Mengenal Peritoneal Dialysis, Metode Cuci Darah lewat Perut

Berdasar data riset kesehatan dasar bahwa penderita ginjal kronik setiap tahun meningkat. Dan apabila penyakit ginjal kronik itu sudah sampai pada stadium akhir maka dia memerlukan terapi pengganti ginjal.

Selama ini kita tahu bahwa terapi ginjal yang sangat dikenal adalah hemodialisis atau yang biasa kita kenal dengan cuci darah. Sebenarnya ada satu lagi di samping transplantasi ginjal, itu ada namanya peritoneal dialysis. Bisa dikatakan sebagai cuci air atau cuci perut.

“Jadi tindakan ini sebenarnya lebih sederhana dibanding dengan hemodialisis atau cuci darah. Kita bisa lihat di sini jika pasien menginginkan tindakan peritoneal dialysis, nanti dokter bedah akan memasang alat di dalam rongga perutnya. Kemudian kita akan memasukkan cairan ke dalam rongga perut dan dibiarkan selama lebih kurang delapan jam,” kata dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi dr. Drajad Priyono, SpPD-KGH, FINASIM di Instalasi Diagnostik Terpadu RSUP Dr. M. Djamil, belum lama ini.

Dan ini akan sangat nyaman karena berbeda dengan hemodialisis atau cuci darah. “Itu pasien akan ditusuk setiap homedialisis, ditusuk dua kali dengan dua jarum. Ini tentunya akan menyakitkan. Dan biasanya darahnya akan ditarik keluar menuju mesin dialisis sehingga sering terjadi tekanan darah turun, pasien menjadi shock, dan juga akan menimbulkan masalah di akses atau pembuluh darah yang kita gunakan sebagai alat untuk menarik darah dari dalam tubuh kita,” ungkapnya.

Dengan CAPD atau peritoneal dialysis ini, tegas dr. Drajad, sebenarnya lebih diutamakan bagi anak-anak, pasien gangguan jantung dan pasien-pasien yang aksesnya pembuluh darahnya tidak bagus. “Dan hasilnya memang kalau kita lihat dibanding hemodialisa hampir sama. Bahkan pasien-pasien kita menjalani CAPD atau peritoneal dialysis itu merasa nyaman. Karena memang minumnya agak lebih bebas, makannya lebih bebas dan pasien-pasien yang menjalani peritoneal dialysis ini jarang yang mengalami anemia atau kurang darah. Oleh karena memang dalam proses peritoneal dialysis atau cuci air itu, darahnya tidak ada yang keluar. Kita hanya memasukkan cairan dalam perut kemudian cairan itulah yang akan menyerap racun-racunnya. Setelah delapan jam kita buang dan kita ganti dengan cairan yang baru. Itu bisa berlangsung tiga atau empat kali sehari,” paparnya.

Ia menegaskan cuci air ini berbeda dengan hemodialisis ini. Kalau hemodialisis, pasien datang ke rumah sakit dua kali seminggu. Sedangkan CAPD atau peritoneal dialysis pasien hanya datang mengambil cairan satu kali satu bulan. Bahkan sekarang sedang diupayakan cairan itu bisa diantarkan ke rumah pasien. Jadi ini sangat memudahkan pasien untuk menjalani peritoneal dialysis.

“Dan bagi pasien yang jauh dari rumah sakit dan tidak memiliki unit layanan hemodialisis bisa memilih peritoneal dialysis sebagai alternatif terapi pengganti ginjal,” sarannya.

Dengan mengenalkan terapi ginjal, sebut dr. Drajad, salah satunya peritoneal dialysis bisa menjadi alternatif bagi pasien yang menderita penyakit ginjal kronik stadium akhir. “Jadi percayalah dokter bedah urologi yang memasang alat ini ke dalam rongga perut sudah ahli dan tidak perlu dikhawatirkan. Dan pemasangannya pun tidak menimbulkan rasa sakit dan lebih nyaman,” tuturnya.

Nanti setelah dua minggu, ucap dr. Drajad, alatnya bisa dipakai dan sudah bisa digunakan. Sehingga pasien bisa kembali ke daerah dan melanjutkan cuci airnya di tempat masing-masing. Dan tidak perlu lagi datang ke rumah sakit dua kali seminggu. “Inilah keunggulan peritoneal dialysis dibanding hemodialisis,” tukasnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil, RSAB Harapan Kita dan PDRPI FK Unand Sepakat Kembangkan Panel Respiratori Virus

RSUP Dr. M. Djamil bersama RS Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita Jakarta dan Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi (PDRPI) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas mengadakan rapat membahas pengembangan panel respiratori virus secara virtual, Senin (13/1). Pada rapat tersebut menyepakati  kerja sama antara dua rumah sakit tersebut dengan PDRPI Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dalam pengembangan panel respiratori virus ini.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada RSAB Harapan Kita Jakarta beserta tim dan PDRPI Fakultas Kedokteran Unand sehingga kita bisa melakukan penjajakan kerja sama ini. Dan kita patut bangga bisa menindaklanjuti instruksi Bapak Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua saat rapat.

Rapat tersebut dipimpin Direktur Medik dan Keperawatan RSAB Harapan Kita Jakarta dr. Endah Citraresmi, Sp.A (K), MARS secara vritual. Sedangkan di RSUP Dr. M. Djamil, rapat tersebut dilangsungkan di Ruang Rapat Direksi.

Turut dihadiri Direktur Layanan Operasional RSUP Dr. M. Djamil drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Kino, SpJP (K), Manajer Penelitian dan Pengembangan dr. Zulda Musyarifah, Sp.PA serta Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc.

Ia mengatakan tentu kita harus menghilangkan image negatif dulu padahal kita mampu sebenarnya. Dan itu, sudah dibuktikan kiprahnya oleh Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc sebagai Tenaga Ahli Menteri Kesehatan RI selama Covid-19 dan Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand.

“Saya melihat beliau bersama tim Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi cukup kuat. Ini bisa kita manfaatkan bersama dalam bentuk kerja sama pengembangan lainnya,” ungkap Dovy.

Ia berharap melalui rapat ini menjadi momentum untuk berkolaborasi ke depannya dalam hal yang bisa dilakukan bersama antara dua rumah sakit ini. “Kami siap untuk mendukung program ini. Dan kami memang melalui tim Clinical Research Unit (CRU) telah menyiapkan segala sesuatunya. Sehingga kolaborasi ini memperkuat kita dan akan memperlihatkan bahwa kita semangat untuk  kekuatan anak bangsa ini. Dan saya kira semua bisa berkolaborasi dengan semua rumah sakit vertikal yang ada di Indonesia,” harap Dovy.

Direktur Medik dan Keperawatan RSAB Harapan Kita Jakarta dr. Endah Citraresmi, Sp.A (K) mengatakan banyak sekali infeksi ISPA yang kemudian pihaknya tidak bisa membedakan ini virus atau bakteri. Akhirnya dapat antibiotik. “Jadi resistensi dan kemudian menjadi hal konsekuensi yang pasti akan terjadi selanjutnya dengan kita tidak bisa menggunakan antibiotik dengan baik,” ucapnya.

Oleh karena itu, tekannya, kerja sama antara RSAB Harapan Kita, RSUP Dr. M. Djamil dan Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand ini dapat melakukan pengembangan panel respiratori virus ini. “Saya meminta tim penelitian RSAB Harapan Kita untuk segera berkolaborasi dengan tim penelitian RSUP Dr. M. Djamil. Sehingga kolaborasi dan kerja sama ini dapat segera diwujudkan,” harapnya.

Sementara itu Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc mengatakan pihaknya dari Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand telah merancang kitnya lengkap dengan kontra positif. Yang kita rancang itu adalah rhinovirus, respiratory syncytial virus, influenza A, dan Covid-19.

“Dan Covid tidak terlalu tren sekarang. Kita akan geser dan ganti dengan HMPV ini. Untuk jangka pendek saya merancang untuk HMPV yakni RSV, Influenza, mungkin satu lagi apakah rhinovirus atau Covid terserah,” sebutnya.

Ia menekankan produknya sudah ada, reagennya sudah ada, dan kitnya sudah ada tapi belum pernah diuji. Kerja sama ini bagaimana kita mengembangkan bersama-sama. Karena dua-duanya dalam proses pengembangan.

“Jadi yang kita rancang, rumah sakit menyediakan spesimen itu adalah bagian dari kerja sama. Kita anggap nanti punya bersama. Dan berharap dengan cara seperti ini kita akan lebih cepat. Untuk RSUP Dr. M. Djamil sudah bisa dari mulai sekarang untuk menyediakan spesimen anak dan spesimen orang tua,” tukasnya. (*)

Wirid Mingguan RSUP Dr. M. Djamil, Persiapkan Diri Sambut Ramadan

Tinggal menghitung hari untuk seluruh umat muslim memasuki bulan Ramadan 1445 H. Selain menyambut dengan gembira tentu sebagai umat muslim harus mempersiapkan segalanya dengan baik dan matang agar puasa tahun ini lebih baik dari puasa tahun-tahun sebelumnya.

“Sebelum datangnya bulan yang penuh berkah ini, hendaknya setiap umat muslim memiliki persiapan. Sehingga ibadah dalam bulan Ramadan berjalan dengan baik,” kata Ustad Zul Akmal, Lc. MA saat Wirid Mingguan di Masjid Asy Syifa, Jumat (10/1).

Turut dihadiri Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, manajemen, pengurus DWP RSUP Dr. M. Djamil, dan civitas hospitalia.

Ia mengatakan beberapa hal yang bisa disiapkan sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Pertama, persiapan ilmu. Agar aktivitas di bulan Ramadan bisa optimal  dijalankan maka harus memiliki wawasan dan pemahaman yang benar tentang bulan Ramadan. “Caranya ialah banyak membaca berbagai bahan rujukan yang membahas tentang Ramadan,” tuturnya.

Kedua, taubat. Taubat harus diupayakan sebelum memasuki bulan suci Ramadan, agar saat memasuki bulan mulia itu dosa telah diampunkan. Mengapa demikian, sebab dosa adalah penghalang untuk mendapatkan kebaikan yang lebih besar lagi.

“Tidaklah kita terhalang untuk melakukan ketaatan-ketaatan yang biasa kita lakukan dengan tekun sepanjang siang dan malam, melainkan karena efek dari kemaksiatan yang kita lakukan,” ucap Zul Akmal.

Ketiga, niat. Dengan harapan agar bulan Ramadan kali ini dipenuhi dengan hal-hal baik. Selain itu, juga doa agar pada bulan ini, senantiasa dijadikan sebagai orang yang istiqomah dalam melakukan hal-hal baik. “Pasalnya, ibadah dan amalan pada bulan ini akan dilipatgandakan dari bulan selain Ramadan,” tuturnya.

Keempat, rasa syukur. Rasa syukur karena pada tahun ini masih diberi kesempatan untuk berjumpa dengan bulan Ramadan. “Hal ini merupakan tanda bahwa Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk senantiasa memperbanyak amal ibadah dan mengurangi perbuatan maksiat,” ungkapnya.

Sementara, Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) mengatakan wirid mingguan ini menjadi tempat silaturahmi bersama civitas hospitalia. “Melalui wirid mingguan ini kita dapat memperoleh pengetahuan sehingga bisa mengisi atau me-recharge pikiran kita kembali sehingga dapat kita terapkan dalam kehidupan,” harapnya.(*)

Cegah Virus HMPV, Masyarakat Diimbau Kembali Gunakan Masker dan Rajin Cuci Tangan

Kasus Human metapneumovirus (HMPV) baru–baru ini merebak di China. Kondisi demikian menimbulkan kekhawatiran di seluruh dunia termasuk di Indonesia, khususnya Sumatera Barat. Agar lebih waspada yuk kenali apa itu virus HMPV ini!

Ketua KSM Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Finny Fitry Yani, Sp.A (K) menjelaskan Human metapneumovirus (HMPV) merupakan virus yang sudah dikenal sejak lama. Akan tetapi sebelum-sebelum ini mungkin kejadiannya tidak tinggi dan tidak menyebabkan kejadian yang fatal.

“Virus ini satu keluarga dengan respiratory syncytial virus (RSV). RSV ini memang sering sebagai penyebab infeksi saluran napas bawah atau bronkiolitis pada bayi dan anak,” tutur Dr. dr. Finny.

Virus HMPV, sebutnya, juga bisa menyebabkan gejala yang berat. Tapi sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan data-data selanjutnya. “Jadi kita masih mengamati,” sebutnya.

Ia mengatakan penularan HMPV ini melalui droplet percikan air ludah yang ditularkan oleh si penderita yang mengandung virus tersebut. “Nah, jadi virus tersebut akan terhirup oleh seseorang apakah anak atau dewasa. Jika sistem imun sedang baik, maka virus mungkin bisa dimusnahkan oleh tubuh.

Jika daya tahan tubuhnya sudah menurun, dia akan berkembang biak di dalam tubuh. Nanti barulah sekitar 3 sampai 6 hari setelah itu dia akan menimbulkan gejala,” paparnya.

Bagaimana dengan gejalanya? Ia menyebutkan hampir sama dengan gejala  batuk dan pilek biasa. “Jika ada batuk dan pilek disertai demam ringan atau demam tinggi, nyeri otot. Nah itu adalah gejala-gejala infeksi saluran napas. Dan gejalanya itu hampir mirip dengan gejala pada virus HMPV,” ucap Dr. dr. Finny.

Untuk mengetahui karena virus HMPV atau tidak, sebut Dr. dr. Finny, tentu saja harus dengan pemeriksaan pembuktian. “Misalnya sewaktu Covid-19, kita harus swab tenggorokan dan diperiksa PCR-nya,” ungkapnya.

Jika ditemukan gejala tersebut pada anak, Dr. dr. Finny menyarankan dilakukan pencegahan secara umum. “Kalau anaknya sudah besar, pakaikan masker. Kalau anak masih kecil dan tidak bisa pakai masker maka kita di sekelilingnya pakai masker,” ucapnya.

Selanjutnya, melakukan standar cuci tangan. Karena diketahui droplet itu bisa berada di mana saja. Baik di permukaan benda-benda atau di tangan itu sendiri. “Jadi, kalau kita sudah membiasakan cuci tangan yang baik dan benar sesuai aturan, ketika tangan sudah memegang sesuatu jika itu ada virus maka virus itu akan tereliminasi sehingga tidak menular pada kita atau tidak pindahkan ke orang lain,” tegasnya.

Ia menekankan protokol standar Covid-19 dulu diaktifkan kembali. “Kalau sudah mulai lupa pakai masker dan cuci tangan, maka kita mulai kembali terapkan protokol standar Covid-19 lalu,” sebutnya.

Ia menyebutkan sampai saat ini untuk obat virus HMPV belum ada. “Jadi obatnya hanya terkait dengan meredakan gejala dan lainnya,” tuturnya.

Ia mengimbau masyarakat tidak panik dengan  virus HMPV ini. Meski virus ini mudah menular, dampaknya cenderung ringan pada orang dengan sistem imun yang baik. “Dengan pendekatan yang hati-hati dan informasi yang tepat, kekhawatiran tentang HMPV dapat dikelola. Kesehatan masyarakat tetap terjaga tanpa menciptakan keresahan yang berlebihan,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Dukung Visitasi Akreditasi Anestesiologi dan Terapi Intensif

RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit pendidikan utama bagi Universitas Andalas terus berkomitmen mendukung peningkatan kualitas pendidikan kedokteran spesialis. Termasuk dalam bidang anestesiologi dan terapi intensif.

“Kolaborasi antara rumah sakit dan universitas sangatlah penting dalam menghasilkan lulusan yang unggul dan kompeten. Ini sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua pada Visitasi Internal Akreditasi Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Program Spesialis Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Andalas (Unand) di Ruang Sidang Prof dr A Roesma FK Unand Limau Manis, Kamis (9/1).

Diketahui tim visitasi oleh kolegium ini terdiri dari Dr. dr. Purwoko, Sp.An-TI, Subsp An.Kv (K), Subsp An.O (K) dan Dr. dr. Widya Istanto Nurcahyo Sp.An-TI, Subsp An.Kv (K), Subsp An.R (K). Pertemuan tersebut juga dihadiri Dekan Fakultas Kedokteran Unand Prof. Dr. dr. Afriwardi, SH, Sp.KO, MA, Ketua Komkordik RSUP Dr. M. Djamil/FK Unand Dr. dr. Daan Khambri, Sp.B(K)Onk., M.Kes, Ketua dan seluruh staf Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif.

Ia mengatakan proses akreditasi ini bukan sekadar formalitas, melainkan juga sarana refleksi untuk mengevaluasi dan memperbaiki sistem yang ada. “Kami siap mendukung penuh kelancaran kegiatan ini dengan memberikan akses informasi dan data yang dibutuhkan oleh tim asesor,” tuturnya.

Ia menekankan RSUP Dr. M. Djamil berkomitmen untuk mendukung penuh Prodi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Universitas Andalas. Baik dari segi fasilitas, sumber daya, maupun pengembangan riset dan inovasi.

“Visitasi ini adalah momentum penting bagi kami, khususnya dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, pelayanan, dan pengembangan Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif, yang menjadi tulang punggung dalam penanganan kasus-kasus kritis dan kompleks di pelayanan kesehatan,” ucap dokter spesialis Fetomaternal ini.

Ia berharap hasil dari visitasi ini dapat menjadi pijakan yang kuat untuk semakin meningkatkan mutu Prodi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Universitas Andalas. “Sehingga mampu melahirkan tenaga medis yang profesional dan berdaya saing global,” harapnya.

Dekan Fakultas Kedokteran Unand Prof. Dr. dr. Afriwardi, SH, Sp.KO, MA mengatakan dukungan yang diberikan RSUP Dr. M. Djamil memang dibutuhkan program subspesialis ini. “Mudah-mudahan support itu pada saat kita mendapatkan catatan-catatan kecil nanti, mungkin saja catatan-catatan tersebut akan menjadi perhatian bagi rumah sakit pendidikan utama ini,” sebutnya.

Sehingga, tutur Prof. Afriwardi, kerja sama yang diharapkan dalam rangka menghasilkan sumber daya manusia yang mumpuni tersebut adalah memang dapat kita bersamakan. “Dan InshaAllah ini akan menjadi lebih baik dan Allah akan meridhoi apa yang kita lakukan,” tukasnya.(*)

Cerita Pegawai Kesling RSUP Dr. M, Djamil; Pentingnya Pencahayaan di Rumah Sakit

Pencahayaan merupakan salah satu faktor lingkungan fisik yang ada di rumah sakit. RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan dan rujukan di wilayah Sumatera bagian Tengah memperhatikan hal itu. Pasalnya pengukuran intensitas pencahayaan diperlukan sebagai salah satu kegiatan untuk akreditasi rumah sakit.

Muhammad Jonathan Widakdo, pegawai Instalasi Kesehatan Lingkungan tengah menenteng seperangkat lux meter (alat pengukur intensitas cahaya) pada Jumat (3/1). Hari itu, ia akan melakukan pengukuran intensitas cahaya di ruangan kelas rawat inap standar (KRIS) Bangsal Penyakit Dalam.

Setiba di ruangan yang dituju, ia pun mempersiapkan alat lux meter tersebut. Kemudian, ia menempatkan lux meter pada posisi yang tepat. Gunanya tidak ada objek yang menghalangi cahaya yang diterima oleh sensor lux meter.

Jo–akrab dipanggil menghidupkan lux meter. Selanjutnya membaca hasil pembacaan, mencatat, dan menganalisis data tersebut. Usai pengukuran intensitas cahaya, Jo pun melanjutkan melakukan pengukuran kebisingan, kelembaban dan suhu.

“Pengukuran dilakukan untuk menilai apakah suatu lingkungan sesuai dengan standar baku mutu lingkungan yang sudah ditetapkan. Jika tidak sesuai akan berdampak kepada kesehatan dan kenyamanan pengunjung, pasien maupun civitas hospitalia,” kata Jo.

Ia menjelaskan pencahayaan merupakan salah satu faktor penting dalam perancangan ruang. Pencahayaan dalam ruang rawat inap pasien dapat mempengaruhi kenyamanan pasien jiwa selama menjalani perawatan dan berpengaruh bagi kelancaran paramedis dalam menjalankan aktivitas.

“Apabila ruang rawat pasien tidak disediakan akses pencahayaan maka fungsi konsep perancangan tidak dapat terpenuhi dengan baik. Dalam hal ini dikarenakan pencahayaan berhubungan dengan kenyamanan dan keselamatan pasien yang dirawat, perawat dan pengunjung yang ada di rumah sakit,” tutur Jo.

Menurut Permenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, rumah sakit mempunyai standar pencahayaan seperti ruang pasien saat tidak tidur sebesar 100-200 lux dengan warna cahaya sedang, sementara pada saat tidur maksimum 50 lux dan toilet minimal 100 lux.

“Dengan demikian, intensitas cahaya perlu diatur untuk menghasilkan kesesuaian kebutuhan penglihatan di dalam ruang berdasar jenis aktivitas-aktivitasnya. Apalagi rumah sakit merupakan sarana pelayanan publik penting,” ucapnya.

Ia pun menceritakan pengalamannya selama bertugas di Instalasi Kesehatan Lingkungan. “Pengalaman yang menarik yang saya rasakan ketika melakukan pengukuran kebisingan di ruang rawat inap, salah seorang pasien mengajaknya berbicara. Tapi itu bukanlah halangan bagi saya untuk tetap bekerja maksimal,” tukasnya.(*)

15 Peserta Fellowship Ikuti LOI, Dirut M. Djamil: Galilah Ilmu dan Asah Keterampilan

Sebanyak 15 peserta fellowship mengikuti layanan orientasi informasi program fellowship di Kelas A Gedung Diklat RSUP Dr. M. Djamil, Rabu (8/1). Orientasi ini sebagai langkah awal bagi para peserta untuk lebih memahami tentang struktur, fasilitas, serta berbagai dukungan yang akan diterima selama mengikuti program fellowship.

Ke-15 peserta fellowship ini merupakan dokter spesialis Ilmu Penyakit Dalam, Jantung dan Pembuluh Darah, Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi. Mereka berasal dari rumah sakit swasta dan pemerintah, rumah sakit jejaring ampuan RSUP Dr. M. Djamil.

Rinciannya yakni dua orang fellowship kardio intervensi saat ini sedang berlangsung. Kemudian fellowship peserta periode Januari 2025 dengan rincian yakni Ilmu Penyakit Dalam terdiri dari 6 orang fellowship dialisis, 4 orang fellowship onkologi, dan 1 orang fellowship endoskopi tahap dasar. Jantung dan Pembuluh Darah terdiri dari satu orang fellowship kardio intervensi. Dan Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi terdiri dari satu orang fellowship sistemik onkologi thorak.

Fellowship itu sendiri dilaksanakan selama periode enam bulan. Kecuali fellowship kardio intervensi yang berlangsung selama 12 bulan. Direncanakan akhir Juni 2025 akan diadakan brevet (pelepasan peserta selesai fellowship).

“Kami ingin mengucapkan selamat kepada para peserta yang terpilih untuk mengikuti program fellowship. Kesempatan ini hendaknya dapat dimanfaatkan untuk menggali ilmu dan mengasah keterampilan, serta menjalin kerja sama yang baik antara para peserta dengan staf pengajar dan tenaga medis di RSUP Dr. M. Djamil,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua saat sambutan secara virtual.

Turut dihadiri Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr, Kino, Sp.JP (K), Manajer Diklat Ns. Venny Dwita Zola Anwar, S.Kep, Pj Fellowship Penyakit Dalam; (dr. Eifel Faheri, Sp.PD-KHOM, Dr. dr. Arnelis, Sp.PD-K.GEH, dr. Drajat Priyono, Sp.PD-KGH, FINASIM), Pj Fellowship Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi; Dr. dr. Sabrina Ermayanti, SpP (K) dan Pj Fellowship Jantung dan Pembuluh Darah dr. Hauda El Rasyid, SpJP (K).

Ia mengatakan program fellowship ini tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Akan tetapi juga sebagai wadah untuk berbagi pengalaman, berdiskusi, serta mengembangkan penelitian-penelitian yang berguna untuk kemajuan ilmu kedokteran di Indonesia, khususnya di bidang Ilmu Penyakit Dalam, Jantung dan Pembuluh Darah, serta Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi.

“Kami menyadari bahwa tantangan dalam dunia medis semakin kompleks. Sehingga dibutuhkan tenaga medis yang memiliki kompetensi tinggi dan mampu menghadapi tantangan tersebut dengan profesionalisme dan dedikasi yang tinggi,” ucap Dovy.

Program fellowship ini, harap Dovy, dapat melahirkan tenaga medis yang lebih kompeten, profesional, dan siap memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. “Terutama di bidang yang penting untuk kesehatan jantung, pembuluh darah, dan sistem pernapasan,” ujarnya.

Ia mengatakan Layanan Orientasi merupakan langkah awal yang penting bagi para peserta untuk lebih memahami jalannya program fellowship yang akan mereka ikuti. “Dan orientasi ini akan memberikan bekal yang dibutuhkan untuk memulai perjalanan mereka dalam menimba ilmu dan keterampilan di bidang spesialisasi masing-masing,” tuturnya.

Ia berharap Layanan Orientasi ini akan mempermudah para peserta untuk beradaptasi dan mempersiapkan diri sebaik mungkin, agar dapat memanfaatkan kesempatan belajar ini dengan maksimal. “Kami juga mengajak seluruh peserta untuk terus membangun semangat kolaborasi dan berbagi ilmu, baik antara peserta fellowship, staf pengajar, maupun seluruh tenaga medis yang ada di RSUP Dr. M. Djamil,” harap dokter spesialis Fetomaternal ini.

Manajer Diklat Ns. Venny Dwita Zola Anwar, S.Kep mengatakan tujuan dari kegiatan Layanan Orientasi Informasi ini. Yakni memberikan informasi yang jelas dan komprehensif tentang pelaksanaan program fellowship kepada seluruh peserta. Memperkenalkan para peserta kepada staf pengajar, fasilitas yang tersedia, serta sistem yang akan digunakan selama masa fellowship.

Menyediakan kesempatan bagi peserta untuk bertanya dan berdiskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan program ini agar mereka dapat memulai fellowship dengan pemahaman yang tepat. “Dan memperkuat komitmen peserta dalam mengikuti program dengan semangat dan dedikasi yang tinggi,” ucapnya.

Ia berharap kegiatan orientasi ini dapat memberikan gambaran yang jelas kepada seluruh peserta tentang pelaksanaan program fellowship. “Termasuk mempersiapkan mereka dengan baik untuk perjalanan pembelajaran yang akan datang,” tukasnya. (*)

Direksi RSUP Dr. M. Djamil Lakukan Kunjungan Balasan ke Bank Nagari

Direksi RSUP Dr. M. Djamil melakukan kunjungan silaturahmi ke Kantor Pusat Bank Nagari, Senin (6/1). Kunjungan ini merupakan kunjungan balasan yang mana pada 12 September 2024 Direksi Bank Nagari telah melakukan kunjungan ke RSUP Dr. M. Djamil.

Kedatangan direksi RSUP Dr. M. Djamil yang dipimpin Direktur Utama Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS ini disambut oleh Direktur Utama Bank Nagari Gusti Candra dan Direktur Keuangan Roni Edrian. Pertemuan tersebut berlangsung di Ruang Direktur Utama Bank Nagari.

Turut mendampingi Dirut RSUP Dr. M. Djamil yakni Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo dan Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Kino, Sp.JP (K). Sementara dari Bank Nagari dihadiri Pemimpin Divisi Bank Nagari.

“Tak terasa kita sudah memasuki tahun 2025. Dimana pada awal tahun ini, kami RSUP Dr. M. Djamil tentu butuh dukungan dan kerja sama dari Bank Nagari,” kata Direktur Utama Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS.

Ia mengatakan pada pertemuan ini pihaknya memaparkan beberapa program RSUP Dr. M. Djamil. Tentunya butuh dukungan dan kerja sama dari Bank Nagari. “Karena kami berpikiran bank yang mempunyai histori Sumatera Barat yakni Bank Nagari,” ucapnya.

Ia mengucapkan terima kasih kepada Bank Nagari atas CSR renovasi kamar mandi Embun Pagi. Hingga saat ini dua dari 9 rencana renovasi kamar mandi sudah selesai dilakukan. “Karena memang bangunan RSUP Dr. M. Djamil rata-rata 30-40 tahun. Oleh karena itu terhadap kondisi bangunan tersebut perlu renovasi dan perbaikan,” ucapnya.

Apalagi, tutur Dovy, target realisasi pendapatan RSUP Dr. M. Djamil mencapai Rp 885 miliar. Dan tahun 2026 ditargetkan mencapai Rp 1 triliun. “Dengan peningkatan layanan dan peningkatan sarana prasarana optimistis target realisasi pendapatan itu akan tercapai,” ucapnya.

Ia juga menyampaikan rencana pengembangan masterplan rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan. Hal ini upaya RSUP M Djamil nantinya memberikan kontribusi menahan devisa yang berobat ke luar negeri di Sumatera Barat. “Sehingga menjadi keunggulan kita dalam memberikan layanan terbaik di Sumatera Barat khususnya Sumatera Bagian Tengah umumnya,” harapnya.

Ia mengatakan rencana pengembangan masterplan rumah sakit ini telah disetujui oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. “Kini kami secara bertahap mewujudkan masterplan tersebut. Dan InshaAllah tahun 2026 akan dimulai rencana pembangunannya,” tutur Dovy.

Direktur Utama Bank Nagari Gusti Candra mengatakan merasa senang atas kunjungan yang dilakukan oleh direksi RSUP Dr. M. Djamil. “Semoga dengan kunjungan ini akan terus terjalin hubungan silaturrahmi yang lebih baik lagi antar Bank Nagari dengan RSUP Dr. M. Djamil,” tuturnya.

Sektor kesehatan merupakan sektor yang menarik, prospektif dan banyak segmen bisa dikolaborasikan dari hulu ke hilirnya. “Mulai dari alat kesehatannya, perawatnya, dokternya dan lain sebagainya, kita siap support. Termasuk keberlanjutannya,” tutur Gusti Candra.

Ia berharap sinergisitas dan kolaborasi antara Bank Nagari dan RSUP Dr. M, Djamil terus berlanjut ke depannya. “Kami siap memberikan dukungan kepada RSUP Dr. M Djamil. Tentunya dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di Sumatera Barat khususnya Sumatera Bagian Tengah umumnya,” harapnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Buka Layanan MCU Calon PPPK dan CPNS

RSUP Dr. M. Djamil membuka pelayanan khusus medical check up (MCU) bagi calon Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dan CPNS. MCU ini merupakan bagian dari tahapan wajib dalam seleksi PPPK dan CPNS, guna memastikan para calon pegawai dalam kondisi kesehatan yang sesuai dengan standar yang ditetapkan.

“Pelayanan MCU dilangsungkan selama satu bulan, mulai sejak 2 hingga 31 Januari. Supaya tidak terlalu membeludak, kami membatasi kuota untuk 500 pasien setiap hari. Dan hingga kemarin, sudah tercatat 1.400 pasien telah menjalani MCU,” kata Wakil Non-JKN Klinik Istano Pagaruyuang dr. Eko Apriandhi, Sp.OG di Taman Lantai 1 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Senin (6/1).

Ia mengatakan pemeriksaan yang dilakukan saat MCU ini tergantung dari permintaan instansi masing-masing. Secara umum yang diminta adalah pemeriksaan kesehatan jasmani meliputi tensi, tinggi badan, berat badan, kesehatan tubuh secara fisik. Serta pemeriksaan rohani yang diperiksa oleh dokter spesialis jiwa.

“Kemudian pemeriksaan narkoba. Pemeriksaan ini ada beberapa macam. Ada instansi yang meminta tiga panel atau ada yang minta enam panel,” sebutnya.

Setiap hari, sebutnya, pihaknya menurunkan 100 tenaga dalam melayani MCU ini. Terdiri dari tenaga pengamanan, administrasi, rekam medik, kasir dari Bank Nagari, perawat dan dokter. “Nanti pasien akan mendapatkan hasil pemeriksaan MCU. Apakah berbadan sehat atau tidak, kesehatan rohani sehat atau tidak, dan tidak terindikasi narkoba,” paparnya.

dr. Eko menganjurkan sebelum menjalani MCU, pasien harus siapkan fisik dan waktu. Karena pasiennya cukup banyak dan akan melelahkan. Kemudian sarapan dan minum yang cukup. “Dan jangan lupa untuk pendaftaran dapat dilakukan melalui aplikasi Djamil Apps,” tukasnya. (*)

Dirut M. Djamil Tekankan Pentingnya Integritas Mahasiswa PPDS/PPDSS selama Pendidikan

Sebanyak 87 mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis dan dua mahasiswa Program Pendidikan Subspesialis Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP Dr. M. Djamil mengikuti Layanan Orientasi dan Informasi (LOI). Pelaksanaan LOI ini berlangsung sejak Senin (6/1) hingga Jumat (10/1).

“Orientasi ini adalah langkah awal yang penting dalam perjalanan para mahasiswa spesialis dan subspesialis. Dan dirancang untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang berbagai aspek yang akan dihadapi selama pendidikan, termasuk sistem pelayanan, etika profesional, serta aturan dan regulasi yang berlaku di RSUP Dr. M. Djamil,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS saat memberikan sambutan.

Turut dihadiri Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Pelatihan dr. Kino, Sp.JP (K), Wakil Dekan 1 Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Efrida, Sp.PK(K), M.Kes, Ketua Bagian/ KSM RSUP Dr. M. Djamil-FK Unand, Kepala Departemen Fakultas Kedoktan Unand, staf Pengajar Fakultas Kedokteran Unand, manajemen RSUP Dr. M. Djamil.

Ia mengatakan transformasi kesehatan yang sedang dijalankan tidak hanya berfokus pada peningkatan teknologi dan infrastruktur. Akan tetapi juga pada pengembangan sumber daya manusia yang unggul dan berintegritas.

Program unggulan transformasi SDM kesehatan Indonesia adalah penyediaan tenaga kesehatan, salah satunya dilakukan melalui pengoptimalan pendidikan kedokteran spesialis, implementasi Academic Health System untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Ini sebagai upaya pemerataan SDM Kesehatan yang berkualitas.

“Kesempatan meningkatkan kompetensi spesialis kini sangatlah besar, jadi marilah kita berlomba-lomba dalam memantapkan dan meningkatkan kompetensi spesialistik dan subspesialistik,” ajaknya.

Dovy juga menekankan pentingnya integritas, profesionalisme, dan kerja sama tim dalam menjalani pendidikan dan praktik di RSUP Dr. M. Djamil. Semua ini merupakan elemen kunci yang akan mendukung kesuksesan sebagai dokter spesialis di masa depan.

“Isu penting yang akhir-akhir ini kita sama-sama dengar adalah kasus perundungan di lingkungan peserta didik. Kasus perundungan tentunya dapat merusak suasana belajar, menurunkan motivasi, dan mengganggu kesehatan mental semua pihak yang terlibat,” ungkap Dovy.

Sebagai wujud komitmen terhadap penciptaan lingkungan pendidikan dan kerja yang sehat, tegasnya, RSUP Dr. M. Djamil  berpegang pada arahan Kementerian Kesehatan RI terkait upaya pencegahan perundungan. Dalam kebijakan tersebut, ditegaskan prinsip zero tolerance terhadap perundungan dalam bentuk apa pun, baik verbal, fisik, maupun psikologis.

“Untuk itu, kami telah mengadopsi kebijakan internal yang memastikan perlindungan bagi korban dan pelapor, menyediakan saluran pelaporan yang aman dan rahasia. Selain itu, edukasi tentang etika, komunikasi efektif, dan resolusi konflik terus ditingkatkan, guna membangun budaya saling menghormati dan profesionalisme,” sebutnya.

Dengan langkah ini, Dovy berharap dapat menciptakan suasana yang nyaman dan kondusif bagi seluruh peserta didik, tenaga pendidik, dan tenaga kesehatan. “Maka proses pembelajaran dan pelayanan kesehatan pun dapat berlangsung optimal,” tutur Dovy.

Ia berharap melalui orientasi ini, mahasiswa spesialis dan subspesialis dapat memahami dan menghayati nilai-nilai yang dijunjung tinggi di RSUP Dr. M. Djamil. “Sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas tinggi kepada masyarakat,” ucapnya.

Wakil Dekan 1 Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Efrida, Sp.PK(K), M.Kes memaparkan  kunci utama untuk kesuksesan dan keberlanjutan para mahasiswa spesialis dan subspesialis baik di Fakultas Kedokteran Unand maupun rumah sakit. Pertama, etika dan adab hal yang utama. “Beradab dan beretika lah dulu baru berilmu,” sebutnya.

Kedua, komunikasi dengan segenap eksternal dan internal, segenap jajaran rumah sakit, Fakultas Kedokteran dan Unand adalah hal yang mutlak untuk kelancaran selama proses pembelajaran. “Ketiga, kerja sama dengan seluruh pihak, integritas dan bertanggung jawab terhadap  apa yang sudah diperoleh saat ini,” ucap Dr. dr Efrida.

Keempat, perlu dukungan dan doa dari keluarga terdekat baik orang tua, suami, istri, dan anak-anak. “Untuk itu perlu pertemuan dengan keluarga mahasiswa sebelum proses pendidikan berjalan,” harapnya.

Ia menekankan InshaAllah dengan hal itu, maka kesuksesan akan diraih. “Namun perlu diingat, kesuksesan adalah sebuah proses atau perjalanan panjang dengan perubahan setiap saat,” tegasnya.

Sementara itu, Manajer Diklat Ns. Venny Dwita Zola Anwar, S.Kep mengatakan selama LOI,  peserta akan mendapatkan informasi terkait kurikulum, sistem pembelajaran, fasilitas yang tersedia, serta berbagai peraturan dan kebijakan yang perlu peserta ketahui.

“Kami berharap orientasi ini dapat membantu peserta merasa lebih siap dan percaya diri menghadapi setiap tahapan pendidikan yang akan dilalui. Kami juga mengingatkan bahwa selama proses pendidikan ini, peserta tidak hanya akan dituntut untuk mengembangkan kemampuan klinis dan akademis, tetapi juga kemampuan untuk bekerja dalam tim, berkomunikasi dengan pasien, serta mengembangkan keterampilan kepemimpinan,” tukasnya.(*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45