Perpustakaan Dukung Pendidikan dan Penelitian di Rumah Sakit

Diklat RSUP Dr M Djamil kedatangan tamu dari tim Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI, Rabu (23/10). Kedatangan tim biro ini memberikan  pembinaan dan upaya peningkatan kualitas perpustakaan sebagai salah satu layanan publik di lingkungan Kementerian Kesehatan khususnya kepada RSUP Dr M Djamil.

“Perpustakaan RSUP Dr M Djamil berada di bawah naungan Direktorat SDM, Pendidikan dan Pelatihan. Perpustakaan RSUP Dr M Djamil merupakan perpustakaan khusus, koleksinya sebagian besar berhubungan dengan kesehatan, kedokteran dan sejenisnya,” kata Asisten Manajer Pendidikan Diklat RSUP Dr M Djamil Yulfendri.

Tim Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI yang memberikan materi adalah Pustakawan Resty Kiantini dan Siti Rachma.

Ia mengatakan perpustakaan yang saat ini dimiliki oleh RSUP Dr M Djamil mendukung pendidikan dan penelitian. Sehingga memudahkan sumber daya manusia (SDM) kesehatan dan mahasiswa didik dapat mengakses dan lebih gemar membaca. “Kami juga akan berusaha mendekatkan perpustakaan ke masyarakat dalam hal ini adalah pasien atau keluarga pasien,” tuturnya.

Sementara itu, Pustakawan Perpustakaan Kementerian Kesehatan Resty Kiantini memaparkan Perpustakaan Kementerian Kesehatan telah menerbitkan 3 pedoman yang menjadi rujukan dan payung hukum bagi perpustakaan di UPT, yaitu. Pertama, Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 38 Tahun 2015 tentang Penerbitan Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam.

Kedua, Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 58 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan di Lingkungan Kementerian Kesehatan RI. Ketiga, Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 68 Tahun 2016 tentang Pengolahan Bahan Perpustakaan di Lingkungan Kementerian Kesehatan RI.

“Sesuai Permenkes Nomor 58 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan di lingkungan Kementerian Kesehatan RI, perpustakaan Kementerian Kesehatan yang ada di Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, bertugas memberi arah kebijakan dan pembinaan perpustakaan di lingkungan Kementerian Kesehatan RI,” tuturnya.

Ia juga menyebutkan Perpustakaan Kementerian Kesehatan memiliki kekayaan besar berupa repositori karya tulis, karya cetak dan karya rekam berisi konten lokal intelektual Kementerian Kesehatan RI. Repository ini berasal dari kantor pusat yang menerbitkan pedoman, juklak dan juknis. “Poltekkes berupa karya ilmiah mahasiswa dan dosen, rumah sakit berupa karya dokter yang tersimpan di setiap kelompok staf medis; serta balai dan loka yang menyimpan karya dari para peneliti Kementerian Kesehatan,” tukasnya.(*)

RSUP Dr M Djamil dapat Kunjungan dari Pakar Preeklampsia Prof Gustaaf Albert Dekker

RSUP Dr M Djamil mendapat kunjungan pakar preeklampsia dunia dari The University of Adelaide, Australia Prof Gustaaf Albert Dekker MD PhD FDCOG FRANZCOG, Selasa (22/10). Dalam kunjungan program visiting profesor itu, Prof Gustaaf Dekker berbagi pengetahuan tentang preeklampsia, sebuah kondisi serius yang dapat mengancam ibu hamil dan janin.

Pertemuan yang berlangsung di Ruang Conference Bagian Obgin Fakultas Kedokteran Unand/RSUP Dr M Djamil ini turut dihadiri Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua, Dekan Fakultas Kedokteran Unand Prof Dr dr Afriwardi SH MA SpKO Subsp APK (K), Kepala Departemen Obgin Dr dr Bobby Indra Utama SpOG Subsp Urogin (K), staf pengajar serta PPDS Obgin.

“RSUP Dr M Djamil sebagai rumah sakit rujukan utama memberikan perhatian pada kasus preeklampsia di wilayah Sumatera Bagian Tengah. Ini menunjukkan peran rumah sakit dalam meningkatkan derajat kesehatan ibu,” kata Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua saat memberikan sambutan.

Tidak hanya Prof Gustaaf Dekker, pertemuan itu menghadirkan dua narasumber lainnya. Yakni Koordinator Program Studi Obstetri dan Ginekologi Dr dr Defrin SpOG Subsp KFM serta Guru Besar Fakultas Pertanian Unand Prof Dr sc agr Ir Jamsari MP.

Ia mengatakan rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan ini memiliki tim obstetri dan ginekologi yang terlatih serta peralatan medis. “Ini guna memberikan perawatan intensif serta memastikan keselamatan ibu dan anak yang belum lahir,” tutur Dovy.

Sebagai rumah sakit pendidikan dan penelitian, sebutnya, RSUP Dr M Djamil juga memainkan peran penting dalam mendidik para calon tenaga medis tentang manajemen preeklamsia. Sekaligus menjalin kolaborasi penelitian yang mendorong kemajuan dalam deteksi dan intervensi dini.

“Kami telah bekerja sama dengan berbagai lembaga institusi, salah satunya Universitas Andalas. Melalui pengabdian masyarakat yang dilakukan dengan memberikan pemeriksaan kesehatan termasuk ibu dan anak serta edukasi kesehatan, upaya-upaya ini meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” ungkap Dovy.

Ia menekankan dalam hal penelitian merupakan tulang punggung inovasi. Tanpa penelitian, akan sulit menemukan cara baru untuk mengatasi tantangan dalam bidang kedokteran. “Di bidang obgin, misalnya, penelitian tentang biomarker seperti sFlt/PlGF telah merevolusi diagnosis dan manajemen preeklamsia, suatu kondisi yang memengaruhi jutaan wanita di seluruh dunia. Terobosan tersebut menggarisbawahi peran penting penelitian dalam menyelamatkan nyawa,” tuturnya.

Sementara Prof Gustaaf Dekker mengatakan ketidakseimbangan sistem imun ibu dapat menyebabkan tubuh menyerang plasenta. Sehingga mengganggu pertumbuhan janin dan meningkatkan risiko komplikasi kehamilan.

Preeklampsia dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, baik bagi ibu maupun bayi. Ibu hamil dengan preeklampsia berisiko mengalami tekanan darah tinggi, kerusakan organ, dan bahkan kematian. “Sedangkan bayi yang dilahirkan dari ibu dengan preeklampsia cenderung memiliki berat badan lahir rendah dan mengalami masalah kesehatan lainnya,” ungkapnya. (*)

Tingkatkan Kesiapsiagan Hadapi Penyakit Infeksi Emerging

Perkembangan global saat ini yang dihadapkan dengan berbagai ancaman penyakit infeksi baru maupun yang kembali muncul. Penyakit-penyakit seperti Covid-19, monkeypox, hingga ancaman zoonosis lainnya, menunjukkan betapa pentingnya untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan dalam menghadapi penyakit infeksi emerging.

Diketahui, jenis penyakit infeksi emerging berdasar PMK no 82/2014 yakni polio, demam kuning, meningitis, ebola, MERS, flu burung dan West Nile. Sementara jenis penyakit infeksi emerging tertentu berdasar PMK 59/2016 berupa poliomielitis, penyakit virus ebola, penyakit virus MERS, flu burung, penyakit virus Hanta, penyakit virus Nipah, demam kuning, demam lassa, demam kongo, meingitis meningokokus, dan penyakit infeksi emerging baru seperti Covid-19 dan monkeypox.

Sedangkan penyakit menular tertentu yang berpotensi wabah berdasar PMK No 1051/2010 berupa polio, difteri, pertusis, kolera, pes, DBD, malaria, rabies, avian influenza H5N1, anthrax, leptospiroses, hepatitis. Influenza A (H1N1), meningitis, demam kuning dan chikinguya.

“RSUP Dr M Djamil sebagai rumah sakit rujukan di Sumatera Barat memiliki peran strategis dalam upaya penanganan dan pencegahan penyakit-penyakit infeksi ini,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua saat Webinar Peningkatan Kewaspadaan dan Tata Laksana Penyakit Infeksi Emerging di Auditorium Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Selasa (22/10).

Webinar dalam rangka HUT ke-71 RSUP Dr M Djamil ini menghadirkan pembicara yakni Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K), dan delapan narasumber yang ahli di bidangnya.

Melalui webinar ini, tutur Dovy, dapat memperkuat kolaborasi antar semua pihak, baik dari sisi medis, akademisi, pemerintah, maupun masyarakat. “Guna meningkatkan kesiapsiagaan kita dalam menghadapi ancaman penyakit infeksi di masa mendatang,” ungkapnya.

Ia berharap webinar ini dapat memberikan wawasan baru, mengembangkan strategi penanganan yang lebih baik. Tentu saja, memperkuat sistem surveilans serta respons cepat kita terhadap penyakit infeksi emerging. “Terlebih lagi, kita harus selalu siap untuk menghadapi tantangan ke depan, yang mungkin akan lebih kompleks dan dinamis. Mari kita terus bersinergi dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat,” ajak Dovy.

Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K) menambahkan berdasar Kepmenkes HK 01.07/MENKES/1491/2023, RSUP Dr M Djamil ditunjuk sebagai rumah sakit pengampu regional di wilayah Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau. Dan sebagai RS Pengampu Nasional adalah RSPI Prof Dr Sulianti Suroso.

“Tujuan umum pengampuan layanan penyakit infeksi emerging ini, salah satunya menanggulangi kejadian penyakit infeksi emerging agar tidak berkembang menjadi wabah dan menekan angka kematian akibat penyakit infeksi emerging ini,” tuturnya.

Sementara tujuan khususnya berupa menyiapkan atau memfasilitasi pelaksanaan empat pilar sistem kesehatan nasional di seluruh fasilitas kesehatan sesuai strata. “Dan tersedianya big data PIE melalui registry nasional yang menjadi bagian dari Integrated Health System,” sebut Bestari.

Dalam pengampuan PIE ini, sebut Bestari, ada empat pilar. Yakni pencegahan, deteksi, respons dan pemulihan. “Dengan peningkatan kapasitas empat pilar ini dapat menurunkan morbiditas, mortalitas dan penyebaran penyakit infeksi emerging ini,” ucapnya.

Ia menyebutkan fasilitas layanan penyakit infeksi emerging yang tersedia di RSUP Dr M Djamil berupa poli paru infeksi, laboratorium-mesin genXpert, radiologi-CT Scan, ruang isolasi tekanan negatif, laboratorium dan radiologi-MRI. “Begitu juga ketersediaan sumber daya manusia, alat kesehatan dan sarana di RSUP Dr M Djamil memadai dalam menghadapi penyakit infeksi emerging,” tukasnya.(*)

Dirut M Djamil: Mari Jaga M Djamil, Mari Jaga Kementerian Kesehatan

RSUP Dr M Djamil melaksanakan apel pagi di pelataran halaman lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Senin (21/10) pagi. Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua bertindak sebagai pembina apel.

Dalam amanatnya, Direktur Utama RSUP Dr M Djamil mengucapkan selamat atas telah dilantiknya Presiden Bapak Prabowo dan Wakil Presiden Bapak Gibran Rakabuming Raka. “Dan tadi malam telah diumumkan dan InshaAllah pada hari ini bapak Budi Gunadi Sadikin dilantik sebagai Menteri Kesehatan dan bapak Prof dr Dante Saksono Harbuwono SpPD KEMD PhD dilantik sebagai Wakil Menteri Kesehatan,” kata Dovy saat memberikan amanat.

Turut hadir Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K), Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Direktur Layanan Operasional drg Ade Palupi Muchtar MARS dan Plh Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr Kino SpJP (K) dan civitas hospitalia.

Ia mengatakan RSUP Dr M Djamil tegak lurus terhadap kebijakan pemerintah dan Kementerian Kesehatan yang telah ditetapkan. Termasuk transformasi kesehatan berkelanjutan. “Tentu kita harus memahami bahwa kita  berproses ke arah pelayanan yang lebih baik untuk kepentingan masyarakat,” ucapnya.

Ia menekankan apa pun program dari Kementerian Kesehatan akan dijalankan. “Untuk itu semua hal-hal yang berhubungan dengan program-program ini di bawah direktorat sebagai pimpinan unit terkait untuk menjalankan arahan-arahan sesuai dengan apa yang sudah dijalankan oleh bapak Menkes Budi Gunadi Sadikin selama 3 tahun 9 bulan,” tuturnya.

Ini adalah, tegas Dovy, suatu berkelanjutan untuk memenuhi akses rujukan yang semakin baik, masyarakat lebih dipermudah untuk bisa mendapatkan layanan. “Dan kita sebagai rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan tentu harus patuh pada aturan-aturan yang diberlakukan. Itu dirasakan oleh semua masyarakat dan kita harus bisa memahami dan mengakomodir apa yang seharusnya kita lakukan. Ini akan menjadikan penilaian-penilaian terhadap kritik-kritik yang ada,” ucap dokter spesialis Fetomaternal ini.

Ia mengajak seluruh jajaran civitas hospitalia untuk menjaga RSUP Dr M Djamil dan menjaga Kementerian Kesehatan. “Mari berikan layanan yang lebih baik sehingga masyarakat semakin puas atas layanan diberikan. Dengan harapan rumah sakit ini ke depannya semakin berkembang dan makin mendapatkan kepercayaan dari Kementerian Kesehatan dan masyarakat tentunya,” tukas Dovy. (*)

Dirut RSUP Dr M Djamil Ajak Kolaborasi RS Unand dalam Riset Inovasi

Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua mengajak kolaborasi antara RSUP Dr M Djamil dan Rumah Sakit Universitas Andalas untuk menyusun dan membuat program bersama dalam riset inovasi. Sehingga kebutuhan masyarakat yang lebih spesialistik bisa dikembangkan.

“Satu cita-cita kita adalah riset sangat penting. Tentu gudangnya adalah rumah sakit pendidikan,” kata Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQ saat memberikan sambutan pada Rapat Kerja Rumah Sakit Universitas Andalas di Ruang Pertemuan Lantai 3 RS Universitas Andalas, Minggu (20/10).

Turut dihadiri Wakil Rektor IV Universitas Andalas Dr Henmiadi ST MEng Sc, Ketua Dewan Pengawas RS Unand Prof Dr Tafdil Husni SE MBA, Anggota Dewan Pengawas RS Unand Dr dr Yusirwan Yusuf SpB SpBA (K) Subsp D A (K) MARS FISQUa, Direktur Utama RS Unand Dr dr Yevri Zulfiqar SpB SpU (K) dan jajaran direksi serta civitas hospitalia RS Unand.

Ia mengatakan RSUP Dr M Djamil leading dalam penelitian biomolekuler. RSUP M Djamil telah menelurkan salah satu produk inovasi KIT Deteksi MRSA. Ini berkat kolaborasi bersama RSUP Dr M Djamil, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan PT Crown Teknologi Indonesia. Bahkan telah diluncurkan oleh Menteri Kesehatan beberapa waktu lalu.

“Ini bisa kita kembangkan bersama dengan produk-produk diagnostik. Kita punya modal untuk itu dan kita bisa berbagi. Dan tentu itu memberi masukan dan revenue bagi kita agar bisa dikembangkan,” sebut Dovy.

Ia mengatakan apalagi RS Universitas Andalas sudah tipe B dan banyak hal yang bisa dikolaborasikan. “InshaAllah ini akan menjadi modal kita bersama,” ucapnya.

Direktur Utama RSUP Dr M Djamil pada kesempatan itu juga mempresentasikan masterplan pengembangan RSUP Dr M Djamil. Karena ini adalah bagian integrasi dari rumah sakit pendidikan yang tentunya akan berdampak pada layanan, pendidikan dan penelitian lebih baik. “Masterplan ini sudah disetujui oleh Menteri Kesehatan RI. Masterplan tersebut akan kita bangun dalam beberapa tahap,” tuturnya.

Di mana, sebut Dovy, tahap awal pengembangan masterplan telah dilalui dengan ditandatanganinya kesepakatan pembayaran ganti rugi aset tanah PT KAI (Persero) pada 15 Oktober lalu di Jakarta. “Semua di Sumbar bergerak. Termasuk dibantu oleh anggota DPR RI Andre Rosiade dalam pengalihan aset PT KAI ini,” ungkapnya.

Ia menekankan pada tahun 2026 rencana pengembangan rumah sakit ini dilakukan jika sudah teralokasi pendanaannya di Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). “Ini menjadi modal bagi kita telah memiliki rumah sakit modern. Rumah sakit yang memberikan layanan terbaik di Sumatera Bagian Tengah. Sekaligus menahan devisa yang pergi keluar. Jadi ini kekuatan kita bersama membangun rumah sakit pendidikan ke depan,” ucap Dovy.

Wakil Rektor IV Unand Dr Henmiadi ST MEng Sc menekankan RS Universitas Andalas agar membuat perencanaan dan pasanglah mimpi-mimpi. “Karena apabila kita sanggup mengimpikan. Kita akan sanggup mencapainya. Kalau kita mengatakan kita bisa maka kita benar kita akan bisa. Tapi kalau kita mengatakan tidak mampu maka kita juga benar kita tak mampu,” tegasnya.

Sementara Direktur Utama RS Unand Dr dr Yevri Zulfiqar SpB SpU (K) mengatakan sebelum rapat kerja ini telah dilaksanakan pra-rapat kerja oleh bidang-bidang baik medik dan keperawatan, bidang keuangan, bidang umum dan bidang sumber daya. “Kita berharap hari ini bisa melakukan diskusi dengan cepat dan menghasilkan solusi cepat untuk plenonya,” tukasnya.(*)

Raker FK Unand, Dirut M Djamil: Mari Bersama-sama Hasilkan SDM Berkualitas

Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua menjadi narasumber sesi I dalam Rapat Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Andalas di Aula Student Center Prof dr M Syaaf Fakultas Kedokteran Jati, Sabtu (19/10). Ia memaparkan tentang Evaluasi dan Rencana Pengembangan RS Pendidikan Utama dalam Mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

“Selain memberikan pelayanan medis, RSUP Dr M Djamil juga berperan sebagai rumah sakit pendidikan. Berkolaborasi dengan berbagai sentral pendidikan, salah satunya Fakultas Kedokteran Universitas Andalas,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua saat pemaparan materi.

Turut dihadiri Wakil Rektor II Universitas Andalas Dr Hefrizal Handra MSoc Sc, Dekan Fakultas Kedokteran Unand Prof Dr dr Afriwardi SH MA SpKO Subsp APK (K) dan civitas akademika serta Direktur Utama RS Universitas Andalas Dr dr Yevri Zulfiqar SpB SpU (K). Rapat kerja ini sendiri berlangsung hingga Minggu (20/10).

RSUP Dr M Djamil, sebut Dovy, memfasilitasi pendidikan klinis program dokter umum, 16 program dokter spesialis, 4 program dokter subspesialis dan 8 program fellowship. “Di RSUP M Djamil memiliki Komite Koordinasi Pendidikan (Komkordik) sebagai alur melakukan monitoring dan evaluasi untuk memperkuat proses pendidikan. Dan Komkordik berperan penting di dalam mengawal proses pendidikan di RSUP Dr M  Djamil. Tentu akan kita koordinasikan dengan Fakultas Kedokteran Unand,” tuturnya.

Ia mengajak Fakultas Kedokteran Unand untuk bersama-sama mengembangkan institusi ini. “Outputnya adalah menghasilkan program-program dokter umum, spesialis dan subspesialis yang mempunyai kompetensi standar. Tentu bisa mencapai level yang sesuai dengan transformasi kesehatan pilar kelima yakni transformasi sumber daya manusia kesehatan yang berkualitas dan penyebarannya merata,” ujar Dovy.

Ia menekankan pendidikan bagus akan berdampak pada bagusnya kualitas pelayanan. “Tak ada lagi keluhan masyarakat kalau pelayanannya bagus. Maka ini sebagai dampak bagusnya pendidikan tersebut. Begitu juga sebaliknya. Pelayanan tidak bagus maka pendidikannya pun tidak bagus. Tentu kita bicara produk yang dihasilkan ini mampu memberikan pelayanan optimal dan efisien,” ucap dokter spesialis Fetomaternal ini.

Dovy menekankan sebagai rumah sakit pendidikan, RSUP Dr M Djamil mengembangkan clinical research unit. Rumah sakit ini telah memiliki jurnal Frontiers in Health Research (FIHR). Bahkan dalam roadmap riset inovasi dan translasional, RSUP M Djamil menelurkan berbagai produk inovasi pada tahun 2024. Salah satu produk inovasi yang dihasilkan adalah KIT Deteksi MRSA atas kolaborasi RSUP Dr M Djamil bersama FK Unand dan PT Crown Teknologi Indonesia. Bahkan telah diluncurkan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin beberapa waktu lalu.

“Kami mengajak civitas akademika untuk berkolaborasi melakukan riset yang nantinya akan memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu kesehatan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tentunya,” harap Dovy.

Wakil Rektor II Universitas Andalas Dr Hefrizal Handra MSoc Sc memaparkan Universitas Andalas kembali masuk dalam daftar pemeringkatan dunia Times Higher Education (THE) 2025. Berdasar hasil pemeringkatan, Universitas Andalas berhasil menempati posisi 1500 dunia, dan posisi ke-8 secara Nasional. Dari total 43 universitas di Indonesia yang mengikuti pemeringkatan, 31 di antaranya berhasil meraih peringkat, dan 12 lainnya belum mendapat peringkat.

Berdasar penilaian THE, Universitas Andalas memperoleh skor 10,2-25,1 yang dinilai berdasarkan 5 aspek. Yaitu kualitas pendidikan (peringkat 8 nasional, nilai 23,5), kualitas riset (peringkat 27 nasional, nilai 18,6). Ekosistem riset (peringkat 22 nasional, nilai 9,9), Kerja sama dengan Industri (peringkat 11 nasional, nilai 26,9) dan Program Internasionalisasi (peringkat 19 nasional, nilai 32,2)

“Pencapaian ini merupakan hasil kerja keras seluruh sivitas akademika Universitas Andalas dalam meningkatkan kualitas pendidikan, riset, dan kerja sama dengan berbagai pihak. Termasuk Fakultas Kedokteran,” ucapnya.

Sementara Dekan Fakultas Kedokteran Unand Prof Dr dr Afriwardi SH MA SpKO Subsp APK (K) mengajak civitas akademika Fakultas Kedokteran Unand untuk memanfaatkan sarana rapat kerja ini dengan baik. “Supaya lulusan yang dihasilkan akan semakin baik dan berkualitas,” tukasnya.(*)

Dirut RSUP Dr M Djamil: Beri Dukungan Penuh untuk Ibu Menyusui

Berbicara menyusui berarti berbicara tentang fondasi dasar yang akan membentuk Generasi Emas Indonesia pada tahun 2045. Tidak hanya melihat dari aspek kesehatan saja. Akan tetapi juga sebagai bentuk investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa mendatang.

“Namun, kita harus mengakui tidak semua ibu memiliki akses yang sama terhadap dukungan dalam proses menyusui,” kata Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua saat Webinar Kesehatan Ibu dan Anak “Memperkecil Kesenjangan: Dukungan Semua untuk Ibu”, Sabtu (19/10).

Webinar ini terselenggara atas kerja sama RSUP Dr M Djamil, Departemen IKA dan Obgyn Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, BP2ASI dan IDAI Sumbar. Dan diadakan dalam rangka HUT ke-71 RSUP Dr M Djamil.

Menghadirkan narasumber yakni Dr dr Roza Sriyanto SpOG Subsp KFM mengupas tentang Dukungan Nutrisi pada Ibu Hamil Kurang Energi Kronis, dr Utami Roesli SpA MBA FABM IBCLC mengupas tentang Peran Kunci Tenaga Kesehatan dalam Keberhasilan Menyusui Ibu. Kemudian dr Asrawati SpA (K) mengupas tentang Menyusui untuk Generasi Emas 245. Webinar ini dimoderatori dr Nice Rachmawati Masnadi SpA (K).

Ia mengatakan masih banyak tantangan yang harus diatasi terhadap hal tersebut. Mulai dari kekurangan informasi, keterbatasan akses terhadap tenaga kesehatan yang kompeten, hingga masalah gizi yang dialami oleh ibu-ibu hamil. Oleh karena itu, di sinilah peran kita semua menjadi sangat penting. “Kita perlu memastikan setiap ibu hamil mendapatkan dukungan nutrisi yang cukup, agar mereka bisa melahirkan anak yang sehat dan tumbuh optimal,” tutur dokter spesialis Fetomaternal ini.

Ia menegaskan di sinilah, peran kunci tenaga kesehatan dalam keberhasilan menyusui. Tenaga kesehatan harus menjadi garda terdepan, memberikan pendampingan dan edukasi yang tepat, agar proses menyusui berjalan dengan baik. “Ini bukan hanya tanggung jawab profesi, tetapi juga tanggung jawab moral kita dalam memastikan kesehatan generasi mendatang,” ungkapnya.

Dovy berharap melalui webinar ini, mampu bersama-sama mengoptimalkan dukungan bagi para ibu dan anak di Indonesia. “Mari kita jadikan momentum ini sebagai langkah nyata untuk mencapai cita-cita kesehatan yang lebih baik bagi bangsa,” ucapnya.

Sementara Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumbar Dr dr Finny Fitri Yani SpA (K) mengatakan menyusui bayi oleh ibu kandung merupakan suatu fitrah manusia yang sejak dulu kala secara otomatis sudah dilakukan.

“Ternyata itu hal yang sangat penting. Karena di dalam susu ibu itu terkandung berbagai macam zat yang bermanfaat untuk bayi. Yakni protein, asam amino, sel imunitas, zat-zat mikronutrien yang berperan di dalam tumbuh kembang bayi. Bukan hanya untuk bayi kecil dari 1 tahun dan kecil dari 2 tahun tetapi menjadi basic untuk tumbuh kembangnya sampai dewasa dan tua,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan ASI juga mencegah terjadi penyakit degeneratif yang muncul pada usia tua. Ini sangat penting. “Tetapi dalam kenyataannya, ASI dieliminasi. Ada yang tidak memberikan, ada yang menggantikannya dengan susu formula, ada yang menggantikannya dengan MPASI yang lebih cepat. Hal-hal tersebut harus dihindari,” sebutnya.

Ia mengatakan ibu-ibu harus diberi pengetahuan yang layak dan cukup tentang ASI. Sehingga mereka memiliki motivasi yang kuat untuk menyusui bayi. “Tetapi motovasi ibu tidak saja cukup. Ternyata ibu juga butuh didukung lingkungannya. Baik dukungan suami, orangtua dan lingkungan sekitar. Dan proses menyusui itu bukan hanya menjadi hubungan ibu dan bayi. Tapi juga hubungan dengan lingkungannya,” tuturnya.

Karena itulah, sebut Finny, kita harus mempromosikan dukungan menyusui kepada ibu yang dilakukan oleh lingkungan. “Jadi bukan hanya memotivasi ibu tapi juga orang-orang di sekeliling ibu harus paham kenapa ibu harus menyusui dan kenapa bayi harus diberi ASI eksklusif. Hal inilah yang harus dipahami orang tua, suami dan lainnya. Bahwa ASI itu tidak bisa tergantikan,” tukasnya.(*)

Bahas Layanan Neurointervensi, RSUP Dr M Djamil Terima Kunjungan RSUD dr Rasidin

RSUP Dr M Djamil menerima kunjungan tim RSUD dr Rasidin Kota Padang di Aula Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Jumat (18/10). Kunjungan itu membahas rencana pengembangan dan pengampuan layanan neurointervensi.

“Saat ini, program pengampuan stroke yang tengah berjalan bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan stroke di seluruh fasilitas kesehatan. Sehingga lebih banyak rumah sakit di Indonesia yang mampu menangani kasus stroke dengan baik dan sesuai standar,” kata Direktur Medik dan Keperawatan diwakili Manajer Pelayanan Medik dr Nirza Warto SpTHT KL (K) saat Rapat Koordinasi Neurointervensi bersama RSUD dr Rasidin Padang.

Ia mengatakan dengan semakin banyaknya rumah sakit yang terlibat dalam program ini, harapannya pelayanan stroke akan semakin merata dan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat.

“Tentu, berharap pelayanan yang kita berikan tidak hanya mampu menyelamatkan pasien agar pulang dalam keadaan hidup. Tetapi ke depannya, pasien bisa pulang dalam keadaan sehat dan tanpa kecacatan berarti,” ucapnya.

Ia menekankan melalui dukungan pembinaan kepada RSUD, termasuk RSUD dr Rasidin ini, kita dapat terus meningkatkan kemampuan rumah sakit dalam memberikan pelayanan yang optimal bagi pasien stroke. “Pelayanan yang cepat, tepat, dan komprehensif dibutuhkan untuk menurunkan tingkat kecacatan dan kematian akibat stroke,” harap dr Nirza Warto.

Maka dari itu, tutur dr Nirza, RSUP Dr M Djamil menyambut baik kunjungan tim RSUD Rasidin. “Dengan harapan kita bisa membahas lebih lanjut terkait rencana pengembangan layanan neurointervensi di rsud rasidin. Dan melalui rapat koordinasi ini dapat menghasilkan langkah-langkah konkret untuk meningkatkan kualitas layanan stroke di RSUD dr Rasidin. Ini demi kesehatan dan keselamatan pasien,” harapnya.

Sementara itu, Direktur RSUD dr Rasidin dr Desy Susanty mengatakan saat ini, RSUD dr Rasidin telah ditetapkan sebagai rumah sakit dengan stratifikasi madya. Rumah sakit dengan stratifikasi madya ini harus mampu melaksanakan tindakan-tindakan penting. Seperti trombolisis, trombektomi, dan coiling. “Tindakan-tindakan ini krusial dalam menangani kasus stroke akut dan meminimalisir dampak yang lebih parah pada pasien,” ucapnya.

Untuk mendukung kemampuan tersebut, salah satu hal yang perlu dipersiapkan adalah adanya spesialis neurointervensi. Adanya spesialis ini menjadi kunci dalam tindakan-tindakan yang disebutkan sebelumnya. Dan sudah menjadi keharusan bagi rumah sakit dengan stratifikasi madya untuk memilikinya.

“Dimana nanti pada akhir tahun ini kami akan kedatangan peralatan cathlab dari Kementerian Kesehatan yang mana utilisasinya bisa untuk jantung dan neuro. Namun permasalahannya, saat ini belum ada neurointervensi di Rasidin. Makanya kami melakukan koordinasi dan rencana pengampuan layanan neurointervensi dengan RSUP Dr M Djamil,” tukas dr Desy. (*)

RSUP Dr M Djamil Hadirkan Layanan Farmakogenomik

RSUP Dr M Djamil telah menyediakan layanan farmakogenomik untuk pasien-pasien yang menginginkan pengobatan presisi (precision medicine). Pemeriksaan farmakogenomik dapat memberikan pengobatan yang presisi karena memungkinkan dokter untuk menyesuaikan terapi obat secara individual berdasar respons genetika pasien terhadap obat tertentu.

“Farmakogenomik merupakan suatu ilmu tersendiri dari farmakologi atau pengetahuan tentang obat yang melihat aspek genetik seseorang sebagai satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan satu obat bekerja di tubuh pasien,” kata dokter spesialis farmakologi klinis Dr dr Gestina Aliska Sp FK di Klinik Istano Pagaruyuang RSUP Dr M Djamil, Kamis (17/10).

Ketika, tutur Gestina, misalnya saat kita sakit dan minum obat. Sebenarnya tubuh kita  memengaruhi obat itu sendiri. “Jadi farmakogenomik ini, kita akan melihat seberapa gen di tubuh kita berdampak kepada obat tersebut. Apakah bisa bekerja dengan baik atau tidak dengan beberapa pemeriksaan dari darah pasien. Atau pun dari DNA pasien,” tuturnya.

Ia mengatakan pasien-pasien yang mendapatkan pemeriksaan ini biasanya pasien-pasien yang obat digunakan itu cenderung metabolismenya terpengaruh oleh gen di dalam tubuh pasien. Terutama di dalam fungsi hati. “Misalnya obat itu masuk kemudian hatinya itu memetabolisme atau mengubah obat tersebut cepat atau lebih lambat. Nah hal itu yang membedakan masing-masing obat tersebut berefek atau tidak,” ungkap lulusan program spesialis Fakultas Kedokteran UI ini.

Sehingga, sebutnya, cenderungnya saat ini pasien dengan penyakit jantung, penyakit stroke, dan penyakit degeneratif (seperti diabetes, penyakit dislipidemia atau hipokolesterol) serta pasien psikiatri rata-rata mendapatkan obat jangka panjang. “Dengan konsumsi obat jangka panjang, maka kita harus lihat apakah berguna obat ini diberikan pada pasien tersebut. Maka memang saat ini ditargetkan adalah pasien-pasien kelompok penyakit sepert itu dan akan menggunakan obat jangka panjang,” paparnya.

Ia menyebutkan ada dua indikasi pemeriksaan itu. Pertama, ada pasien yang sudah menggunakan obat saat ini namun ternyata efek yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. “Artinya seharusnya sudah memberikan respons tetapi tidak. Atau kedua pada dosis orang yang biasanya itu baik, pada pasien ini malah muncul efek samping. Pada kondisi ini pasien yang sudah minum obat maka kita sudah bisa lakukan pemeriksaan,” sebutnya.

Kedua, pada orang-orang mungkin belum terkena penyakit dan belum minum obat tertentu tapi ingin tahu dia misalnya nanti suatu waktu sakit, obat-obat apa saja yang boleh dan tidak boleh dia diminum atau berguna atau tidak ketika dia minum satu obat. “Nah ini kita namakan kelompok preemtif. Jadi sebelum ada penyakitnya, kita sudah tahu. Sekali kita periksa gambaran genetik itu akan selalu bisa kita pakai untuk melihat ke depan obat-obat apa yang bisa kita gunakan,” tuturnya.

Ia menyebutkan sejauhmana manfaat layanan ini. Pertama efisiensi dan efektivitas itu bisa menghindari orang yang seharusnya tidak memerlukan obat-obat tertentu menjadi lebih cepat tahu obat apa yang sesuai untuk dia. “Kemudian cost atau biaya seharusnya tidak mengeluarkan uang yang sekian tahun menunggu untuk obat uang yang tidak sesuai dapat dipotong dengan pemeriksaan ini,” ungkapnya.

Untuk dokter dan klinisi akan lebih mudah mengevaluasi dari segi follow up jangka panjang pasien. “Contoh pasien stroke akan menggunakan obat clopidogrel jangka panjang. Kita tahu clopidogrelnya sendiri misalnya seseorang tidak cocok secara genetik karena metabolisme obat tidak baik atau tidak berfungsi. Clopidogrelnya diminum tidak ada perubahan apa pun di dalam tubuhnya. Karena dia tidak termetabolisme di dalam tubuh pasien,” sebutnya.

Ia mengatakan hal-hal seperti ini membantu dokter untuk lebih cepat juga untuk mengganti terapi menjadi terapi yang lebih sesuai. “Dan juga menurunkan angka kesakitan karena suatu penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan obat yang lebih sesuai,” ungkapnya.

Ia memaparkan uji farmakogenomik menggunakan sampel usapan pipi sebagai sumber materi genetik . Setelah dikumpulkan, sampel diproses melalui serangkaian langkah yang menghasilkan ekstraksi DNA, pemurnian, dan pembuatan genotipe. “Untuk pengambilan sampel sudah tersedia di RSUP Dr M Djamil. Namun untuk pemeriksaan sampel akan kita kirim ke Jakarta,” sebutnya.

Ia mengatakan rata-rata tujuh hari hasil pemeriksaan itu baru bisa keluar dan data lengkap, kita akan mengedukasi pasien dengan data tersebut. “Jadi apakah obat yang saat ini diminum keudian kita lihat apakah obat-obat ini masih bisa dilanjutkan untuk pasien ini,” ujar Gestina.

Ia menekankan hasil yang diperoleh pasien berupa rekomendasi. “Jika pasien kiriman dokter maka rekomendasinya diberikan ke dokter yang mengirim. Keputusan untuk mengubah dosis obat itu kita kembalikan ke dokter yang merawat. Ini sebagai upaya menjaga hubungan dengan dokter yang merawatnya. Jika tidak kiriman dokter berarti berupa edukasi pada pasien tersebut,” tuturnya. 

Bagi tanpa kiriman dokter, sebut Gestina, pasien silakan daftar langsung ke Poliklinik Farmakologi di Klinik Istano Pagaruyuang. Jika kiriman dokter, berarti dengan kiriman dokter itu dia datang ke klinik ini . “Sehingga akan beda hasilnya rekomendasinya tentu dengan bahasa medis juga pada dokternya. Sedangkan untuk pasien tentu bahasa pasien juga,” ungkapnya.

Ia menggaris bawahi untuk layanan Farmakogenomik ini belum dikover BPJS Kesehatan. “Dengan tarif berkisar di antara Rp 4,5 juta sampai Rp 5 juta,” tukasnya.

Sementara Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua mengatakan RSUP Dr M Djamil telah menghadirkan layanan pasien-pasien yang menginginkan pengobatan presisi yakni Farmakogenomik. Pasien akan mendapatka layanan dari dokter spesialis Farmakologi Klinis.

“Ini menunjukkan RSUP Dr M Djamil sebagai rumah sakit rujukan wilayah Sumatera Bagian Tengah telah mampu memberikan layanan Farmakogenomik. Ini sebagai bentuk menghadirkan layanan prima sesuai dengan kebutuhan pasien,” tukas dokter spesialis Fetomaternal ini.(*)

Wirid Mingguan RSUP Dr M Djamil, Civitas Hospitalia Diajak Perbanyak untuk Istighfar

Istighfar merupakan salah satu kalimat istimewa dalam Islam. Kalimat ini memiliki keutamaan serta manfaat bagi yang terus melafalkannya. Untuk mendapatkan keutamaannya, maka amalkanlah setiap hari.

“Beristighfar dalam filosofi Islam, bermakna sebagai seseorang yang selalu memohon ampunan atas kesalahan dan terus berusaha untuk menaati perintah Tuhan dan tidak melanggarnya,” kata Ustad Martono SPdI MA saat Wirid Mingguan di Masjid Asy Syifa Kompleks RSUP Dr M Djamil, Jumat (18/10).

Turut dihadiri Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K), Ketua DWP RSUP Dr M Djamil Ny Winanda Dovy Djanas dan civitas hospitalia.

Ia mengatakan manusia memang tidak luput dari dosa karena sudah kodratnya sebagai tempat luput dari dosa dan lupa. “Manusia yang menyadari kesalahannya dianjurkan untuk cepat bertobat dengan memperbanyak istighfar agar mendapat ampunan Allah SWT,” ucapnya.

Ada pun keutamaan Istighfar untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Pertama, ketenangan hati. Ketika istighfar akan merasakan kedekatan dan keyakinan kepada Allah SWT.

“Hal ini dapat membawa ketenangan dan kedamaian dalam hati, mengurangi rasa khawatir dan kegelisahan. Hal ini membuat pikiran lebih jernih dalam menghadapi berbagai kondisi dalam hidup,” ucap Martono.

Kedua, terhindar dari azab atau bencana. “Dengan kita sering bertaubat, mengingat Allah dan melafalkan istigfar dalam setiap helaan nafas, maka Allah akan melindungi hambaNya dari segala marabahaya,” tuturnya.

Martono menyebutkan terakhir memperlancar rezeki. “Dengan istighfar tidak hanya menenangkan hati, namun dapat memenuhi kebutuhan lain seperti rezeki berupa materi, kesehatan, keselamatan, dan lainnya,” ungkap Martono.

Sementara Direktur Medik dan Keperawatan Dr dr Bestari Jaka Budiman SpTHT KL (K) mengatakan Istighfar merupakan ucapan yang berisi permohonan ampun kepada Allah atas segala kehilafan dan dosa-dosa yang telah kita lakukan. “Untuk itu kami mengajak civitas hospitalia untuk terus dan perbanyak istighfar. Dengan sering mengucap istighfar makin banyak manfaat yang akan dirasakan,” ucap Bestari.(*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45