Hadirkan Ketua Dewas BPJS Kesehatan, RSUP Dr M Djamil Adakan FGD Implementasi KRIS

RSUP Dr M Djamil mengadakan Focus Group Discussion (FGD) Implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) yang berlangsung di Aula Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Kamis (24/10). FGD tersebut menghadirkan Ketua Dewan Pengawas (Dewas) BPJS Kesehatan Prof dr Abdul Kadir PhD SpTHT-KL(K) MARS sebagai narasumber.

“Latar belakang terbentuknya KRIS yaitu prinsip kesetaraan dan keadilan. Sebab masih ada perbedaan fasilitas yang diterima peserta JKN baik itu perbedaan kelas maupun perbedaan dengan Non-JKN, masih terjadi penumpukan di ruang rawat inap khususnya di perawatan kelas 3 dan perbaikan mutu layanan yang diterima oleh peserta program JKN,” kata Prof dr Abdul Kadir PhD SpTHT-KL(K) MARS saat pemaparan.

Turut hadir Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Direktur Layanan Operasional drg Ade Palupi Muchtar MARS, manajer dan asisten manajer, Ketua KSM, civitas hospitalia dan Kepala BPJS Kesehatan Cabang Padang dr Fauzi Lukman Nurdiansyah.

Menurut Prof Kadir, ada 12 kriteria untuk pengimplementasian KRIS. “KRIS bukan mempersulit rumah sakit tetapi untuk mendapatkan maanfaat bagi seluruh pasien,” lanjutnya,” ungkapnya.

Ia menjelaskan Peraturan Pemerintah (PP) No. 47 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Perumahsakitan. Pasal 18 menyebutkan jumlah tempat tidur rawat inap kelas standar paling sedikit 60 persen total tempat tidur di RS pemerintah. Dan paling sedikit 40 persen total tempat tidur di RS swasta.

“Jadi tidak semuanya. Nanti akan ada kelas 1, VIP dan Super VIP. Tidak perlu semuanya kelas rawat inap standar (KRIS). Tidak perlu 100 persen KRIS. Standarnya cuma 60 persen untuk rumah sakit pemerintah dan pemerintah daerah. Kebijakan ini sebuah kesempatan bagi RSUP Dr M Djamil,” ucapnya.

Ia juga mengatakan pihaknya masih proses menunggu atau wait and see tentang adanya aturan perubahan tentang besaran iuran, besaran tarif INA CBG dan aturannya lainnya. “Makanya pada Perpres No 59 Tahun 2024 tentang Jaminan Kesehatan pada ayat terakhir memandatkan agar penetapan manfaat, tarif dan iuran rampung dan ditetapkan paling lambat 1 Juli 2025. Dimana hasil evaluasi dan koordinasi fasilitas ruang perawatan pada pelayanan rawat inap akan menjadi dasar penetapan manfaat, tarif dan iuran. Evaluasi yang dilakukan sebelum 30 Juni 2025 tersebut dilakukan oleh Kementerian Kesehatan berkoordinasi denga BPJS Kesehatan dan Dewah Jaminan Sosial Nasional dan menteri,” pungkas Kadir.

Ia menekankan peran dan upaya yang harus dilakukan RSUP Dr M Djamil dalam implementasi KRIS ini adalah komitmen dam penyesuaian terkait regulasi KRIS. “Dibutuhkan komitmen seluruh stakeholder RSUP Dr M Djamil untuk penerapan KRIS ini,” ucapnya.

Kemudian, sebutnya, pembentukan tim percepatan KRIS, penyusunan rencana kerja semester II tahun 2024 dan semester I tahun 2025. “Melakukan identifikasi ruanhan yang sudah memenuhi 12 kriteria fasilitas ruanh perawatan KRIS. Pemenuhan sarana prasarana sesuai 12 kriteria termasuk anggaran dan lainnya. Terakhir evaluasi capaian target 100 persen,” tukasnya.

Sementara Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua mengatakan salah satu tantangan terbesar yang kita hadapi dalam sistem kesehatan nasional saat ini adalah mewujudkan layanan kesehatan yang merata, adil, dan berkualitas untuk seluruh lapisan masyarakat.

“Dalam era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pelayanan semakin mendesak. Di sinilah pentingnya KRIS (Kelas Rawat Inap Standar) sebagai langkah strategis dalam memastikan bahwa semua warga negara mendapatkan hak atas perawatan yang bermutu tanpa diskriminasi,” tuturnya.

Ia menekankan implementasi KRIS tidak hanya sekadar memenuhi standar teknis. Namun juga harus didukung oleh kesiapan sumber daya manusia, fasilitas, serta komitmen bersama antara pemerintah, penyelenggara jaminan kesehatan, dan fasilitas kesehatan. “Oleh karena itu, FGD ini diharapkan dapat menjadi wadah diskusi yang konstruktif, di mana berbagai pihak terkait dapat berbagi pandangan, pengalaman, serta solusi dalam menghadapi tantangan dan peluang di lapangan,” harapnya.

Pada kesempatan Direktur Utama RSUP Dr M Djamil mempresentasikan rencana pengembangan masterplan rumah sakit. Ini sebagai upaya implementasi KRIS dan peningkatan layanan kesehatan kepada masyarakat. (*)

Direksi RSUP Dr M Djamil Kunjungan Silaturahmi ke Korem 032/Wirabraja

Direksi RSUP Dr M Djamil melaksanakan kunjungan silaturahmi ke Korem 032/Wirabraja, Jalan Sudirman No 26 Kota Padang, Kamis (24/10). Selain mempererat hubungan silaturahmi, kunjungan ini membahas rencana pemanfaatan tanah TNI untuk pengembangan masterplan RSUP Dr Djamil.

Rombongan direksi RSUP Dr M Djamil yang dipimpin Direktur Utama Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua diterima langsung oleh Danrem 032/Wirabraja Brigjen TNI Wahyu Eko Purnomo SIP di Korem 032 Wirabraja. Turut dihadiri Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo dan Direktur Layanan Operasional drg Ade Palupi Muchtar MARS, manajer serta konsultan hukum RSUP Dr M Djamil.

“Kunjungan direksi RSUP Dr M Djamil ini dalam rangka silaturahmi sekaligus menindaklanjuti rencana dari pengembangan masterplan rumah sakit. Dimana salah satunya pemanfaatan tanah TNI yang berlokasi di samping rumah sakit yang bisa kita manfaatkan untuk pengembangan layanan di RSUP Dr M Djamil,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua.

Ia mengatakan inilah yang kita bicarakan bersama karena kita adalah institusi negara untuk kepentingan masyarakat. “InsyaAllah sudah mendapatkan dukungan dari Danrem 032/Wirabraja. Bagaimana permasalahan ini bisa kita tindaklanjuti. InsyaAllah ini optimisme kita bahwa kita didukung oleh semua stakeholder di Sumatera Barat untuk RSUP M Djamil lebih baik ke depan. Ini bisa kita kondisikan dalam bentuk komunikasi dan tindaklanjut yang kami sampaikan tadi,” ungkap Dovy.

Danrem 032/Wirabraja Brigjen TNI Wahyu Eko Purnomo SIP mengatakan kita sesama instansi vertikal, siap berkolaborasi untuk kepentingan kesehatan masyarakat. “Artinya kita siap untuk bersama-sama bekerja sama membangun khususnya di daerah Sumatera Barat,” tuturnya.

Terkait rencana pemanfaatan tanah TNI  untuk pengembangan masterplan RSUP Dr M Djamil, Danrem 032/Wirabraja mengatakan pihaknya akan mengikuti proses secara prosedur. “Tentunya kan ini semua harus melalui mekanisme perizinan dari pimpinan. Tapi intinya siap mensupport sesuai dengan yang menjadi perintah dari pimpinan,” tukasnya.(*)

Anggota DPR RI M Shadiq Pasadigoe: Percayakanlah untuk Berobat ke RSUP Dr M Djamil

Layanan kesehatan yang diberikan RSUP Dr M Djamil terus mendapat apresiasi dari masyarakat. Seperti dirasakan Anggota DPR RI Periode 2024-2029 M Shadiq Pasadigoe yang sempat menjalani perawatan di RSUP Dr M Djamil sejak 19 Agustus sampai 7 September 2024.

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarkatuh. Yang terhormat Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQUA serta salam takzim untuk semua keluarga besar RSUP Dr M Djamil yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu,” kata M Shadiq Pasadigoe dalam postingannya di akun IG resmi @m_shadiq_pasadigoe.

“Saya Shadiq Pasadigoe yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr M Djamil Padang dari tanggal 19 Agustus sampai 7 September. Tanggal 26 Agustus 2024 saya dioperasi di bagian kepala untuk mengeluarkan cairan yang berasal dari sinusitis dan gigi,” tuturnya.

“Dalam kesempatan ini, di samping saya bersyukur kepada Allah SWT. Saya sampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada keluarga besar RSUP Dr M Djamil Padang di bawah pimpinan bapak Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua atas pengobatan yang sangat baik,” ucap politisi NasDem ini.

Ia menginformasikan untuk masyarakat yaitu bahwa RSUP Dr M Djamil secara umum tidak seperti dulu lagi.  Sudah banyak perubahan. Perubahan dari segi pelayanan dan peralatan. “Apakah itu pelayanan perorangan atau pelayanan BPJS Kesehatan. Dan menurut saya masyarakat Sumbar tidak perlu lagi keluar provinsi atau keluar negeri untuk berobat,” ajak mantan Bupati Tanahdatar ini.

Ia menceritakan penyakit yang dideritanya bukanlah penyakit ringan. Pascaoperasi masih dirawat 12 hari di ICU. “Semua pelayanan saya terima dan orang lain terima saya perhatikan rata-rata semua puas. Dan setelah saya keluar rumah sakit atau tidak dirawat lagi untuk kontrol di Poliklinik Istano Basa Pagaruyung, saya terkejut fasilitas dan layanan di RSUP Dr M Djamil seperti rumah sakit di Singapura atau di Malaysia. Jadi intinya saya sampaikan terima kasih atas pelayanan yang diberikan oleh keluarga besar RSUP Dr M Djamil yang sangat baik,” ucapnya.

Shadiq mengucapkan Alhamdulillah semua kegiatan di DPR RI sejak dilantik 1 Oktober, sudah lima paripurna yang dijalaninya dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. “Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat Sumatera Barat percayakanlah kepada RSUP Dr M Djamil untuk diandalkan tempat kita berobat. Terima kasih. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarkatuh,” tutur Shadiq.

Terpisah Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua mengucap rasa syukur kepada Allah SWT, ini adalah suatu penghargaan kepada semua hospitalia RSUP Dr M Djamil. “Bahwa kami sudah diapresiasi untuk bisa melakukan tata laksana pasien yang menurut kami adalah suatu kasus yang complicated,” sebutnya.

Ia mengatakan Alhamdulillah semua tenaga medis dan paramedis bisa memberikan optimalisasi di dalam layanan kepada bapak Shadiq Pasadigoe. “Kami melihat kita mampu dan membuktikan kepada masyarakat Sumatera Barat bahwa kita bisa melakukan yang terbaik untuk meningkatkan layanan kesehatan ke depan,” tukasnya.(*)M

Gangguan Saraf yang Bisa Dideteksi dengan Pemeriksaan EMG

Pernahkah Anda merasa kesemutan, mati rasa, atau bahkan kelemahan otot yang mengganggu aktivitas sehari-hari? Jika ya, ada kemungkinan kamu mengalami gangguan saraf. Untuk membantu mendiagnosis gangguan yang Anda alami, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan. Salah satunya dengan alat yang bernama elektromiografi (EMG).

“Pemeriksaan EMG merupakan pemeriksaan untuk memeriksa gangguan-gangguan saraf yang dialami pasien,” kata dokter spesialis neurologi dr Lidya Susanti SpN (K) MBiomed MPdKed di Ruang EMG Instalasi Diagnostik Terpadu (IDT) RSUP Dr M Djamil, Rabu (23/10).

Ia menekankan banyak sekali gangguan yang bisa dilakukan pemeriksaannya di sini. Di antaranya kelemahan di kaki dan tungkai, kebas atau kesemutan yang dialami. Atau nyeri seperti nyeri pinggang yang menjalar sampai ke paha dan tungkai.

“Kita bisa juga melakukan pemeriksaan selain syaraf di tangan dan kaki. Misalnya pemeriksaan saraf mata atau disebut pemeriksaan visual evoked potensial (VEP). Juga bisa melakukan pemeriksaan saraf dari kepala hingga sumsum tulang (medula spinalis) atau pemeriksaan somatosensory evoked potential (SSEP),” ungkapnya.

Sebelum pemeriksaan ke EMG, tuturnya, pasien akan dirujuk oleh dokter spesialis selain neurologi. “Seperti dokter spesialis anak, dokter spesialis ortopaedi (bedah tulang), dokter spesialis mata, dan dokter spesialis THT,” paparnya.

Dalam pemeriksaan ini tidak ada persyaratan khusus yang dilalui pasien. Hanya saja sebelum melakukan pemeriksaan, sebagai dokter akan menjelaskan apa prosedur yang dilakukan. “Walaupun alatnya hanya satu, tapi prosedurnya berbeda-beda. Dan ada mungkin prosedur yang cukup membuat tidak nyaman. Seperti ada rasa nyeri, rasa kebas dan kesemutan. Itu akan kami jelaskan di awal. Sehingga sewaktu pasien melakukan pemeriksaan di sini merasa lebih nyaman. Tentu saja hasil pemeriksaan lebih baik dan kesimpulannya bisa kita buat lebih baik,” ucapnya.

dr Lidya mengatakan sebagian besar pasien yang datang dengan keluhan nyeri pinggang. Kecurigaannya ada keterlibatan atau  gangguan bagian saraf pasien tersebut. “Misalnya nyeri pinggang dengan rasa menjalar hingga ke paha atau kaki, kebas atau kesemutan,” ungkapnya.

Terbanyak kedua, sebutnya, pasien-pasien penyakit diabetes melitus yang mengalami gangguan saraf. Seperti ada kebas dan kesemutan di keempat anggota geraknya. “Kita bisa lakukan pemeriksaan di sini,” ucapnya.

Ia mengatakan selanjutnya pasien yang mengalami patah tulang yang setelah berhasil di operasi ternyata tangannya tidak bisa bergerak. Kemudian terasa kebas.”Ini bisa kita lakukan pemeriksaan apakah pada waktu mengalami kecelakaan tersebut ada gangguan saraf yang dialami oleh pasien tersebut,” sebut dr Lidya.

Selain itu, ungkap dr Lidya, ada juga dengan keluhan kebas di tangan, kebas di siku, kebas di lengan atau ada juga kelemahan dari kedua tungkai yang bertambah berat. “Jadi banyak sekali sebetulnya pemeriksaan yang bisa kita lakukan di sini,” tukasnya.(*)

Perpustakaan Dukung Pendidikan dan Penelitian di Rumah Sakit

Diklat RSUP Dr M Djamil kedatangan tamu dari tim Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI, Rabu (23/10). Kedatangan tim biro ini memberikan  pembinaan dan upaya peningkatan kualitas perpustakaan sebagai salah satu layanan publik di lingkungan Kementerian Kesehatan khususnya kepada RSUP Dr M Djamil.

“Perpustakaan RSUP Dr M Djamil berada di bawah naungan Direktorat SDM, Pendidikan dan Pelatihan. Perpustakaan RSUP Dr M Djamil merupakan perpustakaan khusus, koleksinya sebagian besar berhubungan dengan kesehatan, kedokteran dan sejenisnya,” kata Asisten Manajer Pendidikan Diklat RSUP Dr M Djamil Yulfendri.

Tim Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI yang memberikan materi adalah Pustakawan Resty Kiantini dan Siti Rachma.

Ia mengatakan perpustakaan yang saat ini dimiliki oleh RSUP Dr M Djamil mendukung pendidikan dan penelitian. Sehingga memudahkan sumber daya manusia (SDM) kesehatan dan mahasiswa didik dapat mengakses dan lebih gemar membaca. “Kami juga akan berusaha mendekatkan perpustakaan ke masyarakat dalam hal ini adalah pasien atau keluarga pasien,” tuturnya.

Sementara itu, Pustakawan Perpustakaan Kementerian Kesehatan Resty Kiantini memaparkan Perpustakaan Kementerian Kesehatan telah menerbitkan 3 pedoman yang menjadi rujukan dan payung hukum bagi perpustakaan di UPT, yaitu. Pertama, Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 38 Tahun 2015 tentang Penerbitan Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam.

Kedua, Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 58 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan di Lingkungan Kementerian Kesehatan RI. Ketiga, Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 68 Tahun 2016 tentang Pengolahan Bahan Perpustakaan di Lingkungan Kementerian Kesehatan RI.

“Sesuai Permenkes Nomor 58 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan di lingkungan Kementerian Kesehatan RI, perpustakaan Kementerian Kesehatan yang ada di Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, bertugas memberi arah kebijakan dan pembinaan perpustakaan di lingkungan Kementerian Kesehatan RI,” tuturnya.

Ia juga menyebutkan Perpustakaan Kementerian Kesehatan memiliki kekayaan besar berupa repositori karya tulis, karya cetak dan karya rekam berisi konten lokal intelektual Kementerian Kesehatan RI. Repository ini berasal dari kantor pusat yang menerbitkan pedoman, juklak dan juknis. “Poltekkes berupa karya ilmiah mahasiswa dan dosen, rumah sakit berupa karya dokter yang tersimpan di setiap kelompok staf medis; serta balai dan loka yang menyimpan karya dari para peneliti Kementerian Kesehatan,” tukasnya.(*)

RSUP Dr M Djamil dapat Kunjungan dari Pakar Preeklampsia Prof Gustaaf Albert Dekker

RSUP Dr M Djamil mendapat kunjungan pakar preeklampsia dunia dari The University of Adelaide, Australia Prof Gustaaf Albert Dekker MD PhD FDCOG FRANZCOG, Selasa (22/10). Dalam kunjungan program visiting profesor itu, Prof Gustaaf Dekker berbagi pengetahuan tentang preeklampsia, sebuah kondisi serius yang dapat mengancam ibu hamil dan janin.

Pertemuan yang berlangsung di Ruang Conference Bagian Obgin Fakultas Kedokteran Unand/RSUP Dr M Djamil ini turut dihadiri Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua, Dekan Fakultas Kedokteran Unand Prof Dr dr Afriwardi SH MA SpKO Subsp APK (K), Kepala Departemen Obgin Dr dr Bobby Indra Utama SpOG Subsp Urogin (K), staf pengajar serta PPDS Obgin.

“RSUP Dr M Djamil sebagai rumah sakit rujukan utama memberikan perhatian pada kasus preeklampsia di wilayah Sumatera Bagian Tengah. Ini menunjukkan peran rumah sakit dalam meningkatkan derajat kesehatan ibu,” kata Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua saat memberikan sambutan.

Tidak hanya Prof Gustaaf Dekker, pertemuan itu menghadirkan dua narasumber lainnya. Yakni Koordinator Program Studi Obstetri dan Ginekologi Dr dr Defrin SpOG Subsp KFM serta Guru Besar Fakultas Pertanian Unand Prof Dr sc agr Ir Jamsari MP.

Ia mengatakan rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan ini memiliki tim obstetri dan ginekologi yang terlatih serta peralatan medis. “Ini guna memberikan perawatan intensif serta memastikan keselamatan ibu dan anak yang belum lahir,” tutur Dovy.

Sebagai rumah sakit pendidikan dan penelitian, sebutnya, RSUP Dr M Djamil juga memainkan peran penting dalam mendidik para calon tenaga medis tentang manajemen preeklamsia. Sekaligus menjalin kolaborasi penelitian yang mendorong kemajuan dalam deteksi dan intervensi dini.

“Kami telah bekerja sama dengan berbagai lembaga institusi, salah satunya Universitas Andalas. Melalui pengabdian masyarakat yang dilakukan dengan memberikan pemeriksaan kesehatan termasuk ibu dan anak serta edukasi kesehatan, upaya-upaya ini meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” ungkap Dovy.

Ia menekankan dalam hal penelitian merupakan tulang punggung inovasi. Tanpa penelitian, akan sulit menemukan cara baru untuk mengatasi tantangan dalam bidang kedokteran. “Di bidang obgin, misalnya, penelitian tentang biomarker seperti sFlt/PlGF telah merevolusi diagnosis dan manajemen preeklamsia, suatu kondisi yang memengaruhi jutaan wanita di seluruh dunia. Terobosan tersebut menggarisbawahi peran penting penelitian dalam menyelamatkan nyawa,” tuturnya.

Sementara Prof Gustaaf Dekker mengatakan ketidakseimbangan sistem imun ibu dapat menyebabkan tubuh menyerang plasenta. Sehingga mengganggu pertumbuhan janin dan meningkatkan risiko komplikasi kehamilan.

Preeklampsia dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, baik bagi ibu maupun bayi. Ibu hamil dengan preeklampsia berisiko mengalami tekanan darah tinggi, kerusakan organ, dan bahkan kematian. “Sedangkan bayi yang dilahirkan dari ibu dengan preeklampsia cenderung memiliki berat badan lahir rendah dan mengalami masalah kesehatan lainnya,” ungkapnya. (*)

Tingkatkan Kesiapsiagan Hadapi Penyakit Infeksi Emerging

Perkembangan global saat ini yang dihadapkan dengan berbagai ancaman penyakit infeksi baru maupun yang kembali muncul. Penyakit-penyakit seperti Covid-19, monkeypox, hingga ancaman zoonosis lainnya, menunjukkan betapa pentingnya untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan dalam menghadapi penyakit infeksi emerging.

Diketahui, jenis penyakit infeksi emerging berdasar PMK no 82/2014 yakni polio, demam kuning, meningitis, ebola, MERS, flu burung dan West Nile. Sementara jenis penyakit infeksi emerging tertentu berdasar PMK 59/2016 berupa poliomielitis, penyakit virus ebola, penyakit virus MERS, flu burung, penyakit virus Hanta, penyakit virus Nipah, demam kuning, demam lassa, demam kongo, meingitis meningokokus, dan penyakit infeksi emerging baru seperti Covid-19 dan monkeypox.

Sedangkan penyakit menular tertentu yang berpotensi wabah berdasar PMK No 1051/2010 berupa polio, difteri, pertusis, kolera, pes, DBD, malaria, rabies, avian influenza H5N1, anthrax, leptospiroses, hepatitis. Influenza A (H1N1), meningitis, demam kuning dan chikinguya.

“RSUP Dr M Djamil sebagai rumah sakit rujukan di Sumatera Barat memiliki peran strategis dalam upaya penanganan dan pencegahan penyakit-penyakit infeksi ini,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua saat Webinar Peningkatan Kewaspadaan dan Tata Laksana Penyakit Infeksi Emerging di Auditorium Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Selasa (22/10).

Webinar dalam rangka HUT ke-71 RSUP Dr M Djamil ini menghadirkan pembicara yakni Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K), dan delapan narasumber yang ahli di bidangnya.

Melalui webinar ini, tutur Dovy, dapat memperkuat kolaborasi antar semua pihak, baik dari sisi medis, akademisi, pemerintah, maupun masyarakat. “Guna meningkatkan kesiapsiagaan kita dalam menghadapi ancaman penyakit infeksi di masa mendatang,” ungkapnya.

Ia berharap webinar ini dapat memberikan wawasan baru, mengembangkan strategi penanganan yang lebih baik. Tentu saja, memperkuat sistem surveilans serta respons cepat kita terhadap penyakit infeksi emerging. “Terlebih lagi, kita harus selalu siap untuk menghadapi tantangan ke depan, yang mungkin akan lebih kompleks dan dinamis. Mari kita terus bersinergi dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat,” ajak Dovy.

Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K) menambahkan berdasar Kepmenkes HK 01.07/MENKES/1491/2023, RSUP Dr M Djamil ditunjuk sebagai rumah sakit pengampu regional di wilayah Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau. Dan sebagai RS Pengampu Nasional adalah RSPI Prof Dr Sulianti Suroso.

“Tujuan umum pengampuan layanan penyakit infeksi emerging ini, salah satunya menanggulangi kejadian penyakit infeksi emerging agar tidak berkembang menjadi wabah dan menekan angka kematian akibat penyakit infeksi emerging ini,” tuturnya.

Sementara tujuan khususnya berupa menyiapkan atau memfasilitasi pelaksanaan empat pilar sistem kesehatan nasional di seluruh fasilitas kesehatan sesuai strata. “Dan tersedianya big data PIE melalui registry nasional yang menjadi bagian dari Integrated Health System,” sebut Bestari.

Dalam pengampuan PIE ini, sebut Bestari, ada empat pilar. Yakni pencegahan, deteksi, respons dan pemulihan. “Dengan peningkatan kapasitas empat pilar ini dapat menurunkan morbiditas, mortalitas dan penyebaran penyakit infeksi emerging ini,” ucapnya.

Ia menyebutkan fasilitas layanan penyakit infeksi emerging yang tersedia di RSUP Dr M Djamil berupa poli paru infeksi, laboratorium-mesin genXpert, radiologi-CT Scan, ruang isolasi tekanan negatif, laboratorium dan radiologi-MRI. “Begitu juga ketersediaan sumber daya manusia, alat kesehatan dan sarana di RSUP Dr M Djamil memadai dalam menghadapi penyakit infeksi emerging,” tukasnya.(*)

Dirut M Djamil: Mari Jaga M Djamil, Mari Jaga Kementerian Kesehatan

RSUP Dr M Djamil melaksanakan apel pagi di pelataran halaman lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Senin (21/10) pagi. Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua bertindak sebagai pembina apel.

Dalam amanatnya, Direktur Utama RSUP Dr M Djamil mengucapkan selamat atas telah dilantiknya Presiden Bapak Prabowo dan Wakil Presiden Bapak Gibran Rakabuming Raka. “Dan tadi malam telah diumumkan dan InshaAllah pada hari ini bapak Budi Gunadi Sadikin dilantik sebagai Menteri Kesehatan dan bapak Prof dr Dante Saksono Harbuwono SpPD KEMD PhD dilantik sebagai Wakil Menteri Kesehatan,” kata Dovy saat memberikan amanat.

Turut hadir Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K), Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Direktur Layanan Operasional drg Ade Palupi Muchtar MARS dan Plh Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr Kino SpJP (K) dan civitas hospitalia.

Ia mengatakan RSUP Dr M Djamil tegak lurus terhadap kebijakan pemerintah dan Kementerian Kesehatan yang telah ditetapkan. Termasuk transformasi kesehatan berkelanjutan. “Tentu kita harus memahami bahwa kita  berproses ke arah pelayanan yang lebih baik untuk kepentingan masyarakat,” ucapnya.

Ia menekankan apa pun program dari Kementerian Kesehatan akan dijalankan. “Untuk itu semua hal-hal yang berhubungan dengan program-program ini di bawah direktorat sebagai pimpinan unit terkait untuk menjalankan arahan-arahan sesuai dengan apa yang sudah dijalankan oleh bapak Menkes Budi Gunadi Sadikin selama 3 tahun 9 bulan,” tuturnya.

Ini adalah, tegas Dovy, suatu berkelanjutan untuk memenuhi akses rujukan yang semakin baik, masyarakat lebih dipermudah untuk bisa mendapatkan layanan. “Dan kita sebagai rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan tentu harus patuh pada aturan-aturan yang diberlakukan. Itu dirasakan oleh semua masyarakat dan kita harus bisa memahami dan mengakomodir apa yang seharusnya kita lakukan. Ini akan menjadikan penilaian-penilaian terhadap kritik-kritik yang ada,” ucap dokter spesialis Fetomaternal ini.

Ia mengajak seluruh jajaran civitas hospitalia untuk menjaga RSUP Dr M Djamil dan menjaga Kementerian Kesehatan. “Mari berikan layanan yang lebih baik sehingga masyarakat semakin puas atas layanan diberikan. Dengan harapan rumah sakit ini ke depannya semakin berkembang dan makin mendapatkan kepercayaan dari Kementerian Kesehatan dan masyarakat tentunya,” tukas Dovy. (*)

Dirut RSUP Dr M Djamil Ajak Kolaborasi RS Unand dalam Riset Inovasi

Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua mengajak kolaborasi antara RSUP Dr M Djamil dan Rumah Sakit Universitas Andalas untuk menyusun dan membuat program bersama dalam riset inovasi. Sehingga kebutuhan masyarakat yang lebih spesialistik bisa dikembangkan.

“Satu cita-cita kita adalah riset sangat penting. Tentu gudangnya adalah rumah sakit pendidikan,” kata Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQ saat memberikan sambutan pada Rapat Kerja Rumah Sakit Universitas Andalas di Ruang Pertemuan Lantai 3 RS Universitas Andalas, Minggu (20/10).

Turut dihadiri Wakil Rektor IV Universitas Andalas Dr Henmiadi ST MEng Sc, Ketua Dewan Pengawas RS Unand Prof Dr Tafdil Husni SE MBA, Anggota Dewan Pengawas RS Unand Dr dr Yusirwan Yusuf SpB SpBA (K) Subsp D A (K) MARS FISQUa, Direktur Utama RS Unand Dr dr Yevri Zulfiqar SpB SpU (K) dan jajaran direksi serta civitas hospitalia RS Unand.

Ia mengatakan RSUP Dr M Djamil leading dalam penelitian biomolekuler. RSUP M Djamil telah menelurkan salah satu produk inovasi KIT Deteksi MRSA. Ini berkat kolaborasi bersama RSUP Dr M Djamil, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan PT Crown Teknologi Indonesia. Bahkan telah diluncurkan oleh Menteri Kesehatan beberapa waktu lalu.

“Ini bisa kita kembangkan bersama dengan produk-produk diagnostik. Kita punya modal untuk itu dan kita bisa berbagi. Dan tentu itu memberi masukan dan revenue bagi kita agar bisa dikembangkan,” sebut Dovy.

Ia mengatakan apalagi RS Universitas Andalas sudah tipe B dan banyak hal yang bisa dikolaborasikan. “InshaAllah ini akan menjadi modal kita bersama,” ucapnya.

Direktur Utama RSUP Dr M Djamil pada kesempatan itu juga mempresentasikan masterplan pengembangan RSUP Dr M Djamil. Karena ini adalah bagian integrasi dari rumah sakit pendidikan yang tentunya akan berdampak pada layanan, pendidikan dan penelitian lebih baik. “Masterplan ini sudah disetujui oleh Menteri Kesehatan RI. Masterplan tersebut akan kita bangun dalam beberapa tahap,” tuturnya.

Di mana, sebut Dovy, tahap awal pengembangan masterplan telah dilalui dengan ditandatanganinya kesepakatan pembayaran ganti rugi aset tanah PT KAI (Persero) pada 15 Oktober lalu di Jakarta. “Semua di Sumbar bergerak. Termasuk dibantu oleh anggota DPR RI Andre Rosiade dalam pengalihan aset PT KAI ini,” ungkapnya.

Ia menekankan pada tahun 2026 rencana pengembangan rumah sakit ini dilakukan jika sudah teralokasi pendanaannya di Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). “Ini menjadi modal bagi kita telah memiliki rumah sakit modern. Rumah sakit yang memberikan layanan terbaik di Sumatera Bagian Tengah. Sekaligus menahan devisa yang pergi keluar. Jadi ini kekuatan kita bersama membangun rumah sakit pendidikan ke depan,” ucap Dovy.

Wakil Rektor IV Unand Dr Henmiadi ST MEng Sc menekankan RS Universitas Andalas agar membuat perencanaan dan pasanglah mimpi-mimpi. “Karena apabila kita sanggup mengimpikan. Kita akan sanggup mencapainya. Kalau kita mengatakan kita bisa maka kita benar kita akan bisa. Tapi kalau kita mengatakan tidak mampu maka kita juga benar kita tak mampu,” tegasnya.

Sementara Direktur Utama RS Unand Dr dr Yevri Zulfiqar SpB SpU (K) mengatakan sebelum rapat kerja ini telah dilaksanakan pra-rapat kerja oleh bidang-bidang baik medik dan keperawatan, bidang keuangan, bidang umum dan bidang sumber daya. “Kita berharap hari ini bisa melakukan diskusi dengan cepat dan menghasilkan solusi cepat untuk plenonya,” tukasnya.(*)

Raker FK Unand, Dirut M Djamil: Mari Bersama-sama Hasilkan SDM Berkualitas

Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua menjadi narasumber sesi I dalam Rapat Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Andalas di Aula Student Center Prof dr M Syaaf Fakultas Kedokteran Jati, Sabtu (19/10). Ia memaparkan tentang Evaluasi dan Rencana Pengembangan RS Pendidikan Utama dalam Mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

“Selain memberikan pelayanan medis, RSUP Dr M Djamil juga berperan sebagai rumah sakit pendidikan. Berkolaborasi dengan berbagai sentral pendidikan, salah satunya Fakultas Kedokteran Universitas Andalas,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua saat pemaparan materi.

Turut dihadiri Wakil Rektor II Universitas Andalas Dr Hefrizal Handra MSoc Sc, Dekan Fakultas Kedokteran Unand Prof Dr dr Afriwardi SH MA SpKO Subsp APK (K) dan civitas akademika serta Direktur Utama RS Universitas Andalas Dr dr Yevri Zulfiqar SpB SpU (K). Rapat kerja ini sendiri berlangsung hingga Minggu (20/10).

RSUP Dr M Djamil, sebut Dovy, memfasilitasi pendidikan klinis program dokter umum, 16 program dokter spesialis, 4 program dokter subspesialis dan 8 program fellowship. “Di RSUP M Djamil memiliki Komite Koordinasi Pendidikan (Komkordik) sebagai alur melakukan monitoring dan evaluasi untuk memperkuat proses pendidikan. Dan Komkordik berperan penting di dalam mengawal proses pendidikan di RSUP Dr M  Djamil. Tentu akan kita koordinasikan dengan Fakultas Kedokteran Unand,” tuturnya.

Ia mengajak Fakultas Kedokteran Unand untuk bersama-sama mengembangkan institusi ini. “Outputnya adalah menghasilkan program-program dokter umum, spesialis dan subspesialis yang mempunyai kompetensi standar. Tentu bisa mencapai level yang sesuai dengan transformasi kesehatan pilar kelima yakni transformasi sumber daya manusia kesehatan yang berkualitas dan penyebarannya merata,” ujar Dovy.

Ia menekankan pendidikan bagus akan berdampak pada bagusnya kualitas pelayanan. “Tak ada lagi keluhan masyarakat kalau pelayanannya bagus. Maka ini sebagai dampak bagusnya pendidikan tersebut. Begitu juga sebaliknya. Pelayanan tidak bagus maka pendidikannya pun tidak bagus. Tentu kita bicara produk yang dihasilkan ini mampu memberikan pelayanan optimal dan efisien,” ucap dokter spesialis Fetomaternal ini.

Dovy menekankan sebagai rumah sakit pendidikan, RSUP Dr M Djamil mengembangkan clinical research unit. Rumah sakit ini telah memiliki jurnal Frontiers in Health Research (FIHR). Bahkan dalam roadmap riset inovasi dan translasional, RSUP M Djamil menelurkan berbagai produk inovasi pada tahun 2024. Salah satu produk inovasi yang dihasilkan adalah KIT Deteksi MRSA atas kolaborasi RSUP Dr M Djamil bersama FK Unand dan PT Crown Teknologi Indonesia. Bahkan telah diluncurkan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin beberapa waktu lalu.

“Kami mengajak civitas akademika untuk berkolaborasi melakukan riset yang nantinya akan memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu kesehatan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tentunya,” harap Dovy.

Wakil Rektor II Universitas Andalas Dr Hefrizal Handra MSoc Sc memaparkan Universitas Andalas kembali masuk dalam daftar pemeringkatan dunia Times Higher Education (THE) 2025. Berdasar hasil pemeringkatan, Universitas Andalas berhasil menempati posisi 1500 dunia, dan posisi ke-8 secara Nasional. Dari total 43 universitas di Indonesia yang mengikuti pemeringkatan, 31 di antaranya berhasil meraih peringkat, dan 12 lainnya belum mendapat peringkat.

Berdasar penilaian THE, Universitas Andalas memperoleh skor 10,2-25,1 yang dinilai berdasarkan 5 aspek. Yaitu kualitas pendidikan (peringkat 8 nasional, nilai 23,5), kualitas riset (peringkat 27 nasional, nilai 18,6). Ekosistem riset (peringkat 22 nasional, nilai 9,9), Kerja sama dengan Industri (peringkat 11 nasional, nilai 26,9) dan Program Internasionalisasi (peringkat 19 nasional, nilai 32,2)

“Pencapaian ini merupakan hasil kerja keras seluruh sivitas akademika Universitas Andalas dalam meningkatkan kualitas pendidikan, riset, dan kerja sama dengan berbagai pihak. Termasuk Fakultas Kedokteran,” ucapnya.

Sementara Dekan Fakultas Kedokteran Unand Prof Dr dr Afriwardi SH MA SpKO Subsp APK (K) mengajak civitas akademika Fakultas Kedokteran Unand untuk memanfaatkan sarana rapat kerja ini dengan baik. “Supaya lulusan yang dihasilkan akan semakin baik dan berkualitas,” tukasnya.(*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45