Wirid Mingguan RSUP Dr. M. Djamil, Tujuh Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir

Salah satu nikmat Allah yang besar atas hamba-hamba-Nya yang beriman adalah bahwa Dia telah mempersiapkan bagi mereka banyak pintu kebaikan yang dapat dilakukan oleh hamba dalam hidup ini dan pahalanya akan terus mengalir kepadanya setelah kematian menjemputnya. Tatkala di dalam kubur, penghuninya sudah tidak bisa berbuat apa-apa, sudah terputus kesempatan beramal, tinggal menghitung apa yang sudah dilakukan semasa hidupnya dulu.

“Namun, ternyata ada orang yang terus mendapat kebaikan yang mengalir di dalam kuburnya. Pahala dan keutamaan senantiasa terus datang silih berganti meski telah meninggal dunia,” kata Ustad Dr. Syofyan Hadi S.S, M.Ag, MA.Hum, saat Wirid Mingguan di Masjid Asy Syifa kompleks RSUP Dr. M. Djamil, Jumat (7/2).

Turut dihadiri Direktur Utama RSUP Dr. M Djamil Dr. dr. Dovy Djanas Sp.OG., KFM., MARS., FISQua, Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, pengurus DWP serta civitas hospitalia.

Dr. Syofyan Hadi pun memaparkan tujuh amalan yang akan terus mengalir meskipun sudah meninggal dunia. Yakni pertama, mengajarkan ilmu. Dimaksudkan di sini adalah ilmu yang dapat memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. “Ilmu yang bermanfaat dapat berupa pengetahuan agama, pengetahuan dunia, atau karya ilmiah,” sebutnya.

Kedua, mengalirkan air sungai. Yang dimaksud adalah mengalirkan air dari mata air atau sungai agar airnya sampai ke tempat-tempat penduduk dan persawahan. Sehingga bisa untuk menyiram tanaman, dan memberi minum hewan.

Ketiga, menggali sumur. Diartikan kegiatan menggali sumur ini memberi manfaat bagi manusia. Keempat, menanam pohon. Apabila pohon ditanam, maka akan memberikan banyak manfaat bagi manusia.

“Kelima, membangun masjid. Apabila masjid sudah dibangun, dan salat didirikan di dalamnya, Al Quran dibacakan di dalamnya, dibacakan dzikrullah di dalamnya, ilmu tersebar di dalamnya, kaum muslimin berkumpul di dalamnya untuk kepentingan besar lainnya, maka bagi orang yang membangunnya akan mendapat seluruh pahala tersebut,” tuturnya.

Keenam, sebutnya, membagikan mushaf Al Quran. Bagi orang yang mewakafkan, maka akan diberi pahala yang banyak setiap kali ada yang membaca, mentadaburi (merenungkan), dan mengamalkan isi Al Quran tersebut.

Terakhir, mendidik anak yang akan memintakan ampun baginya setelah ia meninggal. Mendidik anak, mendisiplinkan mereka dengan baik, dan semangat membesarkan mereka dalam ketakwaan dan kebenaran, sehingga mereka menjadi anak-anak yang baik dan anak-anak yang saleh. “Kelak mereka pun akan berdoa untuk orang tua mereka dan memintakan rahmat dan ampunan,” tuturnya.

Sementara Direktur Utama RSUP Dr. M Djamil Dr. dr. Dovy Djanas Sp.OG., KFM., MARS., FISQua mengatakan wirid mingguan ini menjadi tempat silaturahmi bersama civitas hospitalia. “Melalui wirid mingguan ini kita dapat memperoleh pengetahuan sehingga bisa mengisi atau me-recharge pikiran kita kembali sehingga dapat kita terapkan dalam kehidupan,” harapnya.(*)

Epilepsi tidak Bisa Sembuh Total tapi Dapat Diobati dan Dikontrol

Instalasi Promosi Kesehatan dan Pemasaran RSUP Dr. M. Djamil bersama KSM Neurologi RSUP Dr. M. Djamil/Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas memberikan penyuluhan tentang Kenali Gejala Epilepsi sejak Dini, Kamis (6/2). Penyuluhan itu diadakan dalam rangka memperingati Hari Epilepsi International yang jatuh pada 12 Februari 2025.

Bertindak sebagai narasumber dalam penyuluhan adalah dr. Lydia Susanti, Sp.N, M.Biomed, MPd.Ked. Kegiatan yang berlangsung di Poliklinik Saraf Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan ini diikuti oleh pasien dan keluarga pasien.

“Epilepsi atau ayan adalah gangguan sistem saraf pusat akibat aktivitas listrik yang tidak normal. Akibatnya dapat timbul kejang, sensasi perilaku yang tidak biasa dan hilang kesadaran. Dan bangkitan terjadi tanpa pencetus setidaknya 2x dengan jarak >24 jam,” kata dr. Lydia Susanti, Sp.N, M.Biomed, MPd.Ked saat penyuluhan.

Ia mengatakan bangkitan itu dibagi atas dua yakni bangkitan epilepsi dimana terjadi tanda atau gejala yang bersifat sesaat akibat aktivitas saraf berlebihan di otak. “Dan bangkitan non-epilepsi dimana terjadi tanda atau gejala sesaat yang tidak diakibatkan aktivitas saraf abnormal dan berlebihan di otak,” tuturnya.

Ia mengungkapkan jumlah penderita epilepsi di Indonesia mencapai 1,5 juta atau 0,5 persen-0,6 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Epilepsi dapat menyerang laki-laki dan perempuan pada semua ras dan usia.

“Penyebab epilepsi ini adalah kelainan struktur otak, genetik, infeksi, masalah imunitas. Kemudian masalah metabolisme dan tidak diketahui (idopatik),” sebutnya.

Tanda dan gejala epilepsi, sebutnya, kebingungan sementara, tatapan mata kosong, gerakan menghentak tak terkendali pada tangan dan kaki. Selanjutnya, kehilangan kesadaran dan gejala psikis seperti ketakutan, kecemasan dan de javu.

“Kekakuan otot, gemetar atau kejang pada sebagian tubuh (wajah, lengan atau kaki) atau keseluruhan. Dan kejang yang diikuti oleh tubuh menegang dan kehilangan kesadaran secara tiba-tiba yang bisa menyebabkan orang itu terjatuh,” paparnya.

dr. Lidya menyebutkan epilepsi tersebut dibagi atas dua jenis. Yakni pertama, epilepsi umum yang ditandai dengan kejang absans seperti melamun dan kejang tonik-klonik seperti kelojotan.

“Kedua, epilepsi parsial (lokal) berupa tanpa kehilangan kesadaran (simple) dan dengan kehilangan kesadaran (kompleks),” sebutnya.

Ia memaparkan jenis epilepsi yang banyak dijumpai adalah epilepsi dengan kejang kelojotan tampak kaku. “Namun terdapat pula penderita epilepsi tampak diam saat terjadi kekambuhan,” ucapnya.

Ada pun pemicu munculnya kejang, tutur dr. Lidya, disebabkan oleh cahaya, kurang tidur, demam, stres berlebihan, suasan bising berlebih. “Lupa minum obat, hormonal dimana periode menstruasi pada wanita, kadar gula darah turun dan konsumsi alkohol serta obat-obatan,” sebutnya.

Bagaimana cara penanganan pertama epilepsi yang harus dilakukan? dr. Lidya menjelaskan tetap tenang, dampingi dan jaga penderita, beri alas untuk kepala, catat dan amati durasi kejang serta apa saja yang terjadi saat kejang. Kemudian longgarkan pakaian penderita.

“Posisikan penderita miring (posisi recovery). Posisi recovery dimaksudkan penderita yang telah berhenti kejang dapat dimiringkan tubuhnya dan bertujuan apabila penderit muntah, muntahan tidak masuk ke jalan napas. Terakhir panggil ambulans jika kejang tidak berhenti dalam waktu 5 menit,” sebutnya.

Cara penanganan seperti apa yang tidak boleh dilakukan? Ia menyebutkan menahan atau mengikat atau menghentikan gerakan hentakan penderita, memasukkan sesuatu (sendok, jari dan lain-lain) ke dalam mulut penderita. “Memberikan makan dan minum sebelum penderita sadar penuh, serta melakukan resusitasi jantung paru pada penderita,” tegasnya.

Ia mengatakan kejang pada penderita epilepsi perlu dihentikan. “Karena pada anak, sering berhubungan dengan gangguan tumbuh kembang, dapat memicu penurunan intelektual, stigma masyarakat, dampak psikologis penderita da dapat mengancam nyawa,” tuturnya.

Ia menyebutkan terapi mulai dilakukan bila bangkitan dua kali dalam setahun, bangkitan satu kali, kemungkinan berulang besar. Dimana kelainan MRI, EEG, ada epilepsi saudara kandung, ada cedera otak berat dan sindroma epilepsi.

“Bangkutan satu kali dengan status epileptikus dan pasien atau keluarga sudah diberikan penjelasan tentang tujuan terapi dan efek samping terapi,” ucapnya.

Penderita epilepsi, sebut dr. Lidya, minum obat minimal dua tahun bebas bangkitan, gambaran rekam otak (EEG) normal, dilakukan bertahap dan satu per satu jika minum lebih dari satu obat. Harus diilakukan konsultasi dan atas persetujuan dokter ahli.

“Dengan prinsip start low go slow, monoterapi, dosis minimal, dan jangka waktu lama. Tujuannya bebas kejang dan tanpa efek samping obat,” ujarnya.

Ia menekankan sebagian besar kasus epilepsi tidak bisa sembuh secara total. Namun dapat diobati dan dikontrol agar tidak sering kambuh. “Kuncinya adalah dikontrol dengan pengobatan rutin dan konsisten hingga frekuensi kejang menurun hingga menghilang,” tukasnya.

Dalam penyuluhan itu tidak hanya pemaparan materi. Tapi juga diwarnai dengan sesi tanya jawab oleh pasien dan keluarga pasien. (*)

34 Tahun Mengabdi, Tiada Henti Pompa Semangat Pasien untuk Sembuh

34 tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalani sebuah profesi. Bahkan bisa konsisten menjalaninya dan sudah melayani pasien dengan berbagai macam kondisi, berbagai macam karakter, perangai dan sosial yang berbeda-beda.

Bagi Yenri Ernida, S.FT, Ftr, pekerjaan sebagai fisioterapis bukanlah pekerjaan mudah. Dibutuhkan kesabaran dan keikhlasan ekstra. Karena fisoterapis bukan hanya sekadar profesi. Namun juga sebuah pelayanan kepada pasien yang sedang mengalami sakit dan membutuhkan dukungan untuk bisa sembuh.

“Sebagai seorang fisioterapis selain harus sabar dan ikhlas, kita juga perlu memotivasi pasien untuk terus bersemangat bisa sembuh. Terkadang pasien itu kurang sabar, sehingga kitalah yang harus memotivasinya,” tuturnya.

Ia mengatakan mungkin tidak semua hal-hal yang dilakukan oleh fisioterapi di sini berefek positif atau berkesan baik dengan pasien. Ada beberapa pasien mungkin mereka menganggap dirinya tegas dan keras. “Tapi Alhamdulillah setelah itu mereka bilang dibalik tegas dan keras dirinya menjadi pemicu untuk bangkit dan semangat menjalani terapi. Itu sering saya dengar,” ucap Penanggung Jawab Instalasi Rehabilitasi Medik ini.

Fisioterapi di sini, sebutnya, melayani semua kasus. Tapi yang jelas di Instalasi Rehabilitasi Medik ini spesifikasi. Beda dengan rumah sakit lain. Di sini, satu pasien ditangani satu fisioterapi. “Dan kasus-kasus yang dilayani itu yang tidak bisa ditangani oleh rumah sakit lain. Umumnya memang kasus-kasus multipatologis yang memang sudah banyak gangguan,” tuturnya.

Di sini juga, sebutnya, memang ada yang menggunakan alat, tetapi yang paling utama adalah latihan atau exercise yang diberikan ke pasien. Misalnya setelah diberikan alat, maka akan kita berikan lagi latihan-latihan yang sesuai dengan kasus atau kondisi pasien.

“Kami tidak berani memikirkan prognosis nya itu bagus dan baik. Kita lihat di sini kasus yang berat atau multipatologis. Kita memang  prognosisnya minimal pasien itu hanya sampai batas pindah dari bed ke kursi roda.  Awalnya nggak mungkin rasanya kita kembangkan untuk berjalan atau berdiri ternyata sanggup melakukan. Ini atas motivasi atau semangat dari pasien untuk  sembuh,” sebutnya.

Ia menekankan hal-hal itu sering terjadi tetapi mungkin sudah kehendak Allah SWT. Usaha dan doa. “Usaha kita dengan pasiennya. Kesembuhan Allah SWT yang menentukan. Tapi fisioterapi menjadi perantara melalui latihan-latihan yang diberikan,” ucap Yenri.

Terbaru, sebutnya, pihaknya mendapatkan pasien dengan kasus SOL atau space occupying lesion. Ada benjolan di kepala pasien dan kebetulan pasien itu berasal dari Muko-Muko Bengkulu. “Pasien ini sudah menjalani operasi dan kemoterapi. Usai kemoterapi, pasien ini dengan kondisi mual dan hanya berbaring. Setelah menjalani serangkaian terapi, anak itu sudah bisa berjalan dan tidak lagi berbaring seperti biasanya,” ungkapnya seraya mengatakan ia juga pernah melakukan terapi mantan Duta Besar Myanmar untuk Indonesia saat dirawat di RSUP Dr. M. Djamil.

Selama mengabdi, ia selalu mendapat dukungan dari RSUP Dr. M. Djamil. Dari sisi pendidikan, basic saya sebagai fisioterapi dari D-III. Dan di perjalanan dilanjutkan ke jenjang S-1 dan profesi. “Dan Alhamdulillah RSUP Dr. M. Djamil memfasilitasi penyesuaian, untuk naik jabatan, dan naik pangkat. Dengan berbagai macam kesulitan, tapi Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang diharapkan,” tukasnya. (*)

Yudisium PPDS FK Unand, Dirut: Berikan yang Terbaik untuk Pasien dan Masyarakat 

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menghadiri sekaligus memberikan sambutan pada Yudisium Program Pendidikan Dokter Spesialis Periode 1 Tahun 2025 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Rabu (4/2). Dalam yudisium tersebut, Fakultas Kedokteran Unand menelurkan 27 dokter spesialis baru dari tujuh program studi.

“Atas nama seluruh jajaran manajemen RSUP Dr. M. Djamil mengucapkan selamat dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para peserta yudisium dokter spesialis. Hari ini adalah pencapaian luar biasa bagi Anda semua setelah melalui perjuangan yang panjang dan penuh tantangan,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil ini di Aula Student Center Prof. dr. M. Syaaf.

Sebagai dokter spesialis yang baru saja diwisuda, tuturnya, peserta yudisium bukan hanya telah menempuh pendidikan medis yang memadai. Akan tetapi juga telah menunjukkan komitmen yang tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik medis.

“Pendidikan dokter spesialis merupakan langkah penting dalam membekali diri dengan keahlian dan keterampilan di bidang masing-masing. Dengan itu, para peserta yudisium semua kini memiliki tanggung jawab yang besar untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu, serta terus berupaya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pengembangan diri dan profesi,” tuturnya.

Di RSUP Dr. M. Djamil, Ia menegaskan selalu berkomitmen untuk mendukung pendidikan dan pelatihan bagi para tenaga medis, baik dalam hal klinis maupun penelitian. “Kami percaya bahwa kemitraan antara rumah sakit dan universitas, seperti yang terjalin dengan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, akan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan dunia medis di Indonesia,” ucap Dovy.

Sebagai institusi pendidikan dan pelayanan kesehatan, tuturnya, pihaknya akan terus bekerja sama untuk menghasilkan dokter-dokter spesialis yang tidak hanya cakap secara teknis. Tetapi juga memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi, serta berintegritas dalam menjalankan profesinya,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perjalanan sebagai dokter spesialis tidak berakhir di sini. Ini adalah awal dari babak baru dalam kehidupan profesional dan akan dihadapkan pada tantangan baru, baik itu dalam dunia praktik medis maupun dalam penelitian ilmiah yang terus berkembang. “Oleh karena itu, tetaplah belajar, terus tingkatkan keterampilan, dan jangan pernah berhenti untuk memberikan yang terbaik bagi pasien dan masyarakat,” pinta Dovy.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Unand Prof. Dr. dr. Afriwardi, S.H,. M.A., Sp.K.O. Subsp. APK (K) mengucapkan selamat kepada spesialis baru, harapannya jadilah dokter spesialis yang menjaga nilai etik dimanapun berada. Perlakukan setiap pasien dengan baik tanpa membeda-bedakan status sosialnya. “Ingat selalu terhadap guru-guru yang telah berjasa agar keberkahan hidup selalu hadir disetiap langkah kehidupan,” tukasnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Terima Kunjungan Visitasi Tim Fleming Fund Country Grants

RSUP Dr. M. Djamil menerima visitasi Tim Kementerian Kesehatan dan Fleming Fund Country Grants di Ruang Rapat Direksi, Rabu (5/2). Kunjungan tim ini dalam rangka mengevaluasi interaksi klinisi dan laboratorium dalam mengendalikan resistensi antimikroba dengan perangkat facility planning tool.

Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) menerima tim visitasi yang dipimpin dr. Amy Rahmadanti, FISQua, MSc.PH mewakili Direktorat Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan. Turut mendampingi Tim Fleming Fund Country Grants Desrina Sitompul dan Helmi M Aziz dan dihadiri manajer, asisten manajer, ketua komite dan kepala instalasi.

“Atas nama manajemen RSUP Dr. M. Djamil mengucapkan terima kasih atas visitasi ini. Kami sangat mengharapkan bantuan, perbaikan maupun pendampingan dalam hal mencapai sistem pengelolaan resistensi antimikroba di RSUP Dr. M. Djamil,” kata Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K).

Ia menekankan ini masalah utama bukan hanya di sini saja akan tetapi di dunia. Dimana mulai dari pencatatan, pelaporan sampai kepada utilisasi bermasalah dalam resistensi antimikroba ini. “Jadi, besar harapan kami, kegiatan hari ini membawa keberkahan dan kebaikan baik untuk kita seluruhnya maupun nanti untuk user-user atau pasien kita di rumah sakit ini,” harap Dr. dr. Bestari.

Mewakili Direktorat Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan dr. Amy Rahmadanti, FISQua, MSc.PH mengatakan kedatangan tim ini untuk mengevaluasi interaksi antara klinisi dengan laboratorium guna mengendalikan resistensi antimikroba. “Dengan harapan dari sini kita lihat bagaimana statusnya saat ini. Ke depan nanti bisa kita perkuat interaksinya sehingga apa yang dihasilkan dari laboratorium bisa dimanfaatkan dengan optimal oleh klinisi. Sehingga menghasilkan layanan kesehatan yang efisien dan efektif dengan patient safety tentunya,” tuturnya.

Ia juga mengatakan amanah yang diterima Kementerian Kesehatan terkait resistensi antimikroba adalah pihaknya memiliki satu indikator terkait dengan antimikroba resisten. Yakni persentase rumah sakit yang patuh menggunakan antibiotiknya sesuai dengan antibiogram dan atau PPK.

“Jadi ke depan kita akan menilai berapa kepatuhan rumah sakit-rumah sakit pemerintah terutamanya dalam menggunakan antibiogram pada saat memutuskan pemberian antibiotik. Ini sangat sejalan dengan tugas atau amanat yang diterima oleh Kementerian Kesehatan untuk dikerjakan lima tahun ke depan,” sebutnya.

Ia menekankan RSUP Dr. M. Djamil dengan dukungan Fleming Fund, kita bisa membentuk sistem yang baik. Dan itu bisa dapat ditiru dan direplikasi ke rumah sakit-rumah sakit pemerintah yang ada di Sumbar.

“Nanti dalam lima tahun ke depan kita bisa mendorong pencapaian indikator RPJMN kita yaitu untuk kedekatan kepatuhan rumah sakit  dalam pemberian antibiotik sesuai dengan antibiogram,” ucapnya.

Tim Fleming Fund Country Grants Desrina Sitompul menjelaskan perangkat facility planning tool ini sebuah perangkat perencanaan interaksi klinis guna mengendalikan resistensi antimikroba (AMR). Perangkat tersebut disusun oleh DAI bekerja sama dengan Fleming Fund.

“Strategi ini disusun untuk membantu rumah sakit memilih kegiatan yang tepat dan relevan untuk melibatkan berbagai kelompok profesional di dalam strukturnya Fleming Fund seperti surveilans AMR, dalam rangka memperkuat kegiatan pengendalian AMR,” ucapnya.

Ia menyebutkan bidang fokus untuk interaksi klinis tersebut adalah diagnostik mikrobiologi, penggunaan antibiotik untuk pengobatan dan pencegahan serta pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI). “Tujuan keseluruhan perangkat ini adalah untuk membantu menyusun sasaran dan rencana interaksi klinis yang spesifik untuk rumah sakit dan membawa dampak besar,” ucap Desrina.

Untuk itu, katanya, perangkat ini mengumpulkan informasi terkait kapasitas yang ada kini serta tindakan-tindakan terkait AMR yang dapat digunakan sebagai peluang dan bidang penguatan. Perangkat ini juga berupaya memahami sumber daya serta waktu yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan potensial.

“Dengan demikian, informasi yang dikumpulkan di sini akan membantu penyusunan rencana aksi dan strategi spesifik yang relevan bagi rumah sakit baik jangka pendek maupun jangka menengah,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Kelola Limbah Medis melalui Aplikasi ME-SMILE

Pengelolaan limbah medis di RSUP Dr. M. Djamil bakal kian dipermudah dengan dukungan sistem aplikasi digital berbasis Internet of Things. Bernama ME-SMILE, aplikasi ini adalah proyek percontohan antara Kementerian Kesehatan dengan United Nations Development Programme (UNDP).

“RSUP Dr. M. Djamil mengucapkan terima kasih kepada UNDP dan Kementerian Kesehatan yang sudah memberikan bantuan melalui Kemenkes dalam penerapan aplikasi ME-SMILE,” kata Direktur Layanan Operasional RSUP Dr. M. Djamil drg. Ade Palupi Muchtar, MARS saat Pertemuan dengan tim UNDP di Ruang Kerja Direktur Layanan Operasional, Selasa (4/2).

Turut dihadiri manajer, asisten manajer dan kepala instalasi RSUP Dr. M. Djamil. Sementara dari tim UNDP yakni Infrastructure Specialist SMILE Agustian Proklamirsyah, Idris Syahfitrah dan Chiara Aurelia. Kemudian Sanitarian Pertama Dinas Kesehatan Sumbar Muhammad Iqbal Rahmansyah, SKL.

Ia menjelaskan paket bantuan itu telah diterima RSUP Dr. M. Djamil pada 2 Januari 2025. “Rangkaian berikutnya adalah hari ini kita mendapatkan sosialisasi, pemasangan instalasi dan timbangan digital,” tutur drg. Ade.

Ia mengatakan menjadi satu kebanggaan bagi RSUP Dr. M. Djamil bisa menerapkan ME-SMILE ini.  Dan dengan penerapannya mempermudah RSUP Dr. M. Djamil dalam pengelolaan limbah medis.

“Kehadiran aplikasi ini tentunya akan membantu RSUP Dr. M. Djamil dalam efisiensi standar pengelolaan limbah medis. Bahkan melindungi lingkungan serta kesehatan masyarakat,” ucapnya.

Infrastructure Specialist SMILE Agustian Proklamirsyah mengatakan aplikasi ME-SMILE adalah platform digital yang dirancang untuk memantau dan mengelola limbah medis di rumah sakit. Aplikasi ini memungkinkan rumah sakit untuk melacak, memantau, dan mengelola limbah medis secara real-time, sehingga meningkatkan efisiensi dan keamanan pengelolaan limbah medis.

“Pengelolaan dan pemantauan limbah medis secara real-time berbasis teknologi situs web dan aplikasi seluler yang terintegrasi dengan Timbangan Digital IOT (Internet of Things) dan Pemindai Label QR yang efisien dan mudah digunakan untuk pelabelan, penimbangan, pencatatan, dan pelaporan data limbah medis yang akuntabel dan real-time,” sebutnya.

Ia memaparkan petugas akan mencetak kode batang dan menempelkannya pada plastik berisi sampah medis. Data dan bobot sampah itu akan terinput ke aplikasi sebelum diangkut ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) khusus limbah B3 untuk dipilah dan didaur ulang.

“Seluruh data akan terkoneksi langsung dengan Sistem Pelaporan Elektronik Lingkungan Hidup (SIMPEL) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sekaligus terkoneksi ke Pusdatin Kementerian Kesehatan,” tukasnya.(*)

Penyerahan SK Ketua KSM, Dirut: Berikan Layanan Terbaik, Terukur dan Terstandar

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menyerahkan Surat Keputusan (SK) Ketua Kelompok Staf Medis (KSM) Penyakit Dalam dan Ketua KSM Ortopaedi dan Traumatologi baru, Selasa (4/2). Pengangkatan Ketua KSM itu merupakan salah satu upaya penataan organisasi dan regenerasi.

Diketahui, Ketua KSM Penyakit Penyakit Dalam yang baru dr. Fauzar, Sp.PD-KP, FINASIM. Ia menggantikan Ketua KSM sebelumnya Dr. dr. Revainal, Sp.PD-KAI, FINASIM. Sedangkan Ketua KSM Ortopaedi dan Traumatologi baru dr. Hendra Maska, Sp.OT, Subsp. TLBM (K). Menggantikan Ketua KSM sebelumnya Dr. dr. Rizki Rahmadian, Sp.OT, Subsp.P.L (K), MKes.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Dr. dr. Revainal, Sp.PD-KAI, FINASIM dan Dr. dr. Rizki Rahmadian, Sp.OT, Subsp.P.L (K), MKes yang sudah memimpin KSM Penyakit Dalam dan KSM Ortopaedi Traumatologi. Tentunya sudah banyak hal-hal yang sudah kita lakukan. Terkait dengan layanan maupun pendidikan di RSUP Dr. M. Djamil,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua di Ruang Rapat Direksi.

Turut dihadiri Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) dan Tim OSDM.

Ia mengatakan kepada Ketua KSM yang baru dr. Fauzar, Sp.PD-KP, FINASIM dan dr. Hendra Maska, Sp.OT, Subsp.TLBM (K) untuk menjalankan dan meneruskan program yang ada di KSM. “Bagi kita adalah bagaimana memberikan layanan terbaik, terukur dan terstandar sesuai dengan ekspektasi dan keinginan masyarakat,” ucapnya.

Fokus saat ini, tutur Dovy, bagaimana menyelesaikan Panduan Praktik Klinis (PPK) yang berkaitan dengan hal-hal clinical pathway atau jalur klinis. “Itu sudah berjalan,” ucapnya.

Ia berharap kepada Ketua KSM untuk fokus  memimpin staf di Penyakit Dalam dan Ortopaedi sehingga berdampak pada pelayanan yang lebih baik dan lebih paripurna. Sehingga nanti di bawah koordinator Direktorat Medik dan Pelayanan Kesehatan, semua pelayanan ini bisa berjalan dengan baik.

“Di samping itu, banyak hal-hal yang bisa kita kembangkan. Salah satunya di Ortopaedi adalah pengembangan layanan stem cell. Tentu ini menjadi harapan kita. Apalagi kita sudah melakukan benchmarking ke RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Hal ini akan berdampak kepada kemajuan-kemajuan yang kita lakukan ke depan,” ucap Dovy.

Ia juga menyampaikan rencana pemindahan poliklinik Ortopaedi dan Neurologi dari lantai 1. Nantinya poliklinik tersebut akan dimanfaatkan untuk perluasan layanan Non-JKN Klinik Istano. “Semua tim dokter bisa memberikan layanan Non-JKN termasuk ortopaedi dan penyakit dalam. Oleh karena itu kami memohon dukungannya, bersinergi dan berkolaborasi agar RSUP Dr. M. Djamil lebih baik lagi,” harapnya.

Pada Refleksi dan Konsolidasi Rumah Sakit Kementerian Kesehatan RI Tahun 2025 di Solo, sebut Dovy, RSUP Dr. M. Djamil mendapatkan empat penghargaan atas capaian kinerja Tahun 2024. Yakni Peringkat 1 Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Kategori RS dengan Tempat Tidur >200 Waktu Pelayanan Rawat Jalan Terbaik, Peringkat II Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Kategori RS Umum Waktu Pelayanan IGD Terbaik. Kemudian Peringkat III Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Penelitian Klinis Terbaik. Dan Pencapaian Pelayanan Transplantasi Ginjal Mandiri pada Program Rumah Sakit Jejaring Pengampuan Uronefrologi.

“Artinya apa hal-hal yang sudah kita lakukan selama ini berkat semua kerja sama Ketua KSM. Tentu ini menjadi kebanggaan kita bahwa kita bisa menata lebih baik lagi di dalam layanan-layanan yang diberikan selama ini,” harap Dovy. (*)

Budaya Kerja BerAKHLAK jadi Fondasi dalam Berikan Layanan yang Terbaik

Perubahan budaya kerja menjadi aspek yang tidak dapat diabaikan. Hal ini seiring dengan transformasi sistem kesehatan yang telah dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan. Transformasi ini demi menciptakan kualitas insan Kementerian Kesehatan yang hebat sehingga tujuan dan cita-cita bangsa dapat terwujud.

“Budaya kerja yang kuat dan selaras dengan nilai-nilai BerAKHLAK (Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif) akan menjadi fondasi dalam memberikan pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat,” kata Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr.  Kino, Sp.JP (K) saat Workshop Transformasi Budaya Kerja Kementerian Kesehatan di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Selasa (4/2).

Workshop yang diadakan secara hybrid itu menghadirkan narasumber Analis Kebijakan Ahli Muda Pusat Pengembangan Kompetensi ASN Kementerian Kesehatan Ahmad Muhidin dan narasumber April Yanto. Turut hadir Manajer Diklat Ns. Venny Dwita Zola Anwar, S.Kep, manajemen rumah sakit dan peserta workshop.

Ia mengatakan pihaknya ingin memastikan bahwa nilai-nilai BerAKHLAK tidak hanya menjadi slogan. Akan tetapi benar-benar menjadi bagian dari cara kita bekerja dan melayani pasien.  “Kita juga akan memperkuat kepemimpinan transformasional, melatih para change agent sebagai agen perubahan budaya, serta mengembangkan sistem evaluasi dan pengukuran keberhasilan implementasi budaya kerja ini,” paparnya.

dr. Kino menekankan workshop ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya transformasi budaya kerja di RSUP Dr. M. Djamil. Dan dapat menjadi momentum untuk membangun komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan kerja yang profesional, inovatif, dan berorientasi pada pelayanan berkualitas.

“Dengan kesadaran, konsistensi, dan kolaborasi yang baik, kita dapat mewujudkan RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit yang unggul dalam pelayanan kesehatan serta menjadi contoh dalam implementasi budaya kerja BerAKHLAK,” harap dr. Kino.

Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi ASN Kementerian Kesehatan Dwi Meilani, SKM, MKM secara virtual mengatakan budaya kerja ini bukan slogan saja. Akan tetapi bagaimana mengimplementasikan budaya kerja tersebut agar dirasakan hasilnya. Tidak hanya oleh organisasi tetapi juga oleh semua pegawai yang ada di organisasi tersebut.

“Dengan budaya kerja ini akan memberikan dampak positif pada peningkatan kompetensi dalam melakukan kinerja. Kita berharap ada work life balance atau bisa mengatur dan membagi waktu dengan seimbang di dalam kehidupan semua,” harapnya.

Sebagaimana diketahui, sebut Dwi Meliani, Kementerian Kesehatan telah menetapkan tiga tema budaya kerja yang diharapkan dapat tumbuh dan berkembang. Ketiga tema tersebut yakni eksekusi efektif, cara kerja baru dan pelayanan yang unggul. “Dan berharap RSUP Dr. M. Djamil bisa menjadi percontohan best practice akan penerapan budaya kerja ini. Sehingga pengalaman dari rumah sakit ini dapat dishare ke UPT Kementerian Kesehatan lainnya,” tukas Dwi. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Dipercaya Wakil Gubernur Sumbar untuk Medical Check Up

RSUP Dr. M. Djamil kembali menegaskan komitmennya dalam memberikan pelayanan kesehatan berkualitas. Ini melalui pemeriksaan medical check up (MCU) dijalani Wakil Gubernur Sumbar Audy Joinaldy yang dipusatkan di Klinik Istano Pagaruyuang, Senin (3/2).

Proses MCU yang dilaksanakan Wagub Sumbar ini melibatkan tim medis dan fasilitas kesehatan yang lengkap. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi tes urine, tes audiometri di Poliklinik THT, pemeriksaan mata dan tes buta warna di Poliklinik Eksekutif, pengukuran tensi, jantung dan lainnya di Klinik Istano Pagaruyuang.

Selama pemeriksaan MCU, Wagub Sumbar didampingi Direktur Layanan Operasional RSUP Dr. M. Djamil drg. Ade Palupi Muchtar, MARS serta jajaran manajemen.

Direktur Layanan Operasional RSUP Dr. M. Djamil drg. Ade Palupi Muchtar, MARS mengucapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas kepercayaan yang diberikan oleh Wakil Gubernur Sumbar Audy Joinaldy. “Kepercayaan ini adalah bukti bahwa layanan kesehatan kami terus menjadi pilihan utama bagi masyarakat,” tuturnya.

Bagi masyarakat yang ingin menjaga kesehatan dengan pemeriksaan menyeluruh, sebutnya, RSUP Dr. M. Djamil melalui Klinik Istano Pagaruyuang juga menyediakan paket medical check up yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan Anda. “Kesehatan Anda adalah prioritas kami, dan kami siap menjadi mitra kesehatan Anda di setiap langkah kehidupan,” tegas drg. Ade.

Sementara Wakil Gubernur Sumbar Audy Joinaldy mengatakan Alhamdulillah dirinya sudah menjalani berbagai pemeriksaan kesehatan. Dimulai dari pemeriksaan urine, tes audiometri, pemeriksaan mata dan tes buta warna, jantung dan lainnya. “Pemeriksaan kesehatan ini dilakukan oleh dokter yang profesional di RSUP Dr. M. Djamil. Pemeriksaan yang dilakukan pun baik dan akurat,” tuturnya.

Ia menegaskan keep up the good work untuk RSUP Dr. M. Djamil. “Layani masyarakat Sumatera Barat khususnya Sumatera Bagian Tengah umumnya dengan baik. RSUP Dr. M. Djamil akan lebih maju dan selalu dihati. Sukses terus untuk RSUP Dr. M. Djamil,” tukas Audy. (*)

RSUP Dr M Djamil Toreh Empat Penghargaan atas Capaian Kinerja 2024

RSUP Dr. M. Djamil menoreh prestasi membanggakan. Rumah sakit rujukan wilayah Sumatera Bagian Tengah itu menerima empat penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI atas Capaian Kinerja Tahun 2024.

Keempat penghargaan tersebut yakni Peringkat 1 Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Kategori RS dengan Tempat Tidur >200 Waktu Pelayanan Rawat Jalan Terbaik, Peringkat II Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Kategori RS Umum Waktu Pelayanan IGD Terbaik. Kemudian Peringkat III Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Penelitian Klinis Terbaik. Dan Pencapaian Pelayanan Transplantasi Ginjal Mandiri pada Program Rumah Sakit Jejaring Pengampuan Uronefrologi.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menerima penghargaan tersebut saat Refleksi dan Konsolidasi Rumah Sakit Kementerian Kesehatan RI Tahun 2025 Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan di Hotel Alila Solo, Sabtu (1/2). Turut mendampingi Ketua Dewan Pengawas drg. Arianti Anaya, MKM, Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) dan Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS.

“Alhamdulillah, RSUP Dr. M. Djamil menerima empat penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI. Capaian kinerja dan performa terbaik tersebut merupakan hasil kinerja bersama seluruh civitas hospitalia RSUP Dr. M. Djamil,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua ketika dihubungi.

Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh civitas hospitalia RSUP Dr. M. Djamil atas kinerja dan dedikasinya. “Semoga sumbangsih yang telah kita diberikan bermanfaat dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” ucapnya.

Ia berharap semoga tahun depan akan lebih banyak lagi RSUP Dr. M. Djamil menerima penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI. Ini sekaitan dengan transformasi layanan kesehatan yang sedang berjalan saat ini di RSUP Dr. M. Djamil. “Termasuk meningkatkan pendapatan layanan non-JKN. Tentunya juga tidak meninggalkan fungsi-fungsi sosial sebagai rumah sakit pemerintah,” tutur Dovy.

Ia mengatakan RSUP Dr. M. Djamil akan terus meningkatkan performance layanan kesehatan yang lebih baik. Salah satunya dengan melakukan perbaikan hospitality serta menelurkan berbagai inovasi-inovasi kesehatan.

“Termasuk terus menerapkan budaya kerja  dengan karakter BerAKHLAK. Tentunya budaya BerAKHLAK yang akan dijalankan ini bukan hanya sekadar slogan. Akan tetapi ini adalah komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan kerja yang penuh dengan integritas, profesionalisme, dan rasa tanggung jawab. Saya percaya dengan budaya ini, kita akan semakin meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” tukas dokter spesialis Fetomaternal ini.(*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45