Peringati HKN, RSUP Dr M Djamil Kenang Jasa Dr M Djamil sebagai Pahlawan Kesehatan

Direksi serta jajaran RSUP M Djamil Padang melakukan tabur bunga di makam Dr Mohammad Djamil MPH DPH Datuk Rangkayo Tuo pada Selasa (5/11). Kegiatan tabur bunga itu dilaksanakan di kompleks pemakaman yang berlokasi di Kayu Tanam Kecamatan 2X11 Enam Lingkung Kabupaten Padangpariaman dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-60 Tahun 2024.

“Tabur bunga ini sebagai bentuk penghormatan bagi beliau dan semua pahlawan kesehatan yang telah memberikan segalanya untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua saat memimpin tabur bunga.

Turut hadir Plt Gubernur Sumbar diwakili Kabiro Kesra Al Amin, Plt Bupati Padangpariaman diwakili Staf Ahli Budi Mulya, jajaran direksi dan manajemen RSUP Dr M Djamil, Keluarga Besar Dr M Djamil MPH DPH Datuk Rangkayo Tuo, Ketua DWP dan pengurus RSUP Dr M Djamil, anggota DPRD Sumbar, Forkopimda Padangpariaman dan Forkopimca 2X11 Enam Lingkung.

Ia mengatakan tabur bunga ini bukan sekadar seremonial. Akan tetapi simbol rasa hormat  atas pengorbanan mereka yang tak ternilai. “Mereka adalah inspirasi yang tidak pernah pudar, mengingatkan kita pada dedikasi tanpa pamrih demi kesehatan bangsa,” tuturnya.

Dr Mohammad Djamil, sebut Dovy, adalah sosok legendaris dan lebih dari sekadar seorang dokter. Beliau adalah pahlawan yang ikut memperjuangkan kemerdekaan dan memberikan kontribusi nyata melalui pelayanan kesehatan.

“Setelah kemerdekaan, meski sempat diberi kepercayaan menjadi Gubernur Muda di Sumatera Tengah, beliau memilih kembali ke profesi dokter, menunjukkan betapa besar cintanya terhadap masyarakat dan kesehatan bangsa ini. Pengabdian beliau menginspirasi kita semua untuk terus berupaya memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat,” ucapnya.

Ia menekankan momentum Hari Kesehatan Nasional ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk mengimplementasikan transformasi kesehatan. Bukan hanya sebagai jargon tetapi sebagai tindakan nyata. “Kami di RSUP Dr M Djamil berkomitmen untuk meneruskan semangat beliau dalam memberikan pelayanan kesehatan yang prima bagi masyarakat. Ini sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan beliau dan para pahlawan kesehatan lainnya,” ungkap dokter spesialis Fetomaternal ini.

Ia pun mengusulkan agar Dr Mohammad Djamil Arts DPH Dt Rangkayo Toeo dapat dipertimbangkan sebagai Pahlawan Nasional. Mengingat peran besar beliau dalam bidang kesehatan dan kontribusi nyata bagi kemerdekaan Indonesia, ia yakin bahwa beliau layak mendapat pengakuan sebagai pahlawan nasional.

“Nama Dr Mohammad Djamil tidak hanya dikenal di Sumatera Barat, tetapi juga dihormati di seluruh Indonesia sebagai sosok yang penuh dedikasi dan keberanian. Kami berharap, pemerintah provinsi dapat mendukung upaya ini, sehingga cita-cita untuk menjadikan beliau sebagai pahlawan nasional dapat terwujud,” harapnya.

Dovy mengatakan makam Dr Mohammad Djamil telah ditetapkan sebagai struktur cagar budaya oleh Bupati Padangpariaman. Penetapan ini menunjukkan beliau tidak hanya dihormati sebagai seorang dokter. “Akan tetapi juga sebagai bagian dari sejarah Sumatera Barat yang perlu dilestarikan dan dihargai oleh generasi-generasi mendatang,” tukasnya.

Plt Gubernur Sumbar diwakili Kabiro Kesra Al Amin menyebutkan rencana Dr Mohammad Djamil Arts DPH Dt Rangkayo Toeo menjadi pahlawan nasional akan segera diajukan. “Kami akan upayakan sesegera mungkin. Kami mohon dukungan dari anggota DPRD Sumbar,” kata Al Amin.

Ia mengatakan memperingati Hari Kesehatan Nasional dilakukan secara khusus dan bermakna dengan tabur bunga di makam tokoh kesehatan nasional Dr Mohammad Djamil Arts DPH Dt Rangkayo Toeo. “Beliau adalah sosok yang telah mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan kesehatan di Sumatera Barat,” ucapnya.

Dr M Djamil, tuturnya, bukan hanya seorang dokter. Beliau adalah panutan dan seorang pionir yang telah segenap jiwa dan raganya telah mengabdikan hidup untuk memperjuangkan kesehatan masyarakat. “Atas dasar dedikasi beliau, RSUP Dr M Djamil yang menjadi pusat pelayanan kesehatan rujukan di wilayah ini diabadikan nama beliau,” tutur Al Amin.

Ia menekankan dengan peringatan ini, tidak hanya mengenang jasanya. Tapi juga merenungkan betapa pentingnya melanjutkan nilai-nilai yang ditinggalkan beliau. “Semangat perjuangan Dr M Djamil menjadi inspirasi kita untuk terus meningkatkan kualitas layanan kesehatan, menghadirkan inovasi dan menjaga integritas dalam pelayanan,” ungkapnya.

Sementara salah satu keluarga besar Dr M Djamil dr Alan Gazali Saus SpTHT mengatakan pihaknya menghargai apa yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah dan seluruh instansi terkait untuk mendukung agar Dr M Djamil ini mendapat gelar pahlawan nasional.

“Tahun 2023 telah diajukan Dr M Djamil sebagai pahlawan nasional. Mudah-mudahan tahun 2024 ini akan kita ajukan kembali,” tutur mantan Direktur Utama RSUP Dr M Djamil ini (*)

Tumbuhkan Semangat Dr Mohammad Djamil dalam Melayani Masyarakat

Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua mengajak civitas hospitalia untuk terus menumbuhkan semangat Dr Mohammad Djamil Art DPH Dt Rangkayo Toeo dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pasalnya, nama pahlawan kesehatan ini melekat pada rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan ini.

“Dalam rangka memperingati HUT ke-60 Kesehatan Nasional, besok (5/11)  direncanakan melakukan tabur bunga di makam Dr Mohammad Djamil Art DPH Dt Rangkayo Toeo di Kayu Tanam Padangpariaman,” kata Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua saat apel pagi di halaman lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Senin (4/11).

Turut dihadiri Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K), Direktur Layanan Operasional drg Ade Palupi Muchtar MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Plh Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr Kino SpJP (K), jajaran manajemen serta civitas hospitalia.

Ia mengatakan diketahui Dr Mohammad Djamil Art DPH Dt Rangkayo Toeo lahir pada 29 November 1898 dan meninggal 20 Juni 1962. Semasa hidupnya mengabdikan diri pada bidang kesehatan dan pemerintahan.

“Ia merupakan lulusan Doctor Medicinae Ziekten di Universitas Utrecht Belanda (31 Mei 1932). Dan lulusan Doctor Public Health Universitas John Hopkins Amerika Serikat (12 Juni 1934),” tutur Dovy.

Tidak hanya bidang kesehatan, tutur Dovy, dia juga mengabdikan diri pada pemerintahan. M Djamil pernah menjabat Kepala Jawatan Kesehatan Sumatera Bagian Tengah (Oktober-November 1945). Ketua KNI Daerah Sumatera Barat (November 1945-Maret 1946).

“Ia juga pernah menjabat Residen Sumatera Barat (Maret-Juli 1946). Dan Gubernur Muda Sumatera Tengah (Juli 1946-April 1947),” ungkap Dovy.

Melihat prestasi dan pengabdian M Djamil ke negara, dianugerahkan pahlawan kesehatan ini. “InshaAllah kita akan mengusulkan M Djamil sebagai pahlawan nasional. Segala sesuatu kelengkapan administrasi sedang dipersiapkan,” tuturnya.

Ia mengatakan civitas hospitalia diajak untuk menumbuhkan semangat pahlawan kesehatan ini dalam melayani masyarakat. “Ini demi RSUP Dr M Djamil yang lebih baik,” tukas Dovy. (*)

Ayo Melangkah! Kalahkan Stroke Mulai dari Diri Sendiri

Peringatan World Stroke Day 2024 dalam  rangka HUT ke-60 Kesehatan Nasional dipusatkan pelataran parkir GOR H Agus Salim Kota Padang, Minggu (3/11). Ratusan masyarakat turut berpartisipasi dalam kegiatan yang diadakan RSUP Dr M Djamil bersama Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP Dr M Djamil.

Pelepasan balon oleh Pj Sekprov Sumbar Yozarwardi Usama Putra didampingi Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua dan Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr Lila Yanwar MARS pertanda dimulainya Peringatan World Stroke Day.

Diawali senam otak berkolaborasi dengan Persatuan Olahraga Pernapasan Indonesia (Porpri) Sumbar. Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr Lila Yanwar MARS dan Ketua Departemen Neurologi Prof Dr dr Yuliarni Syafitra SpN (K) turut serta dalam senam otak tersebut. Kemudian penyuluhan kesehatan tentang update tatalaksana stroke, pemeriksaan kesehatan. Serta pembagian doorprize.

“Stroke adalah salah satu penyakit tidak menular sebagai penyebab kematian dan disabilitas tertinggi di dunia umumnya Indonesia khususnya. Data estimasi penyakit menunjukkan 1 dari 4 orang diperkirakan terkena stroke dalam hidupnya. Dan diperkirakan setiap tiga detik ditemukan satu orang terkena stroke. Hal ini setara dengan 12 juta orang dalam setahun akan mengalami stroke dalam setengah juta di antaranya meninggal dunia akibat stroke,” kata Pj Sekprov Sumbar Yozarwardi Usama Putra saat membacakan sambutan Plt Gubernur Sumbar.

Ia mengatakan hasil survei kesehatan Indonesia tahun 2023 menunjukkan bahwa prevalensi stroke di Indonesia adalah 8,3 per 1.000 penduduk. Sedangkan Sumatera Barat lebih tinggi 8,8 per 1.000 penduduk. Sementara beban biaya kesehatan akibat stroke tahun 2023 di Indonesia mencapai Rp5,2 triliun.

“Sebanyak 90 persen kasus stroke dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risikonya. Seeprti tekanan darah tinggi, diabetes, hiperkolesterol, kondisi atrial fibrilasi, merokok, kurang aktivitas fisik, diet tidak sehat, stres, dan konsumsi alkohol,” tutur Yozarwardi.

Ia mengatakan beraktivitas fisik selama 30 menit sebanyak 5 kali dalam seminggu dapat menurunkan risiko stroke sebesar 25 persen. “Ayo Melangkah! Kalahkan Stroke: Mulai dari Diri Sendiri” Kita lakukan aktivitas fisik selama 30 menit sebanyak 5 kali dalam seminggu. Konsumsi makanan seimbang, memperbanyak buah dan sayur, mengurangi konsumsi makanan yang digoreng, jerohan. Kelola stres dengan baik. Tidak merokok. Serta istirahat yang cukup,” ajaknya.

Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua mengatakan RSUP Dr M Djamil  berkomitmen untuk terus meningkatkan pelayanan kesehatan, termasuk dalam pencegahan dan penanganan stroke.

“Kami percaya bahwa penanganan stroke yang optimal bukan hanya sekadar pengobatan medis. Akan tetapi juga dukungan emosional yang menyeluruh kepada pasien,” tuturnya.

Ia mengatakan dukungan dari keluarga, komunitas, dan masyarakat sangat penting dalam proses pemulihan. Dan olahraga adalah salah satu jalan untuk memperkuat dukungan tersebut.

“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan edukasi yang bermanfaat serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan stroke. Mari bersama-sama kita bangun semangat untuk menjadi lebih kuat dari stroke, dengan kekuatan fisik dan emosional yang tercermin dalam aktivitas olahraga,” ajak dokter spesialis Fetomaternal ini.

Sementara itu, Ketua Departemen Neurologi Prof Dr dr Yuliarni Syafitra SpN (K) mengatakan pencegahan stroke jauh lebih baik dari pada pengobatan. “Latihan fisik atau berolahraga dengan rutin itu ternyata dapat menurunkan kecemasan dan depresi. Selain itu, juga dapat meningkatkan fungsi kognitif, meningkatkan performa kerja. Dan pada orang tua sangat penting untuk menurunkan risiko jatuh dan cedera, dan juga merupakan terapi efektif pada beberapa penyakit kronis terutama pada pasien lanjut usia,” tukasnya.(*)

Skill Penanganan Awal Kasus Bedah Kritis Dibutuhkan saat Bencana

RSUP Dr M Djamil bersama Departemen Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP Dr M Djamil mengadakan pengabdian masyarakat pengenalan dan pelatihan penanganan awal kasus bedah kritis terhadap korban bencana. Kegiatan berkolaborasi dengan BPBD Kota Padang itu dipusatkan di Aula Bagindo Aziz Chan Balaikota Padang Aiapacah.

“Kita tinggal dan beraktivitas di Kota Padang. Mau tidak mau, suka tidak suka kita harus hidup berdampingan dengan bencana. Maka peningkatan kapasitas penanganan awal kasus bedah kritis korban bencana ini adalah sebuah keniscayaan dalam langkah kesiapsiagaan,” kata Pj Wali Kota Padang Andree Harmadi Algamar saat sambutan pada pembukaan pelatihan ini, Sabtu (2/11).

Turut dihadiri Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua, Direktur Utama RS Unand Dr dr Yevri Zulfiqar SpB SpU Subsp Ped (K) MKes, Kepala BPBD Kota Padang Hendri Zulviton, dan Dekan Fakultas Kedokteran Unand diwakili Ketua Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat FK Unand Dr dr Rizki Rahmadian SpOT Subsp PL (K) MKes, dan peserta pelatihan.

Andree mengatakan pelatihan ini untuk dilakukan karena skill ini dibutuhkan saat bencana. Kapasitas pelaku kebencanaan perlu ditingkatkan. Pasalnya nyawa akan melayang atau cedera makin bertambah dikarenakan meresponsnya dengan salah tindakan.

“Kami berharap pelatihan ini dapat memberi dampak saat diaplikasikan pada situasi darurat. Minimal skill-skill dasar dapat dikuasai sampai bantuan dari tenaga medis datang ke lokasi bencana,” harap Andree.

Melalui pelatihan ini, Pj Wali Kota juga berharap mampu mengukur sejauhmana kesiapan sumber daya manusia dan peralatan yang dimiliki BPBD. “Jika nanti ada yang berbakat dan berminat untuk mendalami skill penanganan awal ini, tidak salahnya dilanjutkan dengan pelatihan yang lebih konkret,” tuturnya.

Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua mengatakan pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu bentuk nyata dari komitmen RSUP Dr M Djamil bersama Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, untuk memberikan kontribusi nyata bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di Kota Padang.

“Kegiatan pengabdian masyarakat ini tidak hanya menjadi wadah untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Akan tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan dan kolaborasi antara RSUP Dr M Djamil, FK Unand, dan masyarakat Kota Padang tentunya,” tutur Dovy.

Ia berharap kolaborasi ini dapat terus ditingkatkan agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. “Baik itu dalam bidang kesehatan maupun kesiapsiagaan bencana,” harapnya.

Sementara Kepala Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran Unand Dr dr Rizki Rahmadian SpOT Subsp PL (K) MKes menyampaikan terima kasih kepada Pemko Padang yang telah mendukung kegiatan pengabdian masyarakat ini. “Melalui pelatihan ini kita bisa sharing ilmu, dan belajar melakukan penanganan bencana awal di lokasi bencana, sehingga penanganan di rumah sakit dapat lebih baik,” ucapnya.

Diketahui dalam pelatihan ini menghadirkan narasumber yakni Dr dr Muhammad Riendra SpBTKV Subsp VE (K) membahas bantuan hidup dasar, dr Hendra Herizal SpB Subsp Onk (K) membahas evakuasi pasien, Dr dr Rizki Rahmadian SpOT Subsp PL (K) MKes membahas patah tulang dan cedera otot.

Dr dr Yevri Zulfiqar SpB SpU Subsp Ped (K) MKes membahas manajemen pendarahan, dr Ade Rucky Harahap SpBS Subsp N-Vas membahas cedera kepala dan leher, dr Deddy Saputra SpBP-RE Subsp LBL (K) membahas luka bakar. dr Rahmat Taufik SpB Subsp Onk (K) membahas gigitan hewan berbisa dan dr Ardiansyah SpBTKV MARS membahas instruktur simulasi. Tidak sekadar teori dalam pelatihan ini, juga dilakukan simulasi atau praktik.(*)

RSUP Dr M Djamil-PT Rafa Topaz Utama Jalin Kerja Sama Alat Urinalisis Metode CPRR

RSUP Dr M Djamil terus meningkatkan mutu layanan kesehatan di wilayah Sumatera Bagian Tengah umumnya Sumatera Barat khususnya. Jumat (1/11), RSUP Dr M Djamil melakukan penandatanganan kerja sama dengan PT Rafa Topaz Utama.

Penandatanganan tersebut dilakukan oleh Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua bersama Presiden Direktur PT Rafa Topaz Utama Rudi Antoni. Kerja sama itu mencakup pemanfaatan alat pemeriksaan Urinalisis dengan metode Cost Per Reportable Report (CPRR).

Turut disaksikan Direktur Layanan Operasional drg Ade Palupi Muchtar MARS, Manajer Hukum dan Humas Nova Afriani SH MH.

“Alhamdulillah setelah melalui perjalanan panjang, kerja sama ini akhirnya disepakati. Kerja sama yang dibangun ini bisa saling menguntungkan kedua belah pihak,” kata Direktur Layanan Operasional drg Ade Palupi Muchtar MARS mewakili Direktur Utama saat memberikan sambutan di Ruang Direktur Utama Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan.

Ia menekankan apapun yang telah dituangkan itu akan dilaksanakan sesuai dengan kewajiban masing-masing. Dan tentunya kerja sama ini akan ada mekanisme evaluasinya. “Jadi segala sesuatu kendala akan bisa menjadi bahan evaluasi dan perbaikan ke depannya. Untuk hal-hal lain disesuaikan dengan kondisi,” sebutnya.

Ia berharap mudah-mudahan kerja sama ini akan membawa manfaat bagi rumah sakit khususnya. “Karena ini dapat meningkatkan pelayanan untuk masyarakat Sumatera Bagian Tengah umumnya Sumatera Barat khususnya. Segala sesuatu yang sifatnya pelayanan InshaAllah amalnya akan terus menerus,” harap drg Ade.

Sementara manajemen PT Rafa Topaz Utama Eva Hayati mengucapkan terima kasih atas kerja sama dan kepercayaan RSUP Dr M Djamil. Alat urinalisis ini sudah ada pada rumah sakit vertikal lainnya. “Alhamdulillah untuk kerja sama dengan RSUP Dr M Djamil dapat terwujud. Mudah-mudahan apa yang sudah diamanahkan ini kita akan saling bersinergi dan berkolaborasi. Bagi kami ini adalah kesempatan emas dan sebuah kepercayaan yang diberikan. Dan InshaAllah akan kami laksanakan semaksimal mungkin,” harap Eva.(*)

Analisis Penggunaan Antibiotik RSUP Dr M Djamil jadi Acuan 14 RS Vertikal Kemenkes

Penelitian Analisis Penggunaan Antibiotik RSUP Dr M Djamil menjadi acuan bagi 14 rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan RI. Berharap nantinya dari penelitian pilot project ini bisa menghasilkan data yang akan menelurkan sebuah kebijakan Kementerian Kesehatan RI.

“Penelitian analisis penggunaan antibiotik yang dilakukan RSUP Dr M Djamil agar menjadi acuan bagi 14 rumah sakit vertikal. Saya meminta bapak Dr dr Andani Eka Putra MSc untuk mengawal penelitian ini,” kata Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin saat Rapat Pembahasan Pilot Project Antibiotik 14 Rumah Sakit Kemenkes secara hybrid, Jumat (1/11).

Menkes mengatakan paling lambat pada bulan Desember, analisis penggunaan antibiotik di 14 rumah sakit vertikal selesai. “Kemudian dibikinkan kebijakannya. Termasuk nanti akan dibuatkan keputusan menteri atau peraturan menteri. Mereka (rumah sakit vertikal, red) melakukan seperti ini. Harus diikuti rumah sakit besar dululah. Supaya kita bisa memastikan pemberian antibiotik ini,” ucap Budi Gunadi Sadikin.

Di samping itu, Menkes pun meminta Dr dr Andani Eka Putra juga melakukan kajian atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2021 tentang Pedoman Penggunaan Antibiotik. “Mudah-mudahan hasil kajian yang dilakukan itu akan menjadi sebuah dasar kebijakan juga nantinya,” tutur Menkes.

Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand Dr dr Andani Eka Putra MSc mengatakan penelitian ini didasari ada beberapa teman sejawat memberikan antibiotik yang awalnya infeksi ringan hingga berkembang menjadi berat atau meninggal. “Jadi muncul pertanyaan. Apakah antibiotik kita sudah tepat. Saya tidak melihat kemana-mana tapi dasar pijakannya seperti itu. Bisa gak ini menjadi dasar kita untuk menyusun sebuah kebijakan memberikan antibiotik yang lebih tepat,” tutur Dr dr Andani.

Ia mengungkapkan dari hasil penelitian dilakukan ditemukan 48,5 persen antibiotik yang diberikan saat pasien masuk ternyata diganti setelah 3-4 hari. Memang ada panduan praktik klinis (PPK) untuk diganti, tapi kalau data antibiogram kita benar harusnya penggantiannya tidak sebanyak itu. “Artinya kita tidak tepat dalam pemberian inisial antibiotik,” ucap Konsultan Penelitian RSUP Dr M Djamil ini.

Itu bisa terjadi, tuturnya, kemungkinan karena data antibiogram tidak lengkap dan tidak ada guidence kita memberikan antibiotik. “Itu kira-kira menjadi dasar penyebabnya,” sebut Dr dr Andani.

Ia juga menekankan pertama kita harus tahu pola dari rumah sakit vertikal lain sehingga akan menjadi dasar kita mengambil kebijakan. “Nanti akan kita lihat inisial antibiotik itu hampir sama nggak dengan data antibiogram. Berbeda nggak data biogram dengan peta kuman. Kalau belum akan kita perbaiki,” sebutnya.

Kedua, tahapan kerja adalah kita kumpulkan data mulai dari Januari sampai Juni 2024 ke-14 rumah sakit vertikal. Semua data itu kita akan analisis. Mencakup mulai diagnosis data pasien, jumlah antibiotik yang diberikan dan sebagainya.

“Data-data sangat lengkap sekali. Sehingga bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilakukan di M Djamil,” ucapnya.

Sementara Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua mengatakan kegiatan untuk melihat kegunaan  pola antibiotik di RSUP Dr M Djamil ternyata diakomodir oleh Bapak Menteri Kesehatan untuk di evaluasi di 14 rumah sakit vertikal di Indonesia.

“Tentu kita bangga bahwa RSUP Dr M Djamil  bersama Fakultas Kedokteran Universitas Andalas menjadi pionir untuk melakukan pilot project ini untuk 14 rumah sakit vertikal. Karena kita sudah menginisiasi ini dan membuka jalan tentu kita harus berproses bagaimana proses yang sudah kita lakukan tentu ditindaklanjuti,” tutur Dovy.

Ia mengatakan dengan pertemuan yang turut dihadiri Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K) untuk dibuatkan Surat Keputusan (SK) tim. “Ini agar kita bergerak bersama-sama. Sehingga hasil penelitian pada 14 rumah sakit ini juga bisa menghasilkan data akan menelurkan sebuah kebijakan. Ini adalah yang sangat penting tentunya bagi kita,” sebutnya.

Dovy mengatakan berbicara kebijakan, bagaimana kita sudah mulai menginisiasi dalam pola penggunaan antibiotik ini. “Kita sepakat mengubah kebijakan dengan data dan penelitian yang harus kita lakukan. Karena sudah menjadi acuan maka kita dukung keberadaan Dr dr Andani Eka Putra MSc untuk mendapatkan data penelitian ini. Kita sama jugakan bagaimana bekerja dengan baik,” tukasnya.(*)

Wirid Mingguan RSUP Dr M Djamil, Salat dan Sedekah Obat Keluh Kesah Manusia 

Manusia tentu akan menghadapi cobaan dan godaan selama hidup di dunia. Sehingga tak jarangan mereka akan berkeluh kesah karena merasa tidak sanggup menghadapinya atau merasa resah dengan situasi yang sedang terjadi hingga berputus asa.

“Dalam Surah Al- Maarij, walaupun Dia sudah menciptakan dengan sebaik-baik bentuk, tetapi sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan berkeluh kesah ketika diberi kesusahan,” kata Ustad Zulkarim Lc MA saat Wirid Mingguan di Masjid Asy Syifa kompleks RSUP Dr M Djamil, Jumat (1/11).

Turut dihadiri Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua, Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K), Plh Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr Kino SpJP (K), Ketua DWP Ny Winanda Dovy Djanas, manajemen dan civitas hospitalia.

Ia mengatakan kondisi kaya maupun miskin, hujan maupun panas, manusia tetap mengeluh. Padahal sifat mengeluh ini sangat tidak disukai Allah. “Membayangkan rahmat Allah yang sudah begitu banyak diberikan kepada kita, yang jumlahnya tidak terhitung, tetapi meskipun demikian kita masih mengeluh,” tutur Zulkarim Lc MA.

Ia menegaskan sifat keluh kesah ini dilarang dan harus dikurangi. Ia mengajak agar mensyukuri apapun yang Allah berikan. Menurutnya, jika yang Allah berikan tidak menyenangkan maka yakinilah bahwa itu merupakan cobaan untuk menguji kesabaran.

Kemudian, Ia mengungkapkan dua cara untuk mengobati penyakit mengeluh ini, yaitu pertama dengan mendirikan salat dan kedua dengan bersedekah. “Sisihkan harta untuk diberikan kepada orang yang berhak menerima. Dengan sedekah/infak maka akan menenangkan hati karna tidak ada hak orang lain di kantong kita. Bersedekah menjauhkan dari sifat keluh kesah, apalagi sedekah yang rutin dilakukan secara berkelanjutan,” tandasnya.

Sementara itu Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua mengatakan wirid mingguan ini menjadi tempat silaturahmi bersama civitas hospitalia. “Melalui wirid mingguan ini kita dapat memperoleh pengetahuan sehingga bisa mengisi atau me-recharge pikiran kita kembali sehingga dapat kita terapkan dalam kehidupan,” jelas dokter spesialis Fetomaternal ini.

Ia juga mengajak seluruh civitas hospitalia untuk lebih meningkatkan kepedulian dan mengerti tugas serta fungsi masing-masing. Karena RSUP Dr M Djamil merupakan layanan publik. “Tidak hanya memikirkan keuntungan semata namun lebih kepada memberikan pelayanan yang maksimal kepada pasien,” tukasnya. (*)

RSUP Dr M Djamil Sambut Tim Monev, Langkah Nyata Majukan Pelayanan JKN

RSUP Dr M Djamil menerima kunjungan tim monitoring dan evaluasi (monev) program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Tahap III 2024 Pengwil II. Tidak hanya mengevaluasi dan memonitoring pelaksanaan program JKN, tim juga meninjau pelayanan di Poliklinik, kelas rawat inap standar serta Instalasi Bank Jaringan dan Sel RSUP Dr M Djamil.

“Salah satu isu yang tengah menjadi fokus saat ini adalah upaya untuk menjaga keberlanjutan dan kestabilan finansial dari program JKN, yang memerlukan efisiensi dalam pelaksanaan dan pengendalian biaya pelayanan. Di sinilah peran rumah sakit dan BPJS Kesehatan penting untuk memastikan bahwa prinsip gotong royong dapat berjalan optimal tanpa mengurangi mutu layanan,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua saat sambutan di Aula Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Kamis (31/10).

Tim Monev Program JKN yakni Direktur Perencanaan dan Pengembangan BPJS Kesehatan Dr dr Mahlil Ruby MKes, Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Dr Ahmad Irsan A Moeis SE ME. Deputi Direksi Perencanaan dan Evaluasi Organisasi BPJS Kesehatan Deded Chandra SE MAk, Deputi Direksi Bidang Sumber Daya Sarana dan Umum BPJS Kesehatan Ifran SE.

Deputi Direksi Wilayah II BPJS Kesehatan dr Eddy Sulistijanto Hadie MM AAK, Kepala Seksi HP Jaminan Sosial Kesehatan Kementerian Keuangan RI Dwi Dermawan Setia Aji dan Kepala BPJS Kesehatan Cabang Padang dr Fauzi Lukman Nurdiansyah MM.

Sementara dari RSUP Dr M Djamil dihadiri  Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K), Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Direktur Layanan Operasional drg Ade Palupi Muchtar MARS beserta jajaran manajemen.

Selain itu, sebut Dovy, transformasi layanan kesehatan melalui Kebijakan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) yang saat ini sedang disiapkan akan semakin memperkuat prinsip keadilan dalam akses layanan. “Di RSUP Dr M Djamil, kami terus berkomitmen dalam menyiapkan layanan yang sesuai dengan standar ini. Dan berharap agar kebijakan KRIS ini dapat menjawab kebutuhan pasien dalam segala tingkatan sosial dengan pelayanan yang setara dan bermutu,” harap Dovy.

Ia mengatakan pihaknya menyambut baik kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) ini sebagai langkah nyata dalam memajukan pelayanan JKN di wilayah Sumatera Barat, khususnya di RSUP Dr M Djamil. “Kegiatan ini sangat penting bagi kami untuk mengukur capaian dan tantangan yang dihadapi dalam memberikan layanan kesehatan berkualitas, termasuk di era JKN ini,” tutur dokter spesialis Fetomaternal ini.

Dovy berharap melalui monev ini, sinergi antara rumah sakit, BPJS Kesehatan, dan instansi terkait akan semakin kuat dalam meningkatkan kualitas dan efisiensi pelayanan kepada masyarakat. “Kami juga berharap adanya umpan balik dan rekomendasi yang dapat membantu kami dalam menyusun langkah-langkah perbaikan di masa mendatang, baik dalam aspek layanan maupun manajemen,” saran Dovy.

Selain itu, monev kali ini juga menjadi kesempatan bagi RSUP Dr M Djamil untuk mengidentifikasi area yang memerlukan peningkatan, memastikan bahwa standar pelayanan dapat dicapai dengan optimal. “Sekaligus mendukung implementasi Kebijakan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) yang sejalan dengan transformasi pelayanan kesehatan,” ungkap Dovy.

Pada kesempatan itu, Dirut RSUP Dr M Djamil mempresentasikan rencana pengembangan masterplan rumah sakit. Dan Direktur Medik dan Keperawatan memaparkan layanan unggulan RSUP Dr M Djamil.

Direktur Perencanaan dan Pengembangan BPJS Kesehatan Dr dr Mahlil Ruby MKes mengatakan rumah sakit, puskesmas dan klinik adalah mitra yang paling dekat sebenarnya. Itu tanpa ada rumah sakit, tanpa ada puskesmas, tanpa ada klinik maka tidak ada JKN. Karena end user akhirnya end benefit. End benefit akhir yang kita jual adalah pelayanan kesehatan.

“Beda dengan Jamsostek yang dijual ketika kita masuk hari tua. Jadi yang menjadi benefitnya hari tua dan tidak ada hubungannya dengan fasilitas kesehatan lain.  Bahwa ketika Anda sakit, kita tidak kasih uang. Tapi pergi ke fasilitas layanan kesehatan. Jadi itu karakteristik yang berbeda dengan jaminan-jaminan lainnya,” tuturnya.

Kalau jaminan lain, tegasnya, tidak memiliki  pihak ketiga yang menyelenggarakan itu. “Oleh karena itu BPJS Kesehatan dengan fasilitas kesehatan hal-hal tidak bisa dipisahkan. Karena gak ada faskes gak ada JKN,” tegasnya.

Jadi, sebutnya, rumah sakit atau fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) itu mitra utama BPJS Kesehatan. “Oleh karena itu perlu dikomunikasikan ke seluruh rumah sakit kondisi BPJS Kesehatan saat ini,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Dr Ahmad Irsan A Moeis SE ME mengatakan secara umum ada dua keluhan terkait JKN yakni pertama masalah standardisasi layanan dan kedua para pemangku atau pilar-pilar di ekosistem JKN ini baru punya semangat yang sama. Tetapi belum mempunyai langkah yang sama.

“Kita belum punya pemahaman atau understanding yang kuat bahwa masing-masing kita itu perannya beda terkait JKN ini. Tapi seharusnya saling menguatkan dan saling mengunci,” pintanya.(*)

RSUP Dr M Djamil-FK Unand Jalin Kerja Sama Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

RSUP Dr M Djamil terus menunjukkan komitmen sebagai rumah sakit pendidikan utama. Hal ini seiring telah ditandatangani perjanjian kerja sama antara RSUP Dr M Djamil dengan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand).

Penandatanganan tersebut dilakukan oleh Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua bersama Dekan Fakultas Kedokteran Unand Prof Dr dr Afriwardi SH MA SpKO Subsp APK (K). Perjanjian kerja sama mencakup penyelenggara pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Turut disaksikan Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K), Direktur Layanan Operasional drg Ade Palupi Muchtar MARS, Plh Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr Kino SpJP (K), Koordinator Komite Pendidikan Dr dr Daan Khambri SpB (Onk) K dan Manajer Hukum dan Humas Nova Afriani SH MH.

“Alhamdulillah telah disepakati kerja sama antara RSUP Dr M Djamil sebagai rumah sakit pendidikan utama dengan Fakultas Kedokteran Unand. Sebenarnya ini sudah merupakan suatu kegiatan yang kita laksanakan terkait dengan hal-hal pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua.

Ia mengatakan kerja sama ini selaras dengan Undang-Undang No 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan. Di dalam UU itu terkandung antara institusi pendidikan maupun rumah sakit pendidikan agar melakukan kerja sama sesuai dengan poin yang tercantum dalam kerja sama tersebut.

“Kami berharap apa yang telah disepakati ini terhadap beberapa pasal termasuk soal jumlah anak didik dan proses perekrutan tentu kita bersama-sama. Bagaimana pun juga ini akan menjadi suatu beberapa hal yang sangat penting. Kita melayani proses pendidikan yang betul-betul bisa memperbaiki terhadap apa yang selama ini  kurang serta tidak termonev dengan baik. Dan ini sudah termaktub di dalam perjanjian,” ungkap Dovy.

Ia menekankan unit fungsional yang berperan penting dalam kerja sama ini adalah Komite Koordinator Pendidikan (Komkordik) RSUP Dr M Djamil. “Komkordik ini muaranya semua proses yang akan nanti mengatur, merencanakan dan menjalankan apa yang ada pada perjanjian kerja sama ini,” ungkap dokter spesialis Fetomaternal ini.

Dekan Fakultas Kedokteran Unand Prof Dr dr Afriwardi SH MA SpKO Subsp APK (K)  hasil kesepakatan kerja sama itu adalah hal yang terbaik saat ini. Mudah-mudahan nanti kalau ada perubahan-perubahan yang dilakukan untuk addendum itu adalah hal biasa.

“Pada hari ini kita pasang niat baik bersama-sama sehingga kerja sama ini bisa ditandatangani. Semoga silaturahmi antara RSUP Dr M Djamil dengan Fakultas  Kedokteran Unand tetap terjaga. Mudah-mudahan Allah SWT meridhoi kita semua,” ucap Prof Afriwardi.

Sementara Ketua Komkordik RSUP Dr M Djamil Dr dr Daan Khambri SpB (Onk) K mengatakan seluruh Komkordik dan jajaran berbahagia dengan telah ditandatangani kerja sama ini. “Semoga InshaAllah isi dari perjanjian tersebut akan kami tindaklanjuti dan laksanakan sesuai arahan dari Direktur Utama RSUP Dr M Djamil dan Dekan FK Unand. Tentunya dalam hal monitoring dan evaluasinya akan secara berkala kita laksanakan. Dan akan kita laporkan ke Direktur Utama RSUP Dr M Djamil dan Dekan FK Unand,” tukasnya.(*)

RSUP Dr M Djamil Terima Kunjungan Tim Surveilans Hospital Record Review Dinkes Kota Padang

RSUP Dr M Djamil menerima kunjungan tim Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Padang di Ruang Rapat Direksi Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Rabu (30/10). Kunjungan itu dalam rangka surveilans hospital record review.

Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K) didampingi Manajer Pelayanan Medik dr Nirza Warto SpTHT KL (K) menerima rombongan tim P2P Dinas Kesehatan Kota Padang yang dipimpin Plt Kabid P2P dr Citra Septiyenri Syahnur tersebut.

“Surveilans Hospital Record Review ini merupakan salah satu langkah penting dalam mencapai tujuan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit,” kata Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K) saat memberikan sambutan.

Ia mengatakan dengan mengevaluasi catatan medis pasien, kita dapat mengidentifikasi area yang perlu perbaikan dan memastikan bahwa setiap pasien mendapatkan perawatan terbaik. “Kegiatan ini dilaksanakan dalam langkah pemantauan dan pengendalian penyakit menular. Serta untuk mendapatkan data yang akurat dan lengkap dalam pencatatan medis terutama terkait data penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah,” ucap Dr dr Bestari.

Plt Kabid P2P Dinas Kesehatan Kota Padang dr Citra Septiyenri Syahnur mengatakan surveilans aktif rumah sakit merupakan salah satu prioritas kegiatan penemuan kasus di rumah sakit dengan asumsi setiap kasus lumpuh pada anak akan dibawa ke rumah sakit.

Ada pun lokasi pengamatan yakni semua rumah sakit yang merawat anak usia kurang dari 15 tahun baik rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta, rumah sakit TNI dan rumah sakit Polri. Sedangkan lokasi penemuan yakni bangsal anak, poli anak, poli syaraf, unit fisioterapi/rehabilitasi medik, UGD,  dan bangsal atau poli penyakit dalam jika umur anak 15 tahun dirawat di sana.

“Pelaksananya petugas surveilans kabupaten/kota, petugas surveilans atau contact person rumah sakit. Dan frekuensinya setiap hari bagi petugas surveilans RS dan setiap minggu bagi petugas dinas kesehatan,” tutur dr Citra.

Ditambahkan Kasub Koordinator Seksi Surveilans dan Imunisasi Tutwuri Handayani SKM MKes, tujuan surveilans hospital record review adalah untuk mengevaluasi kegiatan surveilans accute flaccid paralysis (AFP) di rumah sakit atau mengukur sensivitas surveilans berbasis rumah sakit.

“Caranya mereview data rekam medik/register di seluruh unit di rumah sakit merawat anak usia kurang dari 15 tahun (bangsal anak, syaraf, poli anak, syaraf, penyakit dalam, UGD, poli rehab medik) untuk periode tertentu atau yang telah ditentukan (6 bulan sampai 1 tahun). Dan dilakukan pada rumah sakit yang selama waktu diharapkan tidak melaporkan,” ucap Tutwuri Handayani.

Ia mengatakan ada pun diagnosis dengan penyakit AFP sebagai berikut. Gullian barre syndrom, myelitis vetra, poliomyelitis, polyneurophaty, myelophaty, dermatomyositis, hipokalemia. Kemudian stroke pada anak, erbs paralysis, food drop pralysis, dan todds paraylisis.

Duchene muscular dystrophy, periodic paralysis hipokalemia, spinal muscular atrophy, efek samping sitostatika. Ensepalitis atau Ensefalopaty, meningitis, miastenia gravis umum, metabolic myopathies, dan herediter motor and sensory neorpathy (HMSN). “Ingat, gejala AFP dapat ditemukan juga pada penyakit selain yang disebutkan tadi. Bila diagnosis pasti belum bisa ditegakkan dapat dituliskan suspek dan DIDnya,” tukasnya.(*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45