Puluhan Anak Ikuti Khitanan Massal, Kontribusi DWP M Djamil untuk RS dan Masyarakat

Khitan menjadi salah satu tuntunan agama Islam yang mengajarkan pentingnya kebersihan. Mengamini kaidah tersebut, Dharma Wanita Pusat (DWP) RSUP Dr M Djamil mengadakan khitanan massal yang dipusatkan di Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Minggu (22/12).

Kegiatan khitanan massal itu turut memeriahkan HUT ke-71 RSUP Dr M Djamil, HUT ke-25 Dharma Wanita Persatuan, Hari Ibu ke-96 dan HUT ke-70 Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI). Berkolaborasi dengan Pusat Pendidikan Dzikir Qalbu (PPDQ) yang diketuai Dr dr Etriyel MYH SpU (K) dan tim Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).

Direktur Utama RSUP Dr M Djamil diwakili Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K) mengatakan khitanan massal ini hendaknya menjadi sebuah kegiatan yang berkelanjutan. “Ini menunjukkan kontribusi Dharma Wanita Persatuan baik untuk internal rumah sakit maupun masyarakat sekitar,” tuturnya.

Ia mengatakan mudah-mudahan kegiatan massal ini berkelanjutan pada tahun depan yang hendaknya juga diisi dengan penyuluhan transplantasi ginjal. “Ini untuk perkembangan program studi Urologi Fakultas Kedokteran Unand/RSUP Dr M Djamil tentunya,” tuturnya.

Bestari juga menekankan khitan itu penting bagi kesehatan. “Pasalnya, membuang bagian tubuh yang menjadi tempat persembunyian kotoran, virus, dan bakteri yang dapat membahayakan kesehatan,” ujarnya.

Khitan itu, sebut Dr dr Bestari, hanya dalam bentuk syariatnya. Tentu sebenarnya adalah  bagaimana kita memulai kehidupan secara Islami. “Jadi kita harapkan selagi dikhitan oleh orang-orang dengan pengetahuan agama mumpuni dan kemudian kehidupan yang membaik. Diharapkan nanti pada tahun 2045, anak-anak yang dikhitan hari ini sudah berumur antara 20 sampai 26 tahun, itu masa emas yang kita harapkan,” ucap Dr dr Bestari.

Ia mengingatkan seluruh yang dikhitan dimulai dengan basmallah dan orang tua yang anaknya dikhitan agar didampingi dan dibacakan Al Fatihah selama proses berlangsung. “Supaya kita harapkan Indonesia Emas 2045 dimulai dari anak-anak yang dikhitan ini,” harapnya.

Ketua DWP RSUP Dr M Djamil Ny Winanda Dovy mengatakan khitanan massal ini tahun kedua diadakan DWP RSUP Dr M Djamil. Kegiatan ini salah satu program sosial yang telah diagendakan DWP. “Khitanan ini diikuti anak-anak hospitalia dan anak-anak masyarakat sekitar rumah sakit. Ini adalah bentuk bakti kami kepada hospitalia dan masyarakat sekitar,” ucap istri Direktur Utama RSUP Dr M Djamil ini.

Tidak hanya khitanan massal, sebut Winanda, DWP RSUP Dr M Djamil berkolaborasi dengan organisasi IIDI juga memperingati Hari Ibu. Pihaknya akan membagikan 100 hampers kepada ibu yang anaknya dikhitan. “Ini sebagai bentuk penghargaan kami atas perjuangan seorang ibu,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Ny Ernita Bestari mengatakan khitanan massal itu akan diikuti sekitar 48 anak hospitalia RSUP Dr M Djamil dan anak masyarakat sekitar. Anak yang dikhitan akan mendapatkan kain sarung, sajadah dan uang saku. “Dalam aksi sosial, kami berkolaborasi dengan tim PPDQ yang menurunkan 23 orang dan tim PPNI menurunkan 25 orang,” tukasnya.

Diketahui kegiatan khitanan massal ini dimeriahkan dengan perayaan Hari Ibu ke-96, penampilan anak penderita gagal ginjal, pembacaan puisi Ibu oleh pengurus IIDI Padang, pemutaran video ucapan Hari Ibu dari jajaran direksi dan hospitalia RSUP Dr M Djamil serta pelepasan pengurus DWP RSUP Dr M Djamil yang memasuki masa purna bakti.  (*)

Site Visit TB Anak, RSUP Dr M Djamil Terima Kunjungan Tim CHEETA Task Force

RSUP Dr M Djamil menerima kunjungan tim CHEETA Task Force di Ruang Rapat Direksi. Kedatangan tim ini dalam rangka kunjungan lapangan CHEETA untuk tuberkulosis anak.

Kedatangan tim CHEETA Task Force Nicole Montanez ini disambut oleh Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua. Turut mendampingi Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr Kino SpJP (K), Ketua KSM Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Unand/RSUP Dr M Djamil dan Dr dr Finny Fitry Yani SpA (K) serta Manajer Penelitian dan Pengembangan dr Zulda Musyarifah SpPA dan tim. 

“Pertemuan ini adalah kesempatan dan peluang bagi kita, bagaimana nanti RSUP Dr M Djamil bisa memberikan suatu opportunity dalam bidang penelitian,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua saat pertemuan di Ruang Rapat Direksi, Jumat (20/12).

Ia mengatakan tentunya nanti tim CHEETA Nicole Montanez bisa melihat kesiapan dari RSUP Dr M Djamil. Dan tim Clinical Research Unit (CRU) bisa memfasilitasi hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan untuk penelitian tersebut.

“Saya melihat RSUP Dr M Djamil mempunyai kapasitas yakni Ketua KSM Ilmu Kesehatan Anak Dr dr Finny Fitry Yani SpA (K) dan tim  memberikan suatu kegiatan yang diperlukan. Karena kami memiliki expert atau ahli dalam bidang tuberkulosis ini,” ungkapnya.

Quick Win dari bapak Presiden RI, sebut Dovy, adalah fokus pada tuberkulosis. Dengan adanya program dari bapak Presiden ini, tentu ini menjadi suatu kegiatan yang bisa memberikan leading kepada RSUP Dr M Djamil.

“Dimana penelitian-penelitian terkait hal tersebut mulai muncul dari rumah sakit ini dan institusi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand). Ini akan memperkuat kita di dalam mengimplementasikan rumah sakit ini merupakan rumah sakit pendidikan utama,” tuturnya.

Ia menekankan di sinilah peran RSUP Dr M Djamil ini dalam mengembangkan penelitian-penelitian khususnya tuberkulosis. “Kami memberikan apresiasi kepada Dr dr Finny Fitry Yani SpA (K) dan tim yang sudah memulai ini. Dan InshaAllah kita akan mensupport kegiatan ini,” ucapnya.

Dovy menekankan ia berkeyakinan RSUP Dr M Djamil akan menjadi salah satu center rumah sakit pendidikan yang akan memberikan kontribusi khususnya pada penelitian tuberkulosis. Apalagi penyakit tuberkulosis ini menjadi permasalahan dan sangat penting dalam program bapak Presiden RI.

“Penyakit ini penyakit komunitas. Kita tidak bisa bicara pada mengobati, akan tetapi bagaimana preventif melalui edukasi dan kuratif. Tentunya ini akan menjadi kekuatan kita di dalam memberantas atau mengurangi penyakit tuberkulosis di Indonesia,” harap dokter spesialis Fetomaternal ini.

Ketua KSM Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Unand/RSUP Dr M Djamil Dr dr Finny Fitry Yani SpA (K) menceritakan tertariknya dia bergabung dalam tim CHEETA Task Force itu dilandasi oleh banyak obat tuberkulosis ini dilakukan clinical trialnya di Afrika. Padahal Indonesia termasuk peringkat kedua dengan jumlah kasus tuberkulosis terbanyak kedua di dunia.

“Akhirnya saya ikut dan terlibat. Kita rapat setiap bulan atau dua bulan untuk mengembangkan beberapa protokol dan juga beberapa aktivitas. Bahkan kita punya sesi spesial conference di Paris tahun lalu untuk menyosialisasikan CHEETA ini,” tutur Finny yang juga terlibat dalam tim Cheeta Task Force ini.

Ia mengatakan kunjungan lapangan kali ini untuk pemilihan lokasi penelitian obat TB anak. “Semua fasilitas, tim dan kerja sama akan dinilai. Baru nantinya ditetapkan lokasi penelitian oleh CHEETA,” tukasnya. (*)

50 Pegawai Purna Bakti, Dirut M Djamil: Terima Kasih Atas Pengabdiannya

RSUP Dr M Djamil melakukan kegiatan pelepasan masa purna bakti TMT Januari 2024-Januari 2025 di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Jumat (20/12). Pada periode ini, RSUP Dr M Djamil melepas sebanyak 50 pegawai purna bakti.

Pelepasan purna bakti yang diwarnai suasana haru dan sarat makna tersebut ditandai dengan penyerahan piagam dan cenderamata oleh Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua.

Turut mendampingi Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K), Direktur Layanan Operasional drg Ade Palupi Muchtar MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Ketua KORPRI RSUP Dr M Djamil yang juga Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr Kino SpJP (K) serta pengurus KORPRI.

“Atas nama keluarga besar RSUP Dr M Djamil  dan sebagai Pembina KORPRI menyampaikan rasa terima kasih atas dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua.

Ia mengatakan pegawai purna bakti adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang rumah sakit ini. Berkat kerja keras, ketulusan, dan komitmen, rumah sakit ini mampu tumbuh dan terus melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya.

“Namun, sebagai manusia biasa, kami sadar bahwa dalam perjalanan panjang ini, tentu ada hal-hal yang kurang berkenan, baik dalam ucapan, sikap, maupun kebijakan yang diambil,” sebut Dovy.

Ia mengatakan masa purnabakti ini adalah awal dari babak baru dalam kehidupan. “Kami berharap pegawai purna bakti tetap menjaga silaturahmi dengan keluarga besar RSUP Dr M Djamil Padang dan terus berkarya di tengah masyarakat,” ucap dokter spesialis Fetomaternal ini.

Ketua KORPRI RSUP Dr M Djamil dr Kino SpJP (K) mengatakan selaku Ketua KORPRI mengapresiasi dan penghargaan kepada pegawai purna bakti atas pengabdian diberikan selama ini. Karena ini merupakan bentuk dedikasi dan loyalitas sebagai abdi negara yang kita tuangkan dalam visi misi RSUP Dr M Djamil.

“Kegiatan pelepasan ini sebagai bentuk penghargaan kepada pegawai yang memasuki masa purna bakti,” sebutnya.

Ia mengatakan sebagaimana diketahui, KORPRI sebagai wadah bagi ASN, sebagai tempat kita bekerja, sebagai kita mengabdi.  “Kemudian sebagai wadah memperjuangkan kesejahteraan kita, wadah silaturahmi, wadah untuk membuat kegiatan yang bisa mendekatkan sesama anggota KORPRI,” tukasnya.(*)

Lusa, DWP RSUP Dr M Djamil Adakan Khitanan Massal

Dharma Wanita Persatuan (DWP) RSUP Dr M Djamil terus aktif mengadakan aksi sosial. Kali ini, organisasi istri ASN ini akan melaksanakan khitanan massal yang dipusatkan di Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Minggu (22/12).

Kegiatan khitanan massal yang dilaksanakan tersebut dalam rangka memeriahkan HUT ke-71 RSUP Dr M Djamil, HUT ke-25 Dharma Wanita Persatuan, Hari Ibu ke-96 dan HUT ke-70 Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI). Aksi sosial ini berkolaborasi dengan Pusat Pendidikan Dzikir Qalbu (PPDQ) yang diketuai Dr dr Etriyel MYH SpU (K) dan tim Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).

“Khitanan massal ini tahun kedua diadakan Dharma Wanita Persatuan (DWP) RSUP Dr M Djamil. Kegiatan ini salah satu program sosial yang telah diagendakan DWP,” kata Ketua DWP RSUP Dr M Djamil Ny Winanda Dovy usai Wirid Mingguan di Masjid Asy Syifa, Jumat (20/12).

Ia mengatakan khitanan massal ini diadakan bertepatan dengan liburan sekolah. “Kami DWP RSUP Dr M Djamil memfasilitasi anak-anak hospitalia dan anak masyarakat sekitar untuk mengikuti khitanan massal ini,” tuturnya didampingi Ketua Pelaksana Khitanan Massal Ny Erniati Bestari dan Pengurus DWP Ny Susan Joko.

Aksi sosial ini, tegasnya, bukan hanya mengandung nilai medis, tetapi menumbuhkan empati dan gotong royong. “Kami berharap anak-anak yang dikhitan tumbuh menjadi generasi sehat dan kuat serta menjadi harapan bangsa,” harap Winanda.

Tidak hanya khitanan massal, sebut Winanda, DWP RSUP Dr M Djamil berkolaborasi dengan organisasi IIDI juga memperingati Hari Ibu. Pihaknya akan membagikan 100 hampers kepada ibu yang anaknya di khitan dan ibu yang anaknya menjalani rawatan di RSUP Dr M Djamil. “Ini sebagai bentuk penghargaan kami atas perjuangan seorang ibu,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Ny Ernita Bestari mengatakan khitanan massal itu akan diikuti sekitar 50 anak hospitalia RSUP Dr M Djamil dan anak masyarakat sekitar. Nantinya anak yang dikhitan akan mendapatkan kain sarung, sejadah dan uang saku. Dimana, untuk kain sarung merupakan donasi dari Koperasi Dharma Wanita RSUP Dr M Djamil, sajadah donasi dari IIDI dan uang saku dari BNI.

“Dalam aksi sosial, kami berkolaborasi dengan tim PPDQ yang akan menurunkan 23 orang dan pengabdian masyarakat tim PPNI menurunkan 25 orang,” tukasnya.(*)

Kajian Wirid Mingguan; Ingatkan jangan Lalai dengan Kemegahan Hingga Liang Kubur

Manusia banyak yang lalai karena kesibukannya saling berlomba meraih dunia. Ada yang rakus akan kedudukan atau kekuasaan. Ada juga saling menyombongkan diri dan berbangga dengan harta dan anaknya. Mereka barulah berhenti ketika sampai di liang lahat. Padahal semua nikmat kelak akan ditanya.

Hal tersebut disampaikan Ustad Martono SPdI MA saat tausiah Wirid Mingguan RSUP Dr M Djamil di Masjid Asy Syifa, Jumat (20/12). Pada kesempatan itu, Ia mengkaji tentang tadabbur Surat At-Takatsur ayat 1-8.

“Surat ini menjelaskan tentang orang-orang yang lalai dari beribadah kepada Allah. Padahal ibadah itulah tujuan diciptakannya manusia. Yang dimaksud di sini adalah beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain Allah, mengenal-Nya dan mendahulukan cinta Allah dari lainnya,” kata ustad Martono.

Turut dihadiri Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua, Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K), Direktur Layanan Operasional drg Ade Palupi Muchtar MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr Kino SpJP (K). Ketua DWP Ny Winanda Dovy beserta pengurus, civitas hospitalia dan pensiunan.

Ia mengatakan isi kandungan surat At-Takatsur yakni pertama, surah At-Takatsur memberikan ancaman kepada setiap orang yang hanya hidup untuk kelezatan dan kesenangan duniawi semata. Kedua, orang yang senantiasa berlomba-lomba dalam kesenangan duniawi, ia bisa terlalaikan dari ibadah dan baru tersadar ketika kematian telah tiba.

Ketiga, pada hari kiamat nanti, orang-orang yang berlomba-lomba dalam kesenangan duniawi akan mengetahui akibatnya. Keempat, orang yang terlalaikan dari akhirat karena bermegahan di dunia, kelak akan menyaksikan neraka secara langsung karena menjadi penghuninya. “Kelima, setiap yang kita nikmati merupakan nikmat dari Allah yang kelak akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban,” tuturnya.

Sejumlah hikmah dari surat At-Takatsur, kata ustad Martono, yakni pertama, hal duniawi membuat manusia lengah hingga datang kematiannya. Kedua, peringatan Allah SWT atas persaingan bermegah-megah di dunia tidak akan membawa kepuasan, yang ada hanya tekanan.

“Ketiga, mereka yang terlena akan keduniaan, kelak di akhirat akan menyesal. Keempat, semua kenikmatan yang diberi oleh Allah akan diadili,” ucap Martono.

Sementara itu, Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua mengatakan wirid mingguan ini menjadi tempat silaturahmi bersama civitas hospitalia. “Melalui wirid mingguan ini kita dapat memperoleh pengetahuan sehingga bisa mengisi atau me-recharge pikiran kita kembali sehingga dapat kita terapkan dalam kehidupan,” harapnya.(*)

RSUP Dr M Djamil Jajaki Kerja Sama dengan Transnet

RSUP Dr M Djamil menerima kunjungan PT Marawa Transmisi Media atau Transnet di Ruang Rapat Direksi, Kamis (19/12/2024). Kunjungan tersebut dalam rangka penjajakan kerja sama layanan akses internet kecepatan tinggi dan manage service di rumah sakit.

“Kami menyambut baik kunjungan sekaligus pemaparan dari PT Marawa Transmisi Media. Memang kami berencana akan menata kembali jaringan yang ada di rumah sakit. Selama ini kami melihat hal ini belum terkoordinir dengan baik,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua saat memberikan sambutan secara virtual.

Turut dihadiri Direktur Layanan Operasional drg Ade Palupi Muchtar MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Kepala Instalasi SIM RS Ibnu Putra dan tim, serta manajemen. Kemudian Direktur Utama PT Marawa Transmisi Media Darmawi.

Ia mengatakan RSUP Dr M Djamil membutuhkan layanan jaringan yang memang berguna dalam menunjang pekerjaan civitas hospitalia, termasuk dalam menunjang pelayanan di rumah sakit. “Nah ini yang tidak termonitor dengan baik,” sebutnya.

Terpenting, tegas Dovy, jaringan di rumah sakit itu harus dijaga. Keluhan masyarakat terhadap jaringan di rumah sakit selama ini harus diselesaikan dan ditata kembali. “Bagi kami ketersediaan maintenance yang bagus dan service yang bagus akan memberikan dampak yang baik pada pelayanan di rumah sakit ini,” tegas dokter spesialis Fetomaternal ini.

Ia mengajak SIM RS untuk membuka diri dan berkonsep ke arah yang lebih baik serta maju. Tentunya berkolaborasi dengan berbagai pihak di Sumatera Barat. “Keberadaan RSUP Dr M Djamil sangat didukung oleh Pemprov Sumbar baik Gubernur maupun Wakil Gubernur Sumbar. Mari kita manfaatkan ini. Mari kita maju bersama. Sehingga nanti kita bisa membereskan permasalahan-permasalahan yang ada,” ucapnya.

Ditambahkan Direktur Layanan Operasional drg Ade Palupi Muchtar MARS, kehadiran PT Marawa Transmisi Media bertujuan untuk menjajaki kerja sama layanan akses internet  kecepatan tinggi dan manage service. “Kami berharap dari manajemen RSUP Dr M Djamil bisa mencermati apa yang dipaparkan perusahaan ini. Mungkin mana yang bisa kita adopsi bahkan kalau cocok akan kita buat kerja sama selanjutnya,” tutur drg Ade.

Sementara itu, Direktur Utama PT Marawa Transmisi Media Darmawi saat pemaparan mengatakan PT Marawa Transmisi Media (Transnet) terbentuk pada Maret 2019. Ada pun lingkup pekerjaan perusahaan ini adalah internet provider, penyewaan infrastruktur jaringan dan manage services.  

“Perusahaan ini adalah perusahaan telekomunikasi lokal yang ada saat ini. Kelebihan Transnet ini dibanding yang lain adalah jasa internet dan manage service,” tutur Darmawi.

Manage service maksudnya, sebutnya, Transnet akan membenahi seluruh kebutuhan jasa internet di suatu tempat. “Mulai dari kecepatannya, kerusakannnya, yang penting pelanggan fokus saja dengan bisnis atau pekerjaannya, soal jaringan internet kita yang urus,” ucapnya.

Ia mengatakan berbagai perusahaan, perbankan, rumah sakit, dan pemerintahan telah menjalan kerja sama dengan Transnet. “Mudah-mudahan tahun depan akan terjalin kerja sama dengan RSUP Dr M Djamil,” harapnya. (*)

Begini Prosedur Hemodialisis di Unit Dialisis RSUP Dr M Djamil

Ginjal adalah organ yang bertanggung jawab terhadap fungsi-fungsi pembersihan darah dalam tubuh, sehingga perannya sangat penting. Tetapi, ginjal yang sudah rusak tidak bisa melakukan fungsinya dengan baik, dan salah satu penanganannya adalah menggunakan hemodialisis. Dengan begitu, tubuh tidak akan menimbun racun akibat kerusakan ginjal.

Hemodialisis adalah proses yang menggantikan fungsi kerja ginjal seseorang yang telah mengalami penurunan kerja ginjal. Atau definisi lainnya, hemodialisis adalah perawatan yang dibantu dengan mesin khusus untuk menggantikan ginjal yang rusak dalam melakukan penyaringan darah. Dengan kata lain, mesin ini merupakan ginjal artifisial; (ginjal buatan), yang mana memiliki fungsi sama dengan ginjal.

Pasien yang dilayani mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga lanjut usia yang berpotensi mengalami gagal ginjal kronik.

“Hemodialisis ini memakan waktu kurang lebih 2 sampai 4 atau 5 jam. Itu tergantung pada stadium ginjal pasien. Pertama kali pasien menjalani proses hemodialisis ini dengan berfrekuensi dua jam kemudian akan ditingkatkan waktunya seiring dengan frekuensi pasien ke berapa kali sampai maksimalnya 4 sampai 5 jam,” kata Perawat Unit Dialisis Instalasi Diagnostik Terpadu (IDT) RSUP Dr M Djamil Vinna Nurlita AmdKep, Kamis (19/12/2024).

Prosedur yang dilakukan saat hemodialisis ini adalah pertama, pasien hemodialisa membersihkan akses pembuluh darah atau akses vaskular untuk memudahkan sirkulasi darah saat proses hemodialisis. Akses pasien itu berupa CDL (Catheter Double Lumen) adalah akses sementara yang digunakan untuk hemodialisis pada pasien yang membutuhkan cuci darah segera. “Berupa selang yang dipasang di bahu atau di lipat paha,” sebutnya.

Kemudian, sebutnya, ada AV Shunt atau Arterio-Venous shunt (AV Fistula/Cimino). Biasa dipasang di lengan atas atau bagian bawah atau kanan dan kiri. “Setelah dibersihkan dan kami pastikan kepatenan alat maka sudah bisa kami sambungkan dengan selang yang akan mengantarkan darah untuk di proses di mesin,” tutur Vina.

Ia mengatakan prosedur itu terjadi dalam kurun waktu semenit. “Darah pasien yang sudah bersih akan dikembalikan ke badan pasien. Itu yang akan berulang selama kurun waktu yang telah ditentukan oleh dokter,” ucapnya.

Sepanjang menjalani hemodialisis, sebut Vinna, pasien tetap bisa melakukan aktivitasnya. “Pasien bisa makan, pasien bisa minum, pasien bisa membaca, mendengarkan musik atau ibadah. Itu akan dijalani pasien sampai waktunya selesai,” tuturnya.

Tanda hemodialisis berhasil, sebutnya, salah satunya ketika pasien bisa merasakan tingkat energi yang lebih baik. “Pasien ini dapat melakukan aktivitas harian. Misalnya bisa menyetir dan melakukan kegiatan rutinitas di rumah. Itu salah satu tanda hemodialisis berhasil dilakukan,” ucap Vinna.

Ia menekankan proses hemodialisis itu sendiri dibutuhkan oleh pasien. “Kami di sini berusaha maksimal untuk memberikan layanan hemodialisis yang optimal agar pasien bisa mendapatkan kualitas hidupnya yang optimal,” tegasnya seraya menekankan hemodialisis ini dapat Anda lakukan di Unit Dialisis RSUP Dr M Djamil. (*)

Cerita Bima Sakti Cleaning Service di RSUP Dr M Djamil

Cleaning service rumah sakit itu bukan pekerjaan sepele. Mereka tidak hanya bertanggung jawab akan kebersihan di rumah sakit. Mereka juga bisa mendapatkan pekerjaan di luar job desk.

Seperti yang terlihat di seluruh ruangan kantor, poliklinik, IGD, rawat inap, laboratorium, dan masjid RSUP Dr M Djamil, para cleaning service ini melaksanakan tugasnya dengan semangat yang tinggi, menjaga kebersihan rumah sakit. Mereka memastikan bahwa setiap sudut rumah sakit terlihat bersih.

Bima Sakti, 28, seorang cleaning service yang telah mengabdikan dirinya lebih kurang lima tahun untuk kebersihan RSUP Dr M Djamil. Dalam kesehariannya, ia bertugas di ruang rawat inap dengan pembagian tiga shift. Yakni shift pagi, siang dan malam.

“Hari ini saya kerja dapat giliran shift pagi sampai pukul 14.00,” kata Bima Sakti.

Bima–panggilan akrabnya mengatakan dalam melakoni pekerjaannya, keseharian dia bertugas membersihkan tempat sampah agar tidak terjadi kontaminasi. Menjamin kebersihan area wastafel, toilet, dan kamar mandi.

Kemudian menjaga kebersihan secara keseluruhan mulai dari area terbuka umum, tertutup terbatas, hingga ruang rawat inap pasien. Membersihkan udara dengan menjaga ventilasi yang bersih dan mengganti filter udara secara teratur.

“Selain itu, dia juga bertugas membuang sampah medis yang bisa berubah sisa-sisa bahan kimia, obat, benda tajam, atau atribut medis sekali pakai,” tuturnya.

Selain bertugas membersihkan arealnya, sebut Bima, sebagai cleaning service juga bersikap melayani dengan ramah, santun dan cekatan. “Setiap masuk ruangan pasien, kami hendaknya berkomunikasi dengan baik kepada pasien atau keluarga,” ucap Bima.

Pekerjaan mereka juga tak bisa didelegasikan ke siapa pun. Yang artinya, memaksa mereka selalu standby saat jam kerja. Dan tidak jarang mereka harus melakukan hal-hal yang di luar job desk.

“Pernah beberapa waktu lalu terjadi peristiwa percikan api akibat korsleting listrik di salah satu ruang rawat inap di tempat saya bertugas. Perawat di ruangan pun panik,” ucap Bima.

Menghadapi peristiwa itu, ia pun tidak turut panik. Dia bergegas ke luar ruangan mencari alat pemadam api ringan (APAR). “Dengan sigap, saya pun memadamkan percikan api dengan APAR. Percikan api pun padam dan situasi pun terkendali,” ungkap Bima.

Bima mengatakan pemahaman cara penggunaan APAR itu diperolehnya semasa pelatihan layanan orientasi informasi (LOI) ketika awal kerja di RSUP Dr M Djamil. “Selain bertugas bersih-bersih ruangan, cleaning service dan juga seluruh civitas hospitalia lainnya wajib memahami cara penggunaan APAR,” ucapnya.

Tidak hanya itu, tuturnya, saat pelatihan LOI dibekali pelatihan bantuan hidup dasar (BHD). “Kondisi gawat darurat bisa terjadi di mana saja. Bahkan di lorong rumah sakit yang belum tentu ada tenaga medis yang stand by sekalipun. Sehingga sangat mungkin seorang cleaning service seperti kami menemukan kejadian BHD saat bekerja,” ujarnya.

Kemudian, sebutnya, ia juga mendapatkan pelatihan untuk menangani tumpahan di rumah sakit. “Dengan pengetahuan dan keterampilan yang kami dapatkan, diperlukan untuk melaksanakan tugas dengan baik dan sesuai dengan standar rumah sakit,” harap Bima.

Sementara Kepala Instalasi Kesehatan Lingkungan Esa Surya Praja AMdKL mengatakan saat ini memang RSUP Dr Djamil memberikan layanan orientasi informasi (LOI) untuk pegawai baru termasuk cleaning service baru sebagai mitra rumah sakit. Merupakan salah satu pelatihan yang wajib diikuti bertujuan agar pelayanan diberikan sesuai standar dan meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit.

“Kepada pegawai baru maupun mitra RSUP Dr M Djamil terutama cleaning service saat mengikuti LOI dibekali pemahaman cara penggunaan APAR, pelatihan bantuan hidup dasar dan penanganan tumpahan B3 di RSUP Dr M Djamil. Ini semua dilakukan demi kenyamanan dan tingkat kepercayaan pasien terhadap RSUP Dr M Djamil,” tukas Esa. (*)

Pentingnya USG Torak Tegakkan Diagnosa Kanker Paru

RSUP Dr M Djamil telah menghadirkan layanan USG Torak di Instalasi Diagnostik Terpadu (IDT). USG Torak merupakan metode non-invasif yang cepat dan telah menjadi bagian dari jalur diagnostik kanker paru.

Diketahui, kanker paru menjadi salah satu jenis kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia. Penyakit ini menjadi penyebab utama kematian akibat kanker.

“Di ruangan IDT ini, kami dari onkologi torak melakukan tindakan yang dinamakan USG torak untuk mengguiding melakukan tindakan untuk pemeriksaan dari kanker paru dan tumor mediastinum,” kata dokter spesialis paru onkologi RSUP Dr M Djamil dr Sabrina Ermayanti SpP Onkologi (K) di Instalasi Diagnostik Terpadu RSUP Dr M Djamil, Jumat (13/12).

Ia mengatakan kita tahu bahwa kanker paru itu sulit untuk didiagnostik. Karena kanker paru adalah salah satu jenis penyakit kanker yang tumbuh di dalam paru di dalam rongga dada sehingga sulit untuk pengambilan sampelnya.

“Kita berusaha bagaimana mengambil dan mendapatkan sampel sehingga dokter patologi anatomi mendapatkan hasil yang lebih baik,” tuturnya didampingi dokter spesialis patologi anatomi dr Yessy Setiawati M Biomed SpPA.

Dengan mengguiding dengan USG torak, sebutnya, kita berharap tumor yang kita ambil itu bisa kita ambil setepatnya sehingga dapat mengambil sampel yang maksimal. “Cara pengambilannya, selain kita lihat dengan USG. Kemudian kita tandai daerah mana yang kita ambil. Kemudian kita ambil bisa dengan needle aspirasi, jarum halus TTNA, dan core biopsi atau TTB,” tuturnya.

Dari sampel yang kita ambil itu nanti sesuai dengan marker yang sudah kita tandai dengan USG kemudian kita serahkan langsung ke dokter patologi anatomi. “Selanjutnya dilakukan tindakan ROSE (Rapid on-site evaluation),” ungkap dr Sabrina.

Dokter spesialis patologi anatomi dr Yessy Setiawati SpPA menambahkan tindakan ROSE ini sangat membantu bagi kami untuk menentukan secara tepat apakah satu tumor itu ganas atau jinak. “Di IDT ini kita sudah bisa menentukan apakah ini tumor jinak atau tumor ganas. Sehingga dokter paru onkologi bisa menentukan tindakan berikutnya,” sebutnya.

Tindakan ROSE sangat membantu bagi pasien yang ada di RSUP Dr M Djamil. “Dan Alhamdulillah ini dapat berjalan karena dukungan dari bagian paru onkologi terhadap patologi anatomi,” ucap dr Yessy.

Jadi, tutur dr Sabrina, kalau sudah dari ROSEnya dapat sampel yang adikuat berarti kita dapat melanjutkan. Berarti posisi yang kita ambil sudah benar, selnya sudah dapat. “Apakah kita lanjutkan dengan core biopsi sehingga kita dapat sampel yang lebih besar. Dengan demikian diagnosis akan lebih dapat ditegakkan dengan pasti,” tuturnya.

Ia berharap mudah-mudahan tindakan yang kita lakukan dengan hati-hati ini dan edukasi yang kita berikan, bapak ibu yang mau dilakukan tindakan diagnostik untuk kanker paru tidak mendapatkan informasi yang salah. Sehingga tidak mau dilakukan tindakan.

“Banyak yang kita dengar, setiap kita mau edukasi melakukan tindakan terjadi penolakan. Pasalnya mereka lebih banyak mendapatkan informasi dampak negatifnya. Padahal tujuannya adalah supaya dapat jenis selnya, dan supaya kita tahu obat yang tepat untuk penyakit bapak ibu,” tukasnya. (*)

RSUP Dr M Djamil Jalani Rekredensial BPJS Kesehatan

RSUP Dr M Djamil menerima visitasi BPJS Kesehatan dalam rangka rekredensial (Uji Kelayakan) pada Senin (16/12). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya RSUP Dr M Djamil untuk menjaga kualitas layanan kesehatan dan memastikan fasilitas yang disediakan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan.

Dalam sambutannya, Plh Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K) mengatakan rekredensial BPJS Kesehatan adalah proses evaluasi ulang sebelum melanjutkan kerja sama dengan BPJS Kesehatan pada tahun mendatang, terhadap persyaratan kerja sama. Meliputi sumber daya manusia (SDM), kelengkapan sarana dan prasarana, serta lingkup dan komitmen pelayanan untuk memastikan bahwa pelayanan yang diberikan kepada peserta JKN-KIS sudah sesuai standar pelayanan.

“RSUP Dr M Djamil adalah rumah sakit rujukan wilayah Sumatera Bagian Tengah dan rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan. Sehingga rekredensial ini adalah wujud komitmen kita semua untuk terus memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik berbasis profesional, teknologi dan standar keselamatan pasien yang tinggi,” kata Direktur Medik dan Keperawatan ini.

Pada kesempatan itu, Dr dr Bestari memaparkan profil RSUP Dr M Djamil. Dilanjutkan pemutaran video hospital tour, pemaparan pelayanan informasi penanganan pengaduan dan pemaparan pengamanan.

Turut mendampingi Direktur Layanan Operasional drg Ade Palupi Muchtar MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, dan manajemen. Tim BPJS Kesehatan yang turut dihadiri Kepala Bagian Fasyankes BPJS Kesehatan Padang Ehrlich Von Dantes, Staf Kerja Sama Nanda Putri Warizki dan Irvan Tonius, perwakilan PERSI drg Busril MPH dan perwakilan Dinas Kesehatan Kota Padang.

Ia mengharapkan kerja sama dengan BPJS Kesehatan makin lama makin baik hendaknya. “Mudah-mudahan hendaknya kerja sama antara RSUP Dr M Djamil dengan BPJS Kesehatan segera diperpanjang. Apapun itu tentu kita berharap adalah layanan untuk masyarakat Sumatera Barat khususnya Sumatera Bagian Tengah yang suda berkunjung ke rumah sakit ini,” ucapnya.

Kepala Bagian Fasyankes BPJS Kesehatan Padang Ehrlich Von Dantes mengatakan rekredensialing merupakan penilaian kembali terhadap fasilitas kesehatan yang menjadi mitra BPJS Kesehatan dengan tujuan memperoleh fasilitas kesehatan berkomitmen dalam memberikan pelayanan kesehatan secara efiktif, efisien, dan terbaik kepada peserta JKN-KIS.

Dalam pelaksanaannya, sebutnya, diketahui bahwa proses rekredensialing ini merupakan rangkaian kegiatan syarat yang harus dilakukan sebagai syarat perpanjangan kerja sama dengan BPJS Kesehatan selaku penyelenggara Program JKN-KIS.

“Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya kerja sama BPJS Kesehatan dengan fasilitas kesehatan yang tidak memenuhi standar mutu layanan. Kita selaku penyelenggara Program JKN-KIS berkewajiban untuk memastikan bahwa peserta JKN-KIS mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan berkualitas,” kata Ehrlich.

Tim ini pun kemudian melanjutkan dengan telusur lapangan ke Intensive Care Unit, Hemodialisa, Kemoterapi, ruangan kelas rawat inap standar (Kris), ruangan isolasi, ruangan PICU dan Instalasi Farmasi. (*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45