Yudisium PPDS FK Unand, Dirut: Berikan yang Terbaik untuk Pasien dan Masyarakat 

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menghadiri sekaligus memberikan sambutan pada Yudisium Program Pendidikan Dokter Spesialis Periode 1 Tahun 2025 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Rabu (4/2). Dalam yudisium tersebut, Fakultas Kedokteran Unand menelurkan 27 dokter spesialis baru dari tujuh program studi.

“Atas nama seluruh jajaran manajemen RSUP Dr. M. Djamil mengucapkan selamat dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para peserta yudisium dokter spesialis. Hari ini adalah pencapaian luar biasa bagi Anda semua setelah melalui perjuangan yang panjang dan penuh tantangan,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil ini di Aula Student Center Prof. dr. M. Syaaf.

Sebagai dokter spesialis yang baru saja diwisuda, tuturnya, peserta yudisium bukan hanya telah menempuh pendidikan medis yang memadai. Akan tetapi juga telah menunjukkan komitmen yang tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik medis.

“Pendidikan dokter spesialis merupakan langkah penting dalam membekali diri dengan keahlian dan keterampilan di bidang masing-masing. Dengan itu, para peserta yudisium semua kini memiliki tanggung jawab yang besar untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu, serta terus berupaya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pengembangan diri dan profesi,” tuturnya.

Di RSUP Dr. M. Djamil, Ia menegaskan selalu berkomitmen untuk mendukung pendidikan dan pelatihan bagi para tenaga medis, baik dalam hal klinis maupun penelitian. “Kami percaya bahwa kemitraan antara rumah sakit dan universitas, seperti yang terjalin dengan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, akan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan dunia medis di Indonesia,” ucap Dovy.

Sebagai institusi pendidikan dan pelayanan kesehatan, tuturnya, pihaknya akan terus bekerja sama untuk menghasilkan dokter-dokter spesialis yang tidak hanya cakap secara teknis. Tetapi juga memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi, serta berintegritas dalam menjalankan profesinya,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perjalanan sebagai dokter spesialis tidak berakhir di sini. Ini adalah awal dari babak baru dalam kehidupan profesional dan akan dihadapkan pada tantangan baru, baik itu dalam dunia praktik medis maupun dalam penelitian ilmiah yang terus berkembang. “Oleh karena itu, tetaplah belajar, terus tingkatkan keterampilan, dan jangan pernah berhenti untuk memberikan yang terbaik bagi pasien dan masyarakat,” pinta Dovy.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Unand Prof. Dr. dr. Afriwardi, S.H,. M.A., Sp.K.O. Subsp. APK (K) mengucapkan selamat kepada spesialis baru, harapannya jadilah dokter spesialis yang menjaga nilai etik dimanapun berada. Perlakukan setiap pasien dengan baik tanpa membeda-bedakan status sosialnya. “Ingat selalu terhadap guru-guru yang telah berjasa agar keberkahan hidup selalu hadir disetiap langkah kehidupan,” tukasnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Terima Kunjungan Visitasi Tim Fleming Fund Country Grants

RSUP Dr. M. Djamil menerima visitasi Tim Kementerian Kesehatan dan Fleming Fund Country Grants di Ruang Rapat Direksi, Rabu (5/2). Kunjungan tim ini dalam rangka mengevaluasi interaksi klinisi dan laboratorium dalam mengendalikan resistensi antimikroba dengan perangkat facility planning tool.

Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) menerima tim visitasi yang dipimpin dr. Amy Rahmadanti, FISQua, MSc.PH mewakili Direktorat Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan. Turut mendampingi Tim Fleming Fund Country Grants Desrina Sitompul dan Helmi M Aziz dan dihadiri manajer, asisten manajer, ketua komite dan kepala instalasi.

“Atas nama manajemen RSUP Dr. M. Djamil mengucapkan terima kasih atas visitasi ini. Kami sangat mengharapkan bantuan, perbaikan maupun pendampingan dalam hal mencapai sistem pengelolaan resistensi antimikroba di RSUP Dr. M. Djamil,” kata Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K).

Ia menekankan ini masalah utama bukan hanya di sini saja akan tetapi di dunia. Dimana mulai dari pencatatan, pelaporan sampai kepada utilisasi bermasalah dalam resistensi antimikroba ini. “Jadi, besar harapan kami, kegiatan hari ini membawa keberkahan dan kebaikan baik untuk kita seluruhnya maupun nanti untuk user-user atau pasien kita di rumah sakit ini,” harap Dr. dr. Bestari.

Mewakili Direktorat Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan dr. Amy Rahmadanti, FISQua, MSc.PH mengatakan kedatangan tim ini untuk mengevaluasi interaksi antara klinisi dengan laboratorium guna mengendalikan resistensi antimikroba. “Dengan harapan dari sini kita lihat bagaimana statusnya saat ini. Ke depan nanti bisa kita perkuat interaksinya sehingga apa yang dihasilkan dari laboratorium bisa dimanfaatkan dengan optimal oleh klinisi. Sehingga menghasilkan layanan kesehatan yang efisien dan efektif dengan patient safety tentunya,” tuturnya.

Ia juga mengatakan amanah yang diterima Kementerian Kesehatan terkait resistensi antimikroba adalah pihaknya memiliki satu indikator terkait dengan antimikroba resisten. Yakni persentase rumah sakit yang patuh menggunakan antibiotiknya sesuai dengan antibiogram dan atau PPK.

“Jadi ke depan kita akan menilai berapa kepatuhan rumah sakit-rumah sakit pemerintah terutamanya dalam menggunakan antibiogram pada saat memutuskan pemberian antibiotik. Ini sangat sejalan dengan tugas atau amanat yang diterima oleh Kementerian Kesehatan untuk dikerjakan lima tahun ke depan,” sebutnya.

Ia menekankan RSUP Dr. M. Djamil dengan dukungan Fleming Fund, kita bisa membentuk sistem yang baik. Dan itu bisa dapat ditiru dan direplikasi ke rumah sakit-rumah sakit pemerintah yang ada di Sumbar.

“Nanti dalam lima tahun ke depan kita bisa mendorong pencapaian indikator RPJMN kita yaitu untuk kedekatan kepatuhan rumah sakit  dalam pemberian antibiotik sesuai dengan antibiogram,” ucapnya.

Tim Fleming Fund Country Grants Desrina Sitompul menjelaskan perangkat facility planning tool ini sebuah perangkat perencanaan interaksi klinis guna mengendalikan resistensi antimikroba (AMR). Perangkat tersebut disusun oleh DAI bekerja sama dengan Fleming Fund.

“Strategi ini disusun untuk membantu rumah sakit memilih kegiatan yang tepat dan relevan untuk melibatkan berbagai kelompok profesional di dalam strukturnya Fleming Fund seperti surveilans AMR, dalam rangka memperkuat kegiatan pengendalian AMR,” ucapnya.

Ia menyebutkan bidang fokus untuk interaksi klinis tersebut adalah diagnostik mikrobiologi, penggunaan antibiotik untuk pengobatan dan pencegahan serta pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI). “Tujuan keseluruhan perangkat ini adalah untuk membantu menyusun sasaran dan rencana interaksi klinis yang spesifik untuk rumah sakit dan membawa dampak besar,” ucap Desrina.

Untuk itu, katanya, perangkat ini mengumpulkan informasi terkait kapasitas yang ada kini serta tindakan-tindakan terkait AMR yang dapat digunakan sebagai peluang dan bidang penguatan. Perangkat ini juga berupaya memahami sumber daya serta waktu yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan potensial.

“Dengan demikian, informasi yang dikumpulkan di sini akan membantu penyusunan rencana aksi dan strategi spesifik yang relevan bagi rumah sakit baik jangka pendek maupun jangka menengah,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Kelola Limbah Medis melalui Aplikasi ME-SMILE

Pengelolaan limbah medis di RSUP Dr. M. Djamil bakal kian dipermudah dengan dukungan sistem aplikasi digital berbasis Internet of Things. Bernama ME-SMILE, aplikasi ini adalah proyek percontohan antara Kementerian Kesehatan dengan United Nations Development Programme (UNDP).

“RSUP Dr. M. Djamil mengucapkan terima kasih kepada UNDP dan Kementerian Kesehatan yang sudah memberikan bantuan melalui Kemenkes dalam penerapan aplikasi ME-SMILE,” kata Direktur Layanan Operasional RSUP Dr. M. Djamil drg. Ade Palupi Muchtar, MARS saat Pertemuan dengan tim UNDP di Ruang Kerja Direktur Layanan Operasional, Selasa (4/2).

Turut dihadiri manajer, asisten manajer dan kepala instalasi RSUP Dr. M. Djamil. Sementara dari tim UNDP yakni Infrastructure Specialist SMILE Agustian Proklamirsyah, Idris Syahfitrah dan Chiara Aurelia. Kemudian Sanitarian Pertama Dinas Kesehatan Sumbar Muhammad Iqbal Rahmansyah, SKL.

Ia menjelaskan paket bantuan itu telah diterima RSUP Dr. M. Djamil pada 2 Januari 2025. “Rangkaian berikutnya adalah hari ini kita mendapatkan sosialisasi, pemasangan instalasi dan timbangan digital,” tutur drg. Ade.

Ia mengatakan menjadi satu kebanggaan bagi RSUP Dr. M. Djamil bisa menerapkan ME-SMILE ini.  Dan dengan penerapannya mempermudah RSUP Dr. M. Djamil dalam pengelolaan limbah medis.

“Kehadiran aplikasi ini tentunya akan membantu RSUP Dr. M. Djamil dalam efisiensi standar pengelolaan limbah medis. Bahkan melindungi lingkungan serta kesehatan masyarakat,” ucapnya.

Infrastructure Specialist SMILE Agustian Proklamirsyah mengatakan aplikasi ME-SMILE adalah platform digital yang dirancang untuk memantau dan mengelola limbah medis di rumah sakit. Aplikasi ini memungkinkan rumah sakit untuk melacak, memantau, dan mengelola limbah medis secara real-time, sehingga meningkatkan efisiensi dan keamanan pengelolaan limbah medis.

“Pengelolaan dan pemantauan limbah medis secara real-time berbasis teknologi situs web dan aplikasi seluler yang terintegrasi dengan Timbangan Digital IOT (Internet of Things) dan Pemindai Label QR yang efisien dan mudah digunakan untuk pelabelan, penimbangan, pencatatan, dan pelaporan data limbah medis yang akuntabel dan real-time,” sebutnya.

Ia memaparkan petugas akan mencetak kode batang dan menempelkannya pada plastik berisi sampah medis. Data dan bobot sampah itu akan terinput ke aplikasi sebelum diangkut ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) khusus limbah B3 untuk dipilah dan didaur ulang.

“Seluruh data akan terkoneksi langsung dengan Sistem Pelaporan Elektronik Lingkungan Hidup (SIMPEL) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sekaligus terkoneksi ke Pusdatin Kementerian Kesehatan,” tukasnya.(*)

Penyerahan SK Ketua KSM, Dirut: Berikan Layanan Terbaik, Terukur dan Terstandar

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menyerahkan Surat Keputusan (SK) Ketua Kelompok Staf Medis (KSM) Penyakit Dalam dan Ketua KSM Ortopaedi dan Traumatologi baru, Selasa (4/2). Pengangkatan Ketua KSM itu merupakan salah satu upaya penataan organisasi dan regenerasi.

Diketahui, Ketua KSM Penyakit Penyakit Dalam yang baru dr. Fauzar, Sp.PD-KP, FINASIM. Ia menggantikan Ketua KSM sebelumnya Dr. dr. Revainal, Sp.PD-KAI, FINASIM. Sedangkan Ketua KSM Ortopaedi dan Traumatologi baru dr. Hendra Maska, Sp.OT, Subsp. TLBM (K). Menggantikan Ketua KSM sebelumnya Dr. dr. Rizki Rahmadian, Sp.OT, Subsp.P.L (K), MKes.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Dr. dr. Revainal, Sp.PD-KAI, FINASIM dan Dr. dr. Rizki Rahmadian, Sp.OT, Subsp.P.L (K), MKes yang sudah memimpin KSM Penyakit Dalam dan KSM Ortopaedi Traumatologi. Tentunya sudah banyak hal-hal yang sudah kita lakukan. Terkait dengan layanan maupun pendidikan di RSUP Dr. M. Djamil,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua di Ruang Rapat Direksi.

Turut dihadiri Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) dan Tim OSDM.

Ia mengatakan kepada Ketua KSM yang baru dr. Fauzar, Sp.PD-KP, FINASIM dan dr. Hendra Maska, Sp.OT, Subsp.TLBM (K) untuk menjalankan dan meneruskan program yang ada di KSM. “Bagi kita adalah bagaimana memberikan layanan terbaik, terukur dan terstandar sesuai dengan ekspektasi dan keinginan masyarakat,” ucapnya.

Fokus saat ini, tutur Dovy, bagaimana menyelesaikan Panduan Praktik Klinis (PPK) yang berkaitan dengan hal-hal clinical pathway atau jalur klinis. “Itu sudah berjalan,” ucapnya.

Ia berharap kepada Ketua KSM untuk fokus  memimpin staf di Penyakit Dalam dan Ortopaedi sehingga berdampak pada pelayanan yang lebih baik dan lebih paripurna. Sehingga nanti di bawah koordinator Direktorat Medik dan Pelayanan Kesehatan, semua pelayanan ini bisa berjalan dengan baik.

“Di samping itu, banyak hal-hal yang bisa kita kembangkan. Salah satunya di Ortopaedi adalah pengembangan layanan stem cell. Tentu ini menjadi harapan kita. Apalagi kita sudah melakukan benchmarking ke RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Hal ini akan berdampak kepada kemajuan-kemajuan yang kita lakukan ke depan,” ucap Dovy.

Ia juga menyampaikan rencana pemindahan poliklinik Ortopaedi dan Neurologi dari lantai 1. Nantinya poliklinik tersebut akan dimanfaatkan untuk perluasan layanan Non-JKN Klinik Istano. “Semua tim dokter bisa memberikan layanan Non-JKN termasuk ortopaedi dan penyakit dalam. Oleh karena itu kami memohon dukungannya, bersinergi dan berkolaborasi agar RSUP Dr. M. Djamil lebih baik lagi,” harapnya.

Pada Refleksi dan Konsolidasi Rumah Sakit Kementerian Kesehatan RI Tahun 2025 di Solo, sebut Dovy, RSUP Dr. M. Djamil mendapatkan empat penghargaan atas capaian kinerja Tahun 2024. Yakni Peringkat 1 Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Kategori RS dengan Tempat Tidur >200 Waktu Pelayanan Rawat Jalan Terbaik, Peringkat II Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Kategori RS Umum Waktu Pelayanan IGD Terbaik. Kemudian Peringkat III Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Penelitian Klinis Terbaik. Dan Pencapaian Pelayanan Transplantasi Ginjal Mandiri pada Program Rumah Sakit Jejaring Pengampuan Uronefrologi.

“Artinya apa hal-hal yang sudah kita lakukan selama ini berkat semua kerja sama Ketua KSM. Tentu ini menjadi kebanggaan kita bahwa kita bisa menata lebih baik lagi di dalam layanan-layanan yang diberikan selama ini,” harap Dovy. (*)

Budaya Kerja BerAKHLAK jadi Fondasi dalam Berikan Layanan yang Terbaik

Perubahan budaya kerja menjadi aspek yang tidak dapat diabaikan. Hal ini seiring dengan transformasi sistem kesehatan yang telah dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan. Transformasi ini demi menciptakan kualitas insan Kementerian Kesehatan yang hebat sehingga tujuan dan cita-cita bangsa dapat terwujud.

“Budaya kerja yang kuat dan selaras dengan nilai-nilai BerAKHLAK (Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif) akan menjadi fondasi dalam memberikan pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat,” kata Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr.  Kino, Sp.JP (K) saat Workshop Transformasi Budaya Kerja Kementerian Kesehatan di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Selasa (4/2).

Workshop yang diadakan secara hybrid itu menghadirkan narasumber Analis Kebijakan Ahli Muda Pusat Pengembangan Kompetensi ASN Kementerian Kesehatan Ahmad Muhidin dan narasumber April Yanto. Turut hadir Manajer Diklat Ns. Venny Dwita Zola Anwar, S.Kep, manajemen rumah sakit dan peserta workshop.

Ia mengatakan pihaknya ingin memastikan bahwa nilai-nilai BerAKHLAK tidak hanya menjadi slogan. Akan tetapi benar-benar menjadi bagian dari cara kita bekerja dan melayani pasien.  “Kita juga akan memperkuat kepemimpinan transformasional, melatih para change agent sebagai agen perubahan budaya, serta mengembangkan sistem evaluasi dan pengukuran keberhasilan implementasi budaya kerja ini,” paparnya.

dr. Kino menekankan workshop ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya transformasi budaya kerja di RSUP Dr. M. Djamil. Dan dapat menjadi momentum untuk membangun komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan kerja yang profesional, inovatif, dan berorientasi pada pelayanan berkualitas.

“Dengan kesadaran, konsistensi, dan kolaborasi yang baik, kita dapat mewujudkan RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit yang unggul dalam pelayanan kesehatan serta menjadi contoh dalam implementasi budaya kerja BerAKHLAK,” harap dr. Kino.

Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi ASN Kementerian Kesehatan Dwi Meilani, SKM, MKM secara virtual mengatakan budaya kerja ini bukan slogan saja. Akan tetapi bagaimana mengimplementasikan budaya kerja tersebut agar dirasakan hasilnya. Tidak hanya oleh organisasi tetapi juga oleh semua pegawai yang ada di organisasi tersebut.

“Dengan budaya kerja ini akan memberikan dampak positif pada peningkatan kompetensi dalam melakukan kinerja. Kita berharap ada work life balance atau bisa mengatur dan membagi waktu dengan seimbang di dalam kehidupan semua,” harapnya.

Sebagaimana diketahui, sebut Dwi Meliani, Kementerian Kesehatan telah menetapkan tiga tema budaya kerja yang diharapkan dapat tumbuh dan berkembang. Ketiga tema tersebut yakni eksekusi efektif, cara kerja baru dan pelayanan yang unggul. “Dan berharap RSUP Dr. M. Djamil bisa menjadi percontohan best practice akan penerapan budaya kerja ini. Sehingga pengalaman dari rumah sakit ini dapat dishare ke UPT Kementerian Kesehatan lainnya,” tukas Dwi. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Dipercaya Wakil Gubernur Sumbar untuk Medical Check Up

RSUP Dr. M. Djamil kembali menegaskan komitmennya dalam memberikan pelayanan kesehatan berkualitas. Ini melalui pemeriksaan medical check up (MCU) dijalani Wakil Gubernur Sumbar Audy Joinaldy yang dipusatkan di Klinik Istano Pagaruyuang, Senin (3/2).

Proses MCU yang dilaksanakan Wagub Sumbar ini melibatkan tim medis dan fasilitas kesehatan yang lengkap. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi tes urine, tes audiometri di Poliklinik THT, pemeriksaan mata dan tes buta warna di Poliklinik Eksekutif, pengukuran tensi, jantung dan lainnya di Klinik Istano Pagaruyuang.

Selama pemeriksaan MCU, Wagub Sumbar didampingi Direktur Layanan Operasional RSUP Dr. M. Djamil drg. Ade Palupi Muchtar, MARS serta jajaran manajemen.

Direktur Layanan Operasional RSUP Dr. M. Djamil drg. Ade Palupi Muchtar, MARS mengucapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas kepercayaan yang diberikan oleh Wakil Gubernur Sumbar Audy Joinaldy. “Kepercayaan ini adalah bukti bahwa layanan kesehatan kami terus menjadi pilihan utama bagi masyarakat,” tuturnya.

Bagi masyarakat yang ingin menjaga kesehatan dengan pemeriksaan menyeluruh, sebutnya, RSUP Dr. M. Djamil melalui Klinik Istano Pagaruyuang juga menyediakan paket medical check up yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan Anda. “Kesehatan Anda adalah prioritas kami, dan kami siap menjadi mitra kesehatan Anda di setiap langkah kehidupan,” tegas drg. Ade.

Sementara Wakil Gubernur Sumbar Audy Joinaldy mengatakan Alhamdulillah dirinya sudah menjalani berbagai pemeriksaan kesehatan. Dimulai dari pemeriksaan urine, tes audiometri, pemeriksaan mata dan tes buta warna, jantung dan lainnya. “Pemeriksaan kesehatan ini dilakukan oleh dokter yang profesional di RSUP Dr. M. Djamil. Pemeriksaan yang dilakukan pun baik dan akurat,” tuturnya.

Ia menegaskan keep up the good work untuk RSUP Dr. M. Djamil. “Layani masyarakat Sumatera Barat khususnya Sumatera Bagian Tengah umumnya dengan baik. RSUP Dr. M. Djamil akan lebih maju dan selalu dihati. Sukses terus untuk RSUP Dr. M. Djamil,” tukas Audy. (*)

RSUP Dr M Djamil Toreh Empat Penghargaan atas Capaian Kinerja 2024

RSUP Dr. M. Djamil menoreh prestasi membanggakan. Rumah sakit rujukan wilayah Sumatera Bagian Tengah itu menerima empat penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI atas Capaian Kinerja Tahun 2024.

Keempat penghargaan tersebut yakni Peringkat 1 Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Kategori RS dengan Tempat Tidur >200 Waktu Pelayanan Rawat Jalan Terbaik, Peringkat II Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Kategori RS Umum Waktu Pelayanan IGD Terbaik. Kemudian Peringkat III Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Penelitian Klinis Terbaik. Dan Pencapaian Pelayanan Transplantasi Ginjal Mandiri pada Program Rumah Sakit Jejaring Pengampuan Uronefrologi.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menerima penghargaan tersebut saat Refleksi dan Konsolidasi Rumah Sakit Kementerian Kesehatan RI Tahun 2025 Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan di Hotel Alila Solo, Sabtu (1/2). Turut mendampingi Ketua Dewan Pengawas drg. Arianti Anaya, MKM, Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) dan Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS.

“Alhamdulillah, RSUP Dr. M. Djamil menerima empat penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI. Capaian kinerja dan performa terbaik tersebut merupakan hasil kinerja bersama seluruh civitas hospitalia RSUP Dr. M. Djamil,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua ketika dihubungi.

Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh civitas hospitalia RSUP Dr. M. Djamil atas kinerja dan dedikasinya. “Semoga sumbangsih yang telah kita diberikan bermanfaat dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” ucapnya.

Ia berharap semoga tahun depan akan lebih banyak lagi RSUP Dr. M. Djamil menerima penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI. Ini sekaitan dengan transformasi layanan kesehatan yang sedang berjalan saat ini di RSUP Dr. M. Djamil. “Termasuk meningkatkan pendapatan layanan non-JKN. Tentunya juga tidak meninggalkan fungsi-fungsi sosial sebagai rumah sakit pemerintah,” tutur Dovy.

Ia mengatakan RSUP Dr. M. Djamil akan terus meningkatkan performance layanan kesehatan yang lebih baik. Salah satunya dengan melakukan perbaikan hospitality serta menelurkan berbagai inovasi-inovasi kesehatan.

“Termasuk terus menerapkan budaya kerja  dengan karakter BerAKHLAK. Tentunya budaya BerAKHLAK yang akan dijalankan ini bukan hanya sekadar slogan. Akan tetapi ini adalah komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan kerja yang penuh dengan integritas, profesionalisme, dan rasa tanggung jawab. Saya percaya dengan budaya ini, kita akan semakin meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” tukas dokter spesialis Fetomaternal ini.(*)

Penyakit Kusta Bisa Disembuhkan, Kuncinya Berobat Tuntas

Seringkali penderita kusta datang ke fasilitas kesehatan sudah dalam keadaan terlambat dan dalam keadaan cacat. Padahal, penyakit kusta sebenarnya dapat disembuhkan tanpa harus disertai kecacatan. Kuncinya adalah pengobatan secara tepat dan tuntas.

“Kusta adalah penyakit yang disebabkan bakteri mycobacterium leprae yang menyerang kulit dan saraf tepi. Penderita kusta yang tidak diobati berpotensi menularkan kepada orang lain dengan kontak erat dalam kurun waktu lama,” kata dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Tutty Ariani, Sp.D.V.E, Subsp.D.T., FINSDV di Klinik Kulit dan Kelamin Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Jumat (31/1).

Diketahui, Hari Kusta Sedunia diperingati pada hari Minggu terakhir bulan Januari setiap tahunnya. Pada tahun 2025, Hari Kusta Sedunia jatuh pada tanggal 26 Januari. Tema Hari Kusta Sedunia 2025 adalah ” Bersatu. Bertindak. Berantas “.

Ia mengatakan seringkali masyarakat mengabaikan gejala awal pada kusta yakni bercak putih pada kulit mirip seperti panu. Namun yang membedakannya adalah panu biasanya disertai gatal, sedangkan pada kusta relatif tidak berasa. “Ketidakterasaan atau mati rasa pada gejala kusta inilah yang sering diabaikan oleh penderita,” ucapnya.

Kedua, sebutnya, penebalan saraf. Bisa diraba adanya pembesaran saraf dan rasa nyeri di lengan, aksila, dan di leher. “Ketiga, konfirmasi dengan pemeriksaan basil tahan asam (BTA) di laboratorium,” sebut dr. Tutty seraya mengatakan gejala lainnya berupa mimisan, hidung tersumbat, kehilangan tulang hidung, dan otot melemah.

Kusta, tuturnya, terbagi menjadi enam jenis berdasar tingkat keparahan gejalanya. Yakni lepromatous leprosy ditandai dengan lesi yang tersebar dengan simetris. Umumnya lesi yang timbul mengandung banyak bakteri dan disertai dengan rambut rontok, gangguan saraf, serta kelemahan anggota gerak.

Borderline lepromatous leprosy ditandai dengan lesi yang berjumlah banyak dengan bentuk datar atau benjolan. Kusta jenis ini juga terkadang menimbulkan mati rasa. Mid-borderline leprosy ditandai dengan lesi kemerahan yang tersebar secara acak dan asimetris, mati rasa, dan pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar kusta.

Tuberculoid leprosy ditandai dengan beberapa lesi datar yang kadang berukuran besar, mati rasa, disertai dengan pembesaran saraf. “Kemudian borderline tuberculoid leprosy ditandai ditandai dengan munculnya lesi yang berukuran lebih kecil dan lebih banyak dari tuberculoid leprosy. Dan intermediate leprosy ditandai dengan beberapa lesi datar bewarna pucat atau lebih cerah dari warna kulit sekitarnya, yang terkadang dapat sembuh dengan sendirinya,” paparnya.

dr. Tutty mengatakan salah satu alasan penderita kusta tidak berobat karena stigma di masyarakat. Akhirnya, penderita kusta akan menyembunyikan diri dan tidak keluar rumah untuk berobat. “Ini yang disayangkan. Kusta sebenarnya bisa disembuhkan jika diobati sejak dini,” sebut dr. Tutty.

Padahal, sebut dr. Tutty, pemerintah juga sudah menyediakan obat bagi para penderita secara gratis. Untuk penderita kusta kering (pausi basiler), obat harus dikonsumsi selama 6 bulan. Sedangkan kusta basah (multi basiler), pengobatan dilakukan selama 12 bulan. “Pengobatan kusta itu memang lama. Jadi jangan menyerah dan butuh pendampingan serta pengawasan dari keluarga pasien,” tuturnya.

Ia mengimbau siapapun pasien-pasien yang sedang menderita penyakit kusta atau yang pernah menderita penyakit ini jangan malu, silakan kunjungi fasiltas kesehatan untuk berobat. Karena semakin awal diketahui penyakit ini maka kesempatan untuk sembuh juga semakin tinggi, kecacatan dapat dicegah serta dapat memutus rantai penularan penyakit ini. “Stop stigma dan diskriminasi pada penderita penyakit kusta,” tukasnya.(*)

Wirid Mingguan RSUP Dr. M. Djamil, Ingatkan Persiapan Sambut Ramadan

Tak terasa dalam hitungan hari lagi, seluruh umat muslim di dunia akan memasuki salah satu bulan paling mulia yakni bulan Ramadan. Ini pertanda bahwa sebentar lagi umat muslim akan melaksanakan salah satu rukun Islam yang ketiga, yakni puasa Ramadan.

“Menyambut bulan yang istimewa dan penuh berkah, tentunya harus dengan persiapan yang matang juga agar bulan Ramadan kali ini tidak berakhir sia-sia,” kata ustad Zulkarim, Lc, MA saat Wirid Mingguan di Masjid Asy Syifa kompleks RSUP Dr. M. Djamil, Jumat (31/1).

Turut dihadiri civitas hospitalia dan pengurus Dharma Wanita Persatuan.

Ia mengatakan sebelum datangnya bulan yang penuh berkah ini, hendaknya setiap umat muslim memiliki persiapan, sehingga ibadah dalam bulan Ramadan berjalan dengan baik. Berikut beberapa hal yang bisa disiapkan sebelum memasuki bulan suci Ramadan.

Pertama, ialah rasa syukur. Rasa syukur karena pada tahun ini masih diberi kesempatan untuk berjumpa dengan bulan Ramadan. “Hal ini merupakan tanda bahwa Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk senantiasa memperbanyak amal ibadah dan mengurangi perbuatan maksiat,” ucapnya.

Kedua, niat dengan hati yang mantap. Dengan harapan agar bulan Ramadan kali ini dipenuhi dengan hal-hal baik. Selain itu, juga doa agar pada bulan ini, senantiasa dijadikan sebagai orang yang istiqomah dalam melakukan hal-hal baik karena ibadah dan amalan pada bulan ini akan dilipatgandakan dari bulan selain Ramadan.

“Ketiga, segera melunasi utang puasa yang pernah ditinggalkan karena udzur. Jangan sampai ketika memasuki bulan Ramadan, kita masih memiliki utang dengan Ramadan tahun lalu,” tutur Zulkarim.

Keempat, memperdalam ilmu agama, terutama yang berkaitan dengan puasa Ramadan. Bisa dimulai dengan mempelajari apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan selama puasa Ramadan. “Termasuk hal-hal apa saja yang membatalkan puasa, kesunahan-kesunahan selama puasa Ramadan sehingga bulan Ramadan benar-benar menjadi berkah,” paparnya.

Terpisah, Direktur Utama RSUP Dr. M Djamil Dr. dr. Dovy Djanas Sp.OG., KFM., MARS., FISQua mengatakan wirid mingguan ini menjadi tempat silaturahmi bersama civitas hospitalia. “Melalui wirid mingguan ini kita dapat memperoleh pengetahuan sehingga bisa mengisi atau me-recharge pikiran kita kembali sehingga dapat kita terapkan dalam kehidupan,” harapnya.(*)

Makanan yang Sehat dan Bergizi Bentuk Keluarga Sehat

Hari Gizi Nasional (HGN) telah diperingati setiap tanggal 25 Januari lalu. Peringatan itu sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi seimbang serta konsumsi pangan yang bergizi dalam mendukung kualitas hidup yang lebih baik.

“Tahun 2025 ini, peringatan hari Gizi Nasional mengusung tema “Pilih Makanan Bergizi untuk Keluarga Sehat”. Pilih makanan bergizi ini artinya kita harus memilih makanan yang akan kita asup harian,” kata dokter spesialis gizi klinik RSUP Dr. M. Djamil dr. Dewi Susanti Febri, Sp.GK (K), M.Biomed.

Ia mengatakan apa saja yang dipilih? Yakni komposisi dari makanan itu harus bergizi, dipenuhi makronutrien yaitu karbohidrat, protein, dan lemak serta mikronutrien seperti vitamin, mineral dan air.

“Apalagi yang perlu dipilih? Salah satunya adalah penyajian makanan. Usahakan penyajian makanan itu dihindari dengan menggunakan suhu yang terlalu tinggi atau waktu pemasakan yang lama. Dan sumber makanan itu harus yang segar dan alami,” sebut Kepala KSM Gizi Klinik ini seraya mengingatkan hindari makanan-makanan yang diawetkan dan makanan yang dikemas.

Kandungan gizi makanan yang perlu diperhatikan, sebutnya, adalah tercukupi makronutrien dan mikronutrien. Dan mungkin bagi masyarakat perlulah diberdayakan sumber bahan makanan lokal.

“Seperti kita di Kota Padang mempunyai sumber bahan makanan dari laut yang kaya akan omega 3. Omega 3 merupakan salah satu sumber yang baik sekali untuk antiinflamasi atau anti-peradangan dan itu bisa dengan makan ikan,” tegasnya.

Ia mengatakan kita di Kota Padang, ada makanan Minang, salah satunya adalah dadiah. “Makanan ini sudah teruji sebagai sumber makanan probiotik yang sangat baik untuk menjaga kesehatan saluran makan kita. Maka makanan yang sehat dan bergizi maka akan membentuk keluarga yang sehat,” tukasnya. (*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45