Peringati Hari Ginjal Sedunia, Penting Deteksi Dini untuk Cegah Gagal Ginjal

Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) Sumbar, Riau dan Kepri bersama Ikatan Perawat Dialisis Indonesia (IPDI) Sumatera Barat memperingati Hari Ginjal Sedunia 2025 di Unit Dialisis Instalasi Diagnostik Terpadu (IDT) RSUP Dr. M. Djamil, Kamis (13/3). Peringatan ini mengusung tema Apakah Ginjal Anda Baik-Baik Saja? Deteksi Dini, Lindungi Kesehatan Ginjal.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua turut hadir dalam peringatan tersebut mengatakan layanan ginjal termasuk salah satu layanan unggulan di RSUP Dr. M. Djamil. Bahkan layanannya sudah mencakup pada tahap transplantasi ginjal. “Untuk wilayah Sumatera, layanan transplantasi ginjal di rumah sakit ini dianggap paling maju. Makanya hal itu memang harus kita banggakan,” sebutnya.

Turut dihadiri Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman,  Sp.THT (KL) (K), Ketua PERNEFRI Sumbar, Riau, Kepri Dr. dr. Harnavi Harun, Sp.PD-KGH, FINASIM, dokter subspesialis ginjal hipertensi, Ketua IPDI Sumbar Hilma dan pengurus, Kepala IDT dr. Vesri Yoga, Sp.PD, K-GEH, MARS, FINASIM, residen Sp2.dan fellowship.

Ia berharap melalui momentum peringatan Hari Ginjal Sedunia ini untuk dapat mencegah penyakit ginjal kronis. Pasalnya penyakit ini menjadi salah satu penyakit dengan pembiayaan tinggi di Indonesia. “Makanya preventif perlu dijaga,” tuturnya.

Ia menekankan pencegahan penyakit ginjal itu sangat penting. Jika dilihat prevalensi penyakit gagal ginjal kronik yang menjalani mulai dari hemodialisa sampai transplantasi ginjal semakin meningkat. “Tentunya pada peringatan Hari Ginjal Sedunia ini, mari kita bersama-sama menyosialisasikan deteksi dini pencegahan gagal ginjal kronik. Salah satunya menghindari faktor risiko. Sehingga prevalensi penyakit ini bisa kita cegah peningkatannya,” harap Dovy.

Ketua PERNEFRI Sumbar, Riau, Kepri Dr. dr. Harnavi Harun, Sp.PD-KGH, FINASIM mengatakan melalui peringatan Hari Ginjal Sedunia 2025 ini dapat mendeteksi dini atau secepatnya melakukan pemeriksaan minimal terhadap diri sendiri. Kemungkinan anggota keluarga, sahabat, dan masyarakat.

“Dengan deteksi dini, orang Indonesia akan sehat ginjalnya. Minimal angka-angka penyakit ginjal kronik dapat dikendalikan. Apapun kondisi di lapangan tentu kita tidak lupa bahwa faktor edukasi adalah sangat penting di dalam memberi informasi kepada masyarakat terhadap pasien-pasien berisiko ginjal. Di antaranya pasien diabetes melitus, pasien obesitas, pasien hipertensi,” sebutnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Perkenalkan Layanan Rehabilitasi Jantung lewat Webinar

RSUP Dr. M. Djamil mengadakan Webinar Unlocking The Fascination of Cardiovascular Rehabilitation, Kamis (13/3). Kegiatan webinar ini diselenggarakan dalam rangka peresmian dan promosi layanan rehabilitasi jantung di RSUP Dr. M. Djamil Padang.

“Webinar ini merupakan salah satu langkah untuk memperkenalkan lebih jauh layanan rehabilitasi jantung yang kami hadirkan di RSUP Dr. M. Djamil,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua saat memberikan sambutan secara virtual.

Dalam webinar tersebut menghadirkan narasumber yakni dr. Abdul Halim Raynaldo, M.Ked (Cardio), Sp.JP (K), FIHA, FAPSC, dr. Citra Kiki Krevani, Sp.JP (K), dr. Rita Hamdani, Sp.JP (K), FIHA, dan Ns. Nafriawati.

Ia mengatakan sebagai salah satu rumah sakit rujukan terbesar di Sumatera, RSUP Dr. M. Djamil berkomitmen untuk terus memberikan layanan kesehatan terbaik, termasuk di bidang rehabilitasi kardiovaskular. Apalagi seiringan dengan meningkatnya angka kejadian penyakit jantung di Indonesia, layanan rehabilitasi yang komprehensif sangat dibutuhkan. “Layanan ini bertujuan untuk membantu pemulihan pasien dengan penyakit jantung dan mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut,” ucap Dovy.

Ia berharap para peserta dapat memperoleh pengetahuan dan wawasan baru yang dapat diterapkan dalam praktik sehari-hari. Serta mendorong terciptanya layanan rehabilitasi jantung yang lebih efektif dan menyeluruh. “Sebagai rumah sakit yang selalu berinovasi, kami yakin penguatan layanan rehabilitasi kardiovaskular ini akan memberikan dampak positif bagi masyarakat,” tutur Dovy.

Salah satu narasumber dr. Rita Hamdani, Sp.JP (K) mengatakan rehabilitasi jantung merupakan program yang kurang diakses meskipun terbukti efektif dalam mengurangj morbiditas dan mortalitas. Rehabilitasi jantung ini merupakan program terintegrasi melalui pendekatan multidisiplin yang mencakup latihan fisik terstruktur, pengelolaan faktor risiko, edukasi penyakit jantung dan dukungan psikologis. “Bertujuan untuk mengoptimalkan kondisi fisik pasien, meningkatkan kualitas hidup, dan mengurangi kejadian kardiovaskular berulang,” sebutnya.

Ia menyebutkan penelitian menunjukkan rehabilitasi jantung dapat mengurangi angka kematian pasien dengan penyakit jantung koroner dan meningkatkan kelangsungan hidup mereka hingga 25 persen. “Pasien yang mengikuti rehabilitasi jantung mengalami penurunan 30-40 persen dalam kejadian infark miokard dan stroke berulang,” ucap dr. Rita Hamdani.

Pada pasien yang mengikuti program rehabilitasi jantung selama 12 minggu, sebutnya, mengalami peningkatan signifikan dalam kapasitas fisik mereka. Termasuk VO2 max dan daya tahan tubuh. “Program latihan direncanakan sedemikian rupa sesuai kondisi masing-masing pasien dengan assessment yang cermat. Dilaksanakan dengan pengawasan dan dievaluasi di akhir program untuk melihat kebermanfaat untuk pasien,” tukasnya.(*)

Dirjen Keslan Kemenkes Lantik Dua Pejabat Fungsional Dokdiknis Ahli Utama RSUP Dr. M. Djamil

Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Azhar Jaya, SH, SKM, MARS melantik dan mengambil sumpah jabatan Pejabat Fungsional Ahli Utama dan Alih Jabatan secara virtual, Kamis (13/3). Pejabat yang dilantik di antaranya pejabat dari RSUP Dr. M. Djamil yakni Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) dan dr. Oea Khairsyaf, Sp.P, MARS sebagai Pejabat Fungsional Dokter Pendidik Klinis Ahli Utama.

Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Azhar Jaya, SH, SKM, MARS dalam sambutannya menekankan jabatan jenjang ahli utama hanya yang benar-benar istimewalah yang menduduki jenjang tersebut. “Karena jumlahnya tidak banyak. Alokasinya terbatas. Jadi pejabat fungsional dokter pendidik klinis ahli utama yang dilantik ini termasuk istimewa,” sebutnya.

Pelantikan yang diadakan di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan tersebut dihadiri Direktur Utama Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Plt Direktur SDM Pendidikan dan Penelitian dr. Kino, Sp.JP (K) dan manajemen.  

Oleh sebab itu, sebutnya, yang ahli utama ini harus menjadi panutan. Bagaimana dalam bekerja, bagaimana dalam menciptakan suatu inovasi dan bagaimana memimpin suatu tim. “Jadi ahli utama ini bukan hanya mengobati pasien saja. Tapi juga turut memikirkan bagaimana kemajuan rumah sakit. Apa sumbangsih lain selain praktik. Apa sumbangsih lain sesuai bidangnya. Baru bisa menjadi ahli utama,” ungkap dr. Azhar Jaya.

Ia berharap semua jabatan fungsional maupun struktural harus memperhatikan aturan dan prosedur yang berlaku ketika dalam bekerja. “Namun demikian, aturan dan prosedur yang berlaku tersebut jangan “dibuat” kaku. Kita boleh melakukan inovasi sepanjang di dalam koridor aturan yang ada dan bisa dipertanggungjawabkan,” tegas dr. Azhar Jaya. (*)

Gaya Hidup Sehat dan Makanan Gizi Seimbang Saat Bulan Puasa

Selama menjalankan ibadah puasa, tubuh manusia tidak menerima asupan makanan dan minuman kurang lebih 14 jam setiap harinya. Selain pola makan dan minum yang berubah dan tidak teratur, pola tidur dan istirahat juga mengalami perubahan karena selama bulan puasa, umat muslim yang menjalankannya diwajibkan untuk makan sahur dini hari.

Kondisi demikian dapat mengganggu kesehatan seseorang apabila tidak menerapkan pola yang sesuai. Tujuan berpuasa di bulan Ramadhan adalah selain untuk beribadah ternyata juga bisa mendapatkan manfaat yang baik untuk kesehatan.

Agar manfaat berpuasa dapat dirasakan baik dalam segi kesehatan, maka diperlukan pengaturan pola makan yang baik karena selama menjalankan ibadah puasa, pola makan akan berubah. Kebiasaan makan yang biasanya 3 kali dalam sehari berubah menjadi hanya 2 kali saja dalam sehari yaitu saat sahur dan berbuka puasa. Oleh karena itu pola makan dan asupan cairan dalam tubuh tetap harus terjaga dan terkontrol.

Nutrisionis RSUP Dr. M. Djamil Nindy, S.Gz mengatakan gizi seimbang merupakan konsep konsumsi makanan yang tepat untuk memenuhi asupan gizi makro (kaebohidrat, protein dan lemak) dan zat gizi mikro (vitamin, mineral).

“Salah satu pedoman gizi seimbang yang tepat adalah konsep isi piringku. Dalam konsep ini makanan dibagi menjadi 1/2 porsi piring (sayur dan buah), 1/4 porsi piring (protein), 1/4 porsi piring (karbohidrat),” sebutnya.

Selain itu, sebutnya, penuhi asupan cairan dan hindari terlalu banyak konsumsi makanan manis, asin dan berlemak. “Jadi, asupan gizi seimbang sangat penting agar cadangan energi tercukupi sehingga dapat beraktivitas dan beribadah dengan lancar,” ucap Nindy. (*)

Catat Tanggalnya!, DWP RS Dr. M. Djamil bakal Adakan Bazar dan 1.000 Berkah Ramadhan

Dharma Wanita Persatuan (DWP) RS Dr. M. Djamil akan mengadakan Bazar dan 1.000 Berkah Ramadhan, Senin (17/2) hingga Jumat (21/7). Kegiatan tersebut diadakan di Taman Lantai 1 dan Lantai II (jembatan penyeberangan) Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan.

“Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan dan sesuai dengan agenda tahunan program kerja DWP RSUP Dr. M. Djamil. Tahun ini merupakan tahun kedua dilaksanakan kegiatan tersebut,” kata Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) RS Dr. M. Djamil Ny. Winanda Dovy.

Ia mengatakan tujuan bazar ini adalah menghidupkan semarak bulan Ramadhan pada lingkungan civitas hospitalia RSUP Dr. M. Djamil. “Sekaligus mempererat hubungan ukhuwah islamiah antara hospitalia,” ucap Winanda.

Tahun ini, sebut Winanda, semakin banyak peminat UMKM yang akan membuka tenant mereka saat bazar. Tercatat 29 tenant yang turut berpartisipasi. Terdiri dari 19 tenant berlokasi di Taman Lantai 1 dan 10 tenant di lantai II (jembatan penyeberangan) Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan. “Di antaranya ada Pesona Songket, Batik Tanah Liek, Pesona Sulaman, fashion anak dan dewasa, aneka makanan dan takjil, sembako. Bahkan tahun ini turut serta perajin mutiara dari Lombok,” paparnya.

Selain bazar, sebutnya, DWP RS Dr. M. Djamil pada saat yang sama juga berbagi 1.000 paket sembako. Kegiatan berbagi sembako tersebut merupakan tahun kedua diadakan.  “Gunanya agar kita saling empati dan mewujudkan saling kasih sayang,” ucapnya seraya mengatakan tidak hanya DPJP, juga perawat dan hospitalia rumah sakit turut berpartisipasi.

Ia mengajak hospitalia dan seluruh masyarakat datang dan berbelanja di bazar  Ramadhan. “Kami mengajak seluruh masyarakat dan hospitalia mengunjungi tenant bazar Ramadhan di dua lokasi tersebut,” ajak Istri Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil ini. (*)

Porsi yang Tepat saat Berbuka Puasa

Wajar bila kita merasa sangat lapar dan haus selama seharian berpuasa. Meski begitu, hindari membiarkan diri kalap menyantap makanan waktu berbuka. Ketika langsung mengonsumsi makanan dalam jumlah besar saat berbuka, pencernaan di dalam tubuh bisa kaget , sehingga timbul masalah kesehatan. Lalu, seperti apa porsi yang tepat saat berbuka puasa?

Nutrisionis RSUP Dr. M. Djamil Farhinza Oktriani, STr.Gz mengatakan selama puasa, kita tetap perlu memenuhi kebutuhan kalori tubuh sama seperti hari-hari biasa. Hal ini penting agar kita tetap memiliki energi untuk menjalani aktivitas. Rata-rata orang Indonesia mempunyai kebutuhan kalori sebesar 1.700-2.000 per hari.

“Nah saat puasa, kita bisa memenuhi kebutuhan kalori tersebut dengan menyusun pembagian porsi makan. Yaitu sahur sebanyak 40 persen, buka puasa 50 persen, dan selesai shalat tarawih 10 persen,” tutur Farhinza.

Di samping itu, sebutnya, juga perlu menjaga pola makan sehat dengan memperhatikan asupan makanan selama bulan puasa. Baik itu  menu sahur maupun berbuka puasa dengan prinsip gizi seimbang. Yaitu ada serat, serat, lemak, dan vitamin. Unsur-unsur gizi ini memberikan kebugaran bagi tubuh sepanjang hari.

Berikut porsi yang tepat saat berbuka:

1. Saat berbuka

    Saat azan magrib berkumandang, mulailah berbuka dengan meminum segelas air putih hangat. Kemudian kita bisa memenuhi 10 persen kebutuhan energi harian dengan mengonsumsi makanan dan minuman manis berkarbohidrat sederhana yang ringan. Seperti es kacang merah, kolak, bubur kacang hijau, kurma, atau segelas teh manis hangat. Namun dari semua makanan tersebut, yang paling direkomendasikan adalah kurma karena kaya akan kandungan energi dan serat.

2. 30 menit setelah Berbuka

Usai shalat Magrib atau kira-kira 30 menit setelah berbuka, baru kita bisa memenuhi 40 persen kebutuhan energi harian. Yakni menyantap makanan utama bernutrisi lengkap dan berkarbohidrat kompleks. Yaitu nasi dengan lauk pauknya, sayur dan buah sesuai dengan isi piringku secukupnya. Jangan lupa minum air putih yang banyak.

3. Setelah tarawih atau sebelum tidur

Sepulang shalat tarawih, kita juga bisa memenuhi 10-15 persen kebutuhan energi harian dengan mengonsumsi kudapan atau camilan sehat. Seperti buah-buahan, yoghurt, kacang-kacangan dan segelas susu hangat.

Berpuasa juga membuat kita tidak mengonsumsi cairan dalam jangka waktu yang lama. Jadi, agar tubuh tidak dehidrasi dan terhindar dari gangguan kesehatan lainnya, rajin-rajinlah minum air putih mulai dari waktu berbuka puasa sampai sahur. Selain itu hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah hindari langsung tidur setelah makan malam. Sebab dapat menyebabkan pencernaanmu terganggu dan perut menjadi buncit. (*)

Exit Meeting dengan BPK RI, Dirut M. Djamil: Hasil Rekomendasi segera Ditindaklanjuti

RSUP Dr. M. Djamil menerima exit meeting tim Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) RI atas  pemeriksaan Laporan Keuangan Kementerian Kesehatan Tahun 2024 pada Satker RSUP Dr. M. Djamil di Ruang Rapat Direksi, Jumat (7/3). Kegiatan pemeriksaan ini telah dilaksanakan sejak 17 Februari hingga 7 Maret 2025.

“Tim BPK melakukan pemeriksaan di RSUP Dr. M. Djamil selama tiga minggu ini. Sehingga apa yang diperlukan dalam tindaklanjut, keterangan, data-data yang diperlukan BPK tentu kami mensupport,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua.

Turut dihadiri Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, manajer, asisten manajer, Ketua SPI, dan Ketua PPPK. Sedangkan tim BPK yakni Wakil Penanggung Jawab Sri Haryoso Suliyanto, Pengendali Teknis Ahmad Fauzi Amin, Ketua Tim Jan Hendra Tarigan dan anggota Tim.

Ia mengatakan pada exit meeting ini tim BPK dapat memaparkan hasil pemeriksaan yang tentu akan menjadi rekomendasi. “Kami akan menindaklanjuti apa-apa saja yang sudah direkomendasikan oleh tim BPK,” ucap Dovy.

Dovy juga meminta maaf kepada tim BPK kurang berkenan dalam penyambutan selama ini. Dan InshaAllah perihal tersebut akan terus diperbaiki. “Tentu sebagai instansi di bawah Kementerian Kesehatan, kami mengikuti apa-apa saja yang menjadi aturan Kementerian Kesehatan yang akan menjadi penilaian dari tim BPK,” tuturnya.

RSUP Dr. M. Djamil sendiri, tutur Dovy, adalah rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan yang melayani pasien-pasien dari Bengkulu, Tapanuli Selatan, Jambi, Sumatera Barat dan Kepulauan Riau. “Rumah sakit ini mempunyai 800 tempat tidur,” sebutnya.

Wakil Penanggung Jawab Tim BPK Sri Haryoso Suliyanto mengucapkan terima kasih kepada seluruh manajemen RSUP Dr. M. Djamil yang telah menerima Tim BPK dengan baik dan ikhlas. “Sehingga, Alhamdulillah tim dapat melaksanakan tugas-tugas pemeriksaan atas pengelolaan keuangan di satuan kerja Kementerian Kesehatan RI dengan baik. Dan pemeriksaan lainnya akan berlangsung hingga Mei,” ucap Sri Haryoso.(*)

Tips Puasa Bagi Penderita Mag Agar Tetap Nyaman

Sakit mag atau dispepsia adalah istilah untuk sejumlah gejala tidak nyaman pada perut bagian atas, seperti lambung perih, perut begah, kembung, dan sensasi terbakar di ulu hati. Beragam faktor bisa memicu kambuhnya sakit mag, termasuk pola makan tidak teratur, konsumsi makanan yang mengandung gas, dan stres.

Berpuasa selama bulan Ramadhan bisa terasa berat bagi penderita sakit mag yang kerap dianjurkan untuk tidak melewatkan waktu makan. Namun, bukan berarti penderita sakit mag tidak boleh berpuasa.

Nutrisionis RSUP Dr. M. Djamil Diana Syenli Akhirta, STr.Gz memberikan tips aman berpuasa bagi penderita mag. Tips pertama, jangan makan terlalu banyak. Makan banyak saat berbuka bisa membuat perut terlalu kenyang hingga berujung mag. “Bagi penderita mag sebaiknya jangan makan terlalu banyak dalam satu waktu. Bisa dimulai dari makan makanan ringan sebelum makan berat,” tutur Diana.

Kedua, hindari pemicu gejala mag. Saat sahur dan buka puasa, sebaiknya hindari makanan dan minuman yang bisa mengiritasi lambung. Misalnya saja makanan mengandung asam seperti jeruk, lemon, dan tomat, baik dalam bentuk buah maupun jus. Termasuk juga makanan pedas, makanan berlemak, seperti rendang, gorengan, minuman ringandan yang mengandung kafein.

Ketiga, tutur Diana, jangan asal makan. Ketika  sahur dan buka puasa, pilihlah makanan yang bisa meredakan gejala mag. Seperti makanan tinggi serat dan makanan rendah lemak. Keempat, hindari stres. Menahan emosi adalah salah satu tujuan Ramadhan. “Jadi cobalah untuk mengontrol emosi dan mengelola stres dengan langkah-langkah positif. Selain meningkatkan pahala, mengendalikan stres juga bisa menjadi tips puasa yang baik bagi penderita mag,” ucapnya.

Terakhir, tutur Diana, jangan tidur setelah makan. Kebiasaan langsung tidur setelah makan sahur karena kantuk tidak tertahankan ini menjadi salah satu pemicu sakit mag dan mulas. “Idealnya, perlu menunggu 2-3 jam setelah makan. Tujuannya agar makanan sudah dicerna dan mengalir dari lambung ke usus halus,” tukasnya. (*)

Wirid Mingguan RSUP Dr. M. Djamil Hadirkan Syekh J’afar Munsif Azzam Abuhamdan

RSUP Dr. M. Djamil mengadakan wirid mingguan awal Ramadhan di Masjid Asy Syifa, Jumat (7/3). Wirid mingguan kali ini  menghadirkan Syekh J’afar Munsif Azzam Abuhamdan dari Palestina. Kehadiran Syekh Ja’far ini difasilitasi oleh lembaga kemanusiaan Adara Relief International melalui program Kolak atau Kolaborasi Kebaikan Ramadhan.

“Dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya berperan dalam kemerdekaan Palestina dan kemerdekaan rakyat Gaza. Sebagaimana firman Allah SWT dan hadis Rasulullah bahwa jihad tidak sebatas berperang di jalan Allah SWT dan tidak sekadar berperang dengan senjata. Juga bisa melalui support kita, bantuan edukasi kita dan bantuan support dana kita. Termasuk peran-peran perawat dan dokter menyalurkan bantuan-bantuan untuk korban-korban perang di Palestina,” kata Syekh J’afar Munsif Azzam Abuhamdan melalui penerjemahnya.

Turut dihadiri Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS FISQua, Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Ketua DWP Ny Winanda Dovy dan pengurus serta civitas hospitalia. Pada kesempatan itu, direksi dan civitas hospitalia berdonasi untuk Palestina.

Ia mengatakan jihad yang paling baik untuk para dokter dan perawat adalah jihad dengan berkorban dengan ilmu-ilmu mereka sebagai dokter. Menyalurkan bantuan alat-alat medis ke Palestina. Bahkan Allah SWT mensifati dirinya sebagai penyembuh. “Kata Nabi dalam Al Quran, Apabila aku sakit maka Allah SWT yang akan menyembuhkan. Kesembuhan adalah sifat dari Allah SWT,” sebutnya.

Sebagai dokter, perawat dan staf rumah sakit, sebutnya, maka tugas amanah kita adalah menyembuhkan. “Pasien-pasien yang datang ke rumah sakit hendaknya kita menyembuhkan dengan ikhlas. Jangan sampai kita hanya melakukan pekerjaan karena tanggung jawab kita di rumah sakit. Tapi ingatlah bahwasanya semua itu maka Allah SWT akan mintai pertanggung jawaban di akhirat kelak,” tutur Syekh.

Sementara itu, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS FISQua  mengatakan wirid mingguan ini menjadi tempat silaturahmi bersama civitas hospitalia. “Melalui wirid mingguan ini kita dapat memperoleh pengetahuan sehingga bisa mengisi atau me-recharge pikiran kita kembali sehingga dapat kita terapkan dalam kehidupan,” harapnya. (*)

Amankah Puasa bagi Penderita Diabetes? Begini Tips Sehatnya

Diabetes adalah penyakit kronis berupa tingginya kadar gula darah dalam tubuh. Penderita diabetes pun diharuskan menjaga kadar gula darahnya dengan memperhatikan pola makan serta asupan nutrisinya sebaik mungkin, bahkan saat berpuasa.

Dokter akan memperkenankan penderita diabetes tipe 2 untuk menjalani puasa selama kadar gula darah dalam batas normal dan tidak mengalami komplikasi tertentu. Namun, puasa bagi penderita diabetes ini tak boleh sembarangan.

Nutrisionis atau Edukator Diabetes RSUP Dr. M. Djamil Delian Fathurahmi , S.Gz mengatakan perubahan pola makan selama puasa menjadi tantangan tersendiri bagi penderita diabetes untuk menjaga kadar gula darah dalam tubuh. Agar kadar gula darah tetap terjaga, terdapat beberapa tips puasa bagi penderita diabetes yang dianjurkan, di antaranya.

Pertama, periksakan diri ke dokter. Cara berpuasa bagi penderita diabetes yang pertama adalah dengan memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan tubuh dalam keadaan sehat dan tidak mengalami komplikasi. “Jika diperlukan, dokter juga akan menyesuaikan kembali jadwal konsumsi obat dengan perubahan pola makan penderita diabetes selama berpuasa,” tuturnya.

Kedua, sebut Delian, makan dibagi 2x makan utama dan 3x selingan. Makan utama ini pada saat sahur dan setelah shalat magrib. “Sedangkan selingan mendekati waktu sahur, saat berbuka dan setelah tarawih. Oleh karena itu, jangan sampai terlewat agar gula darah terjaga,” ucap Delian.

Ketiga, konsumsi makanan tinggi serat. Tips puasa bagi penderita diabetes berikutnya adalah mengonsumsi makanan tinggi serat saat sahur dan berbuka. “Makanan tinggi serat akan dicerna secara perlahan yang membuat tubuh merasa kenyang lebih lama selama berpuasa,” tuturnya.

Keempat, cukupi asupan cairan tubuh. Salah satu tips puasa bagi penderita diabetes yang penting untuk diperhatikan adalah mencukupi asupan cairan tubuh. Selama berpuasa, Anda tetap perlu memenuhi kebutuhan cairan tubuh kurang lebih dua liter sehari atau setara dengan 8 gelas air putih.

Adapun tips untuk memenuhinya adalah dengan menggunakan pola minum air putih 2-4-2 selama berpuasa. “Yaitu 2 gelas saat berbuka puasa, 4 gelas di malam hari setelah berbuka hingga menjelang sahur, serta 2 gelas saat sahur,” ungkapnya.

Kelima, periksa kadar gula darah secara berkala. Penting pula bagi penderita diabetes untuk memeriksa kadar gula darah secara berkala selama berpuasa, kurang lebih 2 hingga 4 kali sehari yaitu setelah sahur, siang hari, dan setelah berbuka puasa. “Bila kadar gula darah kurang dari 70 mg/dL atau melebihi 300 mg/dL, ada baiknya untuk segera membatalkan puasa guna mencegah risiko komplikasi hipoglikemia atau hiperglikemia,” papar Delian.

Gula darah terjaga dengan makanan tepat untuk menjalani ramadhan yang penuh khidmat. Salam sehat. (*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45