Penyakit Kusta Bisa Disembuhkan, Kuncinya Berobat Tuntas

Seringkali penderita kusta datang ke fasilitas kesehatan sudah dalam keadaan terlambat dan dalam keadaan cacat. Padahal, penyakit kusta sebenarnya dapat disembuhkan tanpa harus disertai kecacatan. Kuncinya adalah pengobatan secara tepat dan tuntas.

“Kusta adalah penyakit yang disebabkan bakteri mycobacterium leprae yang menyerang kulit dan saraf tepi. Penderita kusta yang tidak diobati berpotensi menularkan kepada orang lain dengan kontak erat dalam kurun waktu lama,” kata dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Tutty Ariani, Sp.D.V.E, Subsp.D.T., FINSDV di Klinik Kulit dan Kelamin Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Jumat (31/1).

Diketahui, Hari Kusta Sedunia diperingati pada hari Minggu terakhir bulan Januari setiap tahunnya. Pada tahun 2025, Hari Kusta Sedunia jatuh pada tanggal 26 Januari. Tema Hari Kusta Sedunia 2025 adalah ” Bersatu. Bertindak. Berantas “.

Ia mengatakan seringkali masyarakat mengabaikan gejala awal pada kusta yakni bercak putih pada kulit mirip seperti panu. Namun yang membedakannya adalah panu biasanya disertai gatal, sedangkan pada kusta relatif tidak berasa. “Ketidakterasaan atau mati rasa pada gejala kusta inilah yang sering diabaikan oleh penderita,” ucapnya.

Kedua, sebutnya, penebalan saraf. Bisa diraba adanya pembesaran saraf dan rasa nyeri di lengan, aksila, dan di leher. “Ketiga, konfirmasi dengan pemeriksaan basil tahan asam (BTA) di laboratorium,” sebut dr. Tutty seraya mengatakan gejala lainnya berupa mimisan, hidung tersumbat, kehilangan tulang hidung, dan otot melemah.

Kusta, tuturnya, terbagi menjadi enam jenis berdasar tingkat keparahan gejalanya. Yakni lepromatous leprosy ditandai dengan lesi yang tersebar dengan simetris. Umumnya lesi yang timbul mengandung banyak bakteri dan disertai dengan rambut rontok, gangguan saraf, serta kelemahan anggota gerak.

Borderline lepromatous leprosy ditandai dengan lesi yang berjumlah banyak dengan bentuk datar atau benjolan. Kusta jenis ini juga terkadang menimbulkan mati rasa. Mid-borderline leprosy ditandai dengan lesi kemerahan yang tersebar secara acak dan asimetris, mati rasa, dan pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar kusta.

Tuberculoid leprosy ditandai dengan beberapa lesi datar yang kadang berukuran besar, mati rasa, disertai dengan pembesaran saraf. “Kemudian borderline tuberculoid leprosy ditandai ditandai dengan munculnya lesi yang berukuran lebih kecil dan lebih banyak dari tuberculoid leprosy. Dan intermediate leprosy ditandai dengan beberapa lesi datar bewarna pucat atau lebih cerah dari warna kulit sekitarnya, yang terkadang dapat sembuh dengan sendirinya,” paparnya.

dr. Tutty mengatakan salah satu alasan penderita kusta tidak berobat karena stigma di masyarakat. Akhirnya, penderita kusta akan menyembunyikan diri dan tidak keluar rumah untuk berobat. “Ini yang disayangkan. Kusta sebenarnya bisa disembuhkan jika diobati sejak dini,” sebut dr. Tutty.

Padahal, sebut dr. Tutty, pemerintah juga sudah menyediakan obat bagi para penderita secara gratis. Untuk penderita kusta kering (pausi basiler), obat harus dikonsumsi selama 6 bulan. Sedangkan kusta basah (multi basiler), pengobatan dilakukan selama 12 bulan. “Pengobatan kusta itu memang lama. Jadi jangan menyerah dan butuh pendampingan serta pengawasan dari keluarga pasien,” tuturnya.

Ia mengimbau siapapun pasien-pasien yang sedang menderita penyakit kusta atau yang pernah menderita penyakit ini jangan malu, silakan kunjungi fasiltas kesehatan untuk berobat. Karena semakin awal diketahui penyakit ini maka kesempatan untuk sembuh juga semakin tinggi, kecacatan dapat dicegah serta dapat memutus rantai penularan penyakit ini. “Stop stigma dan diskriminasi pada penderita penyakit kusta,” tukasnya.(*)

Wirid Mingguan RSUP Dr. M. Djamil, Ingatkan Persiapan Sambut Ramadan

Tak terasa dalam hitungan hari lagi, seluruh umat muslim di dunia akan memasuki salah satu bulan paling mulia yakni bulan Ramadan. Ini pertanda bahwa sebentar lagi umat muslim akan melaksanakan salah satu rukun Islam yang ketiga, yakni puasa Ramadan.

“Menyambut bulan yang istimewa dan penuh berkah, tentunya harus dengan persiapan yang matang juga agar bulan Ramadan kali ini tidak berakhir sia-sia,” kata ustad Zulkarim, Lc, MA saat Wirid Mingguan di Masjid Asy Syifa kompleks RSUP Dr. M. Djamil, Jumat (31/1).

Turut dihadiri civitas hospitalia dan pengurus Dharma Wanita Persatuan.

Ia mengatakan sebelum datangnya bulan yang penuh berkah ini, hendaknya setiap umat muslim memiliki persiapan, sehingga ibadah dalam bulan Ramadan berjalan dengan baik. Berikut beberapa hal yang bisa disiapkan sebelum memasuki bulan suci Ramadan.

Pertama, ialah rasa syukur. Rasa syukur karena pada tahun ini masih diberi kesempatan untuk berjumpa dengan bulan Ramadan. “Hal ini merupakan tanda bahwa Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk senantiasa memperbanyak amal ibadah dan mengurangi perbuatan maksiat,” ucapnya.

Kedua, niat dengan hati yang mantap. Dengan harapan agar bulan Ramadan kali ini dipenuhi dengan hal-hal baik. Selain itu, juga doa agar pada bulan ini, senantiasa dijadikan sebagai orang yang istiqomah dalam melakukan hal-hal baik karena ibadah dan amalan pada bulan ini akan dilipatgandakan dari bulan selain Ramadan.

“Ketiga, segera melunasi utang puasa yang pernah ditinggalkan karena udzur. Jangan sampai ketika memasuki bulan Ramadan, kita masih memiliki utang dengan Ramadan tahun lalu,” tutur Zulkarim.

Keempat, memperdalam ilmu agama, terutama yang berkaitan dengan puasa Ramadan. Bisa dimulai dengan mempelajari apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan selama puasa Ramadan. “Termasuk hal-hal apa saja yang membatalkan puasa, kesunahan-kesunahan selama puasa Ramadan sehingga bulan Ramadan benar-benar menjadi berkah,” paparnya.

Terpisah, Direktur Utama RSUP Dr. M Djamil Dr. dr. Dovy Djanas Sp.OG., KFM., MARS., FISQua mengatakan wirid mingguan ini menjadi tempat silaturahmi bersama civitas hospitalia. “Melalui wirid mingguan ini kita dapat memperoleh pengetahuan sehingga bisa mengisi atau me-recharge pikiran kita kembali sehingga dapat kita terapkan dalam kehidupan,” harapnya.(*)

Makanan yang Sehat dan Bergizi Bentuk Keluarga Sehat

Hari Gizi Nasional (HGN) telah diperingati setiap tanggal 25 Januari lalu. Peringatan itu sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi seimbang serta konsumsi pangan yang bergizi dalam mendukung kualitas hidup yang lebih baik.

“Tahun 2025 ini, peringatan hari Gizi Nasional mengusung tema “Pilih Makanan Bergizi untuk Keluarga Sehat”. Pilih makanan bergizi ini artinya kita harus memilih makanan yang akan kita asup harian,” kata dokter spesialis gizi klinik RSUP Dr. M. Djamil dr. Dewi Susanti Febri, Sp.GK (K), M.Biomed.

Ia mengatakan apa saja yang dipilih? Yakni komposisi dari makanan itu harus bergizi, dipenuhi makronutrien yaitu karbohidrat, protein, dan lemak serta mikronutrien seperti vitamin, mineral dan air.

“Apalagi yang perlu dipilih? Salah satunya adalah penyajian makanan. Usahakan penyajian makanan itu dihindari dengan menggunakan suhu yang terlalu tinggi atau waktu pemasakan yang lama. Dan sumber makanan itu harus yang segar dan alami,” sebut Kepala KSM Gizi Klinik ini seraya mengingatkan hindari makanan-makanan yang diawetkan dan makanan yang dikemas.

Kandungan gizi makanan yang perlu diperhatikan, sebutnya, adalah tercukupi makronutrien dan mikronutrien. Dan mungkin bagi masyarakat perlulah diberdayakan sumber bahan makanan lokal.

“Seperti kita di Kota Padang mempunyai sumber bahan makanan dari laut yang kaya akan omega 3. Omega 3 merupakan salah satu sumber yang baik sekali untuk antiinflamasi atau anti-peradangan dan itu bisa dengan makan ikan,” tegasnya.

Ia mengatakan kita di Kota Padang, ada makanan Minang, salah satunya adalah dadiah. “Makanan ini sudah teruji sebagai sumber makanan probiotik yang sangat baik untuk menjaga kesehatan saluran makan kita. Maka makanan yang sehat dan bergizi maka akan membentuk keluarga yang sehat,” tukasnya. (*)

Kenali Speech Delay, Penyebab dan Terapi yang Tepat

Keterlambatan bicara atau dikenal dengan speech delay banyak menjadi momok bagi orang tua. Speech delay adalah kondisi dimana anak mengalami keterlambatan bicara dibanding anak seusianya.

“Speech delay tanpa ada gangguan medis, paling banyak sekarang adalah kesalahan cara stimulasi dan over gadget,” kata dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi dr. Riri Prima Yolanda, Sp.KFR, Ped (K) di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Dr. M. Djamil, Kamis (30/1).

Ia menekankan yang paling mengkhawatirkan adalah tidak hanya anak-anak umur 3 sampai 5 tahun. Sekarang itu anak-anak usia 6 bulan sampai di bawah 1 tahun pun sudah diberi handphone. Sehingga anak kehilangan kemampuan bagaimana cara berinteraksi dan kehilangan kemampuan untuk bisa memahami bahasa verbal.

“Yang lebih susahnya adalah kadang-kadang bahasa verbal yang ditonton itu bahasa Inggris. Sedangkan orang tua, nenek dan kakek tidak satu pun bisa berbahasa Inggris. Akhirnya ada perbedaan bahasa antara bahasa pemahaman yang dimiliki anak dengan bahasa sehari-hari digunakan oleh orang tua. Sehingga orang tua merasa anak tidak bisa bicara tapi anak menggunakan bahasa asing. Karena tontonan yang dilihat adalah bahasa asing sedangkan stimulasi dari orang tua kurang,” ungkapnya.

Kondisi demikian, sebut dr. Riri, mengkhawatirkan. Karena ujung dari keterlambatan bicara adalah keterlambatan ketika membaca dan menulis. “Jadi anak-anak yang terlambat bicara tentu kita berpikir tidak ada gangguan kognitif. Tapi jika ini tidak diselesaikan dengan baik, ketika mereka sekolah maka prestasi sekolahnya tidak bisa optimal seperti dengan kemampuan kecerdasannya,” sebutnya.

Ia mengatakan keterlambatan orang tua mengetahui anaknya terlambat bicara atau speech delay karena ada mitos bahwa kalau anak bisa jalan dulu biasanya dia akan terlambat bicara, terutama anak laki-laki. Secara perkembangan memang anak laki-laki lebih sering mengalami keterlambatan bicara.

“Tapi ada mitos di pasien kita atau keluarga kita bahwa memang biasa itu terlambat nanti juga bisa. Mungkin kalau dulu itu masih bisa karena kebiasaan berinteraksi main dengan keluarga besar atau tetangga. Sedangkan kondisi bermain sekarang adalah masing-masing anak itu main di rumah sendiri dan sudah jarang kita lihat anak-anak itu main dengan satu tetanggaan,” tuturnya.

Ia mengatakan dulu bisa dengan mengharapkan bantuan bicara dari sosialisasi antara anak seumuran. Kalau anak-anak sekarang justru mengharapkan bantuan keluarga besarnya. “Nah ketika keluarga besar juga hanya memberikan handphone saja akhirnya dia tidak berkembang bahasanya,” sebutnya.

Ia mengungkapkan ada sebagian orang tua, kakek dan nenek merasa bahwa ketika anaknya bisa menggunakan handphone sedini mungkin maka anaknya itu pintar. “Padahal dari penelitian, anak-anak yang banyak menggunakan gadget justru aktivitas otaknya lebih kurang dibanding anak-anak bermain di luar,” ucap dr. Riri.

Ia menekankan terapi yang tepat diberikan untuk anak gangguan bicara atau speech delay. Pertama, kita akan melihat dulu kondisi anak dari rentang apakah yang terganggu. Jadi, kadang-kadang kita tidak langsung ke terapi wicara. “Kadang-kadang kita melihat anak ini kemampuan untuk atensi dan konsentrasinya kurang, kemampuan untuk berinteraksinya kurang, tidak mengerti cara main dan mengikuti perintah saat main. Kalau seandainya itu terjadi maka kita biasanya mengajak dulu untuk bermain,” ujarnya.

Apalagi, tutur dr. Riri, Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Dr. M. Djamil memiliki ruangan sensor integrasi. “Biasanya kita ajak main disitu sampai anaknya paham bahwa saya harus berinteraksi dengan orang lain. Bahwa saya bisa mengikuti perintah dan saya bisa mengimitasi gerakan-gerakan tertentu,” ucapnya.

Nah setelah itu baru kita mengajak anak ke terapi wicara. Di terapi wicara biasanya kita mulai dulu dengan latihan pernapasan jika anak itu belum bisa mengeluarkan suara. Atau  bisa melakukan oromotor stimulasi. “Setelah itu kita mengajarkan anak bahasa pemahaman bahwa benda ini namanya bola dan ini namanya mobil. Walaupun belum bisa mengucapkan. Selanjutnya baru kita mengajarkan anak ini bagaimana mengucapkan kata satu silabel, dua silabel. Kemudian tanya jawab dan terakhir bisa membuat kalimat serta artikulasinya baik,” ungkap dr. Riri.

Ia berharap dengan kita bisa mengajarkan anak-anak ini bicara kalimat dan komunikasi dua arah, mereka bisa paham logic thinking dan lain-lain nanti mereka sekolah bisa mengambil kesimpulan dari apa yang mereka baca. “Ujungnya adalah persiapan sekolah,” tukasnya.(*)

Awalnya Hanya Berbaring Lama, Kini Nadira Bisa Duduk dan Berjalan

RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan di wilayah Sumatera Barat khususnya Sumatera Bagian Tengah tiada henti memberikan layanan optimal kepada pasien. Hal itu dirasakan oleh Lili, warga Muko-Muko Bengkulu yang anaknya bernama Nadira, 12, menjalani perawatan di RSUP Dr. M. Djamil.

“Saya merasakan layanan optimal yang diberikan RSUP Dr. M. Djamil. Anak saya Nadira saat ini sudah bisa jalan, tangannya sudah bisa digerakkan dan bisa berbicara,” kata Lili di Instalasi Rehabilitasi Medik, Selasa (21/1).

Ia mengatakan sudah delapan kali anak semata wayangnya menjalani sejumlah terapi di Rehabilitasi Medik. “Alhamdulillah anak saya dilayani dengan baik. Dan Nadira pun semangat menjalani terapi. Hingga memperlihatkan perkembangan signifikan selama menjalani terapi,” tuturnya terharu.

Lili mengatakan menurut keterangan dokter,  adanya massa di otak Nadira. Anaknya ini pun sempat menjalani perawatan dan operasi di salah satu rumah sakit di Jakarta. “Setelah operasi itu, Nadira kembali pulang ke Bengkulu. Tapi, penyakitnya itu kambuh kembali. Bahkan dia hanya bisa berbaring dan tidak bisa duduk. Tidak bisa berjalan dan tangannya pun tidak bisa digerakkan,” ucap Lili.

Melihat kondisi demikian, tutur Lili, Nadira pun dirujuk ke RSUP Dr. M. Djamil. Setelah  dilakukan pemeriksaan oleh tim dokter, ternyata masih banyak massa ditemukan di otak Nadira. “Operasi kedua pun dilakukan,” ucap Lili.

Usai operasi itu, sebut Lili, Nadira seperti habis tenaga. Tidak bisa berjalan dan hanya berbaring. Bahkan merasa mual untuk miring. “Melihat kondisi Nadira seperti itu, dokter spesialis bedah syaraf menyarankan untuk menjalani fisioterapi. Saran dokter tersebut, saya ikuti,” sebutnya.

Lili menyebutkan setelah menjalani beberapa kali terapi, Nadira sudah bisa duduk, bisa jalan, dan berbicara. Karena adanya gangguan pada mata, ia belum bisa melihat. Akibatnya, untuk berjalan masih meraba-raba. “Tapi Alhamdulillah kami senang Nadira mengalami banyak perkembangan dari sebelumnya,” ucap Lili seraya mengatakan hari ini (22/1), ia dan Nadira akan pulang ke Muko-Muko Bengkulu.

Ia mengucapkan terima kasih atas layanan yang diberikan tim medis dan tenaga kesehatan RSUP Dr. M. Djamil kepada anaknya. “Saya merasa puas atas layanan yang diberikan selama anak saya menjalani perawatan di sini,” tutur Lili.

Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) dr. Riri Prima Yolanda, Sp.KFR, Ped (K) mengatakan awalnya pasien datang ke Instalasi Rehabilitasi Medik sekitar empat bulan lalu yang dikonsulkan dari bedah syaraf setelah mendapatkan titisan terkait adanya massa di kepala. Saat datang itu, Nadira sudah immobilisasi atau berbaring lama sekitar empat bulan.

“Jadi datang dengan kondisi lemah anggota gerak terkait dengan immobilisasinya. Kemudian Nadira tidak mampu untuk miring. Bahkan merasa mual untuk miring dan tidak mampu duduk. Dan Nadira juga mengalami gangguan visual,” sebutnya.

Nadira pun, tuturnya, sangat sedih dengan kondisinya dan sedikit hopeless. Dia khawatir tidak bisa lagi kembali ke aktivitas semula. “Awalnya kami melakukan asesmen dan memberikan mini goal kepada Nadira. Mini goal awalnya kita mengharapkan Nadira mampu duduk dengan sandaran,” tuturnya. 

Kemudian, kita bikin mini goal kedua. Setelah  berhasil mencapai Nadira duduk tanpa sandaran. Semangat Nadira pun kembali muncul.  “Ia pun belajar berdiri dengan pegangan dan berjalan dengan menggunakan trial bars. Alhamdulillah selama satu bulan terapi di sini, akhirnya Nadira bisa kembali berjalan dengan menggunakan alat bantu,” ucap dr. Riri.

Ia mengatakan tidak hanya itu, karena Nadira seorang remaja masih ingin mempunyai akses dengan kawan-kawan secara online. “Kami juga membantu bagaimana Nadira bisa menggunakan handphone dan mengatur  setingan handphone sehingga sesuai dengan kebutuhannya,” tuturnya.

Ia mengatakan saat ini Nadira bisa menggunakan handphonenya cukup dengan  menekan nanti akan keluar suara. Nadira pun bisa menggunakan WhatsApp, mengakses YouTube dan lainnya. “Sehingga aktivitas Nadira sebagai seorang remaja tetap bisa terjalankan,” ungkapnya seraya berharap Nadira bisa mencapai pemulihan yang lebih baik. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Adakan Wirid Mingguan, Kaji Memperkokoh Keimanan

RSUP Dr M Djamil kembali melaksanakan kegiatan rutin Wirid Mingguan di Masjid Asy-Syifa, Jumat (24/1). Kegiatan Wirid Mingguan ini menghadirkan ustad Kamrizal, Lc, MA, yang membahas tentang mengarungi kehidupan dengan keimanan yang kokoh.

“Iman merupakan salah satu pilar utama dalam kehidupan seorang muslim. Iman yang kuat dapat menjadi sumber kekuatan yang besar dalam menghadapi berbagai rintangan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tidak jarang iman kita terkadang tergoyahkan oleh berbagai masalah dan rintangan yang dihadapi,” kata Ustad Kamrizal, Lc, MA.

Wirid mingguan ini turut dihadiri Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua dan civitas hospitalia beserta pengurus DWP RSUP Dr. M. Djamil.

Ia mengatakan tingkatan iman yang dimaksud Rasulullah adalah buah dari keimanan kita kepada Allah. Semakin kita beriman kepada Allah seharusnya dibuktikan dengan semakin banyaknya ketaatan kita kepada Allah. “Semakin kuat iman yang bersemayam di dalam diri kita, maka kita semakin takut dan khawatir apabila mengerjakan apa yang dilarang oleh Allah SWT,” ucapnya.

Oleh karena itu, sebut Kamrizal, saat iman turun dalam artian ketaatan kita kepada Allah turun, maka tidak ada obat yang lebih mujarab daripada kita kembali kepada Allah dengan membaca Al Quran. “Kemudian  melakukan istighfar, dengan kemudian bertaubat, dengan mendekatkan diri kepada majelis-majelis ilmu, kepada masyarakat-masyarakat yang saleh yang bisa mengembalikan kita kepada ketaatan kepada Allah SWT,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama RSUP Dr. M Djamil Dr. dr. Dovy Djanas Sp.OG., KFM., MARS., FISQua mengatakan wirid mingguan ini menjadi tempat silaturahmi bersama civitas hospitalia. “Melalui wirid mingguan ini kita dapat memperoleh pengetahuan sehingga bisa mengisi atau me-recharge pikiran kita kembali sehingga dapat kita terapkan dalam kehidupan,” harapnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Sambut Baik Peran Strategis INA-CRC Kembangkan CRU

RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit pendidikan utama dan pusat rujukan di wilayah Sumatera Bagian Tengah, memiliki tanggung jawab besar untuk mendukung pengembangan riset yang inovatif. Dalam konteks dunia kesehatan yang terus berkembang, inovasi dalam riset klinis menjadi sangat krusial.

“RSUP Dr. M. Djamil menyambut baik peran strategis INA-CRC (Indonesia Clinical Research Centre) dalam pengembangan Clinical Research Unit (CRU). Kami percaya bahwa kolaborasi ini akan membuka banyak peluang baru dalam bidang penelitian klinis. Pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang kami berikan kepada masyarakat,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua saat Road Show INA-CRC di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Kamis (23/1).

Road Show secara virtual ini bertemakan “Peran Strategis INA-CRC dalam Pengembangan Clinical Research Unit (CRU) untuk Mendukung Inovasi Riset Klinis”. Menghadirkan narasumber Kepala Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan Indri Rooslamiati, M.Sc., Apt, Manajer Penelitian RSUP M. Djamil dr. Zulda Musyarifah, Sp.PA, FIAC, IFCAP dan Principal Investigators Uji Klinis RSUP M. Djamil dr. Asrawati, Sp. A, Subps.TKPS (K), M. Biomed, FISQua.

Turut hadir Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), Plt Direktur SDM Pendidikan dan Penelitian dr. Kino, Sp.JP (K), Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah dr. Rendri Bayu Hansah, Sp.PD FINASIM, Dekan Fakultas Kedokteran UNP Dr. dr. Rika Susanti, Sp.FM(K). Kemudian peserta road show.

Ia mengatakan keberadaan CRU di rumah sakit kita bukan hanya sekadar sebagai fasilitator riset. Tetapi juga menjadi motor penggerak bagi lahirnya inovasi-inovasi baru dalam dunia kesehatan. “Melalui pengembangan CRU, kita dapat memastikan bahwa penelitian yang dilakukan lebih terstruktur dan terstandardisasi. Tentunya lebih memberikan manfaat yang nyata bagi pasien dan perkembangan ilmu kesehatan,” ucapnya.

Melalui CRU, sebut Dovy, juga dapat mendorong terciptanya berbagai riset yang relevan. Termasuk pengembangan produk kesehatan yang inovatif, terutama produk buatan dalam negeri.  “Dengan kemampuan dan kemandirian dalam menghasilkan produk lokal berkualitas, kita tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia, tetapi juga meningkatkan daya saing bangsa di kancah internasional,” tuturnya.

Tentunya Ia mengapresiasi peran INA-CRC sebagai wadah yang menghubungkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, industri, dan fasilitas pelayanan kesehatan, untuk memperkuat ekosistem riset klinis di Indonesia. “Kerjasama semacam ini penting untuk memastikan riset yang kita lakukan memiliki dampak nyata bagi peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat,” tegasnya.

Kepala Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan Indri Rooslamiati, M.Sc., Apt mengatakan INA-CRC merupakan langkah maju menuju transformasi penelitian klinis dan menempatkan Indonesia sebagai pusat penelitian klinis bertaraf internasional. Mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. HK.01.07/MENKES/1458/2023 tentang Penyelenggaraan Penelitian Klinik di Rumah Sakit, dengan tujuan memfasilitasi dan mengoordinasikan Clinical Research Units (CRU) di seluruh rumah sakit di Indonesia.

“Salah satu rumah sakit yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan RI untuk CRU ini adalah RSUP Dr. M. Djamil. Dan kini rumah sakit ini bekerja sama dengan Harrison AI tentang teknologi AI untuk Radiologi/Chest X-Ray dan CT Brain. Ini sebuah kemajuan dalam penelitian klinis bagi rumah sakit ini,” tukasnya. (*)

Kenali Varises, Pemicu, Gejala, Pencegahan dan Terapi yang Tepat

Mungkin banyak diantara kita yang pernah mengalami kondisi abnormal pada bagian betis kaki, dimana pembuluh darah vena tampak timbul atau menonjol di permukaan kulit. Umumnya kondisi pembuluh darah vena tersebut, memanjang, melebar, dan berliku-liku, disertai rasa pegal, kram, nyeri, maupun kesemutan gatal, itulah yang disebut varises.

“Varises adalah pelebaran pembuluh darah balik atau vena yang berkelok-kelok yang ditandai dengan tidak berfungsinya katup vena,” kata Ketua Divisi Vaskular dan Endovaskular RSUP Dr. M Djamil Dr. dr. Raflis, Sp.B, Subsp. BVE (K) saat Seminar Terapi Terkini Varises dan Skrining Varises di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Kamis (23/1).

Ia menjelaskan pemicu dari varises di antaranya berdiri terlalu lama, obesitas, kehamilan, obat-obat kontrasepsi. Kemudian umur, faktor genetik dan hormonal. “Varises ini lebih banyak dialami oleh perempuan, dibanding pada laki-laki, karena dipengaruhi oleh faktor hormonal,” sebutnya.

Ia mengatakan umumnya gejala yang timbul dari varises berupa kram di kaki, gatal-gatal terutama daerah dekat pembuluh darah, pergelangan kaki yang membengkak, warna gelap. Otot mudah kaku atau pegal, terutama jika berdiri terlalu lama.

“Kemudian nyeri kaki di malam hari, pembuluh darah yang tampak menonjol dan bewarna ungu tua atau biru, sering muncul seperti tali di kaki. Serta nyeri yang memburuk setelah duduk atau berdiri untuk waktu yang lama,” paparnya seraya menyebutkan sementara gejala berat dan komplikasi berupa borok kaki, pendarahan, dan peradangan kronis pembuluh darah tungkai (tromboflebitis).

Ia menyebutkan untuk pencegahan varises ini berupa makan makanan bergizi dan olahraga teratur, hindari berdiri terlalu lama dan sedapat mungkin melakukan relaksasi jika dalam aktivitas sehari-hari berdiri lama, hindari duduk lebih lama dengan kaki menyilang dimana posisi ini dapat menghambat aliran darah dari tungkai ke jantung.

Kemudian hindari pemakaian pakaian bawah yang terlalu ketat, jika sedang bepergian jauh usahakan meluruskan kaki secara berkala dan   memijit-mijit tungkai sehabis bepergian. “Gunakan kaos kaki elastis untuk mencegah penekanan pada tungkai. Dan menggunakan sepatu dengan hak rendah,” ucapnya.

Jika tidak diobati, varises di kaki dapat menyebabkan beberapa komplikasi yang serius. Beberapa komplikasi varises kaki yang dapat terjadi yakni dermatitis stasis kronis dengan infeksi jamur atau bakteri, tromboflebitis dapat berkembang dalam varises.

“Pigmentasi di sekitar pergelangan kaki (akibat endapan pigmen hemosiderin pada kulit). Tukak kulit dan pendarahan (jarang),” sebutnya.

Sementara itu, dokter subspesialis vaskular endovaskular dr. Hippocrates Kam, Sp.B, Subsp. BVE (K) mengatakan varises memiliki berbagai modalitas terapi dengan indikasi dan pertimbangan masing-masing. Prinsip terapi ini yakni membantu memperbaiki aliran balik vena, menutup vena inkompten, dan memperbaiki hipertensi vena yang terjadi.

“Jenis terapi varises ini berupa thermal ablation, cyanoacrylate glue ablation, mechanicochemical ablation, foam scleroteraphy, venous stripping, dan medical stocking),” ucapnya.

Ia menyebutkan tindakan EVLA (Endovenous Laser Ablation) merupakan salah satu alternatif terapi varises yang sudah tersedia di RSUP Dr. M. Djamil.  “EVLA adalah sebuah metode pada penanganan varises dengan memanfaatkan teknologi laser untuk memulihkan kondisi pembuluh darah vena yang mengalami pembengkakan sehingga dapat meminimalisir tindakan invasive bedah,” paparnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Adakan Seminar Terapi Terkini Varises dan Skrining Varises

RSUP Dr. M. Djamil mengadakan seminar Terapi Terkini Varises dan Skrining Varises di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Kamis (23/1). Seminar ini  relevan mengingat tingginya prevalensi penyakit tersebut di masyarakat pada saat ini.

“Varises, yang sering kali dianggap hanya sebagai masalah estetika, sebenarnya dapat berdampak serius pada kualitas hidup pasien jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, skrining dini dan terapi yang tepat menjadi kunci untuk mencegah komplikasi yang lebih serius,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua saat sambutan.

Seminar tersebut menghadirkan narasumber Dr. dr. Raflis, Sp.B, Subsp. BVE (K), dr. Yudi Ichsan Ramata, Sp.B, Subsp. BVE (K), dr. Hippocrates Kam, Sp.B, Subsp. BVE (K). Tidak hanya pemaparan materi, tapi juga skrining varises dengan USG doppler gratis.

Turut juga dihadiri Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Kino, Sp.JP, (K),  Manajer Diklat Ns. Venny Dwita Zola Anwar, S.Kep dan tim, serta peserta seminar.

Seminar ini, tutur Dovy, tidak hanya bertujuan untuk memperkenalkan metode terapi terbaru. “Akan tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran kita semua akan pentingnya skrining varises secara dini. Dengan demikian, kita dapat memberikan penanganan yang lebih efektif dan efisien kepada pasien,” ucap dokter spesialis Fetomaternal ini.

Ia berharap melalui seminar ini, para peserta dapat memperoleh wawasan baru dan mendalam tentang pendekatan terbaru dalam penanganan varises, termasuk teknologi dan metode skrining yang lebih efektif. “Tidak hanya itu, kita juga berharap seminar ini dapat menjadi ajang diskusi yang produktif, sehingga kita semua dapat berbagi pengalaman dan belajar satu sama lain,” harap Dovy.

Dovy menekankan RSUP Dr. M. Djamil selalu berupaya memberikan pelayanan terbaik dengan mengedepankan teknologi terkini dan pendekatan multidisiplin. “Kegiatan seminar ini merupakan salah satu langkah konkret untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan agar mampu memberikan solusi yang efektif dan berbasis bukti kepada masyarakat,” tutur Dovy.

Sementara itu, Ketua Divisi Vaskular dan Endovaskular Dr. dr. Raflis, Sp.B, Subsp. BVE (K) mengatakan seminar ini bertujuan untuk pengenalan dini tentang varises kepada peserta. Sehingga bagaimana mengubah pola hidup dan perilaku yang berisiko terhadap penyakit varises.

“Di samping seminar, kami juga melakukan skrining untuk peserta yang memang merasa adanya varises,” ucapnya.

Ia berharap melalui seminar tersebut dapat membuka wawasan tentang varises dan terapi terkini varises.”Dan dapat memberikan manfaat bagi peserta tentunya,” harap Dr. dr. Raflis. (*)

Tim Bank Jaringan dan Sel RSUP Dr. M. Djamil Padang Lakukan Kunjungan ke RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta

Tim Bank Jaringan dan Sel RSUP Dr. M. Djamil Padang melakukan kunjungan ke RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta pada hari Selasa (21/1). Kunjungan tersebut berkaitan dengan pelayanan stem cell atau sel punca.

Kedatangan tim Bank Jaringan dan Sel RSUP Dr. M. Djamil Padang yang dipimpin Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS itu disambut Direktur Perencanaan dan Pengembangan Strategi Layanan RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, Dr. dr. Arif Rahman Sadad, Sp.KF (K), M.Si, MED, SH, DHM.

Turut mendampingi Direktur Layanan Operasional RSUP Dr. M. Djamil Padang yakni Kepala Bank Jaringan dan Sel dr. Benni Raymond, Sp.BE-RE (K) serta tim dan Manajer Hukum dan Humas Nova Afriani, SH, MH. Sementara dari RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta  Kepala Instalasi Teknologi Kedokteran  Sel Punca Prof. Dr. dr. Ismail Hadisoebroto Dilogo, Sp.OT (K) serta tim.

“RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo sebagai RS UPT telah melakukan layanan stem cell. Dan tentu RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit  rujukan wilayah Sumatera Bagian Tengah dan  sebagai rumah sakit pengampu di wilayah Sumatera juga berharap dapat memberikan layanan stem cell ini kepada masyarakat,” kata Direktur Layanan Operasional RSUP Dr. M. Djamil drg. Ade Palupi Muchtar, MARS di Ruang Rapat Direksi B dan C Gedung Kiara Lantai 12.

Ia mengatakan stem cell dapat digunakan untuk layanan terapi tersandar dan penelitian berbasis layanan terapi. “Saat ini RSUP Dr. M. Djamil sudah memiliki laboratorium stem cell dan sedang dalam pengurusan izin laboratorium dan izin pengolahan stem cell. Untuk itu perlu kerja sama antara RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo dan RSUP Dr. M. Djamil baik untuk layanan terapi maupun penelitian berbasis layanan terapi. Baik dalam hal sumber daya manusia dan supervisi layanan terapi sel maupun kegiatan penelitian berbasis layanan terapi,” tutur drg. Ade.

Kepala Instalasi Teknologi Kedokteran Sel Punca Prof. Dr. dr. Ismail Hadisoebroto Dilogo, Sp.OT (K) mengatakan instalasi ini merupakan unit pelayanan non-struktural di dalam organisasi RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta yang berperan sebagai penyelenggara kegiatan pelayanan dan penelitian berbasis pelayanan terapi teknologi sel punca. Dan berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Perencanaan dan Pengembanganan Strategi Layanan.

“Memiliki fungsi yakni pengelolaan produksi dan pelayanan sebagai bentuk pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan teknologi kedokteran sel punca. Serta pengelolaan kegiatan administrasi, umum dan operasional,” harapnya.

Ia mengatakan fasilitas produksi sel punca dan turunannya telah tersertifikasi CPOB dari BPOM pada 6 Juli 2024. Produk yang dihasilkan terjamin mutu, kualitas dan keamanannya serta telah memenuhi aspek analisis risiko dan penilaian khasiat.

“Produk unggulannya berupa AD-MSC & UC-MSC Injection Mesenchymal Stem Cell in syringe, Secretome Non Concentrate and Concentrate preparation from AD-MSC & UC-MSC (Injection in syringe &vial ready to use),” paparnya. (*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45