RSUP Dr M Djamil Terima Kunjungan Tim Asesmen Sentinel Survelains PIE

RSUP Dr M Djamil menerima kunjungan dari Tim Direktorat Survelians dan Karantina Kementerian Kesehatan di Ruang Rapat Direksi, Jumat (27/9). Kunjungan ini dalam rangka asesmen pemilihan rumah sakit sentinel surveilans penyakit infeksi emerging berbasis sindrom dan laboratorium.

Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo mewakili Direktur Utama menyambut kunjungan rombongan yang dipimpin drh Endang Burni Prasetyowati MKes (Kepala Tim Kerja Penyakit Infeksi Emerging Ditjen P2P).

“Sebagai rumah sakit rujukan utama di wilayah Sumatera bagian Tengah, RSUP Dr M Djamil memiliki komitmen yang kuat dalam mendukung program surveilans yang bertujuan untuk mendeteksi dini dan memitigasi risiko penyebaran penyakit infeksi emerging. Seiring di tengah dinamika kesehatan global yang semakin kompleks, kecepatan dan ketepatan dalam mendeteksi munculnya penyakit baru menjadi sangat krusial dalam upaya kita melindungi kesehatan masyarakat,” kata Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo saat membacakan sambutan direktur utama.

Ia mengatakan pihaknya menyambut baik dilaksanakannya asesmen ini. Hal tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan rumah sakit dalam menghadapi tantangan kesehatan yang terus berkembang, khususnya dalam surveilans penyakit infeksi emerging.

“Dengan adanya implementasi surveilans berbasis sindrom dan laboratorium ini, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan kita dalam mendeteksi dan merespons dengan lebih cepat terhadap ancaman penyakit infeksi baru,” tuturnya.

Ia juga berharap melalui proses asesmen ini, sinergi antara rumah sakit, laboratorium, dan dinas kesehatan akan semakin kuat. “Sehingga kita dapat bersama-sama memberikan kontribusi nyata dalam menjaga kesehatan masyarakat,” ucapnya.

Kepala Tim Kerja Penyakit Infeksi Emerging Ditjen P2P drh Endang Burni Prasetyowati MKes mengatakan tim kerja melakukan asesmen surveilans untuk penyakit infeksi emerging berbasis enam sindrom. Dan kemudian juga ditegakkan melalui diagnosis laboratorium.

Enam sindrom yang menjadi fokus utama tersebut. Yakni sindrom pernapasan akut, sindrom lumpuh layu akut, sindrom kuning akut dengan demam, sindrom demam berdarah virus. Sindrom ensefalitis akut dan sindrom ruam akut.

“Kita harapkan nanti jika satu fasilitas kesehatan atau rumah sakit sebagai lokus untuk sentinel surveilans ini, kita melihat kesiapannya apa saja. Mulai dari kesiapan ruang rawatan untuk penyakit infeksi emerging dan sumber daya manusia,” ucapnya.

Karena ini surveilans, sebut drh Endang, membutuhkan sumber daya manusia atau tim klinisi. “Bagaimana tim klinisi ini mampu untuk menemukan atau mendeteksi suspect penyakit infeksi emerging. Kemudian bagaimana koordinasinya dengan rumah sakit ini. Karena surveilans ini ada enam sindrom faktor utama tentu beberapa divisi yang diperlukan tentu perlu koordinasi yang baik antar divisi. Sehingga awarness tim klinisi untuk mengerjakan perihal ini dapat terlaksana dengan baik,” ungkap drh Endang.

Ia menekankan dari sisi laboratorium, sudah sejauhmana kapasitasnya, pemeriksaan lanjutannya seperti apa dan akses laboratorium rujukannya seperti apa. “Ini akan kita diskusikan lebih lanjut,” tukasnya.

Selain pemaparan kesiapan penyakit infeksi emerging RSUP Dr M Djamil dan paparan sentinel surveilans penyakit infeksi emerging berbasis sindrom dan laboratorium dari tim Asesement Kemenkes. Juga dilakukan diskusi tool asesmen dan diakhiri kunjungan lapangan ke laboratorium, ruang isolasi, IGD dan rekam medis. (*)

Wirid Mingguan M Djamil, Teliti Dulu Kebenaran Informasi yang Diterima

Seseorang tidak boleh langsung percaya dengan informasi, kabar atau berita secara langsung. Hal ini karena fitnah itu amatlah kejam. Bahkan sangking kejamnya muncul istilah, fitnah lebih kejam dari pembunuhan.

“Oleh karenanya, dalam firmanNya Surah Al Hujurat ayat 6, Allah SWT mengingatkan hambaNya untuk selalu memeriksa terlebih dahulu ketika mendapatkan kabar,” kata Ustad Mulkarim Lc MA saat Wirid Mingguan RSUP Dr M Djamil di Masjid As Syifa kompleks rumah sakit, Jumat (27/9).

Turut dihadiri Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua, Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K), Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Direktur Layanan Operasional drg Ade Palupi Muchtar MARS dan civitas hospitalia.

Ia mengatakan dalam surat Al Hujurat ayat 6 itu memberikan tuntunan kepada kaum muslim agar berhati-hati dalam menerima berita terutama jika bersumber dari orang yang fasik. “Perlunya berhati-hati dalam menerima berita adalah untuk menghindarkan penyesalan akibat tindakan yang diakibatkan oleh berita yang belum diteliti kebenarannya,” sebutnya.

Ustad mengatakan sebuah berita memiliki potensi untuk menimbulkan fitnah dan ghibah di antara masyarakat. “Dari ghibah atau fitnah tersebut bisa menimbulkan kekacauan. Oleh karena itu kita harus berhati-hati ketika menerima kabar terutama kabar bohong,” tuturnya.

Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua mengatakan wirid mingguan ini merupakan salah satu program rutin yang diadakan oleh RSUP Dr M Djamil untuk meningkatkan kualitas spiritual dan moral.

Dikatakan, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

“Kami berharap dengan tausiah yang disampaikan semoga para civitas hospitalia dapat lebih mengutamakan urusan menggapai rahmat Allah SWT tanpa mengabaikan akhirat,” tukas dokter spesialis Fetomaternal ini.(*)

RSUP Dr M Djamil Terima Kunjungan Indosopha Sakti

RSUP Dr M Djamil menerima kunjungan dari PT Indosopha Sakti di Ruang Rapat Direksi, Kamis (26/9). Selain silaturahmi, kunjungan ini untuk penjajakan kerja sama pengembangan alat kesehatan high-tech bidang onkologi.

Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua dan Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo berkesempatan menyambut rombongan PT Indosopha Sakti.

“RSUP Dr M Djamil sebagai rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan merupakan bagian dari sistem pelayanan kesehatan di mana berperan penting dalam hal memudahkan akses dan pemerataan pelayanan kesehatan. Selain itu, juga berperan penting untuk peningkatan kualitas pelayanan dan penerapan teknologi di bidang kesehatan,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua.

Turut hadir Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Dr dr Syamel Muhammad SpOG Subsp Onk (K), manajer dan asisten manajer. Sementara dari PT Indosopha Sakti dihadiri Direktur Utama PT Indosopha Sakti Frederic Guiraud.

RSUP Dr M Djamil, sebut Dovy, memiliki layanan unggulan berupa kanker, jantung, stroke dan uronefrologi (KJSU). Tentu membutuhkan alat penunjang medis yang canggih. Salah satunya layanan onkologi.

“Kementerian Kesehatan pun telah membentuk center onkologi bukan KSM lagi. Dan RSUP Dr M Djamil menargetkan akan menjadi Pusat Onkologi. Pasalnya rumah sakit ini telah memiliki di antaranya onkologi bedah, onkologi kebidanan, onkologi degistif, onkologi hematologi dan onkologi bedah,” ucapnya.

Ia mengatakan dengan menghadirkan alat penunjang medis canggih pada bidang onkologi, pelayanan dan tindakan kepada pasien menjadi lebih cepat dan akurat. “Sehingga pelayanan kesehatan kepada masyarakat semakin optimal tentunya,” harap Dovy.

Sementara Direktur Utama PT Indosopha Sakti Frederic Guiraud berkesempatan memaparkan profil PT Indosopha Sakti sebagai perusahaan multinasional yang bergerak di bidang distribusi peralatan medis high-tech. Salah satu peralatan medis yang akan dipasarkan yakni HIPEC (Hyperthermic Intraperitoneal Chemotherapy).

“Kemoterapi Intraperitoneal Hipertermik (HIPEC) adalah proses di mana kemoterapi yang dipanaskan dipompa langsung ke perut setelah operasi. Prosedur ini dilakukan bersamaan dengan operasi kanker atau dikenal dengan operasi CRS (Cytoreductive),” tuturnya.

Rawatan ini, sebutnya, hanya digunakan untuk orang yang menderita kanker yang telah menyebar di dalam perut. “Karena mereka adalah kelompok yang paling mungkin melihat manfaat dari pengobatan ini,” sebut Frederic seraya mengatakan pembedahan dengan HIPEC telah terbukti secara signifikan meningkatkan harapan hidup dan mengurangi tingkat kekambuhan kanker pada pasien tertentu.(*)

Asman Monev Layanan Keperawatan M Djamil Wakili Indonesia ke Kongres WCET-ASCN 2024

Kongres World Council of Enterostomal Therapists (WCET)-Association of Stoma Care Nurse (ASCN) 2024 digelar di Scottish Event Campus (SEC) Glasgow, Skotlandia, Inggris Raya, Sabtu (28/9) hingga Selasa (1/10). Asisten Manajer Monev Pelayanan Keperawatan RSUP Dr M Djamil Lina Febrianti SKep MKep akan menjadi salah satu perwakilan Indonesia.

Pada kesempatan itu, Lina Febrianti bakal menyampaikan presentasi ilmiah dalam bentuk poster dengan mengambil tema Closed Suction System for The Management of Wound Care An Enterocutaneous Fistula: A Case Study.

“Saya bersyukur menjadi salah satu perwakilan Indonesia pada Kongres WCET-ASCN 2024 di Skotlandia. Ini sebuah kesempatan yang baik tentunya dalam membangun jejaring sekaligus menambah khasanah pengetahuan bidang perawatan luka dan stoma,” kata Lina Febrianti SKep MKep.

Ia mengatakan presentasi ilmiah yang bakal ditampilkan ini sebuah studi kasus perawatan luka atau wound care dengan sistem penyedotan tertutup di RSUP Dr M Djamil.

Kesimpulan dari studi kasus tersebut, tindakan perawatan luka dengan sistem penyedotan tertutup mendorong proses penyembuhan luka pada luka fistula enterokutaneus. Ini memberikan perlindungan kulit, pengendalian cairan tubuh yang dikeluarkan dan pengendalian bau yang tidak diinginkan.

“Studi kasus ini telah dibuktikan dengan penyusutan ukuran luka dan jumlah pengendalian cairan tubuh yang dikeluarka setelah sistem CSS. Baik faktor intrinsik dan ekstrinsik penting untuk mempercepat proses penyembuhan luka,” tuturnya.

Dalam studi kasus itu, ia pun memberikan saran untuk penelitian lanjutan. Pertama mengidentifikasi efektivitas penyembuhan luka pasien dengan fistula melalui CSS dengan menggunakan ukuran sampel yang lebih besar dan kelompok kontrol.

“Dan kedua mengidentifikasi faktor risiko yang mempengaruhi proses penyembuhan luka pada pasien fistula yang menggunakan CSS,” ucap Lina.

Ia pun mengucapkan terima kasih kepada tim dokter dan perawat yang telah membantunya dalam studi kasus ini. “Terima kasih juga pada jajaran direksi dan civitas hospitalia RSUP Dr M Djamil atas dukungannya,” ucap Lina.

Sementara Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua mengatakan atas nama direksi dan civitas hospitalia merasa bangga atas kiprah Lina Febrianti SKep MKep yang membawa nama RSUP Dr M Djamil ke kancah dunia.

“Kami juga memberikan apresiasi atas dedikasi beliau selama ini. Buktinya beliau diundang untuk mengikuti Kongres WCET-ASCN 2024 sekaligus presentasi poster ilmiah,” tutur Dovy.

Ia berharap ke depannya, ini menjadi dorongan dan semangat bagi  perawat-perawat di RSUP Dr M Djamil lainnya untuk berkiprah di berbagai ajang maupun kongres baik nasional maupun internasional. “Mudah-mudahan ini membawa kemajuan pada rumah sakit,” tukasnya.

Diketahui, delegasi Indonesia dalam Kongres WCET-ASCN 2024 berjumlah 15 orang. Tiga di antaranya berasal dari Sumbar termasuk Lina Febrianti SKep MKep. (*)

Workshop Endoscopy, Dirut M Djamil: Tingkatkan Kompetensi Dokter Spesialis Bedah

Puluhan dokter spesialis bedah mengikuti Workshop Upper and Lower Endoscopy di Auditorium Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Rabu (25/9). Workshop yang merupakan rangkaian dari P2B2 PABI XXI ini dibuka oleh Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQUA.

“Workshop ini merupakan kegiatan yang penting untuk meningkatkan kompetensi dokter spesialis bedah terutama dalam memberikan layanan yang lebih presisi dan lebih baik. Baik bersifat diagnostik maupun terapi,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil saat memberikan sambutan.

Ia mengatakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran, khususnya endoskopi, berkembang sangat pesat. Oleh karena itu, penting bagi para dokter spesialis bedah untuk terus mengasah kemampuan dan keahliannya agar dapat memberikan pelayanan terbaik kepada pasien.

“Jadi dengan teknik ini akan lebih memaksimalkan dan mengoptimalkan tata laksana pasien yang berhubungan dengan keluhan saluran pencernaan,” harapnya.

Ia berharap dengan workshop ini dapat membantu teman-teman sejawat dapat meningkatkan level kompetensi dalam tindakan endoskopi. Sehingga teman-teman sejawat yang sudah dibekali ilmu dalam workshop ini untuk bisa lebih prepare atau menyiapkan apakah nanti pasiennya perlu dirujuk atau penatalaksana lebih baik lagi ke RSUP Dr M Djamil.

“Karena RSUP Dr M Djamil sebagai rumah sakit tersier atau rujukan terakhir saat ini mempunyai dokter-dokter spesialis subspesialis yang kompeten yang dapat menatalaksana pasien-pasien khususnya dengan keluhan di saluran pencernaan. Ini sebagai upaya dapat meningkatkan akses masyarakat dan kepuasan pasien di dalam mendapatkan pengobatan yang baik di bagian atau khusus spesialisasi saluran pencernaan ini. Sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” harap Dovy.

Ketua KSM Bedah RSUP Dr M Djamil Dr dr M Iqbal Rivai SpB Subsp BDK mengatakan workshop ini sebagai tool ahli bedah dalam hal menegakkan diagnosis. Seperti dalam penyakit-penyakit saluran pencernaan bagian atas terdeteksi dengan endoscopy bagian atas atau disebut juga dengan esofagogastroduodenescopy. “Dengan teknik ini kita bisa memeriksa tumor atau hanya sekadar infeksi atau disebut masyarakat sebagai penyakit maag,” ucapnya.

Ia berharap setelah workshop ini, para peserta dapat melanjutkan dengan magang. Salah satu pusat magang di Indonesia adalah RSUP Dr M Djamil. “Kebetulan rumah sakit ini  memiliki pusat diklat yang diakui Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan kolegium dan Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Indonesia. Magang itu berlangsung satau atau dua bulan atau tergantung kasus,” ucapnya.

Ia berharap juga dokter-dokter spesialis bedah ini bekerja di rumah sakit daerah dapat mengisi dan memanfaatkan alat-alat endoskopi yang diberikan oleh pemerintah. “Pasalnya alat-alat yang diberikan itu belum termanfaatkan maksimal,” harapnya.

Sementara Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Indonesia Cabang Sumbar Dr dr Erwan Bardam SpB MARS FICS FINACS mengatakan sebenarnya ada 12 workshop yang diadakan pada rangkaian P2B2 PABI XXI. Dua workshop diantaranya dilaksanakan di RSUP Dr M Djamil. Yakni workshop laparoskopi dan workshop endoskopi.

“Tujuan workshop ini untuk meningkatkan kompetensi dokter spesialis bedah dalam menegakkan diagnostik dan terapi terhadap kasus-kasus yang berhubungan dengan laparoskopi dan endoskopi khususnya untuk bedah digestif,” sebutnya.

Workshop laparoskopi dan endoskopi ini, sebutnya, berkat kerja sama dengan RSUP Dr M Djamil dan KSM Bedah. “Tujuannya diadakan di RSUP Dr M Djamil agar masyarakat mengetahui rumah sakit ini layanannya apa, peralatannya apa dan apa yang bisa dilakukan di sini,” ucap dr Erwan Bardam.

Ia mengatakan Sumbar dengan memiliki 70 rumah sakit dengan rumah sakit pusat rujukannya RSUP Dr M Djamil, kasus-kasus yang sulit yang tidak dapat menegakkan diagnosa dengan pemeriksaan bisa dapat merujuknya.

“Karena RSUP Dr M Djamil sudah memiliki dokter spesialis bedah digestif yang mahir menggunakan teknologi seperti laparoskopi dan endoskopi. Jadi kita membuka mata masyarakat dan dokter spesialis bedah yang pendidikan bukan di Sumbar dan praktiknya di Sumbar ini. Jika ada kasus yang tak bisa ditangani di daerah dapat langsung merujuk ke RSUP Dr M Djamil,” tukasnya.(*)

Tak Sangka, M Djamil Bisa Kembalikan Wajah Istriku

Masih ingat dengan pasien serangan hewan buas beruang di Pasaman Barat, Mas Abidah (40)? Secara umum kondisi pasien yang menjalani perawatan di RRI Bedah Umum RSUP Dr M Djamil saat ini dalam keadaan stabil dan membaik.

“Kondisi istri saya stabil. Sudah bisa duduk dan makan. Namun karena usai operasi pada bagian bibir, untuk makan kini menggunakan selang,” kata suami Mas Abidah, Abdul Gafur (42).

Istri pun, katanya, sudah bisa berbicara dan sudah jelas apa yang dibicarakan. “Termasuk juga sudah bisa berjalan meski harus dipapah,” tutur Raja–panggilan akrab Abdul Gafur.

Ia merasa bersyukur dengan kondisi istrinya saat ini. “Sempat ada rasa kekhawatiran sebelum dirujuk ke M Djamil. Setelah dirujuk, istri saya selamat. Dan tak menyangka, M Djamil bisa mengembalikan wajah istri saya kembali. Dan anak saya masih memiliki ibu,” tuturnya.

Ia bersyukur atas keadaan istrinya yang sudah membaik. “Dan pelayanan yang maksimal diberikan RSUP Dr M Djamil terhadap istri saya,” ucap Raja.

Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) yang menangani pasien, dr Deddy Saputra SpBP-RE Subsp LBL (K) mengatakan pasien Mas Abidah telah menjalani empat tahapan operasi untuk mengembalikan bentuk wajahnya setidaknya mendekati seperti baik dan untuk dilihat sama orang. “Operasi tahap ke empat dilakukan lebih ke finishing untuk membuat hidung dan bibirnya,” tuturnya.

Pasien ini, tutur Dedy, karena beruang yang sangat acak menyerang pasien ini mengakibatkan wajah, kulit kepala, tangan kanan, tungkai kiri dalam kondisi hancur. Dan menjadi masalah adalah wajah pasien. Karena pada wajahnya mulai dari hidung, mata kiri beserta kelopak mata, bagian sisi dan di atas telinga, dan bibir atas hilang.

“Secara umum wajah pasien lebih dari 50 persen hilang,” ucapnya.

Dedy memaparkan pada operasi tahap ke empt telah dilakukan memodali hidung dan bibir atas yang sudah hilang. “Kita gunakan daging dan kulit atau diistilahkan flap dari flap di dahi, flap dari pipi kanan, flap dari wajah bawah dan leher kanan,” paparnya.

Ia menyebutkan operasi sendiri telah berlangsung sejak 10 hari lalu dan membutuhkan waktu ini selama 4,5 jam. “Pasca-operasi, Alhamdulillah sudah tertutup semua bagian-bagian wajah yang hilang. Hidung sudah kita bentuk dengan kulit dahinya, mata dan kelopak matanya sudah kita tutup. Bibir atas kita bentuk dari bagian bibir bawah bisa kita modifikasi atau rekonstruksi membentuk bibir atasnya,” papar Dedy.

Dari kondisi pemantauan setelah operasi ke empat ini dan mengevaluasi kondisi umum dan kondisi lokal dari penyembuhan luka-luka dan penyembuhan flapnya itu telah dinilai penyembuhannya baik. “Dengan penilaian itu, kita merencanakan untuk memperbolehkan pasien untuk pulang atau rawat jalan,” ungkapnya.

Ia menekankan yang menjadi masalah adalah adanya kendala dari psikis pasien. Sempat mental pasien agak jatih akan tetapi dengan dukungan tim psikiater RSUP Dr M Djamil, pasien dapat pulih kembali secara psikologis.

Masalah kedua, masalah gizinya. Karena bedah plastik melakukan dengan banyak flap. Untuk di sisi kanan saja menggunakan lima flap. “Dimana di dalam mulut intraoralnya banyak juga jahitan. Kondisi demikian kita koordinasikan dengan bagian gizi, bagaimana sebaiknya pasien melakukan diet,” ucap Dedy.

Maka, kata Dedy, diputuskan pada operasi ke empat ini pasien dipasang selang nasogastrik (NGT) untuk memberikan makan pada pasien. “Pemasangan selang NGT ini bertujuan agar tidak membasahi atau mencemari luka operasi yang ada di dalam mulutnya,” sebutnya.

Sementara Direktur Utama RSUP Djamil Padang Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua mengatakan RSUP M Djamil Padang sudah melakukan perawatan optimal terhadap pasien ini dengan tim multidisiplin yang dibentuk. “Mulai dari dokter bedah tulang, dokter bedah plastik, dokter mata dan semua dokter telah dibentuk melakukan perawatan yang cukup baik dan optimal,” tuturnya seraya mengatakan mohon doanya untuk kesembuhan pasien dan optimalisasi dalam penyembuhan terhadap kondisi pasien.

Sebagaimana diketahui, seorang petani karet di Pasaman Barat bernama Mas Abidah dilaporkan mengalami luka parah di bagian tubuhnya usai diserang beruang. Dia diserang saat sedang menyadap karet.

Dia pun saat ini harus mendapatkan sejumlah perawat intensif di RSUP M Djamil Padang akibat serangan hewan buas itu. Sementara kejadian itu dilaporkan terjadi pada Kamis (8/8) lalu.(*)

World Lung Day, Skrining dan Deteksi Dini Cegah Kanker Paru

Oksigen dan bernapas adalah sesuatu yang berharga dan perlu disyukuri. Pernapasan diatur oleh organ tubuh yang bernama paru-paru. Karena itu, penting menjaga kesehatan paru-paru.

Asma, PPOK, pneumonia, tuberkulosis, dan kanker paru merupakan penyakit paru yang dapat mempengaruhi seseorang dari segala usia dan latar belakang. Untuk kanker paru sendiri merupakan kanker yang sering menjakit pria di Indonesia.

Faktor risiko terbanyak adalah merokok termasuk perokok pasif, orang yang sering menghirup asap rokok padahal tidak merokok. Selain asap rokok, faktor risiko lainnya adala paparan radon dan paparan  asbes, paparan bahan karsinogenik lainnya, arsenic dalam minuman, kualitas udara, riwayat radiasi paru dan riwayat keluarga.

“Skrining dan deteksi dini kanker paru dapat menurunkan risiko kematian hingga 15-20 persen,” kata dokter spesialis paru RSUP Dr M Djamil dr Fenty Anggrainy SpP (K) saat Penyuluhan Penyakit Paru di Klinik Paru Non Infeksi Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Selasa (24/9).

Sosialisasi yang dihadiri pasien dan keluarga pasien rawat itu dalam rangka memperingati World Lung Day atau Hari Paru Sedunia yang jatuh pada besok (25/9).

Ia pun menjelaskan perbedaan skrining dengan deteksi dini. Skrining ini merupakan pemeriksaan pada orang sehat atau tanpa gejala nakun memiliki faktor risiko untuk mengidentifikasi penyakit yang dideritanya.

“Manfaatnya skrining memungkinkan pemeriksaan awal non invansive untuk penegakan diagnosis kanker paru,” ucap dr Fenty.

Skrining dapat dilakukan, sebutnya, usia 50-80 tahun, tanpa gejala dan saat ini merokok atau bekas perokok dalam 15 tahun terakhir dengan riwayat merokok satu bubgkus per hari selama 20 tahun. “Jika memiliki tiga kriteria ini silakan periksakan diri ke dokter,” sarannya.

Sedangkan deteksi dini, tutur dr Fenty, menemukan kanker yang dapat disembuhkan, belum lama tumbuh, masih kecil, lokal, dan belum menimbulkan kerusakan yang berarti.

“Kapan harus dideteksi dini? Memiliki 1 atau lebih gejala dan memiliki faktor risiko kanker,” ucapnya seraya mengatakan deteksi dini ini dilakukan dengan pemeriksaan oleh dokter.

dr Fenty menyebutkan gejala kanker paru tersebut adalah batuk persistent, sesak napas, suara serak. “Kemudian nyeri dada, penurunan berat badan dan nyeri tulang,” paparnya.

Ia menyebutkan cara pencegahan kanker paru yakni tidak merokok dan menjauhi paparan asap rokok, tidak mengonsumsi minuman beralkohol berlebihan. “Mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, rutin berolahraga dan menghindari paparan karsinogenik,” ajaknya.

dr Fenty berharap dengan penyuluhan ini, pasien dapat memiliki pengetahuan dalam pencegahan atau pun penatalaksana terhadap permasalahan paru. “Baik untuk diri sendiri maupun keluarga nantinya,” harapnya.

Dirut M Djamil : Penguasaan Laparoskopi Tingkatkan Kualitas Layanan Bedah

Teknik laparoskopi yang semakin berkembang pesat memberikan banyak manfaat, baik bagi pasien maupun tenaga medis. Penguasaan teknik ini akan semakin meningkatkan kualitas layanan bedah dan memberikan dampak positif bagi percepatan transformasi kesehatan nasional.

“Workshop Laparoscopy Basic Advanced ini menjadi salah satu bentuk nyata komitmen kita bersama dalam mendukung pengembangan kompetensi ahli bedah di Indonesia, khususnya dalam penguasaan teknik laparoskopi,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua pada Workshop Laparoscopy Basic Advanced P2B2 PABI XXI di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Selasa (24/9).

Tema yang diangkat pada P2B2 PABI XXI kali ini yaitu “Peran Ahli Bedah dalam Transformasi Kesehatan Nasional”, sebut Dovy, relevan dengan kondisi saat ini. “Kita tidak kalah dengan negara lain. Termasuk kemajuan laparoskopi. Dan kita sudah mengetahui bagaimana manfaat laparoskopi ini pada bidang medis khususnya bedah.

Tentu hal ini sangat penting agar sejawat bisa menguasai ilmu laparoskopi ini. Termasuk  salah satunya nanti adalah robotic surgery,” ucapnya.

Dovy juga memaparkan RSUP Dr M Djamil merupakan rumah sakit di bawah Kementerian Kesehatan dan rumah sakit terbesar di Sumatera Bagian Tengah. “Makanya kami melihat kebutuhan-kebutuhan laparoskopi yang akan menjadi sesuatu hal yang harus dipenuhi. Nantinya layanan kepada pasien lebih presisi,” ungkap dokter spesialis Fetomaternal ini.

Oleh karena itu, tutur Dovy, teman sejawat perlu dibekali dengan pelatihan-pelatihan laparoskopi. “Penguasaan laparoskopi ini akan meningkatkan kualitas layanan bedah dan memberikan dampak positif bagi percepatan transformasi kesehatan nasional,” harapnya.

Tentunya, sebut Dovy, melalui forum ilmiah ini, akan lahir inovasi dan terobosan baru di bidang ilmu bedah yang dapat diaplikasikan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. “Para ahli bedah diharapkan untuk terus mengembangkan kompetensi dan memperluas wawasan di bidang ilmu bedah,” harap Dovy.

Direktur Kursus Dr dr Barlian Sutedja Sp B mengatakan workshop ini untuk ke-55 kali diadakan. Karena penting untuk pengembangan kompetensi dalam bedah laparoskopi. “Ini akan tetap kita terus lanjutkan. Karena hal ini penting untuk  pengembangan bedah laparoskopi berkelanjutan,” tutur Dr dr Barlian.

Sementara Ketua Perhimpunan Bedah Endo-Laparoskopik Indonesia (PBEI) Dr Errawan Wiradisuria SpB KBD MKes mengatakan PBEI bekerja sama dengan PABI mengadakan worskhop laparoskopi ini untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi teman sejawat dalam hal bedah laparoskopi. “Diakui bedah laparoskopi kita ini sudah ketinggalan 20 tahun dengan negara-negara lain. Tapi nggak apa-apa. Lebih baik kita terlambat daripada tidak sama sekali,” tegasnya.

Bedah laparoskopi ini, sebut Dr Errawan, hampir semua rumah sakit di Indonesia sudah punya. Kecuali di daerah terpelosok. “Bedah laparoskopi ini memang diminati oleh para semua pasien. Tentu kita tidak melakukan bedah besar tapi dengan bedah minimal invasif,” tukasnya.

Diketahui, Worskhop Laparoscopy Basic Advanced ini merupakan rangkaian P2B2 PABI XXI yang dipusatkan di Kota Padang. Workshop tersebut berlangsung hingga 25 September. Usai workshop, diagendakan Simposium 26-28 September, Podium 26-27 September dan Gala Dinner pada 27 September. (*)

RSUP Dr M Djamil Terima Kunjungan Tim Standarisasi LPKRA

RSUP Dr M Djamil menerima kunjungan Tim Standardisasi Lembaga Perlindungan Khusus Ramah Anak (LPKRA) di Auditorium Gedung Administrasi dan Instalas Rawat Jalan, Senin (23/9). Kunjungan tim ini dalam rangka audit kedua pemenuhan dan pengukuran standar perlindungan khusus ramah anak.

“Kunjungan tim auditor ini mendukung upaya yang kita lakukan bersama sebagai bagian dari komitmen memberikan perlindungan khusus dan pelayanan terbaik bagi anak-anak. Terutama dalam situasi krisis yang membutuhkan perhatian dan penanganan cepat serta tepat,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua saat memberikan sambutan.

Turut dihadiri Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K), Direktur Layanan Operasional drg Ade Palupi Muchtar MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Manajer dan Asisten Manajer serta Tim Pusat Krisis Terpadu RSUP Dr M Djamil.

Sementara Tim Standardisasi LPKRA yakni M Bascharul Asana sebagai Ketua Tim Audit bersama anggota tim auditor Hasan Catur, Drs Hamidi S dan Galang.

Mewakili Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Dianawati Lasmindar, mewakili Kementerian Kesehatan Yosnelli. Kabid Perlindungan Hak Perempuan dan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan KB Sumbar Desra Elena.

Selain diskusi di Ruang Rapat Direksi, tim Standardisasi LPKRA didampingi Tim Pusat Krisis Terpadu RSUP Dr M Djamil juga melakukan kunjungan lapangan ke Instalasi Gawat Darurat dan Pusat Krisis Terpadu.

Dovy mengatakan kunjungan audit kedua Tim Standardisasi LPKRA ini merupakan langkah penting dalam memastikan pemenuhan standar yang telah ditetapkan. “Kami di RSUP Dr M Djamil Padang, khususnya di Pusat Krisis Terpadu, berkomitmen untuk mengikuti seluruh proses evaluasi dan audit. Ini sebagai bentuk tanggung jawab kami dalam menjalankan fungsi sebagai institusi yang ramah anak dan peduli terhadap perlindungan khusus anak serta memastikan bahwa kami memenuhi standar yang ditetapkan,” ungkapnya.

Ia mengatakan disadari anak-anak adalah kelompok yang rentan dan membutuhkan perlindungan khusus, terutama ketika mereka membutuhkan layanan kesehatan. Anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang harus dilindungi dan beri perhatian lebih.

“Kita berharap, kolaborasi dan sinergi yang baik antara RSUP Dr M Djamil dan Tim Standardisasi LPKRA serta stakeholder terkait diharapkan dapat terwujudnya layanan kesehatan yang ramah anak dan memastikan setiap anak mendapatkan haknya secara optimal,” harap Dovy.

Kabid Perlindungan Hak Perempuan dan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan KB Sumbar Desra Elena mengatakan kunjungan ini langkah penting dalam memastikan bahwa lembaga-lembaga yang berperan dalam perlindungan anak di Sumbar dapat berfungsi secara optimal dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

“Kami mengapresiasi pelaksanaan audit kedua ini yang merupakan bagian dari upaya penting memastikan pemenuhan hak anak pada lembaga ini telah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Audit kedua ini juga memberikan kesempatan untuk memperoleh umpan balik yang konstruktif,” ungkap Desra Elena.

Ia berharap hasil dari audit ini akan memberikan gambaran yang jelas tentang sejauhmana standar perlindungan anak telah diterapkan. Dan apa saja langkah-langkah perbaikan yang dilakukan.

“Dengan begitu RSUP Dr M Djamil menjadi contoh lembaga yang responsif terhadap hak-hak anak di Indonesia,” harapnya.

Sementara itu, mewakili Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Dianawati Lasmindar mengatakan pihaknya mengapresiasi RSUP Dr M Djamil sudah berproses serius sejak awal. “Proses audit ini dilakukan bukan untuk melihat sesuatu yang benar atau salah. Tetapi ini langkah dari kami KPPPA bahwa ini adalah proses pembinaan. Jadi harapan kami ini berproses terus dengan sistem dan mekanisme tetap berjalan,” tukas Dianawati. (*)

RSUP Dr M Djamil, RS Koordinator Jejaring dan Pemprov Sumbar Teken Nota Kesepakatan dan Rencana Kerja

RSUP Dr M Djamil sebagai rumah sakit pengampu regional bersama Rumah Sakit Koordinator Jejaring Pengampuan (RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, RSAB Harapan Kita dan RSPI Prof Dr Sulianti Saroso) dan Pemprov Sumbar menandatangani nota kesepakatan dan rencana kerja layanan prioritas kesehatan. Yakni kesehatan ibu dan anak, penyakit infeksi emerging, diabetes melitus dan gastrohepatologi.

Penandatanganan dilakukan oleh Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah, Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Strategi Layanan RSUPN dr Cipto Mangunkusumo Dr dr Arif Rahman Sadad SpKF (K) MSi MED SH DHM, Hukormas RSAB Harapan Kita Glaudia Sandra dan Direktur Utama RSPI Prof Dr Sulianti Saroso dr Alvin Kosasih SpP (K) M K M.

Kerja sama pengampuan tersebut terdiri dari  RSUPN dr Cipto Mangunkusumo Jakarta untuk jejaring pengampuan layanan diabetes, dan gastrohepatologi, RS Anak dan Bunda Harapan Kita Jakarta untuk jejaring pengampuan layanan kesehatan ibu dan anak. RS Penyakit Infeksi Prof Dr Sulianti Saroso Jakarta untuk jejaring pengampuan layanan infeksi emerging.

Kemudian juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman layanan pengampuan penyakit infeksi emeging antara Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua dengan Direktur Utama RSPI Prof Dr Sulianti Saroso dr Alvin Kosasih SpP (K) M K M.

Turut disaksikan Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI dr Maria Endang Sumiwi MPH dan mewakili Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan dr Budhi Suryadharma SH MH Kes FISQua.  Direktur Layanan Operasional RSUP Dr M Djamil drg Ade Palupi Muchtar MARS, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr Lila Yanwar MARS dan Manajer Tim Kerja Hukum dan Humas RSUP Dr M Djamil Nova Afriani SH MH.

“Saat ini rumah sakit tipe A membantu rumah sakit provinsi. Nantinya rumah sakit provinsi akan membantu rumah sakit kabupaten kota. Sehingga semua terayomi dalam layanan kesehatan. Baik layanannya, kelengkapan sumber daya manusia, dan kelengkapan peralatannya menjadi perhatian bersama,” kat Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah usai pembukaan Rakerskesda Sumbar di The ZHM Premiere Padang, Minggu (22/9) malam.

Dengan adanya kolaborasi ini nanti, tutur Gubernur, pelayanan dan kelengakapan pekayanan di rumah sakit akan meningkat dan menjadi lebih baik. Bahkan melalui kolaborasi ini juga akan saling membackup sumber daya manusia.

“Ketika kekurangan sumber daya manusia di rumah sakit provinsi akan dibackup oleh rumah sakit tipe A. Itulah komitmen yang ditandatangani dengan RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, RSAB Harapan Kita, RSPI Prof Dr Sulianti Saroso dan RSUP Dr M Djamil,” ucap Mahyeldi.

Sementara Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua mengatakan penandatanganan nota kesepahaman ini didasari program Kementerian Kesehatan pilar kedua untuk layanan rujukan, RSUP Dr M Djamil sebagai rumah sakit pengampu di regional Sumatera bagiah Tengah.

“Alhamdulillah, RSUP Dr M Djamil sudah paripurna untuk Kanker, Jantung, Stroke dan Uronefrologi (KJSU). Tugas kita adalah membina rumah sakit jejaring agar bisa  meningkatkan layanan dia terutama untuk  madya dan utama,” tutur Dovy.

Dokter spesialis Fetomaternal ini mengatakan  diharapkan nantinya layanan kesehatan tersebut akan merata dan bisa diberikan layanan kepada masyarakat. “Tentunya sesuai dengan program yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan,” ucapnya.

Terkait penandatanganan MoU dengan RSPI Prof Dr Sulianti Saroso, Dovy mengatakan sebagai rumah sakit yang diampu oleh RSPI Prof Dr Sulianti Saroso dalam layanan penyakit infeksi emerging, rumah sakit ini bisa meningkatkan surveilans terkait dengan penyakit infeksi emerging.

“Tentu kita sudah mempunyai pengalaman dalam pengelolaan Covid-19. Ini yang harus kita kelola dan pertahankan,” tukasnya.(*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45