Ini Harapan Kadinkes Sumbar, Direktur Poltekkes Padang, Tokoh Masyarakat Sumbar dan Rektor Unand untuk RSUP Dr. M. Djamil

Rapat Kerja RSUP Dr. M. Djamil yang berlangsung selama dua hari di Hotel Santika Premiere Padang resmi dibuka, Sabtu (18/1). Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr. Lila Yanwar, MARS, Direktur Poltekkes Kemenkes Padang Renidayati, S.Kp, M. Kep, Sp.Jiwa, tokoh masyarakat Sumbar Prof. Drs. H. Ganefri, M.Pd., Ph.D dan Rektor Universitas Andalas Efa Yonnedi, Ph.D menyampaikan  harapan untuk kemajuan RSUP Dr. M. Djamil.

Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr. Lila Yanwar, MARS mengatakan Pemprov Sumbar berharap RSUP Dr. M. Djamil untuk terus meningkatkan kualitas dan mutu pelayanan kesehatan. “Baik dari segi fasilitas, teknologi maupun kompetensi medis,” kata dr. Lila–panggilan akrabnya saat menjadi narasumber dalam Rapat Kerja RSUP Dr. M. Djamil.

Ia mengatakan peran RSUP Dr. M. Djamil sebagai pusat rujukan regional dapat menyediakan dokter spesialis dan subspesialis yang unggul dan berstandar tinggi. Dapat meningkatkan kapasitas layanan rujukan, melakukan pengampuan terhadap rumah sakit kabupaten/kota melalui penguatan sumber daya manusia, pembinaan, pelatihan, supervisi, peningkatan kompetensi lainnya serta pengelolaan sistem rujukan secara terpadu.

“Harapan selanjutnya, memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan rumah sakit kabupaten/kota serta fasilitas kesehatan lainnya, peningkatan aksesibilitas dan efisiensi layanan. Sebagai role model dalam penerapan standar layanan rujukan berkualitas, memanfaatkan telemedicine untuk mendukung layanan rujukan untuk menjangkau pasien  di daerah yang jauh dari jangkauan rumah sakit. Dan pengembangan pendidikan serta penelitian,” harap dr. Lila.

Direktur Poltekkes Kemenkes Padang Renidayati, S.Kp, M. Kep, Sp.Jiwa menyampaikan harapan kepada RSUP Dr. M. Djamil di antaranya peningkatan kualitas pendidikan dimana memberikan pengalaman praktik kepada mahasiswa dengan memberi kesempatan untuk terlibat dalam tindakan yang lebih beragam dan penanganan kasus yang lebih kompleks.

“Fasilitas dan infrastruktur dimana mahasiswa  dapat belajar menggunakan peralatan modern serta metode yang sesuai dengan perkembangan ilmu kesehatan,” sebutnya.

Kemudian, pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan praktik, penyediaan pembimbing yang kompeten, kolaborasi dalam penelitian. “Dan kolaborasi sumber daya manusia serta pengembangan kerja sama,” harapnya saat menjadi narasumber Raker.

Tokoh masyarakat Sumbar Prof. Drs. H. Ganefri, M.Pd., Ph.D saat menjadi narasumber dalam raker mengatakan hari ini dengan kemajuan teknologi yang cepat, tentu proses digitalisasi layanan dan kemajuan artificial intelligence harus menjadi perhatian bagi RSUP Dr. M. Djamil.

“Di samping itu, sebagai rumah sakit pendidikan RSUP Dr. M. Djamil juga mampu menjadi pusat riset kesehatan dengan memanfaatkan teknologi kedokteran untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Jadi rumah sakit ini bukan hanya melayani orang sakit. Akan tetapi juga menjadi pusat riset pada wilayah ini,” harap mantan Rektor UNP ini.

Sementara itu, Rektor Unand Efa Yonnedi, Ph.D menyampaikan goals RSUP Dr. M. Djamil sangat inline dengan goals Universitas Andalas. Yakni pelayanan yang unggul level asia dan sustainable. Ini inline dengan visi 2029 Universitas Andalas berupa internasionalisasi, transformasi digital dan inovasi pendidikan bermutu yang menghasilkan lulusan-lulusan yang unggul. “Bagaimana ke depan, antara RSUP Dr. M. Djamil dan Unand meningkatkan kolaborasi,” harapnya saat menjadi narasumber Raker.

Pertama, sebutnya, etika dan profesionalisme. Kedua interprofesional education. Ketiga sarana prasarana. Keempat kolaborasi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. “Kelima pengembangan dosen klinis. Dan terakhir sistem informasi yang terintegrasi,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Adakan Rapat Kerja, Usung Tiga Agenda Utama

RSUP Dr. M. Djamil mengadakan rapat kerja tahun anggaran 2025 selama dua hari, Sabtu (18/1) dan Minggu (19/1) di Hotel Santika Premiere Padang. Rapat kerja ini ditujukan untuk merealisasikan Rencana Strategis Bisnis 2025 -2029 menjadi rencana kerja tahunan untuk seluruh unit kerja di lingkungan RSUP Dr. M. Djamil.

Peresmian rapat kerja sekaligus pengesahan visi misi RSUP Dr. M. Djamil 2025-2029 ini ditandai dengan pemukulan gong oleh Ketua Dewan Pengawas drg. Arianti Anaya, MKM. Turut mendampingi anggota dewan pengawas yakni Albertus Yudha Poerwadi, SE, M.Si, Edi Mulyadi dan Syukriah, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, dan Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo.

Ketua Dewan Pengawas drg. Arianti Anaya, MKM mengatakan jajaran dewan pengawas berharap melalui rapat kerja ini bisa menghasilkan strategi bisnis apa yang akan dilakukan untuk jangka pendek, menengah dan panjang. Tentu harus diikuti dengan berbagai inovasi-inovasi untuk mencapai visi misi rumah sakit yang telah ditetapkan.

“Kita tahu harapan ke depan untuk RSUP Dr. M. Djamil sangat besar. Bukan hanya sarana prasarana tapi kami menginginkan RSUP Dr. M. Djamil ini menjadi rumah sakit bertaraf internasional,” harapnya.

Rapat kerja ini dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr. Lila Yanwar, MARS,  Dekan Fakultas Kedokteran Unand Prof. Dr. dr. Afriwardi, SH, Sp.KO, MA dan wakil dekan, Direktur Poltekkes Kemenkes Padang Renidayati, S.Kp, M. Kep, Sp.Jiwa, tokoh masyarakat Sumbar Prof. Drs. H. Ganefri, M.Pd., Ph.D.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang dr. Srikurnia Yati, Forkopimda Sumbar dan Kota Padang, manajer, asisten manajer, kepala instalasi, ketua  komite, ketua Kelompok Staf Medik beserta Dokter Penanggung Jawab Pelayanan dan staf.

Ia mengatakan diketahui pendapatan RSUP Dr. M. Djamil pada tahun 2024 mencapai Rp 885 miliar. Pendapatan ini meningkat dari tahun sebelumnya. Dan kalau dilihat dari bulan ke bulan prestasi RSUP Dr. M. Djamil luar biasa.

“Artinya upaya yang dilakukan RSUP Dr. M. Djamil untuk meningkatkan pendapatan ini signifikan yang ditandai adanya kenaikan. Makanya dewan pengawas memberi target pendapatan di tahun 2025 Rp 1 triliun,” tegasnya.

Ia menekankan tentunya dengan berbagai upaya untuk efisiensi, upaya untuk peningkatan pelayanan baik JKN maupun non-JKN, melakukan berbagai upaya menjemput pasien ke RSUP Dr. M. Djamil. “Dan nantinya di akhir tahun 2025, pendapatan RSUP Dr. M. Djamil mencapai Rp 1 triliun,” tekadnya.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua mengatakan rapat kerja kali ini mengusung tema yang strategis, yang mencakup tiga agenda utama yang akan menjadi pedoman kita untuk lima tahun ke depan. Pertama,  akan mengesahkan visi, misi, dan tujuan RSUP Dr. M. Djamil untuk periode 2025-2029, serta menyosialisasikan Rencana Strategis Bisnis (RSB) 2025-2029 kepada seluruh pimpinan unit terkait.

“Visi, misi, dan tujuan yang akan kita rumuskan harus mencerminkan aspirasi kita untuk memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas, inovatif, dan ramah terhadap pasien. Dengan disusunnya RSB yang matang, kita akan memiliki arah yang jelas dalam mencapai tujuan tersebut,” harap Dovy.

Kedua, akan bersama-sama menyusun Program Kerja Rumah Sakit Tahun 2025 yang akan diselaraskan dengan RSB 2025-2029. Program kerja ini nantinya akan menjadi acuan operasional bagi seluruh civitas hospitalia rumah sakit dalam melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing, serta menjadi indikator pencapaian yang bisa kita ukur secara periodik.

“Keselarasan antara RSB dan program kerja akan sangat menentukan keberhasilan kita dalam mencapai target yang telah ditetapkan,” tuturnya.

Ketiga, sebut Dovy, akan membahas penyusunan Panduan Praktik Klinik yang terstandar untuk memastikan bahwa pelayanan medis yang diberikan kepada pasien adalah yang terbaik, berkualitas, dan aman.

“Panduan ini akan memberikan pedoman yang jelas bagi tenaga medis dalam memberikan pelayanan yang tepat dan sesuai dengan standar, sehingga kita dapat menjaga keselamatan pasien sekaligus meningkatkan mutu layanan rumah sakit,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana yang juga Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo mengatakan program kerja yang dirumuskan ini nantinya akan menjadi tolok ukur seluruh aktivitas yang dilakukan oleh unit kerja dalam mengimplementasikan kegiatan selama satu tahun untuk periode tahun 2025.

“Raker ini juga mengundang stakeholder untuk memberikan masukkan dalam peningkatan kapasitas pemberi layanan terbaik untu masa yang akan datang,” tukasnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Adakan Pertemuan Bahas Pemilihan IMPRS 2025

RSUP Dr. M. Djamil mengadakan pertemuan pemilihan indikator mutu prioritas rumah sakit (IMPRS) Tahun 2025, Jumat (17/1). Pertemuan yang diinisiasi oleh Komite Mutu ini sebagai upaya rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan ini untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan.

“IMPRS ini suatu hal yang memperlihatkan apa-apa masalah secara keseluruhan di rumah sakit dan ini harus kita pahami bersama. Usulan pemilihan IMPRS ini menjadi permasalahan yang harus ditindaklanjuti,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua saat memberikan sambutan.

Ia mengatakan guna IMPRS ini akan menjadi pedoman dalam memberikan perawatan terbaik kepada setiap pasien di RSUP Dr. M. Djamil. Indikator ini tidak hanya bertujuan untuk memastikan bahwa standar pelayanan medis RSUP Dr. M. Djamil terpenuhi.

“Akan tetapi juga untuk memastikan setiap pasien mendapatkan pengalaman yang aman, nyaman, dan memuaskan,” tuturnya.

Ia mengajak seluruh manajemen untuk berdiskusi apa-apa saja hal-hal yang disempurnakan pada usulan IMPRS harus disempurnakan. “Minimal kita berangkat dari keinginan kita sesuai dengan standar-standar keselamatan pasien. Dan ini harus dilaksanakan sesuai dengan capaian indikator dan standar mutu yang diharapkan” tutur Dovy.

Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) menambahkan tahun 2025 ditarget betul-betul menjadikan tahun berkualitas.  Kita buat mutu dan kita buat prioritas yang akan dinilai supaya bisa mengontrol dan menjadi tolok ukur di layanan yang kita harapkan di rumah sakit. “Tentu target yang dibuat dalam IMPRS harapannya tercapai. Tapi setelah kita lihat ternyata masih banyak hal-hal yang menjadi masalah,” tuturya.

Sementara Ketua Komite Mutu dr. Sucitra Melani, MKM menyebutkan usulan IMPRS tahun 2025 yakni sasaran keselamatan pasien (SKP) 1 ketepatan identifikasi pasien, SKP 2  persentase nilai kritis labor yang ditindaklanjuti lebih kurang. SKP 3 kepatuhan pelaksanaan double check obat high alert.

SKP 4 kepatuhan dan ketepatan pelaksanaan verifikasi praoperasi, SKP 5 ketepatan kebersihan tangan, SKP 6 kepatuhan upaya pencegahan risiko pasien jatuh di rawat jalan.

Pelayanan klinis yakni persentase kesesuaian durasi operasi sesuai dengan durasi yang direncanakan. Tujuan strategis rumah sakit yakni kepatuhan waktu visite DPJP. Perbaikan sistem yakni persentase komplain yang ditindaklanjuti unit kerja.

Manajemen risiko yakni persentase pemenuhan kebutuhan obat pada resep pasien rawat jalan. Manajemen risiko yakni persentase berkas rekam medik dalam bentuk elektronik. Penelitian Klinis dan Pendidikan yakni kepatuhan pelaksanaan supervisi oleh staf pengajar pada proses pelayanan yang  dilakukan peserta didik.

“Usulan IMPRS ini baru usulan. Jika masih ada usulan-usulan yang lebih bagus lagi untuk diangkat menjadi prioritas kita, tentu kami menerima dengan tangan terbuka,” tukasnya.(*)

Dirut RSUP Dr. M. Djamil: ASN Harus Ingat Core Value BerAKHLAK

RSUP Dr. M. Djamil melaksanakan upacara peringatan Hari Kesadaran Nasional di halaman Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Jumat (17/1). Pada upacara itu, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS bertindak sebagai pembina upacara.

Upacara Hari Kesadaran Nasional (HKN) ini merupakan upacara yang secara rutin dilaksanakan setiap tanggal 17, setiap bulan satu kali. Bertujuan untuk memantapkan kualitas pengabdian dan pelayanan RSUP Dr. M. Djamil kepada masyarakat.

“Kita memakai seragam KORPRI hari ini  menandakan bahwa kita aparatur sipil negara (ASN) sebagai abdi negara yang bekerja untuk kepentingan masyarakat di Sumatera Barat khususnya Sumatera Bagian Tengah umumnya. Kita harus bekerja secara profesionalisme, menjunjung tinggi apa yang kita lakukan sebagai abdi negara. Tentu terkandung dalam Panca Satya KORPRI,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS.

Turut hadir Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Kino, Sp.JP (K), dan civitas hospitalia.

Ia mengatakan ada nilai-nilai yang harus ditanamkan oleh aparatur sipil negara. Yakni sebagai ASN harus ingat core value BerAKHLAK (berorientasi pelayanan, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif dan kolaboratif). “Itu harus disesuaikan dengan budaya RSUP Dr. M. Djamil yakni Peduli. Budaya Peduli ini harus diimplementasikan di dalam menjalankan aktivitas sehari-hari,” ucapnya.

Dovy bertekad di tahun 2025 RSUP Dr. M. Djamil mulai lakukan pembenahan hal-hal yang belum sempurna disempurnakan dan belum dipatuhi harus dipatuhi. “Semua ini menjadi kekuatan kita untuk bisa melaksanakan program-program di tahun 2025. Kita berharap dengan sumber daya manusia mumpuni dan komplet bisa melakukan hal-hal yang terbaik untuk rumah sakit ini,” tutur Dovy.

Ia menekankan seperti disampaikan oleh bapak Presiden RI, kita harus membangun kemandirian bangsa dan melakukan hal-hal yang terbaik untuk bangsa. “Inilah yang harus kita wujudkan di RSUP Dr. M. Djamil,” harapnya. (*)

Kembangkan Diagnostik Viral Pneumonia, RSUP Dr. M. Djamil, PDRPI FK Unand, RSAB Harapan Kita Jalin Kerja Sama

RSUP Dr. M. Djamil kembali memperluas kerja sama dalam upaya mewujudkan visi membangun korporasi kesehatan demi tercapainya Ketahanan Kesehatan Nasional. Komitmen ini diwujudkan melalui penandatanganan perjanjian kerja sama antara RSUP Dr. M. Djamil, Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi (PDRPI) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan RS Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita Jakarta.

Perjanjian kerja sama itu ditandatangani oleh Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, Kepala PDRPI Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Andani Eka Putra, MSc dan Direktur Utama RSAB Harapan Kita Jakarta dr. Ockti Palupi Rahayuningtyas, MPH, MH.Kes di Ruang Rapat 507 RSAB Harapan Kita Jakarta, Kamis (16/1). Perjanjian kerja sama tersebut tentang pengembangan diagnostik viral pneumonia berbasis asam nukleat sebagai upaya percepatan produk dalam negeri.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua mengatakan kerja sama ini merupakan sebuah kekuatan peran dari rumah sakit dan perguruan tinggi. “Selama ini kerja sama dan kolaborasi yang terjalin antara RSUP Dr. M. Djamil dengan PDRPI Fakultas Kedokteran Unand ternyata direspons oleh rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan yang lain,” ucap Dovy.

Tentunya, sebut Dovy, ini menjadi semangat, modal dan kekuatan bagi kita membangun kolaborasi. Termasuk dalam hal riset-riset translasional yang menghasilkan produk untuk kebutuhan layanan. Salah satu produk tersebut adalah uji diagnostik. “Nah kita bersama RSAB Harapan Kita Jakarta mengembangkan viral pneumonia berbasis asam nukleat,” ungkapnya.

Ia menekankan dengan kolaborasi antara RSUP Dr. M. Djamil dan RSAB Harapan Kita Jakarta ini mendorong bahwa rumah sakit ternyata bisa menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhannya. “Ini akan dimanfaatkan oleh rumah sakit itu sendiri atau rumah sakit-rumah sakit yang lain. Dan hal itu akan mendorong untuk kemandirian bangsa. Dimana selama ini kita tergantung dengan produk impor. Padahal kita mampu dan kita punya itu,” tegas dokter spesialis Fetomaternal ini.

Di samping, sebutnya, menekan harga. Kita  harus menjadi bangsa yang mandiri, bangsa yang tidak tergantung pada produk impor. “Kita tidak kalah dan kita punya itu baik sarana prasarana dan sumber daya manusia. Dan ini harus kita buktikan,” tuturnya.

Dovy mengatakan Bapak Menteri Kesehatan RI juga mendorong hal tersebut. Supaya rumah sakit ini harus berbuat lebih banyak terkait dengan riset-riset yang menghasilkan produk. “Artinya semua produk yang dihasilkan adalah karya anak bangsa,” tegasnya.

Selain yang dikerja samakan, sebutnya, bisa mengembangkan diagnostik-diagnostik lainnya. Dan ini harus kita kolaborasikan bersama dalam mengembangkan hal yang penting saat ini. “Ketahanan kesehatan nasional dan kemandirian bangsa harus didukung. Ternyata anak-anak bangsa kita tidak kalah dengan negara-negara lain. Dan ini visi bapak Menteri Kesehatan RI saat ini. Hal tersebut harus kita dukung,” sebutnya.

Ia menyebutkan bapak Menteri Kesehatan RI mendukung kerja sama dan kolaborasi yang dilakukan ini. “Kerja sama ini tidak membutuhkan waktu lama. Jika satu atau dua bulan ini sampelnya cukup, maka produk dapat dihasilkan. Apalagi kita memiliki expert Dr. dr. Andani Eka Putra, MSc yang akan mengimplementasikan pengalaman beliau dalam biomolekuler,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Sosialisasikan Penyusunan Risk Register Tahun 2025

Komite Mutu RSUP Dr. M. Djamil menyosialisasikan penyusunan risk register 2025 mengacu pada KMK No: HK.01.07/MENKES/1354/2024 di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Rabu (15/1). Penyusunan risk register ini dilakukan dengan mengidentifikasi risiko yang mungkin terjadi, menilai, menentukan pemilik, merumuskan strategi mitigasi, dan memantau serta mengevaluasinya.

“Kegiatan ini sangat penting dalam menjaga layanan di rumah sakit. Tentunya kalau kita berbicara risiko adalah suatu peristiwa yang akan berdampak teradap jalannya suatu organisasi. Risiko itu bisa kita nilai, kita lakukan identifikasi risiko dan analisa risiko. Nanti kita bisa melihat apa-apa saja kategori-kategori dan skornya,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua saat memberikan sambutan.

Turut dihadiri Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Manajer dan Asisten Manajer, Kepala Instalasi, Ketua Komite, dan manajemen RSUP Dr. M. Djamil.

Maka, tegas Dovy, peran unit sangat penting. Jadi masing-masing unit yang melaksanakan kegiatan bisa melihat apa-apa saja risiko, apa saja area-areanya, dan apa saja penyebabnya. “Nantinya bisa mengidentifikasi risiko-risiko ini apakah sering, apakah nanti bisa dikontrol atau tidak,” sebutnya.

Ia mengatakan semua ini tentu akan menjadikan satu kesatuan bahwa risiko itu harus dikelola. “Kemudian bagaimana kita bisa melihat risiko-risiko ini bisa kita lakukan sesuai dengan kategori-kategori. Maka keluarlah tabel risiko sehingga kita bisa memenejnya dengan baik,” harap dokter spesialis Fetomaternal ini.

Tentu saja, sebut Dovy, risiko itu berupa risiko klinis dan risiko non-klinis, termasuk risiko keuangan. “Ini akan menjadi suatu hal yang penting dan duduk bersama untuk memfinalkan risiko-risiko di unit. Nanti Komite Mutu akan mengawal ini,” ucapnya.

Ia berharap risk register ini bisa dioptimalkan dan dijalankan sesuai dengan potensi risiko yang telah disusun. “Oleh karena itu apa yang telah kita capai kita pertahankan, apa yang harus diperbaiki kota perbaiki dan yang belum sempurna disempurnakan. Kita bisa berjalan kalau organisasi ini kuat. Kalau organisasi ini bisa mengantisipasi risiko-risiko yang timbul tapi kita sudah bisa mengategorikannya. Dan bisa mengantisipasi dengan hal-hal yang harus kita jalankan,” harapnya.

Ketua Komite Mutu dr. Sucitra Melani, MKM mengatakan jenis risiko yang harus ada di unit kerja yakni risiko berdasar Rencana Strategi Bisnis (RSB) Tahun 2025 berkaitan dengan unit kerja, risiko fraud dan risiko operasional merupakan risiko berkaitan dengan pelaksanaan operasional organisasi termasuk risiko SPBE (Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik).

“Proses penilaian risiko ini satu kali dalam setahun, atau setiap kali terdapat perubahan kebijakan/perencanaan. Dimana pemantauannya dilakukan setiap awal bulan dan dilaporkan ke direktur terkait dengan tembusan Manajer Perencanaan dan Evaluasi Program, SPI dan Komite Mutu,” tukasnya. (*)

Mengenal Lebih Dekat Clinical Research Unit RSUP Dr. M. Djamil

RSUP Dr. M. Djamil telah memiliki Clinical Unit Research (CRU) sejak dua tahun lalu. CRU adalah wadah dimana inovasi bertemu dengan dedikasi yang menghasilkan penelitian berkualitas yang berdampak langsung pada peningkatan kesehatan masyarakat.

“CRU ini sebuah fasilitas yang menjadi wujud nyata komitmen kami untuk memajukan ilmu pengetahuan dan pelayanan kesehatan,” kata Ketua Clinical Research Unit RSUP Dr. M. Djamil dr. Zulda Musyarifah, Sp.PA.

Ia mengatakan di CRU ini, tidak hanya fokus pada penelitian akademik saja. Akan tetapi juga pada solusi nyata bagi tantangan medis. “Dengan fasilitas modern dan tim multidisiplin yang berpengalaman, kami mendukung penelitian penelitian berbagai bidang. Mulai dari uji klinis untuk terapi baru, pengembangan obat hingga implementasi teknologi kesehatan,” sebut dr. Zulda yang juga Manajer Penelitian dan Pengembangan ini.

Ia menekankan kolaborasi adalah kunci keberhasilan. Oleh karena itu, CRU RSUP Dr. M. Djamil membuka pintu untuk peneliti, akademik serta mitra industri baik tingkat nasional maupun global. Pihaknya ingin menciptakan perubahan nyata melalui ilmu pengetahuan dan inovasi.

“Kami menargetkan ke depan menjadikan CRU RSUP Dr. M. Djamil sebagai pusat penelitian klinis unggulan di Indonesia yang tidak hanya menciptakan prestasi. Akan tetapi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kami mengundang semua pihak untuk bergabung dan menjadi bagian dari perjalanan ini. Bersama CRU RSUP Dr. M. Djamil, mari kita melangkah menuju masa depan kesehatan yang lebih baik,” tekadnya.

Sementara itu, Peneliti Utama yang juga dokter spesialis anak RSUP Dr. M. Djamil dr. Asrawati, Sp.A (K), M.Biomed mengatakan turut bangga berpartisipasi dalam dua penelitian besar di Clinical Research Unit (CRU) RSUP Dr. M. Djamil. Sebagai PI di dalam penelitian uji klinis vaksin Covid-19 dan sebagai PI dalam uji klinis vaksin HPV (Human Papillomavirus).

“Dalam uji klinis vaksin, kami berpedoman kepada The Council for International Organizations of Medical Sciences (CIOMS). Dengan mendapatkan dukungan penuh dari manajemen RSUP Dr. M. Djamil, tim multidisiplin, tim laboratorium, pengelolaan data profesional. Kemudian Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand serta pengawasan dari Komite Etik RSUP Dr. M. Djamil,” ucapnya.

Ia menekankan uji klinis vaksin Covid-19 maupun uji klinis vaksin HPV sangat berdampak kepada masyarakat. Dimana vaksin diberikan untuk mencegah penyakit kanker dengan pemberian vaksin HPV. Dan untuk penyakit infeksi saluran napas disebabkan oleh coronavirus bisa dicegah dengan pemberian vaksin Covid-19.

“Kedua vaksin ini di masyarakat akan mempengaruhi status kesehatan, mencegah penyakit, mencegah penularan, dan meningkatkan ketahanan kesehatan masyarakat,” tukas dr. Asrawati.(*)

Mengenal Peritoneal Dialysis, Metode Cuci Darah lewat Perut

Berdasar data riset kesehatan dasar bahwa penderita ginjal kronik setiap tahun meningkat. Dan apabila penyakit ginjal kronik itu sudah sampai pada stadium akhir maka dia memerlukan terapi pengganti ginjal.

Selama ini kita tahu bahwa terapi ginjal yang sangat dikenal adalah hemodialisis atau yang biasa kita kenal dengan cuci darah. Sebenarnya ada satu lagi di samping transplantasi ginjal, itu ada namanya peritoneal dialysis. Bisa dikatakan sebagai cuci air atau cuci perut.

“Jadi tindakan ini sebenarnya lebih sederhana dibanding dengan hemodialisis atau cuci darah. Kita bisa lihat di sini jika pasien menginginkan tindakan peritoneal dialysis, nanti dokter bedah akan memasang alat di dalam rongga perutnya. Kemudian kita akan memasukkan cairan ke dalam rongga perut dan dibiarkan selama lebih kurang delapan jam,” kata dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi dr. Drajad Priyono, SpPD-KGH, FINASIM di Instalasi Diagnostik Terpadu RSUP Dr. M. Djamil, belum lama ini.

Dan ini akan sangat nyaman karena berbeda dengan hemodialisis atau cuci darah. “Itu pasien akan ditusuk setiap homedialisis, ditusuk dua kali dengan dua jarum. Ini tentunya akan menyakitkan. Dan biasanya darahnya akan ditarik keluar menuju mesin dialisis sehingga sering terjadi tekanan darah turun, pasien menjadi shock, dan juga akan menimbulkan masalah di akses atau pembuluh darah yang kita gunakan sebagai alat untuk menarik darah dari dalam tubuh kita,” ungkapnya.

Dengan CAPD atau peritoneal dialysis ini, tegas dr. Drajad, sebenarnya lebih diutamakan bagi anak-anak, pasien gangguan jantung dan pasien-pasien yang aksesnya pembuluh darahnya tidak bagus. “Dan hasilnya memang kalau kita lihat dibanding hemodialisa hampir sama. Bahkan pasien-pasien kita menjalani CAPD atau peritoneal dialysis itu merasa nyaman. Karena memang minumnya agak lebih bebas, makannya lebih bebas dan pasien-pasien yang menjalani peritoneal dialysis ini jarang yang mengalami anemia atau kurang darah. Oleh karena memang dalam proses peritoneal dialysis atau cuci air itu, darahnya tidak ada yang keluar. Kita hanya memasukkan cairan dalam perut kemudian cairan itulah yang akan menyerap racun-racunnya. Setelah delapan jam kita buang dan kita ganti dengan cairan yang baru. Itu bisa berlangsung tiga atau empat kali sehari,” paparnya.

Ia menegaskan cuci air ini berbeda dengan hemodialisis ini. Kalau hemodialisis, pasien datang ke rumah sakit dua kali seminggu. Sedangkan CAPD atau peritoneal dialysis pasien hanya datang mengambil cairan satu kali satu bulan. Bahkan sekarang sedang diupayakan cairan itu bisa diantarkan ke rumah pasien. Jadi ini sangat memudahkan pasien untuk menjalani peritoneal dialysis.

“Dan bagi pasien yang jauh dari rumah sakit dan tidak memiliki unit layanan hemodialisis bisa memilih peritoneal dialysis sebagai alternatif terapi pengganti ginjal,” sarannya.

Dengan mengenalkan terapi ginjal, sebut dr. Drajad, salah satunya peritoneal dialysis bisa menjadi alternatif bagi pasien yang menderita penyakit ginjal kronik stadium akhir. “Jadi percayalah dokter bedah urologi yang memasang alat ini ke dalam rongga perut sudah ahli dan tidak perlu dikhawatirkan. Dan pemasangannya pun tidak menimbulkan rasa sakit dan lebih nyaman,” tuturnya.

Nanti setelah dua minggu, ucap dr. Drajad, alatnya bisa dipakai dan sudah bisa digunakan. Sehingga pasien bisa kembali ke daerah dan melanjutkan cuci airnya di tempat masing-masing. Dan tidak perlu lagi datang ke rumah sakit dua kali seminggu. “Inilah keunggulan peritoneal dialysis dibanding hemodialisis,” tukasnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil, RSAB Harapan Kita dan PDRPI FK Unand Sepakat Kembangkan Panel Respiratori Virus

RSUP Dr. M. Djamil bersama RS Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita Jakarta dan Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi (PDRPI) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas mengadakan rapat membahas pengembangan panel respiratori virus secara virtual, Senin (13/1). Pada rapat tersebut menyepakati  kerja sama antara dua rumah sakit tersebut dengan PDRPI Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dalam pengembangan panel respiratori virus ini.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada RSAB Harapan Kita Jakarta beserta tim dan PDRPI Fakultas Kedokteran Unand sehingga kita bisa melakukan penjajakan kerja sama ini. Dan kita patut bangga bisa menindaklanjuti instruksi Bapak Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua saat rapat.

Rapat tersebut dipimpin Direktur Medik dan Keperawatan RSAB Harapan Kita Jakarta dr. Endah Citraresmi, Sp.A (K), MARS secara vritual. Sedangkan di RSUP Dr. M. Djamil, rapat tersebut dilangsungkan di Ruang Rapat Direksi.

Turut dihadiri Direktur Layanan Operasional RSUP Dr. M. Djamil drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Kino, SpJP (K), Manajer Penelitian dan Pengembangan dr. Zulda Musyarifah, Sp.PA serta Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc.

Ia mengatakan tentu kita harus menghilangkan image negatif dulu padahal kita mampu sebenarnya. Dan itu, sudah dibuktikan kiprahnya oleh Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc sebagai Tenaga Ahli Menteri Kesehatan RI selama Covid-19 dan Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand.

“Saya melihat beliau bersama tim Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi cukup kuat. Ini bisa kita manfaatkan bersama dalam bentuk kerja sama pengembangan lainnya,” ungkap Dovy.

Ia berharap melalui rapat ini menjadi momentum untuk berkolaborasi ke depannya dalam hal yang bisa dilakukan bersama antara dua rumah sakit ini. “Kami siap untuk mendukung program ini. Dan kami memang melalui tim Clinical Research Unit (CRU) telah menyiapkan segala sesuatunya. Sehingga kolaborasi ini memperkuat kita dan akan memperlihatkan bahwa kita semangat untuk  kekuatan anak bangsa ini. Dan saya kira semua bisa berkolaborasi dengan semua rumah sakit vertikal yang ada di Indonesia,” harap Dovy.

Direktur Medik dan Keperawatan RSAB Harapan Kita Jakarta dr. Endah Citraresmi, Sp.A (K) mengatakan banyak sekali infeksi ISPA yang kemudian pihaknya tidak bisa membedakan ini virus atau bakteri. Akhirnya dapat antibiotik. “Jadi resistensi dan kemudian menjadi hal konsekuensi yang pasti akan terjadi selanjutnya dengan kita tidak bisa menggunakan antibiotik dengan baik,” ucapnya.

Oleh karena itu, tekannya, kerja sama antara RSAB Harapan Kita, RSUP Dr. M. Djamil dan Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand ini dapat melakukan pengembangan panel respiratori virus ini. “Saya meminta tim penelitian RSAB Harapan Kita untuk segera berkolaborasi dengan tim penelitian RSUP Dr. M. Djamil. Sehingga kolaborasi dan kerja sama ini dapat segera diwujudkan,” harapnya.

Sementara itu Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc mengatakan pihaknya dari Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand telah merancang kitnya lengkap dengan kontra positif. Yang kita rancang itu adalah rhinovirus, respiratory syncytial virus, influenza A, dan Covid-19.

“Dan Covid tidak terlalu tren sekarang. Kita akan geser dan ganti dengan HMPV ini. Untuk jangka pendek saya merancang untuk HMPV yakni RSV, Influenza, mungkin satu lagi apakah rhinovirus atau Covid terserah,” sebutnya.

Ia menekankan produknya sudah ada, reagennya sudah ada, dan kitnya sudah ada tapi belum pernah diuji. Kerja sama ini bagaimana kita mengembangkan bersama-sama. Karena dua-duanya dalam proses pengembangan.

“Jadi yang kita rancang, rumah sakit menyediakan spesimen itu adalah bagian dari kerja sama. Kita anggap nanti punya bersama. Dan berharap dengan cara seperti ini kita akan lebih cepat. Untuk RSUP Dr. M. Djamil sudah bisa dari mulai sekarang untuk menyediakan spesimen anak dan spesimen orang tua,” tukasnya. (*)

Wirid Mingguan RSUP Dr. M. Djamil, Persiapkan Diri Sambut Ramadan

Tinggal menghitung hari untuk seluruh umat muslim memasuki bulan Ramadan 1445 H. Selain menyambut dengan gembira tentu sebagai umat muslim harus mempersiapkan segalanya dengan baik dan matang agar puasa tahun ini lebih baik dari puasa tahun-tahun sebelumnya.

“Sebelum datangnya bulan yang penuh berkah ini, hendaknya setiap umat muslim memiliki persiapan. Sehingga ibadah dalam bulan Ramadan berjalan dengan baik,” kata Ustad Zul Akmal, Lc. MA saat Wirid Mingguan di Masjid Asy Syifa, Jumat (10/1).

Turut dihadiri Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, manajemen, pengurus DWP RSUP Dr. M. Djamil, dan civitas hospitalia.

Ia mengatakan beberapa hal yang bisa disiapkan sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Pertama, persiapan ilmu. Agar aktivitas di bulan Ramadan bisa optimal  dijalankan maka harus memiliki wawasan dan pemahaman yang benar tentang bulan Ramadan. “Caranya ialah banyak membaca berbagai bahan rujukan yang membahas tentang Ramadan,” tuturnya.

Kedua, taubat. Taubat harus diupayakan sebelum memasuki bulan suci Ramadan, agar saat memasuki bulan mulia itu dosa telah diampunkan. Mengapa demikian, sebab dosa adalah penghalang untuk mendapatkan kebaikan yang lebih besar lagi.

“Tidaklah kita terhalang untuk melakukan ketaatan-ketaatan yang biasa kita lakukan dengan tekun sepanjang siang dan malam, melainkan karena efek dari kemaksiatan yang kita lakukan,” ucap Zul Akmal.

Ketiga, niat. Dengan harapan agar bulan Ramadan kali ini dipenuhi dengan hal-hal baik. Selain itu, juga doa agar pada bulan ini, senantiasa dijadikan sebagai orang yang istiqomah dalam melakukan hal-hal baik. “Pasalnya, ibadah dan amalan pada bulan ini akan dilipatgandakan dari bulan selain Ramadan,” tuturnya.

Keempat, rasa syukur. Rasa syukur karena pada tahun ini masih diberi kesempatan untuk berjumpa dengan bulan Ramadan. “Hal ini merupakan tanda bahwa Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk senantiasa memperbanyak amal ibadah dan mengurangi perbuatan maksiat,” ungkapnya.

Sementara, Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) mengatakan wirid mingguan ini menjadi tempat silaturahmi bersama civitas hospitalia. “Melalui wirid mingguan ini kita dapat memperoleh pengetahuan sehingga bisa mengisi atau me-recharge pikiran kita kembali sehingga dapat kita terapkan dalam kehidupan,” harapnya.(*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45