadian yang tidak disengaja dan kondisi yang mengakibatkan cedera yang dapat dicegah pada pasien. Ada pun jenis insiden keselamatan pasien tersebut. Yakni kejadian nyaris cedera merupakan insiden keselamatan pasien yang belum terpapar pasien. Kejadian tidak cedera merupakan insiden keselamatan pasien yang sudah terpapar pada pasien namun tidak menyebabkan cedera.

“Kejadian potensi cedera merupakan suatu kondisi yang berpotensi menimbulkan cedera tapi belum terjadi pada pasien. Kejadian tidak diharapkan merupakan insiden keselamatan pasien yang menyebabkan cedera pada pasien. Dan kejadian sentinel merupakan suatu kejadian tidak diharapkan yang mengakibatkan kematian atau cedera serius,” tukasnya.(*)

Instalasi Promkes dan Departemen Ilmu Kesehatan Anak Adakan Penyuluhan tentang Imunisasi

Instalasi Promosi Kesehatan dan Pemasaran RSUP Dr. M. Djamil bersama Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP Dr. M. Djamil mengadakan penyuluhan kesehatan tentang Imunisasi di Poliklinik Tumbuh Kembang Anak Terpadu, hari ini (29/4). Kegiatan yang diadakan dalam rangka Pekan Imunisasi Dunia itu menghadirkan narasumber dr. Riri Dwipinta Sari, Sp.A.

“Imunisasi adalah upaya menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang baik secara aktif maupun pasif terhadap suatu penyakit. Sehingga apabila terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya sakit ringan,” kata dokter spesialis anak dr. Riri Dwipinta Sari, Sp.A saat memberikan penyuluhan.

Ia mengatakan biasanya, imunisasi terbagi menjadi dua jenis, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Vaksinasi termasuk dalam imunisasi aktif sebagai upaya memicu tubuh mengeluarkan antibodi terhadap penyakit tertentu.

“Berbeda dengan imunisasi aktif, imunisasi pasif berarti tubuh diberikan antibodi dan bukan dipancing untuk menghasilkan ketahanan tubuh, misalnya dengan suntikan imunoglobulin. Imunisasi aktif dapat bertahan lebih lama untuk jangka panjang hingga seumur hidup, sedangkan imunisasi pasif hanya bertahan dalam hitungan minggu hingga bulan,” sebutnya.

Informasi terkait imunisasi, sebutnya, harus sering diulang. Alasannya setiap hari sekitar 13.600 bayi lahir, setiap hari ada orang tua baru dan setiap tahun sekitar 5 juta bayi lahir di Indonesia. Kemudian banyak penyakit berbahaya yang dapat dicegah dengan imunisasi. “Dan banyak keluarga belum tahu atau lupa atau ragu belum melengkapi imunisasi anak, cucu, dan keponakan,” ucapnya.

Ia mengatakan banyak penyakit berbahaya di sekitar kita yang dapat dicegah dengan imunisasi. Di antaranya hepatitis B, TBC, polio, pneumonia, muntah berak, difteri, pertusis. “Kemudian tetanus, influenza, campak, rubella, JE. Varisela, hepatitis A, tifoid, dengue serta kanker leher rahim,” paparnya.

Ada pun jadwal imunisasi, sebutnya, untuk bayi dan batita yakni Hepatitis B diberikan pada saat lahir, 1 bulan, dan 6 bulan. BCG diberikan pada saat lahir. Polio diberikan dalam bentuk tetes (bOPV) pada usia 1, 2, 3, dan 4 bulan. DPT-HB-Hib diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan. 

Kemudian PCV (Pneumococcal) diberikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan, dengan dosis booster pada usia 12-15 bulan. Rotavirus (RV) diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan (pentavalent) atau 2 kali dengan interval minimal 4 minggu (monovalent). 

“Campak Rubella (MR/MMR) diberikan pada usia 9 bulan dan 15-18 bulan. Varicella (Chickenpox) diberikan pada usia 12-15 bulan, kemudian ulangan pada usia 4-6 tahun. Hepatitis A diberikan pada usia 12-23 bulan, kemudian ulangan sesuai dengan pedoman yang berlaku di wilayah masing-masing,” sebutnya.

Sementara jadwal imunisasi untuk usia sekolah yakni campak Rubella (MR/MMR) diberikan pada usia 5-7 tahun sebagai bagian dari program BIAS. Difteri Tetanus (DT) diberikan pada anak kelas 1 SD. “Tetanus Difteri (Td) diberikan pada anak kelas 2 dan 5 SD. Dan HPV diberikan pada anak perempuan kelas 5 dan 6 SD (program BIAS),” paparnya. 

Ia menegaskan imunisasi sebaiknya ditunda dalam kondisi tertentu. Seperti ketika anak mengalami demam tinggi (di atas 38,3°C), alergi parah terhadap imunisasi sebelumnya, atau memiliki penyakit kronis tertentu. “Selain itu, imunisasi juga sebaiknya ditunda jika anak sedang dalam kondisi melemahnya sistem kekebalan tubuh, seperti setelah menjalani kemoterapi atau transplantasi,” sebutnya. 

Orang tua, sebutnya, tidak perlu dan panik dan sebaiknya tetap tenang saat menghadapi anak yang mengalami Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI). Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk meredakan gejala KIPI pada anak.

Yakni usahakan anak beristirahat dengan cukup, beri anak cukup air putih, beri obat penurun panas jika diperlukan, jika bagian tubuh yang disuntikkan masih terasa nyeri, usahakan untuk tetap digerakkan menggunakan lengan anak. Dan kompres bagian yang terasa nyeri dengan kain bersih yang telah dibasahi dengan air dingin, jika dibutuhkan,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Gelar Wirid Mingguan di Masjid Asy-Syifa

RSUP Dr. M. Djamil mengadakan wirid mingguan di Masjid Asy-Syifa, Jumat (25/4). Wirid mingguan kali ini menghadirkan ustad Zulkarim, Lc, MA yang membahas kejujuran dan kecurangan.

“Satu-satunya surat di dalam Al Quran membahas ketidakjujuran atau kecurangan terdapat dalam Surat Al-Mutaffifin ayat 1-36. Surat Al-Mutaffifin merupakan surat terakhir yang diturunkan di kota Makkah, sebelum Rasulullah SAW hijrah ke kota Madinah,” kata ustad Zulkarim, Lc, MA.

Ia mengatakan Surat Al-Mutaffifin menegaskan tentang ancaman bagi orang-orang yang melakukan kecurangan dengan mengambil hak orang lain dengan gemar mengurangi timbangan, takaran atau ukuran.

“Allah SWT tidak menyukai kecurangan dan barang siapa yang gemar melakukannya, mereka bukanlah golongan mukmin. Sebagaimana disampaikan Abu Hurairah tentang kisah Rasulullah SAW yang mendapati makanan yang disembunyikan di tumpukan pakaian. “Siapa saja menipu (berbuat curang) maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim),” ucapnya.

Ia menegaskan dalam Surat tersebut membahas tentang balasan bagi orang-orang kafir dengan siksaan neraka dan seruan untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan. “Setiap perbuatan buruk dicatat di dalam Sijjin, sementara kebaikan dicatat di dalam ‘Illiyin. Keduanya merupakan kitab milik Allah SWT berisi amalan manusia semasa hidup,” ungkapnya.

Sementara, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo yang turut hadir mengatakan wirid mingguan ini menjadi tempat silaturahmi bersama civitas hospitalia. “Melalui wirid mingguan ini kita dapat memperoleh pengetahuan sehingga bisa mengisi atau me-recharge pikiran kita kembali sehingga dapat kita terapkan dalam kehidupan,” jelasnya.

Ia juga mengajak seluruh civitas hospitalia untuk lebih meningkatkan kepedulian dan mengerti tugas serta fungsi masing-masing. Karena RSUP Dr. M. Djamil merupakan layanan publik. “Tidak hanya memikirkan keuntungan semata namun lebih kepada memberikan pelayanan yang maksimal kepada pasien,” tukasnya.(*)

Dirut RSUP Dr. M. Djamil Kunjungi IBS dan Pimpin Monev Layanan Anestesi dan Terapi Intensif

RSUP Dr. M. Djamil yang dipimpin Direktur Utama Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua terus berupaya memberikan layanan terbaik kepada pasien. Ini sejalan dengan intensnya direksi dan manajemen melakukan kunjungan lapangan. Kali ini, Direktur Utama memimpin pertemuan dengan tim Instalasi Bedah Sentral (IBS) serta tim Anestesi dan Terapi Intensif di Ruangan Pertemuan IBS, Kamis (24/4).

“Hari ini (24/4), direksi dan manajemen kembali turun ke lapangan dengan mengunjungi kembali Instalasi Bedah Sentral (IBS) sekaligus memonitoring dan mengevaluasi layanan anestesi dan terapi intensif,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua usai pertemuan.

Kunjungan kali ini, sebutnya, untuk memonitoring dan mengevaluasi (monev) terhadap apa-apa yang bisa kita lakukan untuk kebaikan di layanan Instalasi Bedah Sentral (IBS) maupun Anestesi dan Terapi Intensif. “Mudah-mudahan ini menjadi kekuatan kita di dalam memonev hal-hal yang bisa kita tindaklanjuti di manajemen RSUP Dr. M. Djamil,” harapnya.

Ia mengatakan manajemen akan memberikan dukungan agar kinerja dari Instalasi Bedah Sentral serta Anestesi dannTerapi Intensif ini agar bisa memuaskan. “Tentunya sesuai dengan standar mutu yang harus kita lakukan di layanan kesehatan di RSUP Dr. M. Djamil ini,” harap Dovy.

Diketahui sebelumnya, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil telah memimpin monitoring dan evaluasi layanan Ruang Rawat Inap Embun Pagi, Instalasi Rawat Inap Intensif, Instalasi Rawat Jalan. Kemudian Instalasi Bedah Sentral, KSM Bedah dan IGD, serta Kebidanan dan Anak. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Terima Kunjungan Tim TBC RO Kementerian Kesehatan

RSUP Dr. M. Djamil menerima kunjungan tim TBC RO Kementerian Kesehatan di Ruang Rapat Direksi, hari ini (24/4). Kunjungan tim ini dalam rangka melakukan audit klinis layanan TBC RO di RSUP Dr. M. Djamil.

Kedatangan tim dipimpin Fokal Point TBC RO Kementerian Kesehatan dr. Meilina Farikha ini diterima oleh Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) didampingi Manajer Pelayanan Medik dr. Nirza Warto, Sp.THT-KL (K). 

Turut dihadiri tim layanan TBC RO RSUP Dr. M. Djamil, Manajer dan Asisten Manajer, dr. Fathiyah Isbaniah, Sp.P(K), M.Pd. Ked (TAK Eksternal – RSUP Persahabatan), Dina Frasasti, SKM (TO PMDT Pusat), tim TBC RO Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar dan Dinas Kesehatan Kota Padang.

“Pengendalian tuberkulosis merupakan salah satu dari tiga prioritas utama Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto dalam bidang kesehatan. Komitmen ini menunjukkan bahwa persoalan TBC tidak bisa dianggap sepele, karena masih menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit menular di Indonesia,” kata Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) saat memberikan sambutan.

Maka dari itu, sebutnya, kegiatan audit klinis ini menjadi sangat strategis dan relevan dalam mendukung capaian program nasional tersebut. Audit klinis merupakan salah satu instrumen penting dalam memastikan bahwa layanan yang kita berikan kepada pasien khususnya pasien TBC RO benar-benar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

“Kegiatan ini tidak hanya menjadi tolok ukur dalam mengevaluasi tata laksana pengobatan dari sisi klinis, tetapi juga sebagai Upaya penguatan sistem program pengendalian TBC RO di Indonesia,” ungkap Bestari.

a mengatakan melalui kegiatan ini, kita berharap dapatMemastikan tata laksana pengobatan pasien TBC RO telah sesuai standar, sehingga kualitas dan keamanan layanan dapat terus ditingkatkan. Memastikan pencatatan dan pelaporan, baik secara manual maupun melalui sistem SITB, dilakukan secara akurat, lengkap, dan tepat waktu.

Kemudian meninjau pelaksanaan manajemen Efek Samping Obat (ESO) dan Investigasi Kontak (IK) untuk menjamin keselamatan pasien maupun tenaga kesehatan. “Dan mengidentifikasi permasalahan yang terjadi di lapangan, baik dari aspek klinis maupun program, untuk kemudian dicarikan solusi yang tepat dan berkelanjutan,” tuturnya.

Bestari menekankan kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen bersama kita untuk memastikan bahwa angka enrollmen pasien TBC RO khususnya di RSUP Dr. M. Djamil Padang dapat terus meningkat. “Lebih dari itu, bahwa keberhasilan pengobatannya pundapat dicapai secara optimal,” tukasnya. (*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45