Koperasi Dharma Wanita RSUP Dr. M. Djamil Adakan Rapat Anggota Tahunan 

Koperasi Dharma Wanita RSUP Dr. M. Djamil mengadakan rapat anggota tahunan (RAT) yang berlangsung di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Selasa (11/2). Rapat anggota tahunan itu merupakan agenda tahunan yang rutin dilaksanakan.

Dalam sambutannya, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM MARS, FISQua mengharapkan Koperasi Dharma Wanita RSUP Dr. M. Djamil terus berkembang dan memberikan manfaat bagi anggotanya. Pasalnya, prinsip koperasi adalah gotong royong.

“Tentunya dalam hal pelaksanaan rapat anggota tahunan ini mempunyai tujuan yakni mengevaluasi kinerja dari koperasi dan juga bisa menentukan langkah-langkah strategis ke depan,” ucapnya.

Ia mengatakan dalam perkoperasian ini berdasar pada UU No 25 Tahun 1992 dan UU No 17 Tahun 2012 Tentang Perkoperasian. Dengan peraturan ini tentu harus dipatuhi oleh semua anggota. Pengurus tentu menjalankan bagaimana koperasi ini bisa membantu anggota,” tegasnya.

Di samping itu, tuturnya, RAT ini melibatkan anggota sangat penting. Karena bagaimana pun juga koperasi ini dibentuk untuk kepentingan anggota untuk anggota. “Dan pengurus akan menjalankan koperasi,” ucap Dovy.

Ketua Pembina Koperasi Dharma Wanita Ny Winanda Dovy mengatakan koperasi ini sudah berdiri sejak 23 tahun lalu dengan berbagai suka dan duka. Alhamdulillah koperasi ini berjalan baik dan lancar. “Mudah-mudahan anggota koperasi yang masih aktif dapat merasakan manfaat dari koperasi kita ini,” harap Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) RSUP Dr. M. Djamil ini.

Sementara itu, Ketua Koperasi Dharma Wanita RSUP Dr. M. Djamil Ny Sofia Syaiful Saanin melaporkan jumlah anggota koperasi hingga tahun 2024 terdata sebanyak 408 anggota. Dimana awal tahun tercatat sebanyak 368 anggota, yang masuk 60 anggota dan keluar 20 anggota.

“Jumlah pendapatan operasional koperasi pada tahun 2024 mencapai Rp 595,536 juta. Meningkat dibanding tahun 2023 Rp 590,009 juta. Sementara beban atau biaya operasional pada tahun 2024 Rp 343,962 juta. Dibanding tahun 2023 Rp 348,201 juta. Maka Sisa Hasil Usaha (SHU) Tahun 2024 mencapai Rp 251,574 juta dibanding tahun 2023 Rp 241,808 juta,” paparnya.(*)

Hadiri Pelantikan dan Sertijab Dekan FK Unand, Dirut Berharap Sinergi dan Kolaborasi semakin Diperkuat

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua bersama Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL, (K) menghadiri pelantikan Dekan Fakultas Kedokteran dan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Unand) Periode 2025-2030. Masing-masing dekan dilantik yakni Dekan Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp Onk (K), FACS, FFSTED dan Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Indra Dwipa, M.S.  

Kedua dekan tersebut disumpah dan dilantik oleh Rektor Universitas Andalas Efa Yonnedi, Ph.D. Prosesi pelantikan dilangsungkan di Convention Hall Unand, Selasa (11/2).

Diketahui, Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp Onk (K), FACS, FFSTED menggantikan dekan sebelumnya Prof. Dr. dr. Afriwardi, S.H,. M.A., Sp.K.O. Subsp. APK (K). Sedangkan Dekan Fakultas Pertanian memimpin untuk periode kedua.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua mengatakan atas nama dewan pengawas, direksi dan civitas hospitalia mengucapkan selamat atas dilantiknya Dekan Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp Onk (K), FACS, FFSTED. Dan terima kasih kepada Prof. Dr. dr. Afriwardi, S.H,. M.A., Sp.K.O. Subsp. APK (K) atas pengabdian dan kontribusinya selama lima tahun menjadi Dekan Fakultas Kedokteran.

“Dan tentu kami berharap dengan dilantiknya Dekan Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp Onk (K), FACS, FFSTED dapat membawa kemajuan dan kejayaan Fakultas Kedokteran Unand,” harap Dovy.

Ia juga berharap kolaborasi dan kerja sama antara RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit pendidikan utama dengan Fakultas Kedokteran Unand semakin baik. Dan semakin meningkatkan kualitas pendidikan yang bermuara kepada peningkatan sumber daya manusia (SDM) kesehatan di Indonesia. “Semoga semakin memperkuat sinergi dan kolaboratif antara RSUP Dr. M. Djamil dengan Fakultas Kedokteran Unand,” ucap Dovy.

Rektor Universitas Andalas Efa Yonnedi, Ph.D saat sambutan mengucapkan terima kasih atas kolaborasi dan kerja sama yang telah dibangun antara Fakultas Kedokteran Unand dengan RSUP Dr. M. Djamil. “Dan di bawah kepemimpinan dekan Fakultas Kedokteran yang baru dilantik kolaborasi dan kerja sama itu untuk terus diperkuat. Termasuk dalam hal  memperkuat kerja sama dalam bidang pelayanan kesehatan dan inovasi medis,” harap Efa.

Efa juga meminta Dekan Fakultas Kedokteran untuk meningkatkan kapasitas dosen dalam menghasilkan riset yang berdampak luas dan mempublikasikannya di jurnal internasional bereputasi. “Selain itu, sinergi antara penelitian dan industri juga harus diperkuat agar hasil riset dapat bermanfaat secara langsung bagi masyarakat,” ucap Efa.

Usai pelantikan, pada siang harinya dilanjutkan prosesi serah terima jabatan dan pisah sambut Dekan Fakultas Kedokteran Unand Periode 2025-2030 di Aula Student Center Prof dr. M. Syaaf Fakultas Kedokteran Jati Unand. Juga turut dihadiri Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua.

Saat Sertijab dan Pisah Sambut, Dekan Fakultas Kedokteran Unand Periode 2025-2030 Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp Onk (K), FACS, FFSTED mengatakan capaian yang telah ditoreh Fakultas Kedokteran Unand selama ini merupakan hasil  kerja keras dekan-dekan dan civitas hospitalia sebelumnya yang telah berjuang hingga mendapatkan hasil saat ini. “Kami akan menjadikan fondasi untuk meluncur lebih capat lagi. Sehingga harapan kita menjadi untuk mencapai Kejayaan Bangsa dapat terwujud,” harapnya.

Ia juga mengharapkan seluruh civitas akademika dan civitas hospitalia baik rumah sakit utama maupun rumah sakit jejaring. “Pengorbanan dan perjuangan seluruh civitas hospitalia tentu kita tidak bisa mencapai kondisi saat ini. Kami juga membutuhkan dukungan dan kolaborasi semuanya agar pembangunan dan pengembangan Fakultas Kedokteran sudah seharusnya esok lebih baik dari saat ini,” tukasnya. (*)

Penyerahan SK Manajer OSDM, Dirut M. Djamil Tekankan Benahi Aspek SDM

Rotasi jabatan bergulir di RSUP Dr. M. Djamil. dr. Keesa Nabila Afida, M.Kes ditunjuk sebagai Manajer Organisasi dan Sumber Daya Manusia (OSDM) yang sebelumnya menjabat sebagai Asisten Manajer Pelatihan Diklat. Ia menggantikan Manajer OSDM sebelumnya dr. Kino, Sp.JP (K), FIHA, yang kini menjabat sebagai Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua  menyaksikan penandatanganan Surat Keputusan (SK) oleh Manajer OSDM baru dan sebelumnya di Ruang Kerja Direktur Utama, Senin (10/2). Dirut juga sekaligus menyerahkan SK Manajer OSDM dan piagam penghargaan kepada Manajer OSDM sebelumnya.

“Selama ini jabatan Manajer OSDM dirangkap oleh dr. Kino, Sp.JP (K), FIHA yang kini menjabat sebagai Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian. Tentu sebagai organisasi, OSDM ini harus jalan. Jadi kita memerlukan Manajer OSDM,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua.

Ia mengatakan tentunya dengan diisi jabatan Manajer OSDM oleh dr. Keesa Nabila Afida, M.Kes, ini adalah amanah yang harus dijalankan. Tugas berat di depan adalah membenahi aspek SDM. “Saya kira ini sudah berproses ke arah yang lebih,” tuturnya.

Dengan pengangkatan dr. Keesa, sebutnya,  makin memperkuat OSDM. Dan membenahi apa-apa saja yang selama ini masih menjadi terkendala. “SDM adalah aset yang harus dijaga dan dikembangkan. Terhadap permasalahan yang ada harus diselesaikan. Program-program yang belum sempurna agar disempurnakan. Jadi, organisasi ini merupakan organisasi kita bersama dan harus dijaga,” ucapnya.

Ia mengatakan atas nama RSUP Dr. M. Djamil mengucapkan terima kasih kepada dr. Kino, Sp.JP (K), FIHA yag sudah menjalankan rangkap jabatan ini. “Kami mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan pengabdian sebagai Manajer OSDM selama ini,” tukasnya. (*)

Raih 4 Penghargaan Kemenkes, Dirut: Terus Tingkatkan Performance Layanan

Civitas hospitalia RSUP Dr. M. Djamil mengawali tugas dengan kegiatan apel pagi yang berlangsung di pelataran lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan di hari Senin (10/2). Apel pagi tersebut dipimpin oleh Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua.

Pada apel pagi itu, Direktur Utama Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua berkesempatan menyerahkan empat penghargaan atas Capaian Kinerja 2024 dari Kementerian Kesehatan RI. Penghargaan tersebut diserahkan ke Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD), Ketua Tim Kerja Litbang, Kepala Instalasi Rawat Jalan dan Ketua Tim Transplantasi Ginjal.

Keempat penghargaan yang telah diraih RSUP Dr. M. Djamil saat Refleksi dan Konsolidasi Rumah Sakit Kementerian Kesehatan RI Tahun 2025 di Solo. Yakni Peringkat 1 Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Kategori RS dengan Tempat Tidur >200 Waktu Pelayanan Rawat Jalan Terbaik.

Peringkat II Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Kategori RS Umum Waktu Pelayanan IGD Terbaik. Kemudian Peringkat III Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Penelitian Klinis Terbaik. Dan Pencapaian Pelayanan Transplantasi Ginjal Mandiri pada Program Rumah Sakit Jejaring Pengampuan Uronefrologi.

Turut disaksikan oleh Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Plh Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Kino, Sp.JP (K), FIHA dan civitas hospitalia.

“Alhamdulillah RSUP Dr. M. Djamil menerima empat penghargaan atas capaian kinerja 2024 dari Kementerian Kesehatan RI saat Refleksi dan Konsolidasi Rumah Sakit Kementerian Kesehatan RI Tahun 2025 di Solo. Capaian kinerja dan performa terbaik tersebut merupakan hasil kinerja bersama seluruh civitas hospitalia RSUP Dr. M. Djamil,” kata Direktur Utama.

Ia mengatakan ke empat penghargaan tersebut, dua penghargaan ditoreh oleh Direktorat Medik dan Keperawatan, satu penghargaan dari Tim Transplantasi Ginjal dan satu penghargaan dari Direktorat SDM, Penelitian dan Pengembangan. “Prestasi ini hendaknya terus dapat dipertahankan. Sekaligus menjadi pemicu dan motivasi untuk terus memberikan yang terbaik untuk masyarakat,” tuturnya.

Ia mengatakan RSUP Dr. M. Djamil akan terus meningkatkan performance layanan kesehatan yang lebih baik. “Salah satunya dengan melakukan perbaikan hospitality serta menelurkan berbagai inovasi-inovasi kesehatan,” ucap Dovy.

Ia berharap semoga tahun depan akan lebih banyak lagi RSUP Dr. M. Djamil menerima penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI. Ini sekaitan dengan transformasi layanan kesehatan yang sedang berjalan saat ini di RSUP Dr. M. Djamil. Termasuk meningkatkan pendapatan layanan non-JKN. Tentunya juga tidak meninggalkan fungsi-fungsi sosial sebagai rumah sakit pemerintah.

“Saya berkeyakinan dengan sumber daya manusia yang mumpuni dimiliki rumah sakit ini, kita bisa menorehkan banyak prestasi membanggakan ke depannya,” tukas Dovy. (*)

Anak dengan Diabetes Melitus Tipe 1 Boleh Berpuasa, Asal Perhatikan Ini

Ibadah puasa pada bulan Ramadhan adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh umat islam karena bernilai pahala yang tinggi. Tidak terkecuali oleh anak-anak dan remaja yang tidak mau melewatkan kesempatan berpuasa di bulan yang suci ini. Apakah anak dengan Diabetes Melitus tipe 1 diperbolehkan untuk berpuasa?

“Anak dengan DM Tipe 1 diperbolehkan berpuasa asalkan dalam kondisi tidak sedang sakit lainnya. Seperti demam, tanda-tanda infeksi dan penyakit-penyakit apapun yang memberatkan,” kata dr. Eka Agustia Rini, Sp.A, Subsp. Endo (K) saat Pengabdian Masyarakat Divisi Endokrinologi Anak “Berpuasa dengan Aman pada Anak DM Tipe 1” di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Jumat (7/2).

Turut dihadiri anak dengan diabetes melitus tipe 1 beserta orang tua. Pada kesempatan iru juga dilakukan pemeriksaan gula darah dan pengukuran tensi.

Ia mengatakan selama berpuasa di bulan Ramadhan, glukosa darah anak < 70 mg/dL. Bagi anak DM tipe 1 agar melakukan cek ulang glukosa darah dalam satu jam. Jika glukosa darahnya 70-90 mg/dL setelah dicek maka si anak DM tipe 1 dapat melanjutkan puasanya.

“Apabila saat pengecekan dilakukan, glukosa darah >300 mg/dL maka puasa yang dijalani anak DM tipe 1 dihentikan. Begitu juga apabila terdapat gejala hipoglikemia atau penyakit akut maka puasa yang dijalani harus dihentikan,” sebutnya.

Diketahui, Hipoglikemia terjadi ketika akibat gula darah terlalu rendah sehingga otak tidak mendapatkan pasokan yang baik. Dengan gejala hipoglikemia ini adalah gemetar, lapar, bingung, keringat dingin, dan sakit kepala.

dr. Rini mengatakan saat berpuasa, aktivitas fisik anak dengan DM tipe 1 juga harus sangat diperhatikan. Anak dengan DM tipe 1 tetap bisa beraktivitas sehari-hari seperti bersekolah. Istirahat juga harus disempatkan sebentar setelah Zuhur. “Lalu melakukan latihan ringan atau sedang seperti senam ringan dan sepeda santai,” ucapnya.

dr. Rini pun berpesan kepada anak DM tipe 1 selama ramadhan untuk banyak di rumah, berbuka puasa di rumah saja. “Kemudian  patuhi protokol kesehatan di masjid atau mushala, dan bila demam atau sakit komunikasi dengan dokter,” ajaknya.

Ditambahkan dr. Niche Rachmawati Masnadi, Sp.A, Subsp N.P.M (K), yang perlu menjadi perhatian bagi anak dengan DM tipe 1 selama puasa adalah sahur sebaiknya dilakukan sedekat mungkin dengan imsak, pilih makanan terutama dengan indeks glikemik rendah, hindari makanan tinggi lemak dan gula. “Kemudian jaga hidrasi yang cukup saat berbuka dan hitung karbohidrat untuk penyesuaian insulin,” paparnya.

Pembicara lainnya, Wahyu Fitriani, S.KM membagikan  tips cara makan bagi anak dengan DM tipe 1 yang berpuasa. Yaitu menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, asupan cairan 1.500-2.000 ml/hari. Komposisi makanan terdiri dari protein (15-20 persen), karbohidrat (60-65 persen) dan lemak (20 persen). “Asupan makanan ini terbagi kedalam tiga waktu yaitu 50 persen saat berbuka, 10 persen setelah tarawih dan 40 persen ketika sahur,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua mengatakan pengabdian masyarakat ini merupakan upaya bersama dalam rangka meningkatkan pemahaman dan pengetahuan kita semua terkait puasa pada anak dengan diabetes melitus tipe 1. Tentu saja merupakan ilmu paling berharga untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

“Saya berharap, melalui pengabdian masyarakat ini, kita semua dapat berbagi ilmu dan pengalaman yang sehingga bisa sukses menjalani puasa di bulan suci. Mari kita manfaatkan kegiatan ini untuk berdiskusi secara aktif dan produktif demi puasa yang sehat dan bahagia,” tukasnya.(*)

Penutupan Mata Kuliah Terintegrasi, Dirut Ingatkan Karakter Andalasian pada Peserta PPDS Baru

Mata Kuliah Terintegrasi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) berlangsung di Aula Student Center Prof. dr. M. Syaaf Fakultas Kedokteran Jati, resmi ditutup, Jumat (7/2). Ini seiring dengan penandatanganan dan pengucapan pakta integritas oleh peserta PPDS baru.

Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua bersama Dekan Fakultas Kedokteran Unand Prof. Dr. dr. Afriwardi, S.H,. M.A., Sp.K.O. Subsp. APK (K) turut menyaksikan penandatanganan dan pembacaan pakta integritas itu.

Saat pembacaan pakta integritas tersebut, para peserta PPDS baru menyatakan bersedia mematuhi Kode Etik Mahasiswa Universitas Andalas sesuai dengan Peraturan Rektor Unand No. 18 A tahun 2020, segala peraturan yang berlaku di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil, termasuk tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan norma etik dan hukum yang berlaku di masyarakat, namun tidak terbatas pada hal-hal yaitu mencuri, pemerasan, melakukan kekerasan, perselingkuhan, kejahatan kesusilaan ataupun tindakan yang menentang Pancasila maupun UUD 1945.

Selalu mengedepankan keselamatan pasien (patient safety) dan mutu pelayanan dalam setiap tindakan yang dilakukan. Berperan secara proaktif dalam upaya pencegahan perundungan dan tidak melibatkan diri dalam perbuatan tercela. Dan menciptakan suasana yang kondusif, aman, dan nyaman serta bebas dari perundungan bagi peserta didik.

Mereka bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku di Lingkungan Universitas Andalas dan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil Padang berupa sanksi ringan berupa teguran lisan dan tertulis; sanksi sedang berupa skorsing paling sedikit 3 (tiga) bulan; sanksi berat berupa mengembalikan peserta didik kepada penyelenggara pendidikan dan/atau dikeluarkan sebagai peserta didik.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua dalam sambutannya mengharapkan teman sejawat PPDS baru ini bisa menyelesaikan pendidikan ini dengan segala dinamika yang ada. Karena pendidikan dokter spesialis ini bagaimana kita bisa memenuhi aspek kompetensi tapi tidak melupakan materi-materi yang telah diberikan selama mengikuti mata kuliah terintegrasi.

“Salah satu materi yang diberikan yakni karakter Andalasian. Di antaranya Sabar, Empati, Jujur, Adil, Tanggung jawab, Ikhlas. Ini merupakan suatu spesifikasi yang diberikan Fakultas Kedokteran dan rumah sakit pendidikan yang harus dipunyai oleh teman sejawat,” tegasnya.

Jadi, sebutnya, berbicara kompetensi dan materi tentang spesialis tidak terlepas dari karakter Andalasian yang harus dibawa peserta didik nantinya. “Ini sangat penting tentunya,” tutur Dovy.

Di samping itu, sebut Dovy, selama menjalani masa pendidikan nantinya para peserta PPDS akan berinteraksi dengan masyarakat dan keluarga pasien yang menjadi materi yang didapatkan selama menjalani proses pendidikan spesialis. “Dengan interaksi ini kita melihat pasien sebagai materi pembelajaran juga harus dihormati. Sehingga nanti etika dan profesionalisme dan masalah-masalah hukum didalam pembelajaran selama menempuh pendidikan dokter spesialis harus dipahami,” sebutnya.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Prof. Dr. dr. Afriwardi, S.H,. M.A., Sp.K.O. Subsp. APK (K) mengatakan mata kuliah terintegrasi merupakan pelaksanaan perkuliahan yang dilaksanakan secara serentak bagi seluruh peserta PPDS baru sebelum memasuki siklus di masing-masing program studi. Mata kuliah terintegrasi ini berlangsung selama kurang lebih satu bulan dan wajib diikuti seluruh peserta PPDS Periode 2025.

Adapun mata kuliah yang diberikan pada kuliah terintegrasi adalah Pengantar Profesionalisme Dokter Spesialis. Terdiri dari Filsafat Ilmu, Karakter Andalasian, Interprofessional Education Etik, Profesionalisme, dan Hukum Kesehatan. “Materi berikutnya yakni Metodologi dan Biostatistik berupa Dasar desain penelitian, Telaah kritis jurnal, Penyusunan laporan kasus, Penyusunan tinjauan pustaka, Perencanaan topik penelitian,” sebutnya.

Selain itu juga ada diskusi kelompok, praktikum, role play dan games. Setiap minggunya diadakan evaluasi seperti presentasi jurnal, penugasan individu, presentasi kasus, refleksi diri, mini systematic review. “Dan juga pre test untuk mengukur seberapa banyak penyerapan ilmu peserta PPDS,” tutur Prof. Afriwardi.(*)

Direktorat Perencanaan dan Keuangan Adakan Sharing Session Bersama Kepala KPPN Padang

Direktorat Perencanaan dan Keuangan RSUP Dr. M. Djamil mengadakan sharing session bersama Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Padang Joko Supriyanto di Ruang Rapat Direksi, Jumat (7/2). Sharing session tersebut membahas tentang Konsep Manajemen Kas, Manajemen Investasi, dan Manajemen BLU.

Direktur Keuangan dan Perencanaan RSUP Dr. M. Djamil Luhur Joko Prasetyo dalam sambutannya mengatakan sharing session ini sebagai langkah untuk mendapatkan pencerahan dari Kepala KPPN Padang sebagai pembina keuangan RSUP Dr. M. Djamil, bagaimana pengelolaan BLU yang sebetulnya sudah diberikan fleksibilitas. Tetapi tentunya ada aturan-aturan yang nanti harus ditaati. “Sehingga nanti dalam pelaksanaannya kita bisa lebih optimal,” sebutnya.

Dalam sharing session itu, turut dihadiri Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, Plt Direktur SDM Pendidikan dan Penelitian dr. Kino, SpJP (K) dan manajemen rumah sakit.

Kemudian, tutur Joko Luhur Prasetyo, salah satunya ini terkait dengan integrasi aplikasi Sakti dengan aplikasi pengelolaan keuangan di rumah sakit yang memang sedang diupayakan. “Mungkin kita akan mendapatkan arahan. Karena ada beberapa aplikasi yang memang harus kita segerai digunakan,” tuturnya.

Ia berharap dengan sharing session ini, akan mendapatkan ilmu dan wawasan barudalam tata kelola keuangan BLU. “Sehingga tata kelola keuangan rumah sakit ini terus semakin baik tentunya,” harapnya. (*)

Wirid Mingguan RSUP Dr. M. Djamil, Tujuh Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir

Salah satu nikmat Allah yang besar atas hamba-hamba-Nya yang beriman adalah bahwa Dia telah mempersiapkan bagi mereka banyak pintu kebaikan yang dapat dilakukan oleh hamba dalam hidup ini dan pahalanya akan terus mengalir kepadanya setelah kematian menjemputnya. Tatkala di dalam kubur, penghuninya sudah tidak bisa berbuat apa-apa, sudah terputus kesempatan beramal, tinggal menghitung apa yang sudah dilakukan semasa hidupnya dulu.

“Namun, ternyata ada orang yang terus mendapat kebaikan yang mengalir di dalam kuburnya. Pahala dan keutamaan senantiasa terus datang silih berganti meski telah meninggal dunia,” kata Ustad Dr. Syofyan Hadi S.S, M.Ag, MA.Hum, saat Wirid Mingguan di Masjid Asy Syifa kompleks RSUP Dr. M. Djamil, Jumat (7/2).

Turut dihadiri Direktur Utama RSUP Dr. M Djamil Dr. dr. Dovy Djanas Sp.OG., KFM., MARS., FISQua, Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, pengurus DWP serta civitas hospitalia.

Dr. Syofyan Hadi pun memaparkan tujuh amalan yang akan terus mengalir meskipun sudah meninggal dunia. Yakni pertama, mengajarkan ilmu. Dimaksudkan di sini adalah ilmu yang dapat memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. “Ilmu yang bermanfaat dapat berupa pengetahuan agama, pengetahuan dunia, atau karya ilmiah,” sebutnya.

Kedua, mengalirkan air sungai. Yang dimaksud adalah mengalirkan air dari mata air atau sungai agar airnya sampai ke tempat-tempat penduduk dan persawahan. Sehingga bisa untuk menyiram tanaman, dan memberi minum hewan.

Ketiga, menggali sumur. Diartikan kegiatan menggali sumur ini memberi manfaat bagi manusia. Keempat, menanam pohon. Apabila pohon ditanam, maka akan memberikan banyak manfaat bagi manusia.

“Kelima, membangun masjid. Apabila masjid sudah dibangun, dan salat didirikan di dalamnya, Al Quran dibacakan di dalamnya, dibacakan dzikrullah di dalamnya, ilmu tersebar di dalamnya, kaum muslimin berkumpul di dalamnya untuk kepentingan besar lainnya, maka bagi orang yang membangunnya akan mendapat seluruh pahala tersebut,” tuturnya.

Keenam, sebutnya, membagikan mushaf Al Quran. Bagi orang yang mewakafkan, maka akan diberi pahala yang banyak setiap kali ada yang membaca, mentadaburi (merenungkan), dan mengamalkan isi Al Quran tersebut.

Terakhir, mendidik anak yang akan memintakan ampun baginya setelah ia meninggal. Mendidik anak, mendisiplinkan mereka dengan baik, dan semangat membesarkan mereka dalam ketakwaan dan kebenaran, sehingga mereka menjadi anak-anak yang baik dan anak-anak yang saleh. “Kelak mereka pun akan berdoa untuk orang tua mereka dan memintakan rahmat dan ampunan,” tuturnya.

Sementara Direktur Utama RSUP Dr. M Djamil Dr. dr. Dovy Djanas Sp.OG., KFM., MARS., FISQua mengatakan wirid mingguan ini menjadi tempat silaturahmi bersama civitas hospitalia. “Melalui wirid mingguan ini kita dapat memperoleh pengetahuan sehingga bisa mengisi atau me-recharge pikiran kita kembali sehingga dapat kita terapkan dalam kehidupan,” harapnya.(*)

Epilepsi tidak Bisa Sembuh Total tapi Dapat Diobati dan Dikontrol

Instalasi Promosi Kesehatan dan Pemasaran RSUP Dr. M. Djamil bersama KSM Neurologi RSUP Dr. M. Djamil/Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas memberikan penyuluhan tentang Kenali Gejala Epilepsi sejak Dini, Kamis (6/2). Penyuluhan itu diadakan dalam rangka memperingati Hari Epilepsi International yang jatuh pada 12 Februari 2025.

Bertindak sebagai narasumber dalam penyuluhan adalah dr. Lydia Susanti, Sp.N, M.Biomed, MPd.Ked. Kegiatan yang berlangsung di Poliklinik Saraf Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan ini diikuti oleh pasien dan keluarga pasien.

“Epilepsi atau ayan adalah gangguan sistem saraf pusat akibat aktivitas listrik yang tidak normal. Akibatnya dapat timbul kejang, sensasi perilaku yang tidak biasa dan hilang kesadaran. Dan bangkitan terjadi tanpa pencetus setidaknya 2x dengan jarak >24 jam,” kata dr. Lydia Susanti, Sp.N, M.Biomed, MPd.Ked saat penyuluhan.

Ia mengatakan bangkitan itu dibagi atas dua yakni bangkitan epilepsi dimana terjadi tanda atau gejala yang bersifat sesaat akibat aktivitas saraf berlebihan di otak. “Dan bangkitan non-epilepsi dimana terjadi tanda atau gejala sesaat yang tidak diakibatkan aktivitas saraf abnormal dan berlebihan di otak,” tuturnya.

Ia mengungkapkan jumlah penderita epilepsi di Indonesia mencapai 1,5 juta atau 0,5 persen-0,6 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Epilepsi dapat menyerang laki-laki dan perempuan pada semua ras dan usia.

“Penyebab epilepsi ini adalah kelainan struktur otak, genetik, infeksi, masalah imunitas. Kemudian masalah metabolisme dan tidak diketahui (idopatik),” sebutnya.

Tanda dan gejala epilepsi, sebutnya, kebingungan sementara, tatapan mata kosong, gerakan menghentak tak terkendali pada tangan dan kaki. Selanjutnya, kehilangan kesadaran dan gejala psikis seperti ketakutan, kecemasan dan de javu.

“Kekakuan otot, gemetar atau kejang pada sebagian tubuh (wajah, lengan atau kaki) atau keseluruhan. Dan kejang yang diikuti oleh tubuh menegang dan kehilangan kesadaran secara tiba-tiba yang bisa menyebabkan orang itu terjatuh,” paparnya.

dr. Lidya menyebutkan epilepsi tersebut dibagi atas dua jenis. Yakni pertama, epilepsi umum yang ditandai dengan kejang absans seperti melamun dan kejang tonik-klonik seperti kelojotan.

“Kedua, epilepsi parsial (lokal) berupa tanpa kehilangan kesadaran (simple) dan dengan kehilangan kesadaran (kompleks),” sebutnya.

Ia memaparkan jenis epilepsi yang banyak dijumpai adalah epilepsi dengan kejang kelojotan tampak kaku. “Namun terdapat pula penderita epilepsi tampak diam saat terjadi kekambuhan,” ucapnya.

Ada pun pemicu munculnya kejang, tutur dr. Lidya, disebabkan oleh cahaya, kurang tidur, demam, stres berlebihan, suasan bising berlebih. “Lupa minum obat, hormonal dimana periode menstruasi pada wanita, kadar gula darah turun dan konsumsi alkohol serta obat-obatan,” sebutnya.

Bagaimana cara penanganan pertama epilepsi yang harus dilakukan? dr. Lidya menjelaskan tetap tenang, dampingi dan jaga penderita, beri alas untuk kepala, catat dan amati durasi kejang serta apa saja yang terjadi saat kejang. Kemudian longgarkan pakaian penderita.

“Posisikan penderita miring (posisi recovery). Posisi recovery dimaksudkan penderita yang telah berhenti kejang dapat dimiringkan tubuhnya dan bertujuan apabila penderit muntah, muntahan tidak masuk ke jalan napas. Terakhir panggil ambulans jika kejang tidak berhenti dalam waktu 5 menit,” sebutnya.

Cara penanganan seperti apa yang tidak boleh dilakukan? Ia menyebutkan menahan atau mengikat atau menghentikan gerakan hentakan penderita, memasukkan sesuatu (sendok, jari dan lain-lain) ke dalam mulut penderita. “Memberikan makan dan minum sebelum penderita sadar penuh, serta melakukan resusitasi jantung paru pada penderita,” tegasnya.

Ia mengatakan kejang pada penderita epilepsi perlu dihentikan. “Karena pada anak, sering berhubungan dengan gangguan tumbuh kembang, dapat memicu penurunan intelektual, stigma masyarakat, dampak psikologis penderita da dapat mengancam nyawa,” tuturnya.

Ia menyebutkan terapi mulai dilakukan bila bangkitan dua kali dalam setahun, bangkitan satu kali, kemungkinan berulang besar. Dimana kelainan MRI, EEG, ada epilepsi saudara kandung, ada cedera otak berat dan sindroma epilepsi.

“Bangkutan satu kali dengan status epileptikus dan pasien atau keluarga sudah diberikan penjelasan tentang tujuan terapi dan efek samping terapi,” ucapnya.

Penderita epilepsi, sebut dr. Lidya, minum obat minimal dua tahun bebas bangkitan, gambaran rekam otak (EEG) normal, dilakukan bertahap dan satu per satu jika minum lebih dari satu obat. Harus diilakukan konsultasi dan atas persetujuan dokter ahli.

“Dengan prinsip start low go slow, monoterapi, dosis minimal, dan jangka waktu lama. Tujuannya bebas kejang dan tanpa efek samping obat,” ujarnya.

Ia menekankan sebagian besar kasus epilepsi tidak bisa sembuh secara total. Namun dapat diobati dan dikontrol agar tidak sering kambuh. “Kuncinya adalah dikontrol dengan pengobatan rutin dan konsisten hingga frekuensi kejang menurun hingga menghilang,” tukasnya.

Dalam penyuluhan itu tidak hanya pemaparan materi. Tapi juga diwarnai dengan sesi tanya jawab oleh pasien dan keluarga pasien. (*)

34 Tahun Mengabdi, Tiada Henti Pompa Semangat Pasien untuk Sembuh

34 tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalani sebuah profesi. Bahkan bisa konsisten menjalaninya dan sudah melayani pasien dengan berbagai macam kondisi, berbagai macam karakter, perangai dan sosial yang berbeda-beda.

Bagi Yenri Ernida, S.FT, Ftr, pekerjaan sebagai fisioterapis bukanlah pekerjaan mudah. Dibutuhkan kesabaran dan keikhlasan ekstra. Karena fisoterapis bukan hanya sekadar profesi. Namun juga sebuah pelayanan kepada pasien yang sedang mengalami sakit dan membutuhkan dukungan untuk bisa sembuh.

“Sebagai seorang fisioterapis selain harus sabar dan ikhlas, kita juga perlu memotivasi pasien untuk terus bersemangat bisa sembuh. Terkadang pasien itu kurang sabar, sehingga kitalah yang harus memotivasinya,” tuturnya.

Ia mengatakan mungkin tidak semua hal-hal yang dilakukan oleh fisioterapi di sini berefek positif atau berkesan baik dengan pasien. Ada beberapa pasien mungkin mereka menganggap dirinya tegas dan keras. “Tapi Alhamdulillah setelah itu mereka bilang dibalik tegas dan keras dirinya menjadi pemicu untuk bangkit dan semangat menjalani terapi. Itu sering saya dengar,” ucap Penanggung Jawab Instalasi Rehabilitasi Medik ini.

Fisioterapi di sini, sebutnya, melayani semua kasus. Tapi yang jelas di Instalasi Rehabilitasi Medik ini spesifikasi. Beda dengan rumah sakit lain. Di sini, satu pasien ditangani satu fisioterapi. “Dan kasus-kasus yang dilayani itu yang tidak bisa ditangani oleh rumah sakit lain. Umumnya memang kasus-kasus multipatologis yang memang sudah banyak gangguan,” tuturnya.

Di sini juga, sebutnya, memang ada yang menggunakan alat, tetapi yang paling utama adalah latihan atau exercise yang diberikan ke pasien. Misalnya setelah diberikan alat, maka akan kita berikan lagi latihan-latihan yang sesuai dengan kasus atau kondisi pasien.

“Kami tidak berani memikirkan prognosis nya itu bagus dan baik. Kita lihat di sini kasus yang berat atau multipatologis. Kita memang  prognosisnya minimal pasien itu hanya sampai batas pindah dari bed ke kursi roda.  Awalnya nggak mungkin rasanya kita kembangkan untuk berjalan atau berdiri ternyata sanggup melakukan. Ini atas motivasi atau semangat dari pasien untuk  sembuh,” sebutnya.

Ia menekankan hal-hal itu sering terjadi tetapi mungkin sudah kehendak Allah SWT. Usaha dan doa. “Usaha kita dengan pasiennya. Kesembuhan Allah SWT yang menentukan. Tapi fisioterapi menjadi perantara melalui latihan-latihan yang diberikan,” ucap Yenri.

Terbaru, sebutnya, pihaknya mendapatkan pasien dengan kasus SOL atau space occupying lesion. Ada benjolan di kepala pasien dan kebetulan pasien itu berasal dari Muko-Muko Bengkulu. “Pasien ini sudah menjalani operasi dan kemoterapi. Usai kemoterapi, pasien ini dengan kondisi mual dan hanya berbaring. Setelah menjalani serangkaian terapi, anak itu sudah bisa berjalan dan tidak lagi berbaring seperti biasanya,” ungkapnya seraya mengatakan ia juga pernah melakukan terapi mantan Duta Besar Myanmar untuk Indonesia saat dirawat di RSUP Dr. M. Djamil.

Selama mengabdi, ia selalu mendapat dukungan dari RSUP Dr. M. Djamil. Dari sisi pendidikan, basic saya sebagai fisioterapi dari D-III. Dan di perjalanan dilanjutkan ke jenjang S-1 dan profesi. “Dan Alhamdulillah RSUP Dr. M. Djamil memfasilitasi penyesuaian, untuk naik jabatan, dan naik pangkat. Dengan berbagai macam kesulitan, tapi Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang diharapkan,” tukasnya. (*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45