Kenali Speech Delay, Penyebab dan Terapi yang Tepat

Keterlambatan bicara atau dikenal dengan speech delay banyak menjadi momok bagi orang tua. Speech delay adalah kondisi dimana anak mengalami keterlambatan bicara dibanding anak seusianya.

“Speech delay tanpa ada gangguan medis, paling banyak sekarang adalah kesalahan cara stimulasi dan over gadget,” kata dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi dr. Riri Prima Yolanda, Sp.KFR, Ped (K) di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Dr. M. Djamil, Kamis (30/1).

Ia menekankan yang paling mengkhawatirkan adalah tidak hanya anak-anak umur 3 sampai 5 tahun. Sekarang itu anak-anak usia 6 bulan sampai di bawah 1 tahun pun sudah diberi handphone. Sehingga anak kehilangan kemampuan bagaimana cara berinteraksi dan kehilangan kemampuan untuk bisa memahami bahasa verbal.

“Yang lebih susahnya adalah kadang-kadang bahasa verbal yang ditonton itu bahasa Inggris. Sedangkan orang tua, nenek dan kakek tidak satu pun bisa berbahasa Inggris. Akhirnya ada perbedaan bahasa antara bahasa pemahaman yang dimiliki anak dengan bahasa sehari-hari digunakan oleh orang tua. Sehingga orang tua merasa anak tidak bisa bicara tapi anak menggunakan bahasa asing. Karena tontonan yang dilihat adalah bahasa asing sedangkan stimulasi dari orang tua kurang,” ungkapnya.

Kondisi demikian, sebut dr. Riri, mengkhawatirkan. Karena ujung dari keterlambatan bicara adalah keterlambatan ketika membaca dan menulis. “Jadi anak-anak yang terlambat bicara tentu kita berpikir tidak ada gangguan kognitif. Tapi jika ini tidak diselesaikan dengan baik, ketika mereka sekolah maka prestasi sekolahnya tidak bisa optimal seperti dengan kemampuan kecerdasannya,” sebutnya.

Ia mengatakan keterlambatan orang tua mengetahui anaknya terlambat bicara atau speech delay karena ada mitos bahwa kalau anak bisa jalan dulu biasanya dia akan terlambat bicara, terutama anak laki-laki. Secara perkembangan memang anak laki-laki lebih sering mengalami keterlambatan bicara.

“Tapi ada mitos di pasien kita atau keluarga kita bahwa memang biasa itu terlambat nanti juga bisa. Mungkin kalau dulu itu masih bisa karena kebiasaan berinteraksi main dengan keluarga besar atau tetangga. Sedangkan kondisi bermain sekarang adalah masing-masing anak itu main di rumah sendiri dan sudah jarang kita lihat anak-anak itu main dengan satu tetanggaan,” tuturnya.

Ia mengatakan dulu bisa dengan mengharapkan bantuan bicara dari sosialisasi antara anak seumuran. Kalau anak-anak sekarang justru mengharapkan bantuan keluarga besarnya. “Nah ketika keluarga besar juga hanya memberikan handphone saja akhirnya dia tidak berkembang bahasanya,” sebutnya.

Ia mengungkapkan ada sebagian orang tua, kakek dan nenek merasa bahwa ketika anaknya bisa menggunakan handphone sedini mungkin maka anaknya itu pintar. “Padahal dari penelitian, anak-anak yang banyak menggunakan gadget justru aktivitas otaknya lebih kurang dibanding anak-anak bermain di luar,” ucap dr. Riri.

Ia menekankan terapi yang tepat diberikan untuk anak gangguan bicara atau speech delay. Pertama, kita akan melihat dulu kondisi anak dari rentang apakah yang terganggu. Jadi, kadang-kadang kita tidak langsung ke terapi wicara. “Kadang-kadang kita melihat anak ini kemampuan untuk atensi dan konsentrasinya kurang, kemampuan untuk berinteraksinya kurang, tidak mengerti cara main dan mengikuti perintah saat main. Kalau seandainya itu terjadi maka kita biasanya mengajak dulu untuk bermain,” ujarnya.

Apalagi, tutur dr. Riri, Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Dr. M. Djamil memiliki ruangan sensor integrasi. “Biasanya kita ajak main disitu sampai anaknya paham bahwa saya harus berinteraksi dengan orang lain. Bahwa saya bisa mengikuti perintah dan saya bisa mengimitasi gerakan-gerakan tertentu,” ucapnya.

Nah setelah itu baru kita mengajak anak ke terapi wicara. Di terapi wicara biasanya kita mulai dulu dengan latihan pernapasan jika anak itu belum bisa mengeluarkan suara. Atau  bisa melakukan oromotor stimulasi. “Setelah itu kita mengajarkan anak bahasa pemahaman bahwa benda ini namanya bola dan ini namanya mobil. Walaupun belum bisa mengucapkan. Selanjutnya baru kita mengajarkan anak ini bagaimana mengucapkan kata satu silabel, dua silabel. Kemudian tanya jawab dan terakhir bisa membuat kalimat serta artikulasinya baik,” ungkap dr. Riri.

Ia berharap dengan kita bisa mengajarkan anak-anak ini bicara kalimat dan komunikasi dua arah, mereka bisa paham logic thinking dan lain-lain nanti mereka sekolah bisa mengambil kesimpulan dari apa yang mereka baca. “Ujungnya adalah persiapan sekolah,” tukasnya.(*)

Awalnya Hanya Berbaring Lama, Kini Nadira Bisa Duduk dan Berjalan

RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan di wilayah Sumatera Barat khususnya Sumatera Bagian Tengah tiada henti memberikan layanan optimal kepada pasien. Hal itu dirasakan oleh Lili, warga Muko-Muko Bengkulu yang anaknya bernama Nadira, 12, menjalani perawatan di RSUP Dr. M. Djamil.

“Saya merasakan layanan optimal yang diberikan RSUP Dr. M. Djamil. Anak saya Nadira saat ini sudah bisa jalan, tangannya sudah bisa digerakkan dan bisa berbicara,” kata Lili di Instalasi Rehabilitasi Medik, Selasa (21/1).

Ia mengatakan sudah delapan kali anak semata wayangnya menjalani sejumlah terapi di Rehabilitasi Medik. “Alhamdulillah anak saya dilayani dengan baik. Dan Nadira pun semangat menjalani terapi. Hingga memperlihatkan perkembangan signifikan selama menjalani terapi,” tuturnya terharu.

Lili mengatakan menurut keterangan dokter,  adanya massa di otak Nadira. Anaknya ini pun sempat menjalani perawatan dan operasi di salah satu rumah sakit di Jakarta. “Setelah operasi itu, Nadira kembali pulang ke Bengkulu. Tapi, penyakitnya itu kambuh kembali. Bahkan dia hanya bisa berbaring dan tidak bisa duduk. Tidak bisa berjalan dan tangannya pun tidak bisa digerakkan,” ucap Lili.

Melihat kondisi demikian, tutur Lili, Nadira pun dirujuk ke RSUP Dr. M. Djamil. Setelah  dilakukan pemeriksaan oleh tim dokter, ternyata masih banyak massa ditemukan di otak Nadira. “Operasi kedua pun dilakukan,” ucap Lili.

Usai operasi itu, sebut Lili, Nadira seperti habis tenaga. Tidak bisa berjalan dan hanya berbaring. Bahkan merasa mual untuk miring. “Melihat kondisi Nadira seperti itu, dokter spesialis bedah syaraf menyarankan untuk menjalani fisioterapi. Saran dokter tersebut, saya ikuti,” sebutnya.

Lili menyebutkan setelah menjalani beberapa kali terapi, Nadira sudah bisa duduk, bisa jalan, dan berbicara. Karena adanya gangguan pada mata, ia belum bisa melihat. Akibatnya, untuk berjalan masih meraba-raba. “Tapi Alhamdulillah kami senang Nadira mengalami banyak perkembangan dari sebelumnya,” ucap Lili seraya mengatakan hari ini (22/1), ia dan Nadira akan pulang ke Muko-Muko Bengkulu.

Ia mengucapkan terima kasih atas layanan yang diberikan tim medis dan tenaga kesehatan RSUP Dr. M. Djamil kepada anaknya. “Saya merasa puas atas layanan yang diberikan selama anak saya menjalani perawatan di sini,” tutur Lili.

Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) dr. Riri Prima Yolanda, Sp.KFR, Ped (K) mengatakan awalnya pasien datang ke Instalasi Rehabilitasi Medik sekitar empat bulan lalu yang dikonsulkan dari bedah syaraf setelah mendapatkan titisan terkait adanya massa di kepala. Saat datang itu, Nadira sudah immobilisasi atau berbaring lama sekitar empat bulan.

“Jadi datang dengan kondisi lemah anggota gerak terkait dengan immobilisasinya. Kemudian Nadira tidak mampu untuk miring. Bahkan merasa mual untuk miring dan tidak mampu duduk. Dan Nadira juga mengalami gangguan visual,” sebutnya.

Nadira pun, tuturnya, sangat sedih dengan kondisinya dan sedikit hopeless. Dia khawatir tidak bisa lagi kembali ke aktivitas semula. “Awalnya kami melakukan asesmen dan memberikan mini goal kepada Nadira. Mini goal awalnya kita mengharapkan Nadira mampu duduk dengan sandaran,” tuturnya. 

Kemudian, kita bikin mini goal kedua. Setelah  berhasil mencapai Nadira duduk tanpa sandaran. Semangat Nadira pun kembali muncul.  “Ia pun belajar berdiri dengan pegangan dan berjalan dengan menggunakan trial bars. Alhamdulillah selama satu bulan terapi di sini, akhirnya Nadira bisa kembali berjalan dengan menggunakan alat bantu,” ucap dr. Riri.

Ia mengatakan tidak hanya itu, karena Nadira seorang remaja masih ingin mempunyai akses dengan kawan-kawan secara online. “Kami juga membantu bagaimana Nadira bisa menggunakan handphone dan mengatur  setingan handphone sehingga sesuai dengan kebutuhannya,” tuturnya.

Ia mengatakan saat ini Nadira bisa menggunakan handphonenya cukup dengan  menekan nanti akan keluar suara. Nadira pun bisa menggunakan WhatsApp, mengakses YouTube dan lainnya. “Sehingga aktivitas Nadira sebagai seorang remaja tetap bisa terjalankan,” ungkapnya seraya berharap Nadira bisa mencapai pemulihan yang lebih baik. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Adakan Wirid Mingguan, Kaji Memperkokoh Keimanan

RSUP Dr M Djamil kembali melaksanakan kegiatan rutin Wirid Mingguan di Masjid Asy-Syifa, Jumat (24/1). Kegiatan Wirid Mingguan ini menghadirkan ustad Kamrizal, Lc, MA, yang membahas tentang mengarungi kehidupan dengan keimanan yang kokoh.

“Iman merupakan salah satu pilar utama dalam kehidupan seorang muslim. Iman yang kuat dapat menjadi sumber kekuatan yang besar dalam menghadapi berbagai rintangan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tidak jarang iman kita terkadang tergoyahkan oleh berbagai masalah dan rintangan yang dihadapi,” kata Ustad Kamrizal, Lc, MA.

Wirid mingguan ini turut dihadiri Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua dan civitas hospitalia beserta pengurus DWP RSUP Dr. M. Djamil.

Ia mengatakan tingkatan iman yang dimaksud Rasulullah adalah buah dari keimanan kita kepada Allah. Semakin kita beriman kepada Allah seharusnya dibuktikan dengan semakin banyaknya ketaatan kita kepada Allah. “Semakin kuat iman yang bersemayam di dalam diri kita, maka kita semakin takut dan khawatir apabila mengerjakan apa yang dilarang oleh Allah SWT,” ucapnya.

Oleh karena itu, sebut Kamrizal, saat iman turun dalam artian ketaatan kita kepada Allah turun, maka tidak ada obat yang lebih mujarab daripada kita kembali kepada Allah dengan membaca Al Quran. “Kemudian  melakukan istighfar, dengan kemudian bertaubat, dengan mendekatkan diri kepada majelis-majelis ilmu, kepada masyarakat-masyarakat yang saleh yang bisa mengembalikan kita kepada ketaatan kepada Allah SWT,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama RSUP Dr. M Djamil Dr. dr. Dovy Djanas Sp.OG., KFM., MARS., FISQua mengatakan wirid mingguan ini menjadi tempat silaturahmi bersama civitas hospitalia. “Melalui wirid mingguan ini kita dapat memperoleh pengetahuan sehingga bisa mengisi atau me-recharge pikiran kita kembali sehingga dapat kita terapkan dalam kehidupan,” harapnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Sambut Baik Peran Strategis INA-CRC Kembangkan CRU

RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit pendidikan utama dan pusat rujukan di wilayah Sumatera Bagian Tengah, memiliki tanggung jawab besar untuk mendukung pengembangan riset yang inovatif. Dalam konteks dunia kesehatan yang terus berkembang, inovasi dalam riset klinis menjadi sangat krusial.

“RSUP Dr. M. Djamil menyambut baik peran strategis INA-CRC (Indonesia Clinical Research Centre) dalam pengembangan Clinical Research Unit (CRU). Kami percaya bahwa kolaborasi ini akan membuka banyak peluang baru dalam bidang penelitian klinis. Pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang kami berikan kepada masyarakat,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua saat Road Show INA-CRC di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Kamis (23/1).

Road Show secara virtual ini bertemakan “Peran Strategis INA-CRC dalam Pengembangan Clinical Research Unit (CRU) untuk Mendukung Inovasi Riset Klinis”. Menghadirkan narasumber Kepala Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan Indri Rooslamiati, M.Sc., Apt, Manajer Penelitian RSUP M. Djamil dr. Zulda Musyarifah, Sp.PA, FIAC, IFCAP dan Principal Investigators Uji Klinis RSUP M. Djamil dr. Asrawati, Sp. A, Subps.TKPS (K), M. Biomed, FISQua.

Turut hadir Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), Plt Direktur SDM Pendidikan dan Penelitian dr. Kino, Sp.JP (K), Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah dr. Rendri Bayu Hansah, Sp.PD FINASIM, Dekan Fakultas Kedokteran UNP Dr. dr. Rika Susanti, Sp.FM(K). Kemudian peserta road show.

Ia mengatakan keberadaan CRU di rumah sakit kita bukan hanya sekadar sebagai fasilitator riset. Tetapi juga menjadi motor penggerak bagi lahirnya inovasi-inovasi baru dalam dunia kesehatan. “Melalui pengembangan CRU, kita dapat memastikan bahwa penelitian yang dilakukan lebih terstruktur dan terstandardisasi. Tentunya lebih memberikan manfaat yang nyata bagi pasien dan perkembangan ilmu kesehatan,” ucapnya.

Melalui CRU, sebut Dovy, juga dapat mendorong terciptanya berbagai riset yang relevan. Termasuk pengembangan produk kesehatan yang inovatif, terutama produk buatan dalam negeri.  “Dengan kemampuan dan kemandirian dalam menghasilkan produk lokal berkualitas, kita tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia, tetapi juga meningkatkan daya saing bangsa di kancah internasional,” tuturnya.

Tentunya Ia mengapresiasi peran INA-CRC sebagai wadah yang menghubungkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, industri, dan fasilitas pelayanan kesehatan, untuk memperkuat ekosistem riset klinis di Indonesia. “Kerjasama semacam ini penting untuk memastikan riset yang kita lakukan memiliki dampak nyata bagi peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat,” tegasnya.

Kepala Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan Indri Rooslamiati, M.Sc., Apt mengatakan INA-CRC merupakan langkah maju menuju transformasi penelitian klinis dan menempatkan Indonesia sebagai pusat penelitian klinis bertaraf internasional. Mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. HK.01.07/MENKES/1458/2023 tentang Penyelenggaraan Penelitian Klinik di Rumah Sakit, dengan tujuan memfasilitasi dan mengoordinasikan Clinical Research Units (CRU) di seluruh rumah sakit di Indonesia.

“Salah satu rumah sakit yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan RI untuk CRU ini adalah RSUP Dr. M. Djamil. Dan kini rumah sakit ini bekerja sama dengan Harrison AI tentang teknologi AI untuk Radiologi/Chest X-Ray dan CT Brain. Ini sebuah kemajuan dalam penelitian klinis bagi rumah sakit ini,” tukasnya. (*)

Kenali Varises, Pemicu, Gejala, Pencegahan dan Terapi yang Tepat

Mungkin banyak diantara kita yang pernah mengalami kondisi abnormal pada bagian betis kaki, dimana pembuluh darah vena tampak timbul atau menonjol di permukaan kulit. Umumnya kondisi pembuluh darah vena tersebut, memanjang, melebar, dan berliku-liku, disertai rasa pegal, kram, nyeri, maupun kesemutan gatal, itulah yang disebut varises.

“Varises adalah pelebaran pembuluh darah balik atau vena yang berkelok-kelok yang ditandai dengan tidak berfungsinya katup vena,” kata Ketua Divisi Vaskular dan Endovaskular RSUP Dr. M Djamil Dr. dr. Raflis, Sp.B, Subsp. BVE (K) saat Seminar Terapi Terkini Varises dan Skrining Varises di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Kamis (23/1).

Ia menjelaskan pemicu dari varises di antaranya berdiri terlalu lama, obesitas, kehamilan, obat-obat kontrasepsi. Kemudian umur, faktor genetik dan hormonal. “Varises ini lebih banyak dialami oleh perempuan, dibanding pada laki-laki, karena dipengaruhi oleh faktor hormonal,” sebutnya.

Ia mengatakan umumnya gejala yang timbul dari varises berupa kram di kaki, gatal-gatal terutama daerah dekat pembuluh darah, pergelangan kaki yang membengkak, warna gelap. Otot mudah kaku atau pegal, terutama jika berdiri terlalu lama.

“Kemudian nyeri kaki di malam hari, pembuluh darah yang tampak menonjol dan bewarna ungu tua atau biru, sering muncul seperti tali di kaki. Serta nyeri yang memburuk setelah duduk atau berdiri untuk waktu yang lama,” paparnya seraya menyebutkan sementara gejala berat dan komplikasi berupa borok kaki, pendarahan, dan peradangan kronis pembuluh darah tungkai (tromboflebitis).

Ia menyebutkan untuk pencegahan varises ini berupa makan makanan bergizi dan olahraga teratur, hindari berdiri terlalu lama dan sedapat mungkin melakukan relaksasi jika dalam aktivitas sehari-hari berdiri lama, hindari duduk lebih lama dengan kaki menyilang dimana posisi ini dapat menghambat aliran darah dari tungkai ke jantung.

Kemudian hindari pemakaian pakaian bawah yang terlalu ketat, jika sedang bepergian jauh usahakan meluruskan kaki secara berkala dan   memijit-mijit tungkai sehabis bepergian. “Gunakan kaos kaki elastis untuk mencegah penekanan pada tungkai. Dan menggunakan sepatu dengan hak rendah,” ucapnya.

Jika tidak diobati, varises di kaki dapat menyebabkan beberapa komplikasi yang serius. Beberapa komplikasi varises kaki yang dapat terjadi yakni dermatitis stasis kronis dengan infeksi jamur atau bakteri, tromboflebitis dapat berkembang dalam varises.

“Pigmentasi di sekitar pergelangan kaki (akibat endapan pigmen hemosiderin pada kulit). Tukak kulit dan pendarahan (jarang),” sebutnya.

Sementara itu, dokter subspesialis vaskular endovaskular dr. Hippocrates Kam, Sp.B, Subsp. BVE (K) mengatakan varises memiliki berbagai modalitas terapi dengan indikasi dan pertimbangan masing-masing. Prinsip terapi ini yakni membantu memperbaiki aliran balik vena, menutup vena inkompten, dan memperbaiki hipertensi vena yang terjadi.

“Jenis terapi varises ini berupa thermal ablation, cyanoacrylate glue ablation, mechanicochemical ablation, foam scleroteraphy, venous stripping, dan medical stocking),” ucapnya.

Ia menyebutkan tindakan EVLA (Endovenous Laser Ablation) merupakan salah satu alternatif terapi varises yang sudah tersedia di RSUP Dr. M. Djamil.  “EVLA adalah sebuah metode pada penanganan varises dengan memanfaatkan teknologi laser untuk memulihkan kondisi pembuluh darah vena yang mengalami pembengkakan sehingga dapat meminimalisir tindakan invasive bedah,” paparnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Adakan Seminar Terapi Terkini Varises dan Skrining Varises

RSUP Dr. M. Djamil mengadakan seminar Terapi Terkini Varises dan Skrining Varises di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Kamis (23/1). Seminar ini  relevan mengingat tingginya prevalensi penyakit tersebut di masyarakat pada saat ini.

“Varises, yang sering kali dianggap hanya sebagai masalah estetika, sebenarnya dapat berdampak serius pada kualitas hidup pasien jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, skrining dini dan terapi yang tepat menjadi kunci untuk mencegah komplikasi yang lebih serius,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua saat sambutan.

Seminar tersebut menghadirkan narasumber Dr. dr. Raflis, Sp.B, Subsp. BVE (K), dr. Yudi Ichsan Ramata, Sp.B, Subsp. BVE (K), dr. Hippocrates Kam, Sp.B, Subsp. BVE (K). Tidak hanya pemaparan materi, tapi juga skrining varises dengan USG doppler gratis.

Turut juga dihadiri Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Kino, Sp.JP, (K),  Manajer Diklat Ns. Venny Dwita Zola Anwar, S.Kep dan tim, serta peserta seminar.

Seminar ini, tutur Dovy, tidak hanya bertujuan untuk memperkenalkan metode terapi terbaru. “Akan tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran kita semua akan pentingnya skrining varises secara dini. Dengan demikian, kita dapat memberikan penanganan yang lebih efektif dan efisien kepada pasien,” ucap dokter spesialis Fetomaternal ini.

Ia berharap melalui seminar ini, para peserta dapat memperoleh wawasan baru dan mendalam tentang pendekatan terbaru dalam penanganan varises, termasuk teknologi dan metode skrining yang lebih efektif. “Tidak hanya itu, kita juga berharap seminar ini dapat menjadi ajang diskusi yang produktif, sehingga kita semua dapat berbagi pengalaman dan belajar satu sama lain,” harap Dovy.

Dovy menekankan RSUP Dr. M. Djamil selalu berupaya memberikan pelayanan terbaik dengan mengedepankan teknologi terkini dan pendekatan multidisiplin. “Kegiatan seminar ini merupakan salah satu langkah konkret untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan agar mampu memberikan solusi yang efektif dan berbasis bukti kepada masyarakat,” tutur Dovy.

Sementara itu, Ketua Divisi Vaskular dan Endovaskular Dr. dr. Raflis, Sp.B, Subsp. BVE (K) mengatakan seminar ini bertujuan untuk pengenalan dini tentang varises kepada peserta. Sehingga bagaimana mengubah pola hidup dan perilaku yang berisiko terhadap penyakit varises.

“Di samping seminar, kami juga melakukan skrining untuk peserta yang memang merasa adanya varises,” ucapnya.

Ia berharap melalui seminar tersebut dapat membuka wawasan tentang varises dan terapi terkini varises.”Dan dapat memberikan manfaat bagi peserta tentunya,” harap Dr. dr. Raflis. (*)

Tim Bank Jaringan dan Sel RSUP Dr. M. Djamil Padang Lakukan Kunjungan ke RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta

Tim Bank Jaringan dan Sel RSUP Dr. M. Djamil Padang melakukan kunjungan ke RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta pada hari Selasa (21/1). Kunjungan tersebut berkaitan dengan pelayanan stem cell atau sel punca.

Kedatangan tim Bank Jaringan dan Sel RSUP Dr. M. Djamil Padang yang dipimpin Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS itu disambut Direktur Perencanaan dan Pengembangan Strategi Layanan RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, Dr. dr. Arif Rahman Sadad, Sp.KF (K), M.Si, MED, SH, DHM.

Turut mendampingi Direktur Layanan Operasional RSUP Dr. M. Djamil Padang yakni Kepala Bank Jaringan dan Sel dr. Benni Raymond, Sp.BE-RE (K) serta tim dan Manajer Hukum dan Humas Nova Afriani, SH, MH. Sementara dari RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta  Kepala Instalasi Teknologi Kedokteran  Sel Punca Prof. Dr. dr. Ismail Hadisoebroto Dilogo, Sp.OT (K) serta tim.

“RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo sebagai RS UPT telah melakukan layanan stem cell. Dan tentu RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit  rujukan wilayah Sumatera Bagian Tengah dan  sebagai rumah sakit pengampu di wilayah Sumatera juga berharap dapat memberikan layanan stem cell ini kepada masyarakat,” kata Direktur Layanan Operasional RSUP Dr. M. Djamil drg. Ade Palupi Muchtar, MARS di Ruang Rapat Direksi B dan C Gedung Kiara Lantai 12.

Ia mengatakan stem cell dapat digunakan untuk layanan terapi tersandar dan penelitian berbasis layanan terapi. “Saat ini RSUP Dr. M. Djamil sudah memiliki laboratorium stem cell dan sedang dalam pengurusan izin laboratorium dan izin pengolahan stem cell. Untuk itu perlu kerja sama antara RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo dan RSUP Dr. M. Djamil baik untuk layanan terapi maupun penelitian berbasis layanan terapi. Baik dalam hal sumber daya manusia dan supervisi layanan terapi sel maupun kegiatan penelitian berbasis layanan terapi,” tutur drg. Ade.

Kepala Instalasi Teknologi Kedokteran Sel Punca Prof. Dr. dr. Ismail Hadisoebroto Dilogo, Sp.OT (K) mengatakan instalasi ini merupakan unit pelayanan non-struktural di dalam organisasi RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta yang berperan sebagai penyelenggara kegiatan pelayanan dan penelitian berbasis pelayanan terapi teknologi sel punca. Dan berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Perencanaan dan Pengembanganan Strategi Layanan.

“Memiliki fungsi yakni pengelolaan produksi dan pelayanan sebagai bentuk pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan teknologi kedokteran sel punca. Serta pengelolaan kegiatan administrasi, umum dan operasional,” harapnya.

Ia mengatakan fasilitas produksi sel punca dan turunannya telah tersertifikasi CPOB dari BPOM pada 6 Juli 2024. Produk yang dihasilkan terjamin mutu, kualitas dan keamanannya serta telah memenuhi aspek analisis risiko dan penilaian khasiat.

“Produk unggulannya berupa AD-MSC & UC-MSC Injection Mesenchymal Stem Cell in syringe, Secretome Non Concentrate and Concentrate preparation from AD-MSC & UC-MSC (Injection in syringe &vial ready to use),” paparnya. (*)

Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Dr. M. Djamil Edukasi Pasien

Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Dr. M. Djamil memberikan edukasi tentang layanan rehabilitasi medik, Rabu (22/1). Materi itu disampaikan dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi dr. Riri Prima Yolanda, Sp.KFR, Ped (K).

“Edukasi ini menjelaskan tentang layanan rehabilitasi medik kepada pasien. Diawali dengan gambaran secara menyeluruh layanan rehabilitasi medik itu apa saja. Termasuk tim rehabilitasi medik itu ada siapa saja,” kata dr. Riri Prima Yolanda, Sp.KFR, Ped (K).

Edukasi ini turut dihadiri pasien dan keluarga pasien. Pada kesempatan itu juga dilangsungkan sesi diskusi.

Ia mengatakan falsafah rehabilitasi medik itu sebenarnya adalah meningkatkan kemampuan fungsional seseorang sesuai dengan potensi yang dimiliki untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas hidup. “Dengan cara mencegah atau mengurangi adanya hendaya atau disabilitas kepada pasien,” tuturnya.

Terapi di rehabilitasi medik, sebutnya, disesuaikan dengan kondisi medis pasien. Kemudian disesuaikan dengan gangguan fungsi yang terganti pada pasien. “Misalnya, pada gangguan fungsi pasien stroke, adanya gangguan fungsi untuk berjalan. Bahkan kita mengejar kembali ke penguatan ototnya, keseimbangannya, kemampuan untuk berdiri dan berjalan,” paparnya.

Kemudian, sebut dr. Riri kita modifikasi apakah dia bisa berjalan tanpa alat bantu. Ataukah dia berjalan dengan alat bantu. “Selanjutnya misalnya ada gangguan fungsi pada pasien stroke itu, gangguan bicara. Nanti kita akses dulu, kemampuan bicaranya sejauh apa. Nanti kita berikan terapi. Bisa terapi awalnya adalah fisioterapi dulu karena pernapasan mungkin belum selesai. Atau bisa langsung ke terapi wicara untuk latihan wicara,” sebutnya.

Atau, kata dr. Riri, gangguan makan. Seperti itu pasien stroke seringkali ada gangguan menelan. “Maka kita di sini memiliki alat dan latihan yang bisa untuk membantu pasien lepas dari selang nasogastrik (NGT). Kemudian makan seperti biasa,” ucapnya.

dr. Riri juga mengatakan untuk gangguan kepada anak, itu kita bisa pada anak-anak yang mengalami keterlambatan perkembangan tanpa permasalahan medis yang lain. Misalnya gangguan bicara.

“Kemudian kita bisa memberikan layanan kepada anak-anak cerebral palsy. Juga pada anak-anak pascameningitis dan pascaensefalitis. Kita harapkan anak-anak ini bisa kembali mencapai kemandirian. Dimulai membantu mereka bisa berdiri, duduk sendiri, membantu mereka bisa berbicara, berkomunikasi kalau memang tidak bisa bicara, berkomunikasi secara gestur,” paparnya.

Ia mengatakan kalau pada anak cerebral palsy itu diajarkan menggunakan tangannya untuk bisa makan sendiri. “Bisa juga pada pasien-pasien down syndrome. Bukan berarti kalau mereka down syndrome lalu semua sudah habis semua nggak. Kita bantu mulai dia bisa melatih kemampuan motorik sampai nanti masuk sekolah,” ucapnya.

Jadi, tutur dr. Riri, anak-anak ini tidak hanya kemandirian. Akan tetapi juga bagaimana persiapan mereka sekolah. “Termasuk juga kita sering bekerja sama dengan Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif (LDPI) Kota Padang dan psikolog di sini,” tuturnya.

Ia berharap ke depan, setiap bulan diadakan edukasi di Instalasi Rehabilitasi Medik. Nanti narasumbernya akan disampaikan oleh fisioterapi, okupasi terapi, terapi wicara dan psikolog. “Mereka akan menyampikan kasus-kasus penyakit tertentu sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing,” tukasnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Adakan Rapat Penyusunan Indikator Mutu Prioritas Unit

RSUP Dr. M. Djamil mengadakan rapat penyusunan indikator mutu prioritas unit (IMPU) rumah sakit di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Senin (20/1). Rapat yang didiinisiasi Komite Mutu ini resmi dibuka oleh Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua.

“Hari ini kita mengadakan kegiatan penyusunan indikator mutu prioritas unit (IMPU) rumah sakit. Indikator ini sangat penting bagaimana dari unit mengetahui permasalahan yang ada,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM,MARS, FISQua.

Turut dihadiri Manajer dan Asisten Manajer, Ketua KSM, Ketua Komite, Ketua SPI, Kepala Instalasi dan civitas hospitalia.

Ia mengatakan nanti seluruh staf unit memahami bagaimana standar layanan yang menjadi prioritas untuk bisa dijadikan penyusunan indikator ini. Sehingga permasalahan itu sudah dilihat secara skala prioritas.

“Apa yang menjadi indikator mutu yang kita susun untuk unit akan menambah daya ungkit terhadap apa yang terjadi permasalahan di unit. Dan tentunya kita punya tanggung jawab untuk itu,” ucapnya.

Ia berkeyakinan kita punya semangat untuk menyusun indikator mutu prioritas unit tentu dengan hal-hal yang sudah kita kaji bersama. “Dengan harapan nantinya mencapai sasaran,” harapnya.

Ia mengajak seluruh unit untuk mengawal indikator mutu prioritas unit yang telah disusun benar-benar sesuai dengan yang ditetapkan. “Saya yakin tentu standar untuk menetapkan IMPU ini sudah menjadi suatu hal yang ada gambaran dari unit. Tinggal memperkuat yang telah disusun ini apakah sudah sesuai dengan indikator ditetapkan, apakah sesuai atau tidak dengan kebutuhan unit pada saat ini,” ucap Dovy.

Ia berharap dengan penyusunan itu menjadi daya ungkit semua layanan di rumah sakit. Termasuk kegiatan Komite Mutu dua hari lalu memilih penyusunan indikator mutu prioritas rumah sakit. “Jadi ini saling berhubungan,” tutur Dovy.

Ia mengatakan mudah-mudahan dengan penyusunan indikator mutu prioritas unit ini kita bisa bersama menetapkan sesuai dengan kebutuhan. Tentu berkoordinasi dengan mutu. “Harapan kita adalah keselamatan pasien, mutu kita tetap pertahankan dan ditingkatkan. Dampaknya pada kepuasan pasien,” harapnya.(*)

Sesditjen Kesehatan Lanjutan Yakin RSUP Dr. M. Djamil Melompat Jauh Lebih Tinggi

Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI dr. Andi Saguni, MA berkeyakinan RSUP Dr. M. Djamil mampu melompat jauh lebih tinggi sekaligus menjadi salah satu rumah sakit terbaik di Indonesia. Keyakinan ini seiring torehan capaian positif yang diraih selama tahun 2024 dan perkembangan yang pesat dialami RSUP Dr. M. Djamil.

“Dengan pengawalan yang ketat dari jajaran direksi dan dukungan civitas hospitalia, capaian positif RSUP Dr. M. Djamil selama tahun 2024 tidak akan diraih. Tentu ini menjadi momentum kebanggaan kita semua,” kata Sekretaris Ditjen Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI dr. Andi Saguni, MA sebagai keynote speaker Rapat Kerja Tahun 2025 RSUP Dr. M. Djamil di Hotel Santika Premiere Padang, Minggu (19/1).

Turut hadir Anggota Dewan Pengawas Syukriah, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Kino, Sp.JP (K) dan manajemen.

Ia pun memaparkan monitoring realisasi anggaran satuan kerja ditjen pelayanan kesehatan tahun 2024 per 14 Januari 2025. Dimana realisasi pendapatan satuan kerja (satker) pada tahun 2024, RSUP Dr. M. Djamil masuk ke dalam kelompok yang target pendapatannya Rp 500 miliar-Rp 1 triliun menempati urutan 6 dengan target Rp 805 miliar dan realisasi Rp 821 miliar atau 102,05 persen.

“Harusnya nanti kalau betul-betul bisa melompat lebih tinggi. Kenapa tidak tahun 2025 RSUP Dr. M. Djamil masuk ke dalam kelompok yang bisa pendapatannya di atas Rp 1 triliun. Saya yakin dengan segala hal dimiliki itu mampu sebenarnya. Apalagi saya pernah menjadi Ketua Dewan Pengawas RSUP Dr. M. Djamil.,” ucap dr. Andi Saguni, MA.

Ia mengatakan pada saat ini tentunya bukan hanya oleh jajaran direksi tapi tentu seluruh civitas hospitalia apa yang telah dicapai itu dipertahankan. Jadikan momentum untuk melompat lebih tinggi. “Dan jangan lupa dengan capaian sekarang dan saya yakin di tahun 2025 bisa diperbaiki dan ditingkatkan lagi tentunya menjadi kebanggaan. Siapapun yang mencintai rumah sakit kita ini, siapapun itu kalau kita ada pada nilai yang bagus tentunya menjadi kebanggaan civitas hospitalia semua,” harapnya.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua mengucapkan syukur Alhamdulilah atas pencapaian yang telah diraih RSUP Dr. M. Djamil selama 2024. “Ini berkat kerja keras jajaran direksi dan seluruh civitas hospitalia. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih atas pencapaian tersebut,” ucapnya.

Ia mengatakan kalau kita benar-benar bisa melakukan proses bisnis yang benar dan terukur serta presisi InshaAllah ini akan menjadi program kita ke depan. “Kita kawal bersama tentu dengan justifikasi yang kuat,” tuturnya.

Terkait dengan pengembangan rumah sakit, sebut Dovy, kita bersama-sama mengharapkan bantuan pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan untuk mewujudkan masterplan. “Untuk itu sembari menunggu kita buktikan di tahun 2025 kita bisa mempertahankan capaian-capaian selama 2024,” tukas Dovy. (*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45